Prabowo Klaim Berantas 1000 Tambang Timah Ilegal, Begini Dampaknya ke Saham TINS
Saham TINS masih berpeluang mencetak pertumbuhan laba, ditopang harga timah tinggi, permintaan data center dan AI, serta pengalihan produksi dari tambang ilegal. Lalu, apakah TINS masih menarik?
Mikirduit - Saham PT Timah Tbk (TINS) sempat disorot Presiden Prabowo dalam pidato kenegaraan pada 14 Agustus 2026, setelah pemerintah memberantas sekitar 1.000 tambang timah ilegal pada tahun lalu.
Perkembangan tersebut ikut menjadi perhatian karena kinerja TINS memang sedang moncer.
Dalam setahun terakhir, harga sahamnya sudah terbang sekitar 280 persen, sementara laba bersih pada semester I 2026 melonjak 805 persen menjadi Rp2,7 triliun, dari Rp300 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertanyaannya, setelah mencetak pertumbuhan sebesar itu, apakah kinerja TINS masih punya ruang untuk tumbuh lebih jauh? Dan yang paling penting, apakah ekspektasi tersebut sudah tercermin dalam harga sahamnya?
Potensi Laba TINS Terbang Lebih Jauh di 2026
Menariknya, kenaikan laba tersebut masih berpotensi berlanjut. Berdasarkan rata-rata estimasi 14 analis, laba bersih TINS pada 2026 diproyeksikan mencapai Rp4,3 triliun, naik sekitar 233 persen atau tiga kali lipat dibandingkan Rp1,31 triliun pada 2025.

Menurut kami, proyeksi tersebut masih cukup masuk akal. Salah satu kuncinya ada pada harga timah yang masih tinggi.
Sampai perdagangan Selasa (18/8/2026), harga timah dunia berada di sekitar US$56.194 per ton, naik 66 persen dalam setahun. Harga ini bahkan kembali berada di level tertinggi sejak Juni 2026.

Penguatan harga tersebut tidak lepas dari ekspektasi meningkatnya permintaan timah untuk pembangunan data center dan infrastruktur AI. Timah sendiri banyak digunakan dalam proses solder, sehingga semakin banyak pembangunan server dan perangkat elektronik berpotensi ikut mendorong kebutuhan komoditas ini.
Bahkan, pelaku industri memperkirakan permintaan timah untuk server AI bisa meningkat hingga 3 kali lipat pada 2030.
Di sisi lain, masalahnya bukan cuma permintaan. Pasokan timah global juga masih terbatas.
Indonesia sebagai salah satu produsen utama bahkan sedang menahan pasokan ke pasar global. Pemerintah memperketat penerbitan izin ekspor, sehingga ekspor timah Indonesia pada Juni hanya mencapai sekitar 3.000 ton, turun 33 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Pemerintah juga terus memperketat izin pertambangan dan telah menyita sekitar 500 ton logam dari tambang yang beroperasi tanpa izin.
Nah, kondisi inilah yang menarik bagi TINS.
Penutupan tambang ilegal berpotensi membuat produksi yang sebelumnya berjalan di luar jalur resmi masuk ke perusahaan, sehingga TINS bisa mendapatkan tambahan pasokan sekaligus menikmati harga timah yang sedang tinggi.
Dengan begitu, ada peluang bagi perusahaan untuk mendapatkan kombinasi yang menarik, yaitu volume produksi meningkat, sementara harga jual tetap kuat.
Peluang tersebut semakin besar dengan penguatan posisi TINS sejak Februari 2026. TINS resmi menjadi Persero di bawah Danantara, dengan fokus memastikan produksi dari wilayah IUP masuk ke perusahaan, bukan mengalir ke pihak ilegal.
Tak hanya dari sisi tata kelola, pemerintah juga menyerahkan aset sekitar Rp7 triliun, berupa blok tambang dan enam smelter. Tambahan aset ini berpotensi memperkuat kapasitas produksi dan pengolahan TINS, sekaligus membuat perusahaan bisa menangkap lebih banyak manfaat ekonomi dari cadangan timah nasional.
Kinerja semester I/2026 sebenarnya sudah memberikan gambaran tersebut.
Produksi bijih timah TINS mencapai 12.232 ton Sn, naik 75 persen secara tahunan (yoy). Produksi logam timah juga meningkat 58 persen yoy menjadi 10.865 ton, sementara penjualan melonjak 85 persen yoy menjadi 10.984 ton.
Di saat yang sama, ASP atau harga jual rata-rata timah TINS naik 52 persen yoy menjadi US$49.794 per ton. Sementara itu, cash cost hanya naik 7 persen yoy menjadi US$21.650 per ton pada semester I/2026.

Artinya, kenaikan harga jual masih jauh lebih besar dibandingkan kenaikan biaya. Ini menjadi salah satu alasan margin TINS bisa melebar signifikan.
Dan sekarang harga timah dunia sudah berada di sekitar US$56.194 per ton, atau sekitar 13 persen di atas ASP TINS pada semester I/2026.
Dengan kata lain, selama harga timah masih mampu bertahan di level tinggi dan volume produksi terus meningkat, ruang pertumbuhan laba TINS masih terbuka hingga akhir tahun.
Sebaliknya, jika turun ke bawah ASP itu, bisa jadi gambaran kalau kinerja bisa saja melambat.
Prospek Bisnis Logam Tanah Jarang
Selain timah, TINS juga punya potensi pertumbuhan dari logam tanah jarang (LTJ). Lewat kerja sama dengan PT Perusahaan Mineral Nasional (Perminas), TINS bisa memanfaatkan sisa hasil produksi (SHP) sebagai bahan baku LTJ tanpa harus menanggung seluruh kebutuhan Capital Expenditure pengolahan.
Proyek ini berpotensi menjadi sumber pendapatan baru mulai 2028, terutama dari unsur seperti Neodymium dan Praseodymium yang banyak digunakan untuk magnet kendaraan listrik dan industri pertahanan.
Namun, proyek ini masih dalam tahap pengembangan. Proses ekstraksi monasit cukup kompleks karena harus memisahkan unsur radioaktif seperti torium. Karena itu, keberhasilan pilot plant setelah groundbreaking pada Mei 2026 akan menjadi penentu sebelum masuk tahap komersialisasi.
Jika berhasil, bisnis LTJ bisa menjadi sumber pertumbuhan baru TINS di luar siklus harga timah.
Dividen TINS Moncer di 2027
Beralih soal dividen, ini juga menjadi harapan investor seiring dengan lonjakan laba TINS. Meski secara historis dividend yield TINS cenderung tipis, ruang kenaikan dividen tetap terbuka jika pertumbuhan laba berlanjut.
Apalagi, laba bersih semester I 2026 saja sudah mencapai Rp2,7 triliun, jauh di atas laba setahun penuh 2025 sebesar Rp1,31 triliun. Jika kinerja ini bertahan hingga akhir tahun, potensi dividen yang lebih besar tentu semakin terbuka.
Namun, investor juga perlu melihatnya secara proporsional. Kenaikan dividen belum tentu membuat TINS otomatis menjadi saham dengan dividend yield tinggi, terutama setelah harga sahamnya sudah naik signifikan. Jadi, untuk saat ini, potensi capital gain dari pertumbuhan laba masih menjadi daya tarik utama, sementara dividen bisa menjadi bonus tambahan.

Kami coba menghitung secara konservatif, jika DPR bertahan di 50 persen sama seperti tahun lalu, dividen per lembar yang diberikan bisa sekitar Rp287 per saham pada 2027. Angka ini sekitar 3,3 kali lipat dari dividen tahun buku 2025 sebesar Rp88 per saham.
Dengan asumsi tersebut, jika dibandingkan dengan harga saham terkini di Rp3.890 per lembar, yield yang didapatkan bisa mencapai 7,38 persen.

Valuasi dan Harga Saham TINS
Tapi tentu saja, bukan berarti saham TINS bebas risiko. Kami melihat, saham TINS sudah bukan di area best price secara teknikal dan secara valuasi sudah tidak murah, meskipun laba yang naik membuka peluang re-rating.
Harga saham TINS terkini di Rp3.890 per lembar, setara dengan valuasi PBV di 3,45 kali. Posisinya secara historis sudah di atas +2 standar deviasi, yang artinya sudah cukup mahal.

Secara teknikal, saham TINS juga sudah bukan area best price untuk beli karena sudah dekat resistance di 4100, jika mengincar posisi yang lebih konservatif lebih baik tunggu harga dekat support terdekat sekitar 3700 - 3400.

Satt ini, setelah harga saham terbang sekitar 280 persen dalam setahun, ekspektasi pasar terhadap kinerja TINS juga sudah jauh lebih tinggi.
Jadi, investor perlu melihat apakah kenaikan laba nantinya mampu mengejar kenaikan harga sahamnya.
Kesimpulannya, fundamental TINS memang sedang berada di fase yang sangat positif. Harga timah tinggi, permintaan dari AI dan data center berpotensi meningkat, pasokan global masih ketat, sementara produksi TINS juga tumbuh signifikan.
Tantangannya sekarang bukan lagi apakah TINS bisa mencetak laba, tetapi seberapa besar pertumbuhan laba tersebut sudah tercermin dalam harga sahamnya.
Gimana, menurut kalian masih menarik kejar harga saham TINS saat ini atau bijak menunggu dulu?
Dapatkan Insight dan Belajar Saham dengan Praktek Langsung Bersama Founder Mikirduit
Dapatkan semua benefit Mikirsaham.com, join sekarang dan dapatkan deretan benefit yang membantumu investasi di saham seperti:
- Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
- Tools Trading Plan by Sistem (minimal join Mikirsaham Super dan masih tahap Beta)
- Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
- Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
- Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US
- Diskusi lebih nyaman di member area tanpa ada distraksi
- Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
- Hingga konsultasi private dengan founder kami
Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini
Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini
