Nasib Saham Pakan Ternak Di tengah Rencana MBG Dipangkas
Pemerintah baru-baru ini merestrukturisasi anggaran MBG, pelaku pasar khawatir akan ada dampak ke pemain pakan ternak, kira-kira gimana dampaknya? apakah akan tetap bertahan dan menarik dilirik sahamnya?
Mikirduit - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bisa dibilang sedang mengalami reformasi, apalagi setelah kasus tertangkapnya beberapa pimpinan yang terbukti melakukan tindak pidana korupsi.
Ketua Badan Anggaran DPR RI Said Abdullah menyatakan restrukturisasi dana MBG yang terbaru akan disesuaikan dari Rp268 triliun menjadi kisaran Rp174 triliun untuk tahun depan, padahal pagu awal yang ditentukan sebanyak Rp335 triliun.
Hampir setengah porsi sendiri dananya dipangkas. Dari sisi fiskal, sebenarnya kami menilai ini adalah penghematan yang tujuannya baik, karena selama ini memang sudah banyak polemik.
Kasus keracuan sampai kritik porsi makanan yang tidak sesuai sudah banyak bertebaran di jagad media sosial. Jadi, kami melihat restrukturisasi dana ini lebih ke refocusing agar distribusi lebih tepat sasaran.
Lantas bagaimana hubungannya ke pemain pakan ternak? Sekilas, ketika dana MBG dipangkas, pelaku pasar melihat akan ada dampak negatif bagi pemain pakai ternak atau poultry.
Namun, kami melihat dari sisi fundamental justru terbatas. Ada dua alasan utama :
Pertama, kebutuhan protein tetap tinggi
MBG adalah program berbasis protein hewani (ayam dan telur). Meskipun anggarannya dipangkas atau diefisiensikan, misalnya dengan mengurangi hari operasional menjadi 5 hari seminggu, menu ayam dan telur tetap menjadi komponen wajib.
Kedua, margin laba emiten poultry masih atraktif
Pemangkasan anggaran MBG tidak mengubah fakta bahwa para peternak lokal (baik mandiri maupun mitra terintegrasi emiten) tetap membutuhkan pakan komersial dalam jumlah besar untuk menjaga siklus panen ayam.
Sebagai contoh, emiten pakan ternak seperti CPIN dan JPFA tetap mencatatkan lonjakan laba bersih signifikan hingga ratusan persen berkat kontribusi segmen pakan ternak dan ekosistem MBG.
JPFA pada kuartal I/2026 mencatat laba sampai Rp1,8 triliun, melejit hampir tiga kali dari raihan tahun sebelumnya yang sebesar Rp680 miliar. Begitu juga CPIN yang mencetak laba Rp2,5 triliun, meningkat 60 persen lebih dari kuartal pertama 2025 sebesar Rp1,5 triliun.
Dari sisi top line, pertumbuhan segmen pakan (feed) hingga 27,6 persen secara tahunan (yoy) menjadi Rp21 triliun, mencatat kontributor terbesar kedua terhadap penjualan CPIN.
Sementara untuk JPFA porsi bisnisnya masih lebih dominan di pakan ternak, kontribusinya mencapai 39 persen terhadap pendapatan.

Lonjakan laba juga mereprentasikan margin yang atraktif, sampai dengan bottom line alias margin laba bersih (NPM) CPIN dan JPFA masih bisa double digit persen. Sementara gross profit margin (GPM) bisa mencapai di atas 20 persen.
Namun, perlu diakui juga pertumbuhan masif ini didorong oleh tingginya harga ayam (livebird) dan anak ayam (Day Old Chick/DOC) akibat momentum menyambut Lebaran serta persiapan awal program MBG.
Setelah momentum ini, kami mengantisipasi akan ada normalisasi pada kinerja kuartal II/2026.

Meski begitu, selama operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di daerah nantinya sudah mulai jalan lagi, rantai pasok pakan dari raksasa seperti CPIN dan JPFA akan tetap berputar.
Jadi, prospek poultry bisa dibilang cukup menarik, tetapi kenapa harga sahamnya masih loyo?
Update Harga Saham JPFA-CPIN dan Prospeknya
Mengacu harga saham per closing 8 Juli 2026, harga saham JPFA dan CPIN sudah koreksi lebih dari 30 persen dari awal tahun. Meskipun laba melejit signifikan pada kuartal pertama, ternyata realita di lantai bursa sangat kontras.

Masalah yang dilihat pasar saat ini cukup kompleks karena berhubungan soal rupiah yang terus melemah terhadap dolar AS.
Emiten pakan ternak sangat bergantung pada bahan baku impor seperti soybean meal (bungkil kedelai) dan jagung. Pelemahan rupiah berulang kali menyentuh level terpuruk sepanjang masa otomatis melambungkan biaya impor bahan baku tersebut.
Efek berantai yang dikhawatirkan adalah ketika emiten terpaksa menaikkan harga jual pakan ke peternak mandiri agar margin tidak boncos. Jika peternak mandiri tidak kuat membeli pakan mahal, serapan volume pakan akan turun.
Pelaku pasar biasanya lebih forward looking. Pada kuartal pertama, para peternak memacu kapasitas produksi dan menetaskan DOC (Day Old Chicken) dalam jumlah besar untuk mengantisipasi lonjakan permintaan dari program MBG. Hasilnya terasa pada kinerja kuartal pertama JPFA dan CPIN yang ciamik.

Namun, pasokan kini melimpah, tidak sebanding dengan serapan riil pasar saat ini, harga ayam hidup (livebird) jatuh bebas, terutama setelah MBG dihentikan sementara.
Di tingkat peternak, harga ayam hidup sempat anjlok drastis menyentuh kisaran Rp13.000 – Rp15.000 per kg. Padahal, Biaya Pokok Produksi (HPP) peternak berada di angka Rp19.500 – Rp22.000 per kg.
Kondisi itu menunjukkan peternak mulai merugi, kami menilai dampaknya akan lebih terasa ke kinerja kuartal II/2026. Maka dari itu, kami sebutkan di atas bahwa momen earning release berikutnya akan ada normalisasi, yang membuat kita harus lebih manage ekspektasi.
Namun, jika nanti restrukturisasi MBG sudah berjalan dengan baik, SPPG juga sudah mulai jalan lagi, harusnya demand akan kembali normal.
Sederet analis juga masih overweight terhadap prospek saham JPFA dan CPIN. Melansir Stockbit, ada 28 analis merekomendasikan BUY dengan rata-rata target harga JPFA mencapai 3200. Sementara CPIN ditargetkan bisa ke 5300 oleh 20 analis.


Risiko Anomali El Nino
Bisnis peternakan juga akan menghadapi potensi risiko El Nino. Ketika terjadi EL Nino yang signifikan bisa menaikkan harga jual bahan baku pakan (karena produksi yang melambat dan supply yang berkurang). Hal itu membuat biaya operasional mengalami kenaikan.
Selain terkait pakan, perawatan kondisi hewan ternak juga harus lebih intensif karena berpotensi terkena penyakit, mengalami heat stress, hingga krisis air bersih.
Hal itu terlihat dari kinerja laba bersih, JPFA, CPIN, dan MAIN ketika EL Nino di 2023. Tren laba bersih ketiganya mengalami penurunan yang sangat signifikan. Meski, pendapatannya tetap bisa tumbuh positif meski mulai melambat. Artinya, biaya operasional saat El nino bagi para peternak cukup tinggi.
Kesimpulan
Prospek saham poultry sebenarnya masih menarik, prospek demand masih akan tinggi dan margin tetap atraktif.
Harga saham yang sudah jatuh terlalu dalam, sudah menunjukkan posisi valuasi yang menarik. CPIN dihargai 1,37 kali PBV, sementara JPFA lebih murah, berada di 1,15 kali PBV. Jadi, secara risk and reward ratio dari harga sekarang harusnya sudah lebih banyak upsidenya.
Risiko penurunan harusnya juga mulai cenderung terbatas, meskipun gejolak dalam jangka pendek masih tetap diantisipasi karena ada normalisasi kinerja pada kuartal II/2026 dan rasionalisasi anggaran dana MBG.
Secara teknikal, JPFA dan CPIN juga masih dalam tren turun, tetapi ada perbedaan yang mencolok antara keduanya, JPFA bisa dibilang sudah dalam zona lebih aman.
JPFA posisinya sudah bertahan di atas MA20 daily, jika harga berangsur membaik dan membuat konfirmasi higher low, ada potensi perubahan tren, setelah turun lama, pergerakan harga akan masuk ke fase sideways atau akumulasi.
Sementara untuk CPIN masih belum ada tanda keluar dari tren turun. Strateginya masih harus sabar dulu alias wait and see sambil menunggu tren berubah sideways.

Gimana, menurut kalian lebih menarik JPFA atau CPIN?
Kami Baru Merilis Insight Terbaru untuk Saham-saham Terdampak Negatif El Nino dan Strategi Menghadapi Turnaround-nya di Mikirsaham
Dapatkan semua benefit Mikirsaham.com, join sekarang dan dapatkan deretan benefit yang membantumu investasi di saham seperti:
- Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
- Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
- Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
- Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US
- Diskusi lebih nyaman di member area tanpa ada distraksi
- Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
- Hingga konsultasi private dengan founder kami
Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini
Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini
