Pilihan Aset Dolar AS Pilihan untuk Diversifikasi Saat Saham Indonesia, AS, hingga Emas Lagi Dilanda Sentimen Negatif
Pelemahan rupiah membuat aset dolar AS semakin dilirik. Dari deposito valas Himbara, reksa dana USD, obligasi INDON, hingga ETF US Treasury, mana yang paling menarik dari sisi imbal hasil, likuiditas, dan risiko?
Mikirduit – Pelemahan kurs rupiah yang terus berlanjut membuat banyak yang mencari apa aset dolar AS yang bisa menjadi pilihan? berikut ini aset berbasis dolar AS yang bisa menjadi pilihan.
Key Takeaways
- Pelemahan rupiah membuka peluang diversifikasi ke aset dolar AS, tetapi investor tetap perlu memperhitungkan risiko kerugian kurs apabila rupiah kembali menguat.
- Deposito valas Himbara dengan bunga sekitar 4 persen per tahun dan reksa dana pasar uang USD menjadi alternatif konservatif, sedangkan reksa dana pendapatan tetap, INDON, dan ETF US Treasury menawarkan karakteristik imbal hasil serta risiko fluktuasi harga yang berbeda.
- Aset obligasi dolar AS berpotensi menarik ketika siklus suku bunga berbalik turun, tetapi risiko kenaikan suku bunga masih perlu diantisipasi. Diversifikasi bertahap dan pemilihan tenor menjadi penting untuk menjaga likuiditas serta mengendalikan risiko investasi.
- Cek pilihan saham investasi dengan perhitungan yang jelas antara peluang dan risiko, join Mikirsaham dengan klik link di sini
Sebelum memutuskan untuk masuk aset berbasis dolar AS, ada satu hal yang harus diperhatikan, Jika kamu melakukan penukaran rupiah menjadi dolar AS saat ini, lalu ada penguatan rupiah ke Rp17.100 - Rp17.500 ke depannya, itu bisa menekan keuntunganmu di aset-aset likuid berbasis dolar AS (mengalami kerugian kurs). Jika ada yang bertanya apakah mungkin rupiah menguat, peluang itu ada saja dan pemahaman ini sebagai gambaran risiko.
Lalu, apa yang membuat aset berbasis dolar AS berpotensi menarik?
Pertama, The Fed berpotensi menaikkan tingkat suku bunga sebesar 25 bps - 50 bps di Desember 2026. Kondisi ini akan membuat dolar AS (indeks DXY) menjadi lebih kuat. Harga emas pun berpotensi mengalami koreksi.
Kedua, kebutuhan rupiah untuk cicilan utang sepanjang 2027 masih cukup besar. Sehingga ada risiko tekanan rupiah berlanjut di April - Juni 2027. Namun, kami ekspektasi rupiah bisa saja menguat di Januari-Maret 2027 setelah siklus musiman di akhir tahun.
Pertanyaannya, apa aset dolar AS yang menarik saat ada risiko penurunan harga emas, pasar saham AS juga mengalami tekanan bertubi-tubi, dan Bitcoin juga cenderung terkoreksi?
Jawabannya aset likuid berbasis utang seperti deposito dan obligasi negara. Kenapa tidak obligasi korporasi? karena tren suku bunga lagi naik, sehingga tren obligasi korporasi juga berisiko. Obligasi negara bisa menjadi pilihan bijak menghadapi risiko ekonomi secara makro.
Berikut, kami berikan list pilihan beberapa aset yang bisa menjadi pilihan:
Deposito Valas di Bank Himbara
Deposito di bank Himbara seperti PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) hingga PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) mematok rate yang lebih tinggi dibandingkan deposito rupiah.
Tingkat deposito Valas di BMRI dan BBNI sekitar 4 persen per tahun untuk seluruh tiering simpanan. Tingkat bunga itu lebih tinggi daripada deposito rupiah yang sekitar 2,25 persen per tahun.
Untuk PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), kami tidak bisa mengecek rate suku bunga-nya.
Tingkat bunga deposito valas itu juga berbeda dengan PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) yang mematok 2 - 2,25 persen per tahun. Angka itu masih di bawah deposito rupiah yang berada di 3 persen per tahun. Perbedaan rate deposito valas ini kami perkirakan efek insentif agar DHE dalam bentuk valas mau ditempatkan di Indonesia.
Dari hal tersebut, jika ingin aset dolar AS yang paling konservatif bisa ke deposito himbara ini.
Reksa dana Pasar Uang Berbasis Dolar AS
Opsi lainnya bisa ke reksa dana pasar uang berbasis dolar AS. Memang jika diukur tingkat keuntungannya di bawah deposito dolar AS himbara yang 4 persen. Dari catatan kami, ada 4 reksa dana pasar uang berbasis USD yang sudah lebih dari 1 tahun di Bibit, seperti:
- Mandiri Money Market USD
- Bahana Liquid USD
- Sucorinvest Money Market USD
- Manulife Liquid Fund USD
Rata-rata tingkat keuntungan berkisar 2,51 persen - 3,7 persen dalam setahun terakhir.
Untuk pilihan tingkat expense rasio yang paling kecil ada di Mandiri Money market dan Manulife Liquid Fund USD yang masing-masing sebesar 0,49 eprsen dan 0,53 persen. Keduanya juga punya dana kelolaan tembus Rp248 miliar - Rp290 miliar.
Untuk reksa dana pasar uang berbasis dolar AS bisa all in karena pergerakan asetnya memiliki risiko volatilitas yang cukup rendah.
Reksa Dana Pendapatan Tetap berbasis Indon (Obligasi Negara berdenominsi dolar AS)
Reksa dana obligasi negara berbasis USD bisa menjadi pilihan untuk kamu yang punya kebutuhan penggunaan dana 2 tahun ke depan. Alasannya, posisi harga saat ini lagi turun karena tren suku bunga naik, jika di semester II/2027 suku bunga turun, harganya akan mulai naik.
Tapi akan tergantung bagaimana perkembangan dinamika geopolitik dan sebagainya. Jika posisi harga minyak masih tinggi hingga Mei 2027, bukan tidak mungkin penurunan suku bunga baru terjadi di 2028.
Dari reksa dana pendapatan tetap berbasis obligasi negara dalam dolar AS ini, ada beberapa 4 pilihan, yakni:
- Manulife USD Fixed Income Kelas A
- Schroder USD Bond Fund Kelas A
- Eastspring Syariah Fixed Income USD Kelas A
- BNP Paribas Prima USD Kelas RK 1
Jika dilihat, keempatnya mencatatkan penurunan posisi dalam setahun terakhir karena faktor kenaikan suku bunga.
Dari segi expense rasio, yang paling rendah ada di Schroder USD Bond Fund Kelas A dan BNP Paribas Prima USD Kelas RK 1 yang masing-masing punya expense rasio 1,29 persen dan 1,22 persen.
Dengan mengukur skala dana kelolaan, kami menilai BNP Paribas Prima USD Kelas RK1 bisa jadi pilihan menarik.
Berbeda dengan deposito USD himbara dan reksa dana pasar uang yang bisa All In, sedangkan untuk reksa dana pendapatan tetap bisa cicil bertahap setiap bulan karena risiko kenaikan suku bunga masih bisa terjadi.

Obligasi Negara Indonesia berbasis dolar AS (INDON)
Selain itu, ada opsi lainnya yakni membeli obligasi negara berbasis USD secara langsung, seperti Indon. Kelebihannya, keuntungannya bisa lebih optimal, kekurangannya agak sulit membeli bertahap karena ada batas minimum pembelian dan Supply barang.
Dari data obligasi Indon di BCA, kami mencatat ada beberapa seri yang menarik (asumsi kupon lebih tinggi dari bunga deposito valas bank himbara) seperti:
- INDON52 New Callable dengan kupon 5,45 persen dan yield to maturity 6,4 persen. Posisi harga beli ada di 88,1 persen dan harga jual di 86,3 persen.
- INDON53 Callable dengan kupon 5,65 persen dan yield to maturity 6,37 persen. Posisi harga beli di 90,85 persen dan harga jual di 89,05 persen
- INDON46 dengan kupon 5,95 persen dan yield to maturiy 6,29 persen. Harga beli di 96,25 persen dan harga jual di 94,45 persen
Untuk ketentuan transaksi, pembelian minimal 1.000 dolar AS dengan kelipatan per 1.000 dolar AS. Jadi, bisa dicicil setiap bulan per 1.000 dolar AS, tapi ada risiko seri yang sama supplynya habis.
Kami menilai untuk pembelian INDON bisa menunggu keputusan kenaikan suku bunga The Fed di Desember. Setidaknya, satu faktor yang membuat ketidakpastian suku bunga Indonesia bisa terlewati dengan harapan ketegangan geopolitik di 2027 mulai mereda.

ETF US Treasury Bond
ETF US Treasury menjadi salah satu alternatif investasi obligasi pemerintah AS yang memiliki risiko gagal bayar relatif rendah. Namun, bukan berarti harganya tidak bisa turun, terutama ketika The Fed menaikkan suku bunga.
Secara umum, semakin panjang tenor obligasi, semakin besar risiko penurunan harganya saat suku bunga naik. ETF tenor pendek seperti SGOV, BIL, dan SHV cenderung lebih stabil. Sementara itu, ETF tenor 1–3 tahun seperti SHY dan VGSH memiliki risiko fluktuasi harga yang lebih tinggi.
Risiko semakin besar pada ETF obligasi jangka panjang. Misalnya, IEF pernah mengalami penurunan harga sekitar 25 persen, sedangkan TLT dan VGLT sempat tertekan hingga sekitar 50 persen dalam siklus perubahan suku bunga sebelumnya.
Karena itu, investor perlu menyesuaikan pilihan ETF dengan horizon investasi dan ekspektasi arah suku bunga. Yield yang tinggi belum tentu berarti investasi lebih menguntungkan, terutama jika penurunan harga ETF lebih besar daripada pendapatan yang diterima.
Kami membandingkan 13 ETF US Treasury dari sisi yield, risiko, hingga historis penurunan harganya.
Baca selengkapnya: Best Treasury ETFs If the Fed Raises Rates in 2026 – Mikirduit US
Kesimpulan
Diversifikasi ke aset dolar AS sebagai alternatif bukan memindahkan seluruh aset. Dengan begitu, jika ada kondisi terburuk, kita masih punya aset dengan proxy dolar AS. Namun, jika kondisi pasar saham Indonesia pulih, harga emas membaik, dan sebagainya, penempatan dana di aset USD dengan risiko lebih rendah ini tetap memberikan keuntungan.
Jadi, tujuannya lebih kepada untuk manajemen risiko dari fluktuasi nilai tukar dengan menjaga porsi cash di aset likuid berbasis dolar AS.
Mau Dapat Insight Saham hingga Action-nya Sesuai dengan Kebutuhan?
Join Mikirsaham sekarang dan dapatkan benefit:
- Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
- Tools Trading Plan by Sistem (minimal join Mikirsaham Super dan masih tahap Beta)
- Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
- Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
- Event Online Rutin bulanan
- Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US
- Diskusi lebih nyaman di member area tanpa ada distraksi
- Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
- Hingga konsultasi private dengan founder kami
Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini
Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini

