Adu Kinerja Saham Big Bank hingga Mei 2026, Begini Nasibnya dan Prospek Ke Depan

Empat bank besar RI sudah merilis kinerja sampai Mei 2026. Hasilnya, laba bersih tumbuh positif semua, tetapi tantangan makro tetap membayangi, kira-kira siapa yang paling kuat menghadapi badai?

Share
saham big bank

Mikirduit - Empat bank raksasa Tanah Air sudah kompak menerbitkan kinerja terbaru sampai Mei 2026. Hasilnya, laba bersih tumbuh positif semua, tetapi dibaliknya masih ada bayang-bayang risiko makro, kira-kira siapa yang paling tangguh? mari kita ulas satu per satu. 

Saham BMRI 

Di antara empat bank besar, Bank Mandiri (BMRI) menjadi yang mencatatkan kinerja paling impresif.

Selama lima bulan beruntun pada 2026, laba bersih bank-only BMRI tumbuh 19 persen menjadi Rp23,3 triliun dibandingkan dengan periode ama pada tahun sebelumnya. 

Pertumbuhan tersebut didukung oleh kenaikan pendapatan bunga bersih (Net Interest Income/NII) sebesar 10 persen, pertumbuhan kredit mencapai 21 persen YoY, serta penurunan beban provisi sebesar 16 persen YoY. 

Meski demikian, Net Interest Margin (NIM) mulai mengalami tekanan dan turun menjadi 4,3 persen atau sekitar 30 basis poin dibandingkan tahun sebelumnya, seiring meningkatnya biaya dana (cost of fund).

Saham BBRI 

Bank Rakyat Indonesia (BBRI) juga mencatat pertumbuhan laba bersih bank-only 10 persen YoY menjadi Rp20,4 triliun.

Namun, angka tersebut lebih dipengaruhi oleh pendapatan dividen sekitar Rp4 triliun yang masuk lebih awal dibanding tahun sebelumnya. Jika efek tersebut dikeluarkan agar perbandingan lebih setara, laba bersih BBRI justru turun sekitar 13 persen YoY.

Selain itu, beban operasional meningkat 13 persen YoY, sementara beban provisi naik 8 persen YoY. Kenaikan provisi yang terjadi berturut-turut pada April dan Mei juga mengindikasikan tekanan mulai terasa di segmen UMKM.

Untuk pendapatan dividen BBRI yang melonjak menjadi Rp4,3 triliun dibandingkan dengan Rp230 miliar pada periode sama tahun sebelumnya ini masih belum diketahui. Fakta ini berpotensi terungkap di laporan kinerja keuangan kuartal II/2026 karena catatan dividen itu belum tercatat di kuartal I/2026.

Saham BBNI 

Masih di Bank pelat merah, Bank Negara Indonesia (BBNI) juga membukukan pertumbuhan yang cukup solid.

Laba bersih bank-only naik 7 persen YoY menjadi Rp9,1 triliun dalam lima bulan pertama 2026, ditopang pertumbuhan NII sebesar 15 persen YoY dan lonjakan kredit hingga 25 persen YoY. 

Namun, peningkatan tersebut sebagian tergerus oleh kenaikan beban provisi sekitar 30 persen YoY yang menunjukkan bank mulai lebih berhati-hati terhadap risiko kualitas aset.

Saham COCO dan BNBR Mau Right Issue, Apa yang Harus Dilakukan Investor Ritel?
Saham COCO dan BNBR mau right issue jumbo. Apakah ini menarik? kami coba berikan fakta terkait aksi right issue dan bagaimana cara actionnya

Saham BBCA 

Terakhir ada bank swasta terbesar RI, beda dengan bank Himbara yang pertumbuhan laba secara tahunan di atas 5 persen, bahkan sampai ada yang dua digit. BBCA justru tumbuh moderat, hanya 2 persen YoY. 

Pendapatan bunga bersih relatif stagnan, namun kenaikan pendapatan berbasis komisi dan non-bunga (non-interest income) sekitar 9 persen YoY berhasil menjaga profitabilitas. 

Model bisnis BBCA lebih bertumpu pada dana murah (CASA) membuat bank swasta ini relatif lebih defensif di tengah tekanan likuiditas. 

Berikut perbandingan kinerja dari empat bank besar RI : 

Ada Catatan Buat Himbara : Efek Kopdes Bisa Tekan NIM 

Sekilas pertumbuhan laba deretan bank himbara memang solid. Laba tumbuh positif, penyaluran kredit juga diatas guidance manajemen. Tapi, dibalik itu kami menyoroti kredit yang disalurkan ke program pemerintah, Koperasi Des (Kopdes) Merah Putih. 

Radar kami mulai memperhatikan sejumlah analis yang mulai memperingatkan soal ini, proyeksinya bisa menguji profitabilitas bank-mana kala memasuki paruh kedua 2026.

Tantangan terbesar bersumber dari skema kredit untuk proyek Kopdes. Skema pinjaman ini bersifat revolving loan, artinya debitur hanya membayar bunga sesuai porsi dana yang ditarik, padahal bank wajib mengunci likuiditas 100 persen dari total plafon yang disediakan.

Bagi Himbara, dana tersebut umumnya bersumber dari deposito pemerintah (penempatan SAL) dengan Biaya Dana (Cost of Fund/CoF) di kisaran 4,6 persen, sementara target imbal hasil kredit (loan yield) dipatok sekitar 6 persen di atas kertas, Margin Bunga Bersih (NIM) dari proyek ini masih sehat di level 1,4 persen.

Namun, ada masalah yang terjadi di lapangan. Baru-baru ini target realisasi proyek Kopdes diturunkan separuh, dari 80.000 unit menjadi 40.000 unit saja. Jadi, target dana yang ditagihkan juga berkurang setengah, akibatnya effective yield loan bisa drop ke kisaran 3 persen. 

Dalam kasus ini kondisi bank lagi “besar pasak dibanding tiang”. Gampangnya gini, biaya modal yang dikeluarkan 4,6 persen, tapi cuan yang didapat cuma 3 persen, akhirnya harus nombok selisihnya 1,6 persen. 

Untuk bank seperti BMRI dan BBRI sebenarnya tidak fatal, masih bisa ditutup dana cadangan yang ada, tapi rembesannya bisa memicu estimasi penurunan pendapatan (earning downgrade). 

Di sisi lain, kenaikan suku bunga juga meningkatkan tekanan terhadap Net Interest Margin (NIM). Ketika biaya dana naik akibat repricing deposito, kenaikan bunga kredit tidak selalu bisa mengikuti karena pertumbuhan kredit sedang melambat.

BBRI diperkirakan masih bergantung pada pertumbuhan KUR yang memiliki bunga tetap, sementara BMRI lebih banyak menyalurkan kredit penugasan pemerintah dengan imbal hasil yang relatif rendah.

Lantas bagaimana dengan BBCA? Bank swasta ini justru punya strategi yang berbada dan kondisinya masih di posisi yang menguntungkan. 

BBCA punya dominasi dana murah (CASA) membuat biaya dananya lebih stabil. Selain itu, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah dan SRBI berpotensi meningkatkan pendapatan dari portofolio surat berharganya.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, fundamental empat bank besar Indonesia hingga Mei 2026 masih tergolong solid. Semuanya mencatat pertumbuhan laba bersih secara tahunan, meski kualitas pertumbuhannya mulai menunjukkan perbedaan. 

BMRI tampil sebagai bank dengan pertumbuhan laba tertinggi, BBNI mencatat ekspansi kredit paling agresif, BBRI masih tumbuh namun terbantu faktor non-operasional, sementara BBCA tetap menjadi bank dengan struktur pendanaan paling kuat berkat dominasi dana murah 

Meski begitu, masih ada tantangan pada paruh kedua tahun ini. Potensi penurunan laba akibat program Kopdes, di mana biaya dana akibat suku bunga yang lebih tinggi, serta tekanan terhadap Net Interest Margin (NIM) menjadi faktor yang perlu dicermati, terutama bagi bank-bank Himbara yang memiliki porsi penugasan pemerintah lebih besar. 

Artinya, fokus investor tidak lagi hanya melihat pertumbuhan kredit atau laba, tetapi juga kemampuan masing-masing bank menjaga profitabilitas dan kualitas aset.

Dari sisi strategi, BBCA dinilai relatif lebih defensif karena biaya dananya lebih stabil serta berpotensi mendapat tambahan pendapatan dari portofolio surat berharga. 

Sementara itu, BMRI, BBRI, dan BBNI masih menawarkan potensi pertumbuhan, tetapi juga menghadapi tantangan yang lebih besar dalam menjaga margin dan laba. 

Oleh karena itu, kinerja semester II 2026 akan menjadi penentu apakah momentum pertumbuhan bank-bank besar masih bisa berlanjut atau justru mulai melambat.

Gimana, menurut kalian dari empat bank besar RI siapa paling menarik?

Kami sudah siapkan strategi untuk saham BNBR dan COCO dengan berbagai Skenario di Mikirsaham.com

Dapatkan semua benefit Mikirsaham.com, join sekarang dan dapatkan deretan benefit yang membantumu investasi di saham seperti:

  • Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
  • Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
  • Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
  • Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US
  • Diskusi lebih nyaman di member area tanpa ada distraksi
  • Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
  • Hingga konsultasi private dengan founder kami

Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini

Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini

💡
PROMO SPESIAL dari Investing Pro, DISKON 60% + 15% untuk pembaca Mikirduit. Dapatkan tools analisis saham dan mencari Idea hingga tools AI yang berbasis data lengkap dari Investing dengan Klik di sini
join mikirsaham sekarang