Indek Penjualan Eceran Bank Indonesia Kasih Bocoran Sektor Saham yang Moncer, Begini Analisisnya

Survey Indeks penjualan eceran Indonesia sudah dirilis. Hasilnya memang ada indikasi perlambatan, tapi dari data itu muncul data menarik terkait sektor saham yang cukup potensial. Apa itu?

Share
saham komponen otomotif

Mikirduit – Bank Indonesia merilis survei Penjualan Eceran per Juni 2026. Hasilnya, ada sinyal perlambatan. Lalu, apa saham yang menarik dari proyeksi penjualan eceran di Juli 2026? 

Key Takeaways:

  • Penjualan eceran Juli 2026 masih menunjukkan tanda perlambatan, tetapi segmen suku cadang dan aksesori tetap menonjol dengan proyeksi pertumbuhan 10,8% YoY, sehingga sektor komponen otomotif menjadi salah satu yang menarik dicermati.
  • AUTO unggul dari sisi pertumbuhan laba dan valuasi murah, DRMA menarik dari kombinasi ROE tinggi serta ruang pertumbuhan, sementara SMSM lebih defensif dengan eksposur ekspor-domestik yang seimbang dan daya tarik dividen.
  • Dari ketiganya, DRMA dinilai paling menarik untuk mengejar pertumbuhan, SMSM lebih cocok untuk orientasi dividen, sedangkan AUTO akan lebih menarik jika valuasinya kembali terkonsolidasi tanpa perubahan fundamental.
  • Mikirduit Masterclass 2026, Wealthverse: Cara Menumbuhkan Kekayaan dari Multi Aset. Belajar dari 0 manajemen aset hingga praktek dan komposisi aset yang pas untuk menghadapi peluang dan tantangan 2026-2027 selama 2 Hari secara Online. Early Bird cuma Rp250.000 (Hanya untuk 50 pendaftar pertama) dengan klik link di sini

Dalam publikasi yang dirilis oleh Bank Indonesia, mereka menyebutkan proyeksi penjualan eceran Juli 2026 diproyeksikan tumbuh 0,9 persen secara tahunan. Namun, apakah itu berarti dalam kondisi yang bagus?

Ada beberapa sudut pandang terkait asumsi proyeksi pemulihan penjualan ritel di Juli 2026. 

Pertama, secara year on year memang terlihat naik 0,9 persen. Tapi, jika dilihat secara bulanan, penjualan eceran di Juli 2026 diproyeksikan turun 0,3 persen. Padahal, kenaikan di Juni 2026 tidak terlalu tinggi, hanya 0,7 persen.

Adapun, hal ini diperkirakan karena faktor musiman karena setelah libur sekolah. 

Kedua, jika dilihat dari faktor musiman, penurunan bulanan yang berpotensi terjadi di Juli 2026 itu lebih rendah dari penurunan di Juli 2025 sebesar 4,1 persen, serta Juli 2024 sekitar 7,2 persen.

Ketiga, sayangnya jika dilihat dari data tahunan proyeksi pertumbuhan 0,9 persen ini bisa dibilang cenderung melambat. Toh, pertumbuhan pada Juli 2025 dan Juli 2024 bisa di atas 4 persen, tapi di Juli 2026 cenderung stagnan.

Artinya, ada sinyal perlambatan dari penjualan eceran. Lalu, sektor apa yang paling terpukul?

Dari proyeksi survei Bank Indonesia beebrapa sektor yang diproyeksikan mencatatkan kenaikan penjualan antara lain:

  • Suku cadang dan aksesori diproyeksikan naik 10,8 persen (meski pertumbuhan lebih lambat dari Juni 2026 sebesar 18,8 persen dan Juli 2025 sebesar 12,6 persen)
  • Perlengkapan rumah tangga diproyeksikan naik 2,5 persen. Kenaikan ini juga ada kecenderungan melambat dari Juni 2026 sebesar 2,8 persen dan Juli 2025 sekitar 3,8 persen
  • Makanan dan Minuman serta Tembakau juga diproyeksikan naik 1,6 persen. Kenaikan ini cenderung melambat jika dibandingkan dengan Juli 2025 yang naik 5,1 persen, tapi lebih baik dari Juni 2026 yang turun 3,6 persen.

Sisanya, sektor BBM kendaraan, peralatan informasi dan komunikasi, budaya dan rekreasi, barang lainnya, dan sandang mencatatkan penurunan.

Jadi, apa sektor yang menarik?

Jawabannya, sektor komponen otomotif bisa menjadi pilihan yang menarik jika melihat prospek pertumbuhan permintaan yang cukup kuat. Hanya saja, sektor komponen otomotif seperti apa yang paling menarik?

Realita Kinerja Saham Sektor Komponen Otomotif

Ada tiga saham utama di segmen komponen otomotif, yakni AUTO, DRMA, dan SMSM. Ketiga saham komponen otomotif ini memang memiliki kinerja positif meski kinerja penjualan mobil masih belum tumbuh agresif.

Ada indikasi, ketika penjualan mobil lesu, membuat penjualan komponen aftersales secara ritel mencatatkan kenaikan karena ada kebutuhan service dan sebagainya. Berikut ini gambaran kinerja keuangan ketiga saham tersebut.

Saham AUTO

AUTO mencatatkan pertumbuhan laba bersih kepada entitas induk sebesar 22,6 persen menjadi Rp1,15 triliun. Kenaikan laba bersih itu didorong oleh tiga faktor utama:

Pertama, pendapatan tumbuh 13,2 persen menjadi Rp10,85 triliun. Jika dilihat, pendapatan segmen perdagangan naik cukup agresif sebesar 14,5 persen menjadi Rp5,46 triliun. Namun, pertumbuhan segmen manufaktur juga cukup lumayan, yakni 12 persen menjadi Rp6,28 triliun.

Kedua, biaya operasional dari beban penjualan dan umum serta administrasi lebih efisien. Beban penjualan memang naik 12,6 persen menjadi Rp564 miliar. Tapi angka kenaikan itu masih di bawah pertumbuhan pendapatan. Begitu juga dengan beban umum dan administrasi yang naik 9,6 persen menjadi Rp535 miliar.

Jika di-breakdown lagi, margin keuntungan AUTO didorong oleh segmen perdagangan. Segmen margin keuntungan perdagangan memang lebih tebal mencapai 23,7 persen. Lalu, per kuartal II/2026, laba segmen perdagangan naik 15,2 persen menjadi Rp1,29 triliun, sedangkan segmen manufaktur turun 0,9 persen menjadi Rp458 miliar.

Ketiga, bagian laba dari entitas asosiasi dan joint venture naik 32 persen menjadi Rp619 miliar. 

AUTO memiliki beberapa perusahaan di entitas asosiasi dan ventura bersama. 

Misalnya, di entitas asosiasi ada PT Denso Indonesia. Perusahaan itu mencatatkan kontribusi untuk pos laba-rugi AUTO sekitar Rp170 miliar (dengan porsi kepemilikan AUTO atas perseroan sekitar 25,66 persen).

Lalu, AUTO juga punya perusahaan joint venture seperti, PT GS Battery, PT Akebono Astra Indonesia, PT Inti Ganda Perdana, dan PT Kayaba Indonesia. 

GS Battery menyumbang bagian laba terbesar dengan kepemilikan AUTO sebesar 50 persen, tingkat laba sekitar Rp44 miliar. Lalu,  PT Akebono Astra berkontribusi ke pendapatan sekitar RP38 miliar. PT Inti Garda Perdana senilai Rp19 miliar, dan PT Kayaba Indonesia senilai Rp18,5 miliar.

Sementara itu, dari guidance 2026, manajemen tidak mengungkapkan angka pasti. Perseroan hanya memasang target minimal sama dengan pertumbuhan ekonomi dan industri otomotif. 

Hal serupa juga menjadi target kinerja AUTO pada 2025 yang hasilnya pertumbuhan kinerja sekitar 4,4 persen.

Dengan realisasi kinerja di 2026 hingga paruh pertama sebesar 13,2 persen. Artinya realisasi sudah di atas target perseroan.

Salah satu yang menjadi perhatian AUTO adalah ketika laba bersih naik dua digit, tapi kas operasi malah turun 31 persen menjadi Rp750 miliar.

Jika dilihat faktornya antara lain adanya kenaikan piutang pihak ketiga menjadi Rp2,02 triliun dibandingkan dengan Rp1,54 triliun pada periode sama tahun lalu. Ditambah, persediaan juga naik menjadi Rp2,88 triliun dibandingkan dengan Rp2,53 triliun.

💡
Mau dapat stockpick dari AI untuk saham AS dan Indonesia, kamu bisa klaim diskon spesial untuk Investing Pro, Langsung langganan di sini sekarang!

Saham DRMA

Selaras dengan AUTO, Saham DRMA juga mencatatkan pertumbuhan kinerja dua digit hingga kuartal II/2026. DRMA mencatatkan pertumbuhan laba bersih kepada entitas induk sekitar 17,8 persen menjadi Rp283 miliar. 

Pertumbuhan laba bersih itu didorong oleh dua faktor utama:

Pertama, pendapatan DRMA naik 13,8 persen menjadi Rp3,15 triliun. Berbeda dengan AUTO, DRMA membagi segmen pendapatannya dari dua jenis, yakni komponen otomotif roda dua dan empat.

Hasilnya, pendorong pendapatan DRMA adalah dari komponen otomotif roda empat yang tumbuh 36 persen menjadi Rp848 miliar, sedangkan roda dua hanya tumbuh 6,5 persen menjadi Rp1,84 triliun. 

Kedua, DRMA mencatatkan biaya operasional yang lebih efisien daripada kenaikan pendapatan. Misalnya, beban pokok naik 13,5 persen menjadi Rp2,63 triliun. Kenaikan itu masih lebih rendah dari pertumbuhan pendapatan.

Begitu juga dengan beban penjualan yang hanya naik 0,4 persen menjadi Rp39 miliar ketika pendapatan naik 13,8 persen. Namun, dari segi beban umum dan administrasi, DRMA mencatatkan kenaikan 19,9 persen menjadi Rp170 miliar.

Dari segi margin keuntungan segmen, margin bisnis komponen roda dua DRMA lebih tinggi sebesar 19 persen, sedangkan margin keuntungan segmen roda empat lebih tipis hanya 14 persen.

Salah satu yang jadi sorotan adalah bagian dari laba entitas asosiasi DRMA malah turun 13,9 persen.

DRMA punya dua entitas asosiasi, yakni PT Sankei Dharma Indonesia dan PT Dharma Kyungshin Indonesia.

Sebenarnya, kinerja pendapatan keduanya cukup signifikan. Misalnya, Sankei mencatatkan pertumbuhan pendapatan 53 persen menjadi Rp420 miliar, dengan penghasilan komprehensif periode berjalan (dari data yang tersedia) naik 64 persen menjadi Rp41 miliar.

Lalu, pendapatan Dharma Kyungshin juga naik 34 persen menjadi Rp483 miliar, tapi penghasilan komprehensif turun 85 persen menjadi RP4,41 miliar.

Di sisi lain, ada yang cukup menarik untuk prospek kinerja DRMA selanjutnya. Jadi, DRMA baru mengakuisisi 82 persen PT Mah Sing Indonesia pada Novemver 2025. Perusahaan itu berganti nama menjadi PT Dharma Multiplast Solutions Indonesia. Bisnisnya antara lain manufaktur komponen plastik otomotif.

Namun, memang tidak ada data lebih detail terkait apakah pertumbuhan DRMA karena ada faktor tambahan pendapatan dari Mah Sing atau tidak. Jika iya, kinerja DRMA di 2026 bisa terus moncer dengan tambahan pendapatan dari perusahaan yang baru diakuisisi pada tahun lalu tersebut.

Sementara itu, manajemen DRMA menargetkan pendapatan bisa tumbuh Rp6,5 triliun pada 2026 dengan laba bersih sekitar Rp665 miliar. Menariknya, untuk pendapatan berpotensi tumbuh 9,4 persen, sedangkan laba bersih cenderung stagnan.

Untuk kinerja pendapatan masih relatif cukup on the track dengan pendapatan di paruh pertama 2026 sudah mencapai 48,6 persen dari target perseroan. Namun, untuk laba bersih ini baru mencapai 43 persen dari target Rp665 miliar. Sehingga, target laba bersih stagnan manajemen mungkin cukup realistis dari realita kinerja hingga semester I/2026.

Salah satu sorotan lainnya DRMA ini mirip dengan AUTO. Saat laba bersih naik, tapi kas operasional turun. DRMA mengalami penurunan arus kas operasional 13,1 persen menjadi Rp308 miliar. 

Faktornya disebabkan oleh persediaan yang naik 24,5 persen dalam 6 bulan menjadi Rp653 miliar. Untuk piutang usaha naiknya tidak terlalu drastis hanya sebesar 4,3 persen menjadi Rp750 miliar.

Cerita di Balik Crossing Jumbo Saham SINI Senilai Rp760 miliar
Saham SINI melejit tujuh persenan hari ini setelah kemarin ada transaksi nego jumbo sampai Rp760 miliar, setara 12,5 persen dari total saham beredar. Kira-kira siapa dibaliknya dan apa tujuannya?

Saham SMSM

Selaras dengan AUTO, Saham DRMA juga mencatatkan pertumbuhan kinerja dua digit hingga kuartal II/2026. DRMA mencatatkan pertumbuhan laba bersih kepada entitas induk sekitar 17,8 persen menjadi Rp283 miliar. 

Pertumbuhan laba bersih itu didorong oleh dua faktor utama:

Pertama, pendapatan DRMA naik 13,8 persen menjadi Rp3,15 triliun. Berbeda dengan AUTO, DRMA membagi segmen pendapatannya dari dua jenis, yakni komponen otomotif roda dua dan empat.

Hasilnya, pendorong pendapatan DRMA adalah dari komponen otomotif roda empat yang tumbuh 36 persen menjadi Rp848 miliar, sedangkan roda dua hanya tumbuh 6,5 persen menjadi Rp1,84 triliun. 

Kedua, DRMA mencatatkan biaya operasional yang lebih efisien daripada kenaikan pendapatan. Misalnya, beban pokok naik 13,5 persen menjadi Rp2,63 triliun. Kenaikan itu masih lebih rendah dari pertumbuhan pendapatan.

Begitu juga dengan beban penjualan yang hanya naik 0,4 persen menjadi Rp39 miliar ketika pendapatan naik 13,8 persen. Namun, dari segi beban umum dan administrasi, DRMA mencatatkan kenaikan 19,9 persen menjadi Rp170 miliar.

Dari segi margin keuntungan segmen, margin bisnis komponen roda dua DRMA lebih tinggi sebesar 19 persen, sedangkan margin keuntungan segmen roda empat lebih tipis hanya 14 persen.

Salah satu yang jadi sorotan adalah bagian dari laba entitas asosiasi DRMA malah turun 13,9 persen.

DRMA punya dua entitas asosiasi, yakni PT Sankei Dharma Indonesia dan PT Dharma Kyungshin Indonesia.

Sebenarnya, kinerja pendapatan keduanya cukup signifikan. Misalnya, Sankei mencatatkan pertumbuhan pendapatan 53 persen menjadi Rp420 miliar, dengan penghasilan komprehensif periode berjalan (dari data yang tersedia) naik 64 persen menjadi Rp41 miliar.

Lalu, pendapatan Dharma Kyungshin juga naik 34 persen menjadi Rp483 miliar, tapi penghasilan komprehensif turun 85 persen menjadi RP4,41 miliar.

Di sisi lain, ada yang cukup menarik untuk prospek kinerja DRMA selanjutnya. Jadi, DRMA baru mengakuisisi 82 persen PT Mah Sing Indonesia pada Novemver 2025. Perusahaan itu berganti nama menjadi PT Dharma Multiplast Solutions Indonesia. Bisnisnya antara lain manufaktur komponen plastik otomotif.

Namun, memang tidak ada data lebih detail terkait apakah pertumbuhan DRMA karena ada faktor tambahan pendapatan dari Mah Sing atau tidak. Jika iya, kinerja DRMA di 2026 bisa terus moncer dengan tambahan pendapatan dari perusahaan yang baru diakuisisi pada tahun lalu tersebut.

Sementara itu, manajemen DRMA menargetkan pendapatan bisa tumbuh Rp6,5 triliun pada 2026 dengan laba bersih sekitar Rp665 miliar. Menariknya, untuk pendapatan berpotensi tumbuh 9,4 persen, sedangkan laba bersih cenderung stagnan.

Untuk kinerja pendapatan masih relatif cukup on the track dengan pendapatan di paruh pertama 2026 sudah mencapai 48,6 persen dari target perseroan. Namun, untuk laba bersih ini baru mencapai 43 persen dari target Rp665 miliar. Sehingga, target laba bersih stagnan manajemen mungkin cukup realistis dari realita kinerja hingga semester I/2026.

Salah satu sorotan lainnya DRMA ini mirip dengan AUTO. Saat laba bersih naik, tapi kas operasional turun. DRMA mengalami penurunan arus kas operasional 13,1 persen menjadi Rp308 miliar. 

Faktornya disebabkan oleh persediaan yang naik 24,5 persen dalam 6 bulan menjadi Rp653 miliar. Untuk piutang usaha naiknya tidak terlalu drastis hanya sebesar 4,3 persen menjadi Rp750 miliar. 

Jika dibandingkan dengan AUTO dan DRMA, SMSM mencatatkan pertumbuhan kinerja yang lebih moderat. 

SMSM mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 3,81 persen menjadi Rp551 miliar. Kenaikan laba bersih itu ditopang oleh beberapa faktor:

Pertama, pendapatan yang tumbuh 3,65 persen menjadi Rp2,64 triliun. Sebenarnya, penjualan SMSM di domestik tumbuh 11,49 persen menjadi Rp1 triliun.

Namun, porsi ekspor yang lebih besar mencatatkan penurunan pendapatan sebesar 0,62 persen menjadi Rp1,64 triliun.

Nah, jika dibandingkan dengan AUTO dan DRMA, SMSM punya struktur pendapatan yang lebih balance antara ekspor dan domestik.

Jika dilihat, tekanan terbesar dari penjualan ekspor SMSM ada di Eropa. Dari penjualan ke Eropa mencatatkan penurunan 29,1 persen menjadi Rp199 miliar. Meski, pendapatan dari Asia dan Amerika masih naik 6,6 persen menjadi Rp749 miliar dan 8,5 persen menjadi Rp447 miliar.

Sementara itu, manajemen membuat guidance 2026 dengan target single digit untuk pendapatan dan laba bersih perseroan. Jika melihat realisasinya, memang sudah on the track mengingat rata-rata pertumbuhan saat ini masih single digit.

Kedua, dari segi beban pokok pendapatan SMSM lebih efisien dengan kenaikan hanya 2,11 persen menjadi Rp1,67 triliun. Hal itu mendorong laba kotor naik 6,44 persen menjadi Rp971 miliar.

Namun, sayangnya beban pokok pendapatan yang lebih efisien tidak diimbangi kondisi beban penjualan dan umum serta administrasi. Beban penjualan naik 17,3 persen menjadi Rp180 miliar, sedangkan beban umum dan administrasi naik 22,9 persen menjadi Rp113 miliar.

Dari situ, akhirnya laba bersih SMSM tetap bertahan di 3,81 persen.

 Kesimpulan

Jika dibandingkan ketiganya, mana yang terbaik?

Dalam sudut pandang perbandingan, AUTO menjadi saham komponen otomotif termurah saat ini. Namun, AUTO terbilang tidak cukup murah jika dibandingkan dengan valuasi historis dalam 3 tahun terakhirnya.

Sementara itu, DRMA dan SMSM sama-sama diperdagangkan di bawah mean PBV band 3 tahunnya.

Namun, jika membandingkannya dengan tingkat ROE, DRMA menjadi lebih menarik. Degan PBV 1,69 kali, DRMA punya ROE 25,5 persen. Memang ROE DRMA masih kalah dari SMSM yang tembus 28,56 persen, tapi PBV SMSM juga tinggi di 2,46 kali.

Lalu, PBV AUTO memang hanya 0,85 kali, tapi ROE-nya hanya 15,12 persen atau jauh lebih rendah dibandingkan dengan DRMA.

Komparasi Saham Otomotif

Perbandingan Valuasi Saham Komponen Otomotif

Membandingkan DRMA, AUTO, dan SMSM dari sisi valuasi, pertumbuhan laba, profitabilitas, serta karakter prospek bisnis berdasarkan kinerja semester I/2026.

Siapa yang paling murah?

AUTO unggul dari valuasi absolut, tetapi DRMA menawarkan kombinasi valuation-growth yang lebih agresif, sedangkan SMSM mendapat premium karena kualitas profitabilitasnya.

DRMA

PT Dharma Polimetal Tbk

PE 6,63x
PBV 1,69x
EV/EBITDA 4,0x
ROE 25,48%
Growth at Reasonable Price

AUTO

PT Astra Otoparts Tbk

PE 5,62x
PBV 0,85x
EV/EBITDA 6,0x
ROE 15,12%
Deep Value + Recovery

SMSM

PT Selamat Sempurna Tbk

PE 8,63x
PBV 2,46x
EV/EBITDA 5,0x
ROE 28,56%
Quality Compounder

Valuasi sekarang vs rata-rata 3 tahun

Metrik DRMA AUTO SMSM
PE Sekarang 6,63x 5,62x 8,63x
PE Mean 3 Tahun 8,63x 5,81x 10,80x
Diskon PE -23,2% -3,3% -20,1%
PBV Sekarang 1,69x 0,85x 2,46x
PBV Mean 3 Tahun 2,36x 0,81x 3,11x
Diskon / Premium PBV -28,4% +4,9% -20,9%
Catatan penting: AUTO memang terlihat paling murah secara absolut, tetapi valuasinya saat ini sudah dekat dengan rerata historisnya. DRMA dan SMSM justru menawarkan diskon valuasi yang lebih besar dibanding rata-rata 3 tahun.

Diskon PE terhadap rata-rata historis

DRMA

PE sekarang 6,63x
Mean 3 tahun 8,63x
Diskon 23,2%

AUTO

PE sekarang 5,62x
Mean 3 tahun 5,81x
Diskon 3,3%

SMSM

PE sekarang 8,63x
Mean 3 tahun 10,80x
Diskon 20,1%

Growth H1/2026

DRMA — Revenue Growth +13,8%
AUTO — Revenue Growth +13,2%
SMSM — Revenue Growth +3,65%
DRMA — Net Profit Growth +17,5%
AUTO — Laba Pemilik Induk +22,6%
SMSM — Laba Pemilik Induk +3,81%

Growth vs Valuation

Indikator DRMA AUTO SMSM
Revenue Growth H1/26 +13,8% +13,2% +3,65%
Net Profit Growth +17,5% +22,6%* +3,81%*
Gross Margin H1/26 16,53% 15,6% 36,66%
Net Margin H1/26 9,13% ±10,6%* 20,80%*
ROE 25,48% 15,12% 28,56%
PE 6,63x 5,62x 8,63x
EV/EBITDA 4,0x 6,0x 5,0x
*Mengacu pada laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk untuk perbandingan AUTO dan SMSM.

Karakter prospek masing-masing saham

GROWTH + VALUE

DRMA

Kombinasi pertumbuhan dua digit dan valuasi yang masih berada cukup jauh di bawah rerata historis.

  • Revenue H1/26 +13,8%
  • Laba bersih +17,5%
  • GPM dan NPM membaik YoY
  • EV/EBITDA paling rendah: 4x
  • Potensi dari produk baru dan diversifikasi komponen
DEEP VALUE

AUTO

Valuasi absolut paling murah, tetapi membutuhkan katalis pemulihan margin agar pasar memberikan rerating lebih tinggi.

  • PE hanya 5,62x
  • PBV di bawah 1x
  • Laba induk H1/26 +22,6%
  • Associate & JV menjadi kontributor penting
  • Perlu monitor margin manufaktur dan cash conversion
QUALITY COMPOUNDER

SMSM

Growth lebih lambat, tetapi kualitas profitabilitas, margin, neraca dan defensiveness bisnis paling tinggi.

  • ROE tertinggi: 28,56%
  • GPM sekitar 37%
  • NPM sekitar 21%
  • Aftermarket dan heavy duty lebih defensif
  • Net cash besar dan track record dividen kuat

Kesimpulan Risk / Reward

1
DRMA — Risk/Reward paling menarik Growth dua digit, ROE tinggi, EV/EBITDA rendah dan valuasi masih diskon besar terhadap rerata historis.
Growth + Value
2
SMSM — Kualitas fundamental terbaik Margin dan ROE tertinggi, bisnis lebih defensif, tetapi investor membayar valuasi lebih premium.
Quality + Defensive
3
AUTO — Murah, tapi membutuhkan trigger Valuasi absolut paling rendah, tetapi rerating membutuhkan pemulihan margin manufaktur dan kualitas cash flow yang lebih baik.
Deep Value
Ringkasnya: DRMA adalah growth yang sedang dihargai murah, SMSM adalah bisnis berkualitas tinggi yang sedang diperdagangkan di bawah valuasi historisnya, sementara AUTO adalah aset murah yang masih membutuhkan katalis agar pasar bersedia memberikan valuasi lebih tinggi.
Data valuasi merupakan snapshot sesuai data yang digunakan dalam analisis. Valuasi saham dapat berubah mengikuti harga pasar dan kinerja fundamental terbaru. Materi ini bukan rekomendasi membeli atau menjual saham.

Salah satu catatan kenapa valuasi AUTO selalu rendah adalah karena ROE paling rendah, banyak investasi di entitas asosiasi dan perusahaan patungan, hingga bisnis manufaktur OEM memiliki margin rendah dan sedang tertekan dari segi pertumbuhan.

Sehingga aset dan book value AUTO tidak menghasilkan return setinggi DRMA dan SMSM.

Namun, kelebihan AUTO, dia berdiri di dua kaki dengan skala yang sama besar, yakni manufaktur OEM dan perdagangan aftersales. Sehingga jika penjualan mobil pulih, AUTO bisa terus menjaga asa pertumbuhannya.

Dalam posisi valuasi saat ini, DRMA menarik dari segi ruang pertumbuhan dengan valuasi historis (atau volatilitas yang belum terlalu tinggi), sedangkan SMSM pilihan menarik dengan valuasi saat ini untuk mengumpulkan dividen.

Sementara itu, AUTO pun bisa menarik jika nanti ada konsolidasi ke Rp2.300 - Rp2.500 tanpa ada perubahan fundamental yang berarti.

Dapatkan Insight dan Belajar Saham dengan Praktek Langsung Bersama Founder Mikirduit

Dapatkan semua benefit Mikirsaham.com, join sekarang dan dapatkan deretan benefit yang membantumu investasi di saham seperti:

  • Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
  • Tools Trading Plan by Sistem (minimal join Mikirsaham Super dan masih tahap Beta)
  • Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
  • Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
  • Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US
  • Diskusi lebih nyaman di member area tanpa ada distraksi
  • Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
  • Hingga konsultasi private dengan founder kami

Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini

Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini

Investasi Crypto di PINTU sekarang