Mau Mulai Nabung Saham, Begini Strategi Jitunya

Mau nabung saham? tapi takut salah milih? kita kasih indikator kasarnya untuk kamu memilih apa saham yang cocok untuk ditabung.

Mau Mulai Nabung Saham, Begini Strategi Jitunya

Mikir Duit – Mimpi bisa cuan banyak dari investasi saham? memang bisa ya? nah untuk itu kita akan buktikan dengan bikin challenge nabung saham. Namun, apa nih saham yang akan ditabung? dan bagaimana strateginya?

Sebelum itu, harus dipahami untuk investasi saham tidak cukup hanya satu sampai tiga tahun saja. Malah butuh lima sampai 10 tahun untuk benar-benar merasakan cuan yang signifikan.

Faktanya, seperti Warren Buffett yang sudah berinvestasi saham sejak 11 tahun, tapi 90 persen kekayaannya baru didapatkan ketika dia sudah berusia 60 tahun ke atas. Artinya butuh waktu lama untuk benar-benar merasakan cuan yang besar.

Namun, untuk bisa merasakan cuan yang besar dari investasi saham, kita harus pilih saham yang punya fundamental bagus untuk jangka panjang. Untuk itu, kita perlu terus memantau fundamental saham yang ada di portofolio.

Adapun, skema untuk nabung saham ini kita menggunakan satuan lot. Jadi, ada yang 1 lot per bulan sampai 5 lot per bulan. Ini dilakukan secara konsisten selama sekitar 2 tahun. Lalu, apa saja nih sahamnya? dan kenapa investasi di saham itu?

Bank Central Asia (BBCA)

BBCA adalah bank swasta terbesar di Indonesia. Bank swasta itu menjadi bank yang punya manajemen risiko terbaik. Hal itu terlihat dari strategi BBCA yang terus menjaga rasio loan to deposit ratio-nya di bawah 80 persen. Alasannya, agar likuiditas BBCA tetap terjaga yang baik. Caranya, BBCA mengalihkan dana pihak ketiga nasabahnya ke aset seperti obligasi pemerintah.

Selain itu, BBCA juga sangat rigid alias ketat dalam penyaluran kredit. Hal itu terlihat dari rasio kredit bermasalah perseroan yang terjaga di 2 persen. Paling rendah dari bank besar lainnya.

BBCA juga menguasai pasar transaksi online dari aplikasi BCA Mobile dan Klik BCA. Untuk menghadapi disrupsi dari bank digital, BCA juga mengakuisisi PT Bank Royal Internasional yang disulap menjadi PT BCA Digital dengan aplikasinya Blu.

BBCA menjadi salah satu emiten yang rutin bagi dividen setahun dua kali. Meski, tingkat yield-nya tidak begitu besar, tapi konsistensi pembagian dividennya tetap menjadi nilai lebih saham ini.

Menariknya, sejak IPO sampai saat ini [14 Februari 2023], harga saham BBCA sudah naik sekitar 25.000 persen. Dengan penyesuaian dari aksi stock split alias pemecahan nilai saham BBCA sebanyak 4 kali.

Untuk itu, kita memasukkan BBCA sebagai portofolio investasi bulanan dengan porsi 1 lot per bulan. Modal yang dibutuhkan sekitar Rp800.000 sampai Rp1 juta per bulan sesuai dengan pergerakan harga saham BBCA.

Astra International (ASII)

ASII juga menjadi salah satu portofolio pilihan untuk nabung saham kali ini. ASII menjadi salah satu perusahaan konglomerasi yang ada di BEI. ASII memiliki beragam lini bisnis dari otomotif, pertambangan batu bara dan emas, perkebunan, teknologi, keuangan, properti, infrastruktur, dan juga ada investasi di rumah sakit dan energi baru terbarukan.

Teranyar, ASII menambah investasi di PT Hermina Tbk. (HEAL) dan PT Arkora Hydro Tbk. (ARKO) melalui PT United Tractors Tbk. (UNTR).

Meskipun bisnisnya terdiversifikasi, harga saham ASII cenderung stagnan dalam 10 tahun terakhir. Hal ini tentu jadi perhatian, penyebabnya bisa jadi karena lini bisnis yang terlalu terdiversifikasi sehingga sentimennya cenderung seimbang.

Di sisi lain, dengan ekspansi bisnis ASII yang terus berlanjut, perseroan berpotensi membuat pertumbuhan kinerja yang konsisten. Seharusnya, hal itu bisa terepresentasikan dalam kinerja harga sahamnya.

ASII juga menjadi emiten yang paling mengikuti tren, saat ada gempuran pesta teknologi, perseroan membuat lini bisnis teknologi dan bekerja sama dengan PT Goto Tbk. (GOTO). Lalu, ada investasi di Halodoc dan beberapa perusahaan teknologi lainnya.

ASII juga menjadi salah satu emiten yang konsisten membagikan dividen. Untuk itu, kita bisa mendapatkan pendapatan pasif tambahan dari perseroan. Toh, peluang ASII tidak membagikan dividen cukup kecil karena prospek bisnisnya masih berpotensi raih laba.

Saat teknologi lesu, ASII mulai berinvestasi di sektor energi baru terbarukan. Pertanyaannya, kapan investasi ASII ini bisa berbuah cuan signifikan ke kinerja keuangan hingga harga sahamnya?

Itu yang kita tunggu. Untuk itu, kita merekomendasikan nabung saham ASII sebanyak 1 lot per bulan atau sekitar Rp500.000 sampai Rp600.000 per bulan, sesuai pergerakan harga sahamnya.

Selamat Sempurna (SMSM)

SMSM bisa dibilang saham yang serasa SBN ritel. Alasannya, SMSM ini membagikan dividen sebanyak 4 kali setahun dan itu konsisten dalam beberapa tahun terakhir.

Di luar itu, bisnis SMSM tidak sefluktuatif komoditas seperti saham batu bara. Dengan begitu, ada potensi pembagian dividen sebanyak 4 kali setahun ini akan konsisten untuk beberapa tahun ke depan.

SMSM ini memiliki bisnis onderdil kendaraan roda empat, termasuk truk. SMSM pun membuka peluang untuk supply onderdil kendaraan listrik. Penjualannya ke ekspor dan domestik cenderung seimbang. Sehingga jika kurs rupiah melemah, tidak menggoyahkan kinerja emiten secara signifikan.

Dengan bisnis yang solid dan nominal harga saham yang masih rendah, kita pun merekomendasikan nabung saham SMSM sebanyak 5 lot per bulan. Itu setara dengan Rp600.000 sampai Rp700.000 per bulan.

Kesimpulan

Ketiga saham ini pilihan dari tim Mikir Duit yang juga melakukan challenge nabung di ketiga saham itu. Namun, ketiga saham ini bukan pilihan mutlak, kamu bisa memilih saham-mu sendiri yang dinilai lebih prospektif.

Pesan yang mau disampaikan adalah kita nabung saham untuk jangka panjang secara konsisten untuk benar-benar merasakan hasilnya. Tantangan terbesar investor saham adalah kuat menghadapi floating loss. Soalnya, cuan akan datang karena kesabaran kita. Paling penting, kita investasi saham yang fundamentalnya bagus dan juga rajin bagi dividen.

Dividen menjadi penting karena bisa dianggap sebagai pelipur lara floating loss yang dialami. Namun, jika floating loss terjadi karena masalah bisnis dan kasus keuangan emiten tersebut, kita juga harus berani keluar.

Misalnya, di saham rokok yang bisnisnya sejauh ini tergerus oleh kenaikan cukai. Inovasi PT HM Sampoerna Tbk. (HMSP) maupun PT Gudang Garam Tbk. (GGRM) sejauh ini juga belum berefek ke kinerja keuangannya.

Kalau dalam kasus itu, kita bisa keluar dulu untuk memilih saham yang bisnisnya masih punya prospek untuk jangka panjang.

Nah, sekarang apa nih saham pilihanmu?


Disclaimer: Artikel ini tidak mengajak kamu membeli atau menjual salah satu saham. Artikel ini hanya memberikan informasi yang bisa jadi pertimbanganmu untuk membeli atau menjual sebuah saham. Investasi saham memiliki risiko yang harus ditanggung oleh diri sendiri.