Penyebab Indeks KOSPI Jeblok hingga Trading Halt, Dejavu Black Monday 1987?
Indeks KOSPI atau pasar saham Korea Selatan jeblok dalam di Juli 2026. Produk ETF saham tunggal dengan leverage disebut biang keladinya. Lalu, apa yang sebenarnya terjadi?
Mikirduit – Indeks saham Korea Selatan KOSPI mengalami penurunan 40,32 persen dari 19 Juni - 30 Juli 2026, bahkan beberapa kali mengalami trading halt. Apa yang sebenarnya terjadi di pasar saham Korea Selatan? Apakah ada hubungannya dengan bisnis semikonduktor atau teknis dari perdagangan?
Dalam sekejap, indeks KOSPI turun dari 9316 menjadi 5.559 dalam 1,5 bulan. Dari sini, banyak juga investor ritel di Indonesia membandingkan kejatuhan IHSG dari angka yang sama dengan Indeks saham Korea Selatan tersebut. Namun, faktor penurunan indeks saham keduanya disebabkan oleh hal yang jauh berbeda.
Jika IHSG jeblok karena evaluasi MSCI terhadap free float nyata di beberapa saham, terutama yang sudah masuk MSCI. Hingga akhirnya, MSCI melakukan freeze untuk rebalancing saham Indonesia yang berdampak terhadap pengurangan bobot di indeks global dan menjadi tekanan jual asing yang cukup besar.
Nah, untuk penurunan pasar saham di Korea Selatan ini bisa dibilang disebabkan oleh peluncuran produk Exchange traded funds (ETF) saham tunggal dengan leverage pada 27 Mei 2026.
Dari laporan KB Financial Group, Produk baru itu banyak diburu oleh investor ritel Korea Selatan hingga mencatatkan net buy bersih sekitar 14 triliun won atau setara 9,7 miliar dolar AS. Jumlah itu jauh lebih besar dari net buy asing yang mencapai 2 triliun won.
Namun, ETF saham tunggal dengan leverage ini bak pedang bermata dua bagi investor ritel. Beberapa ETF saham tunggal dengan leverage ini dikaitkan ke saham-saham yang lagi booming seperti Samsung hingga SK Hyink.
Awalnya, ada tekanan konsolidasi yang normal. Portfolio Manager Emerging Market Equities di Nordea Aset Management Gina Kim menilai aksi jual saham selaras dengan kekhawatiran keberlanjutan belanja modal AI, meningkatnya utang, serta menurunnya free cash flow para penyedia komputasi awan. Ditambah, ada perkembangan AI di China yang disebut jadi salah satu sentimen negatif.
Ditambah, menurut Gina Kim, ada siklus aksi jual karena jelang libur musim panas (biasanya di akhir Juli - Agustus).
Masalahnya, tingkat antusias investor ritel dengan transaksi ETF saham tunggal leverage di sana sangat tinggi. Ketika ada penurunan, jumlah frekuensi aksi jual juga meningkat. Hasilnya, tekanan penurunan semakin meningkat drastis hingga ETF saham tunggal dengan leverage mengalami margin call.
ETF saham tunggal dengan leverage SK Hynix yang sudah mencatatkan keuntungan 2 kali lipat sejak dirilis hingga 23 Juni 2026 mencatatkan penurunan lebih dari 80 persen. Begitu juga dengan Samsung yang turun hampir 74 persen sejak mencapai puncaknya di 3 Juni 2026.
Merespons hal itu, pemerintah Korea Selatan melalui Menteri Keuangan Koo Yun-cheol melakukan pertemuan rapat darurat pada 29 Juli 2026 bersama otoritas keuangan di negara tersebut.
Hasilnya, mereka berencana membatasi keterlibatan investor ritel dalam ETF yang menggunakan leverage, termasuk membatasi dari total porsi total aset yang dimiliki hingga menaikkan biaya perdagangan.
Crash KOSPI Mirip Black Monday 1987?
Hal serupa pernah terjadi di pasar saham Amerika Serikat, yakni pada 19 Oktober 1987. Ketika dalam tahun tersebut indeks S&P 500 mencatatkan kenaikan 36 persen dalam 8 bulan (Januari-Agustus), tapi harus crash dengan penurunan 20 persen dalam 1 hari. Salah satu penyebabnya adalah produk asuransi portofolio yang mulai populer di tahun tersebut.
Asuransi portofolio ini adalah skema lindung nilai yang dibalut dalam produk untuk menjual dengan skema short kontrak S&P 500 Futures jika pasar saham turun dengan jumlah tertentu.
Lalu, portofolio nyata-nya akan dijual dalam target stop loss tertentu. Dengan skema itu, diharapkan pihak yang menggunakan produk ini tidak mengalami kerugian jika pasar saham mengalami penurunan. Mau beli ETF yang mengacu ke pasar saham Korea Selatan?
Kamu bisa pilih gunakan 5 aplikasi ini:
- XTB Indonesia bisa mendapatkan bonus maksimal 25 Dolar AS, daftar dengan kode MIKIRDUIT dari link ini
- Pluang bisa berpeluang mendapatkan hadiah hingga Rp1 juta dengan klik link ini
- Ajaib dapatkan hadiah jika join dengan klik link ini
- Nanovest dapatkan bonus Rp40.000 jika join dengan klik link ini
- Gotrade Indonesia berkesempatan untuk dapat hadiah 120 dolar AS dengan klik link ini
Di saat yang sama, ada banyak dinamika yang terjadi di Amerika Serikat. Beberapa kejadian itu antara lain:
Pertama, 13 Oktober 1987 muncul rancangan undang-undang yang mencabut banyak keringanan pajak terkait aktivitas merger dan akuisisi. Sebagai catatan, sepanjang 1980 banyak aksi akuisisi merger yang terjadi di pasar saham Amerika Serikat. Dari situ juga memicu kenaikan harga saham yang signifikan karena aksi korporasi tersebut.
Dari rancangan undang-undang itu telah membuat kekhawatiran saham-saham yang lagi proses aksi korporasi akan batal. Para trader yang berspekulasi mulai melakukan aksi jual di saham itu hingga pasar mulai mengalami penurunan.
Kedua, ada kekhawatiran risiko kenaikan suku bunga The Fed yang juga dianggap biang kerok market crash 1987. Meski, beberapa pihak menilai penyebabnya dari rancangan undang-undang aksi akuisisi merger dan fitur asuransi portofolio tersebut.
Lalu, saat itu belum ada sistem circuit breaker seperti ARA-ARB hingga trading halt di pasar saham dunia. Sehingga, ketika ada penurunan pasar saham terjadi dan memicu penjualan otomatis dan penjualan short S&P 500 yang signifikan, terjadilah market crash di Senin 19 Oktober 1987.
Salah satu korbannya adalah Peter Lynch yang lagi berlibur dan terkejut terjadi huru-hara di pasar saham. Bahkan,Lynch dalam bukunya cerita, dia hingga menghubungi beberapa perusahaan untuk menanyakan apakah bisnisnya baik-baik saja? jawabannya baik-baik saja.
Indeks S&P 500 juga pulih dengan naik 10 persen sejak market crash di 19 Oktober 1987 hingga akhir Desember 1987. Dari kejadian itu, akhirnya dibuat sistem circuit breaker untuk membatasi tekanan jual jika terjadi aktivitas anomali.

Kesimpulan
Secara umum, pasar saham mengalami crash karena adanya kepanikan jual atau kenaikan aksi jual karena faktor teknis
Kepanikan jual bisa terjadi karena ada risiko ekonomi misalnya, terjadi krisis Subprime Mortgage di 2008, Taper Tantrum 2013, Devaluasi yuan 2015, Pandemi Covid-19 pada 2020. Semua itu terjadi karena kekhawatiran terkait risiko ekonomi.
Lalu, kenaikan aksi jual karena faktor teknis terjadi karena ada fitur atau produk baru yang risikonya belum terukur dan ternyata berdampak besar. Biasanya, hal itu ditandai dengan antusias yang luar biasa terhadap produk tersebut.
Selain itu, ada juga faktor teknis yang terjadi seperti evaluasi MSCI yang membuat pasar saham Indonesia di-freeze dari rebalancing dan mengalami penurunan bobot saham di indeks tersebut. Hal itu memicu fund pasif dan aktif yang mengikuti indeks MSCI melakukan aksi jual saham Indonesia karena penurunan bobot tersebut.
Mungkin dari segi produk yang menyebabkan market crash antara KOSPI dengan Black Monday 1987 berbeda. Tapi, ada faktor yang sama, ada produk baru yang diminati dalam kondisi market yang lagi bervolatilitas tinggi. Ternyata, secara teknis minat tinggi terhadap produk itu berdampak besar terhadap pasar ketika risiko terjadi.
Temukan Strategi Detailnya dengan join Mikirsaham!
Dapatkan semua benefit Mikirsaham.com, join sekarang dan dapatkan deretan benefit yang membantumu investasi di saham Indonesia dan Amerika mulai dari Rp80.000 per bulan :
- Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
- Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
- Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
- Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US
- Diskusi lebih nyaman di member area tanpa ada distraksi
- Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
- Hingga konsultasi private dengan founder kami
Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini
Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini
