Saham TOWR Ekspansi ke Energi Baru Terbarukan dan Data Center, Begini Hitungan Prospeknya

Saham TOWR dapat persetujuan ekspansi ke bisnis baru dari data center dan energi baru terbarukan. Begini ulasan dampaknya ke prospek kinerja perseroan

Share
saham towr

Mikirduit – Saham TOWR berencana menjajal bisnis baru untuk mendorong efisiensi dan menambah revenue stream. Dalam hitungan kasar, TOWR berencana menggelontorkan belanja modal Rp2 triliun untuk menjalankan plan tersebut. Lalu, bagaimana prospek ke depannya?

Saham TOWR berencana menambah kegiatan usaha di dua anak usahanya, yakni Protelindo dan Iforte.

Nantinya, Protelindo akan menambah lini bisnis mulai dari:

  • Penyewaan peralatan telekomunikasi, power system, equipment sharing, dan power sharing
  • Panel surya 
  • Smart Energi Management
  • Pemasangan jaringan listrik

Lalu, iForte akan menambah bisnis:

  • Data center
  • Wireless Telecom atau Microwave
  • Tower Lease
  • Aktivitas holding

Dalam pengembangan itu, TOWR membutuhkan belanja modal sekitar Rp2,07 triliun yang mayoritas akan digunakan untuk Data Center dari Iforte senilai Rp1,47 triliun. Sisanya akan digunakan untuk:

  • Panel Surya Protelindo senilai Rp447 miliar
  • Aktivitas holding iForte senilai Rp16,5 miliar
  • Tower Lease iForte senilai Rp21 miliar
  • Wireless Telecom iForte senilai Rp117 miliar

Dari proyek ekspansi ini, bisnis data center menjadi skala proyek terbesar. iForte berencana membangun data center dengan kapasitas 10 MW secara bertahap. Apakah itu kapasitas yang cukup besar? jawabannya tidak terlalu besar. Jika dibandingkan dengan market leader data center saat ini DCII, porsi 10 MW itu hanya sekitar 7,8 persen dari kapasitas terpasang-nya saat ini.

Dalam simulasi yang diungkapkan di keterbukaan informasi, TOWR berpotensi mencatatkan rata-rata pertumbuhan lebih besar 1,89 persen dengan rencana dibandingkan dengan tanpa rencana. Lalu, rata-rata pertumbuhan laba bersih tahun berjalan bisa tumbuh lebih besar 2,05 persen dibandingkan dengan tanpa rencana. 

Nantinya, total pendapatan rencana usaha baru dalam periode 2026-2035 juga akan berkontribusi sekitar 26,35 persen dibandingkan dengan pendapatan TOWR pada 2025. Berarti, secara kasar kontribusi pendapatan dari bini baru saat berjalan optimal di 2035 bisa mencapai Rp3 triliun.

Lalu, net profit margin diperkirakan menjadi 36 persen. Posisi itu menjadi lebih baik dibandingkan dengan 30 persen pada 2025.

TOWR Segment Watch 2020-2025

Bisnis non-menara makin besar, tapi sewa menara tetap mesin laba utama

Sepanjang 2020-2025, pendapatan TOWR naik dari Rp7,45 triliun menjadi Rp13,33 triliun. Perubahan paling menarik ada pada komposisi segmen: kontribusi jasa lainnya/non-menara melonjak dari 15,0% menjadi 34,5% terhadap pendapatan segmen.

Pendapatan 2025 Rp13,33 T naik 79,0% dari 2020
Porsi non-menara 2025 34,5% vs 15,0% pada 2020
Margin laba usaha 2025 62,4% vs 44,5% sewa menara vs jasa lainnya

Sewa menara masih paling dominan

Rp8,73 T

Pendapatan segmen sewa menara 2025. Segmen ini masih menyumbang 65,5% pendapatan segmen.

Non-menara tumbuh paling agresif

Rp4,60 T

Pendapatan jasa lainnya 2025, naik lebih dari 4 kali lipat dibandingkan 2020.

Margin non-menara membaik tajam

44,5%

Margin laba usaha jasa lainnya 2025, jauh lebih tinggi dibandingkan 30,1% pada 2020.

Tren komposisi pendapatan segmen

Bar menunjukkan porsi pendapatan segmen. Angka di bawahnya menunjukkan nilai pendapatan masing-masing segmen.

Sewa Menara Jasa Lainnya
2020
85,0%
15,0%
Total: Rp7,45 T Sewa menara: Rp6,33 T Jasa lainnya: Rp1,11 T
2021
82,2%
17,8%
Total: Rp8,64 T Sewa menara: Rp7,10 T Jasa lainnya: Rp1,53 T
2022
78,0%
22,0%
Total: Rp11,04 T Sewa menara: Rp8,61 T Jasa lainnya: Rp2,43 T
2023
71,6%
28,4%
Total: Rp11,74 T Sewa menara: Rp8,40 T Jasa lainnya: Rp3,34 T
2024
66,9%
33,1%
Total: Rp12,74 T Sewa menara: Rp8,52 T Jasa lainnya: Rp4,21 T
2025
65,5%
34,5%
Total: Rp13,33 T Sewa menara: Rp8,73 T Jasa lainnya: Rp4,60 T

Catatan: Pendapatan segmen dihitung dari pendapatan sewa serta jasa dan lainnya pada masing-masing segmen. Angka dibulatkan ke triliun rupiah agar lebih mudah dibaca.

Margin laba usaha per segmen

Sewa menara tetap memiliki margin lebih tinggi, tetapi jasa lainnya menunjukkan perbaikan struktural sejak 2020.

Sewa Menara

2020 66,8%
2021 67,6%
2022 65,8%
2023 63,7%
2024 62,9%
2025 62,4%

Jasa Lainnya / Non-Menara

2020 30,1%
2021 38,9%
2022 48,0%
2023 47,5%
2024 45,2%
2025 44,5%

Ringkasan angka utama

Tabel ini bisa discroll horizontal di mobile agar teks tidak menumpuk atau keluar kotak.

Tahun Pendapatan Sewa Menara Pendapatan Jasa Lainnya Total Pendapatan Margin Sewa Menara Margin Jasa Lainnya Porsi Jasa Lainnya
2020 Rp6,33 T Rp1,11 T Rp7,45 T 66,8% 30,1% 15,0%
2021 Rp7,10 T Rp1,53 T Rp8,64 T 67,6% 38,9% 17,8%
2022 Rp8,61 T Rp2,43 T Rp11,04 T 65,8% 48,0% 22,0%
2023 Rp8,40 T Rp3,34 T Rp11,74 T 63,7% 47,5% 28,4%
2024 Rp8,52 T Rp4,21 T Rp12,74 T 62,9% 45,2% 33,1%
2025 Rp8,73 T Rp4,60 T Rp13,33 T 62,4% 44,5% 34,5%
1. Transformasi mulai terlihat Porsi pendapatan non-menara naik konsisten dari 15,0% pada 2020 menjadi 34,5% pada 2025. Artinya, TOWR tidak lagi hanya bertumpu pada sewa menara.
2. Margin menara tetap superior Margin laba usaha sewa menara masih berada di atas 60%, tetapi trennya menurun bertahap dari 67,6% pada 2021 menjadi 62,4% pada 2025.
3. Non-menara makin matang Margin jasa lainnya naik dari 30,1% pada 2020 menjadi 44,5% pada 2025. Ini menunjukkan bisnis fiber, VSAT, IPLC, FTTH, dan layanan terkait mulai lebih efisien.
4. Fokus berikutnya: kualitas growth Tantangan utama bukan hanya membesarkan pendapatan non-menara, tetapi menjaga agar margin segmen ini tidak terus turun setelah ekspansi makin besar.

Sumber data: Laporan Tahunan TOWR 2021, 2023, dan 2025. Seluruh angka pendapatan dan laba usaha berasal dari catatan segmen operasi, lalu dibulatkan untuk kebutuhan visual.

Gambaran Realita Efek Ekspansi ke Kinerja TOWR

Dalam RUPS Luar Biasa pada 20 Mei 2026, TOWR mendapatkan persetujuan dari pemegang saham untuk menjalankan ekspansi bisnis tersebut. Nantinya, dari deretan ekspansi yang akan dilakukan itu, TOWR akan langsung menjalankan ekspansi untuk bisnis energi baru terbarukan.

Direktur TOWR Indra Gunawan mengatakan, perseroan perseroan akan langsung menjalankan rencana ekspansi tersebut, terutama bisnis energi, setelah KLBI disetujui. 

"Kami sudah memiliki captive market-nya di site yang tidak terjangkau listrik PLN. Sehingga dampaknya akan langsung terasa ke pembukuan tahun 2027 (untuk full year-nya)," ujarnya dalam RUPSLB pada 20 Mei 2026.

Indra menjelaskan bisnis energi baru terbarukan itu akan menyasar ke area menara telekomunikasi perseroan yang tidak terhubung dengan listrik PLN. Selama ini, area menara yang tidak terhubung dengan PLN itu mendapatkan aliran listrik dari genset.

"Kami mau migrasi dari genset diesel ke energi terbarukan. Ini akan menjadi solusi daya listrik untuk area yang belum terhubung dengan PLN dengan lebih efisien," ujarnya.

Penjualan listrik tersebut akan langsung dilakukan perseroan ke operator seluler di area menara terkait tanpa melalui PLN. Pasalnya, area tersebut belum ada jaringan listrik PLN.

Sementara itu, untuk ekspansi yang dilakukan iForte (yang memiliki porsi terbesar mencapai Rp1,6 triliun) termasuk untuk data center akan dilakukan bertahap tidak dalam satu periode digelontorkan.

Dana ekspansi TOWR ini akan diambil menggunakan pinjaman bank yang sudah didapatkan dan belum digunakan perseroan dengan kombinasi kas internal.

Dalam RUPS Tahunan pada tanggal yang sama, TOWR mengumumkan pembagian dividen sekitar Rp800 miliar yang setara sekitar Rp6,89 per saham untuk dividen final tahun buku 2025. Jika dihitung tingkat dividend yield dari harga saham 20 Mei 2026 mencapai 1,6 persen.

Saham TPMA Cuma Berikan Payout Ratio Dividen di Bawah 50 Persen, Tanda Positif atau Negatif?
Saham TPMA hanya bagikan dividen payout ratio di bawah 50 persen. Ini jadi salah satu payout ratio yang terendah bagi TPMA. Apakah ini pertanda positif atau negatif?

Kesimpulan

TOWR tengah berusaha mencari ruang perbaikan margin bisnis utamanya terkait sewa menara, di luar pengembangan bisnis non-menara seperti dari fiber optik. Dengan melakukan ekspansi ke bisnis EBT, TOWR bisa mengoptimalkan efisiensi operasional termasuk menjual daya listrik ke klien dengan biaya rutin yang lebih murah. Meski, butuh modal besar di awal. 

Sehingga, dampak dalam jangka pendek dari ekspansi ini adalah efisiensi dan perbaikan net profit margin. Selain itu, pengembangan data center bisa mengoptimalkan aset fiber perseroan. Apalagi, tingkat margin laba usaha dari jasa lainnya, termasuk fiber optik terus membaik di kala margin sewa menara terus menyusut.

Di sisi lain, kami melihat ada ruang pertumbuhan bisnis menara secara moderat dengan kondisi:

  • Normalisasi permintaan setelah konsolidasi akuisisi-merger EXCL dengan FREN selesai.
  • Potensi kenaikan permintaan pasca lelang frekuensi 700 Mhz dan 2,6 Ghz rampung di akhir Juli 2026. (siapapun pemenangnya, emiten menara seperti, TOWR, MTEL, dan TBIG akan mendapatkan tambahan pesanan)

Mau tanya langsung saham yang murah menurut founder Mikirduit saat ini, serta menunggu rilis resmi saham Dividen Mikirduit 2026?

Dapatkan semua benefit Mikirsaham.com, join sekarang dan dapatkan deretan benefit yang membantumu investasi di saham seperti:

  • Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
  • Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
  • Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
  • Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US
  • Diskusi lebih nyaman di member area tanpa ada distraksi
  • Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
  • Hingga konsultasi private dengan founder kami

Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini

Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini