Musim Rilis Laporan Keuangan, Apa yang Harus Dilihat?

Musim rilis laporan keuangan dimulai, tapi pertanyaannya, apa yang harus dilihat sehingga bisa membantu kita memutuskan harus melakukan apa dalam investasi saham?

Musim Rilis Laporan Keuangan, Apa yang Harus Dilihat?

Mikirduit – Saat memasuki musim rilis laporan keuangan, kira-kira apa yang sering kamu lihat sebagai investor ritel? apakah kinerja laba bersihnya saja? atau ada formula lain untuk melihat kinerja keuangannya. Setelah tahu kalau kinerja keuangan itu oke atau nggak, apa yang harus kita lakukan? Kali ini, saya akan ceritain bagaimana saya menilai kinerja keuangan sebuah saham.

Jujur, indikator kinerja laba bersih memang yang paling sederhana dan juga mempengaruhi harga saham. Jika kinerja laba bersih jelek, setelah rilis laporan keuangan biasanya harga saham juga ikut turun, begitu juga sebaliknya saat kinerjanya oke setelah laporan keuangan harga saham naik. Namun, di sini, kita tidak bisa mendeteksi saham itu sebenarnya busuk atau malah potensial di masa depan.

Misalnya, dalam kasus saham PT Pudjiadi Prestige Tbk. (PUDP), kinerja setahun 2022-nya cukup sensasional setelah mencatatkan turnaround story dari rugi Rp17 miliar menjadi laba bersih Rp279 miliar. Namun, dalam dunia bisnis, hal ini perlu di cekricek lagi karena ada sesuatu yang tidak wajar.

PUDP memang mencatatkan kinerja pendapatan yang luar biasa setelah tumbuh 749 persen menjadi Rp471 miliar sepanjang 2022. Namun, kalau dilihat, hampir lebih dari 90 persen pendapatan itu hanya didapatkan dari satu pihak, yakni PT Jhonlin Marine Trans. Artinya, jika di 2023 tidak ada sumber pendapatan dari Jhonlin Marine Trans lagi, kinerjanya pasti langsung jeblok.

Hasilnya, sampai semester I/2023, PUDP balik rugi senilai Rp1,34 miliar. Pendapatannya juga turun 29 persen menjadi Rp17 miliar. Lalu, kini dari sumber pendapatannya sudah tidak ada yang berkontribusi lebih dari 10 persen seperti periode 2022.  Berarti, jika ingin melihat kinerja keuangan PUDP kembali berjaya, kita harus kembali berharap ada penjualan di atas 10 persen yang nominalnya setara transaksi Jhonlin Marine Trans tersebut.

BACA JUGA: Jebakan Dividen dari Saham PUDP

Berbeda lagi dengan kasus PT Saratoga Investama Tbk. (SRTG). Jika kita hanya fokus di laba/rugi bersih, perusahaan milik Sandiaga Uno dan Edwin Soeryadjaya itu memang mengalami rugi besar Rp12 triliun pada semester I/2023. Berbanding terbalik dengan periode sama tahun lalu, mereka masih laba sekitar Rp3 triliun.

Namun, kalau kita hanya fokus di laba bersih, berarti kita akan melewatkan beberapa data penting seperti, jumlah utang bank SRTG sudah turun 39 persen dibandingkan dengan akhir 2022 menjadi tersisa Rp937 miliar dibandingkan Rp1,5 triliun pada periode sebelumnya. Ditambah, SRTG mencatatkan kenaikan pendapatan dari dividen sebesar 16 persen menjadi Rp1,6 triliun dibandingkan dengan Rp1,3 triliun pada periode sama tahun lalu.

Lalu, kita  bisa melewatkan fakta penyebab SRTG rugi Rp12 triliun adalah karena hitung-hitungan floating loss saham yang diinvestasikannya senilai Rp15 triliun. Meski rugi Rp12 triliun, SRTG masih mendapatkan arus kas operasional yang positif senilai Rp1,1 triliun. Artinya, dengan mengetahui skema pengelolaan investasi SRTG yang beberapa lagi terkena imbas penurunan harga komoditas, berarti jika harga saham SRTG turun terus, menjadi tanda ada diskon di harga sahamnya. Nantinya, ketika portofolio saham SRTG kembali pulih, bukan tidak mungkin kinerja keuangan SRTG juga pulih.

BACA JUGA: Prospek Saham SRTG, Valuasi Murah dan Panen Dividen

Jadi Apa yang Harus Diperhatikan dari Kinerja Laporan Keuangan Emiten?

Saya akan kasih beberapa urutan screening laporan keuangan yang biasa dilakukan terutama untuk memantau kinerja keuangan saham-saham yang masuk stockuniverse jangka panjang saya.

Beberapa cara yang saya lakukan antara lain:

Pertama, melihat laba bersihnya tumbuh seberapa besar. Ini menjadi screening pertama untuk mencari poin penting dari kinerja emiten tersebut. Soalnya, dari kinerja laba-rugi bersih akan terlihat masalah utama perusahaan memang lagi bagus-bagusnya atau jelek, atau lagi jelek tapi coba dipoles jadi bagus.

Kedua, Cari tahu, apa yang mendorong pertumbuhan atau yang menekan penurunan laba bersihnya. Ada dua hal kemungkinan, faktor operasional dan non-operasional.

Jika dari faktor operasional:

  • Ada kenaikan atau penurunan pendapatan yang signifikan
  • Pendapatan naik atau turunnnya biasa saja, tapi beban pokok pendapatan cenderung stagnan atau malah naik lebih tinggi sehingga mempengaruhi peforma laba bersih
  • Dalam kasus emiten bank, kenaikan dan penurunan pendapatan bunga jadi salah satu penggerak laba bersih secara operasional
  • Lalu, pergerakan beban bunga juga bisa mempengaruhi kinerja laba bersih bank

Untuk faktor non-operasional, bisa dicek faktor pendorong atau penekan laba bersih dari adanya pendapatan lain atau kenaikan beban seperti:

  • Kenaikan atau penurunan beban keuangan, dan beban lainnya
  • Ada pendapatan atau kerugian dari bagian laba bersih atas entitas asosiasi atau perusahaan patungan
  • Ada pendapatan atau kerugian yang belum terealisasi dari aktivitas investasi
  • Ada pendapatan lain-lain yang bisa dari menang gugatan hukum sampai ada pendapatan tiba-tiba datang karena sebelumnya sudah dianggap tidak akan diterima ( dalam kasus perusahaan pembiayaan seperti pembayaran piutang yang sudah dihapusbukukan)
  • adanya keuntungan atau kerugian selisih kurs yang signifikan
  • Khusus emiten bank dan keuangan, ada kenaikan dan penurunan biaya pencadangan untuk antisipasi kredit bermasalah

Misalnya, dalam kasus PT Dharma Polimetal Tbk. (DRMA) mencatatkan laba bersih meroket 140 persen. Di sini, kita perlu cek apa yang bikin labanya meroket. Ternyata, kalau discreening selanjutnya, memang dari segi pendapatan tumbuh 72 persen. Lalu, laba kotornya juga meroket 124 persen. Artinya,operasional menjadi komponen utama penggerak laba bersihnya tersebut.

Berbeda lagi dengan PT Clipan Finance Tbk. (CFIN), laba bersih CFIN di semester I/2023 nauk 95 persen menjadi Rp1,39 triliun. laba bersihnya terbang 6.000-an persen menjadi Rp649 miliar. Sekilas terlihat, wah berarti bisnis CFIN lagi bagus nih karena pendapatannya pun terbang 95 persen dengan biaya yang ter-manage dengan baik.

Namun, kalau kita lihat detail sumber pendapatan CFIN dan mengeceknya di catatan laporan keuangan perseroan. Lebih dari 50 persen pendapatan CFIN ini berasal dari pendapatan lainnya senilai Rp700-an miliar.

Setelah dicek, dalam pos pendapatan lainnya ini ada pos penerimaan kembali piutang yang telah dihapusbukukan senilai hampir Rp600-an miliar. Apa maksudnya itu? jadi artinya ada pembiayaan yang dihapusbukukan oleh CFIN, eh tiba-tiba pembiayaan itu bisa terbayar [bisa dibayarkan lagi atau hasil dari penjualan agunan]. Nilainya pun cukup besar. Jelas, hal itu bakal mengerek laba bersih CFIN karena omzet yang didapatkannya itu tidak mengeluarkan biaya besar lagi hanya menerima pembayarannya saja.

Lalu, apakah berarti kinerja CFIN jelek? jika kita tidak memasukkan pendapatan lain-lain itu, peforma CFIN nggak jelek juga, tapi ya biasa saja dengan pertumbuhan pendapatan sekitar 13 persen. Namun, para holder CFIN di harga pucuk ya siap-siap saja, ketika di 2024 pendapatan lain-lain itu sudah tidak tercatat, ada risiko kinerjanya sedikit koreksi.

Ketiga, update posisi utang perseroan. Apakah ada kenaikan atau penurunan. Soalnya, ini akan mempengaruhi apakah perusahaan nantinya bakal punya masalah bayar utang atau tidak.

Hal yang perlu diperhatikan adalah prospek kemampuan perusahaan untuk bayar utang dalam jangka pendek. Jujur, saya tidak terlalu memantau angka debt to equity ratio (DER) tapi lebih dalam jangka pendek, emiten ini bisa bayar utang nggak. Hal itu terinspirasi dari kesalahan saya investasi di SRIL. [BACA JUGA: Penyebab Rugi Banyak dari Investasi di SRIL]

Jadi apa saja yang harus dilihat:

  • utang bank di liabilitas jangka pendek
  • utang bank jangka panjang yang jatuh tempo dalam satu tahun
  • utang obligasi jangka panjang yang jatuh tempo dalam satu tahun
  • surat utang jangka menengah

Semua poin itu biasanya tersedia di bagian liabilitas jangka pendek. Namun, dalam kasus khusus, kita perlu melihat total liabilitas jangka pendek juga untuk melihat kemampuan bayar perusahaan membayar seluruh tagihannya.

Dalam hal ini, seperti kasus PT Waskita Karya (Persero) Tbk. (WSKT). Sepanjang 2022 atua sejak 2020 malah, sebenarnya sudah bisa dideteksi si WSKT ini bakal sulit bayar utang dan kewajibannya. Kenapa? ya secara bisnis, kinerjanya sudah tidak menguntungkan. Cara mereka dapat uang lebih adalah dengan divestasi aset yang dalam artian jual-beli putus. Di sisi lain, utangnya menggunung.

Nah, dalam laporan keuangan sepanjang 2022, sebenarnya total utang bank, surat utang jangka menengah, dan obligasi jangka panjang yang bakal jatuh tempo dalam 1 tahun itu cuma senilai Rp6 triliun. Di sisi lain, total arus kas setara kas WSKT masih ada sekitar hampir Rp9 triliun. Artinya aman dong? ada lebih Rp3 triliun.

Namun, masalahnya, WSKT ini punya total liabilitas jangka pendek itu senilai Rp26 triliun, di mana diantaranya harus bayar subkontraktor, sewa guna bangunan, uang muka kontrak, utang usaha. Di sisi lain, kinerja bisnis WSKT tidak menguntungkan. Jadi, bagaimana mereka bisa bayar semua kewajiban jangka pendek dengan model bisnis yang tidak menguntungkan, serta uang kas cuma sekitar Rp9 triliun? hal itu yang jadi masalah BUMN karya ini hingga melakukan restrukturisasi utang dan sebagainya.

Untuk itu, kita juga perlu jeli secara khusus melihat keanehan di bagian liabilitas, terutama yang jangka pendek. Soalnya, itu akan mencerminkan seberapa banyak total kewajiban yang harus dibayarkan dalam jangka pendek.

Keempat, mengetahui seberapa mampu emiten membayar kewajibannya. Caranya, cek bagian arus kas perusahaan. Ada tiga jenis arus kas:

  • Arus kas operasional yang menggambarkan uang tunai yang keluar-masuk dari aktivitas bisnisnya. Kalau bisnisnya menguntungkan akan ada arus kas operasional dengan nominal positif yang tersedia. Namun, kalau negatif berarti perusahaan tidak mampu mendapatkan uang dari operasional bisnisnya tersebut.
  • Arus kas investasi yang menggambarkan uang yang keluar-masuk dari aktivitas investasi. Aktivitas investasi itu bisa bikin bisnis perusahaan patungan, pembelian aset, penjualan aset, dan lainnya. Untuk arus kas investasi, posisi negatif atau positif memiliki makna yang sama-sama bisa bagus dan jelek. Jika arus kas investasi posisi negatif berarti perusahaan lagi ekspansi melakukan banyak investasi. Lalu, kalau arus kas investasi positif berarti perusahaan lagi merealisasikan hasil-hasil investasinya dari penjualan aset, anak usaha, dan lainnya. Namun, bisa juga berarti perusahaan dapat dividen dari aset investasinya.
  • Arus kas pendanaan yang menggambarkan uang yang keluar-masuk dari aktivitas pendanaan seperti mendapatkan atau pembayaran utang. Jadi, ketika arus kas pendanaan menjadi positif berarti ada tambangan dana dari utang bank, obligasi, atau hasil dana rights issue dan sebagainya. Jika arus kas pendanaan negatif berarti baru ada aksi pembayaran utang.

Lalu, dari total semua itu akan ada kas setara kas yang menggambarkan uang tunai yang dimiliki perusahaan. Dari situ, kita bisa menilai saja tanpa hitung-hitungan rumit, apakah si perusahaan mampu bayar utang-utangnya atau tidak dengan punya arus kas seperti itu dan realisasi kinerja bisnisnya.

Kesimpulan

Lalu, apa yang menandakan kinerja perusahaan oke atau tidak? bagi saya, kinerja perusahaan oke atau tidak cukup dia nggak ada masalah utang dan secara operasional bisnisnya masih menguntungkan, serta skala bisnisnya besar dan punya prospek yang bagus.

Misalnya, PT Astra Internasional Tbk. (ASII) memang mencatatkan penurunan laba bersih sebesar 3 persen menjadi Rp17 triliun pada semester I/2023. Apakah ini menjadi pertanda buruk untuk ASII?

Menurut saya tidak, karena kalau dilihat secara bisnis keseluruhan, ASII masih mencatatkan pertumbuhan pendapatan 13 persen menjadi Rp162 triliun. Adapun, kinerja ASII rugi gara-gara perseroan berinvestasi di saham PT Goto  GojekTokopedia Tbk. (GOTO) Dalam laporan keuangan, perseroan menggabungkan nominal investasi di GOTO dan PT Hermina Medikaloka Tbk. (HEAL) yang kalau ditotal nilainya turun 96 persen menjadi tersisa Rp130 miliar.

Lalu, utang jangka pendek ASII tembus Rp36 triliun. Apakah perlu dikhawatirkan? menurut saya tidak perlu dengan model bisnis ASII yang dalam 6 bulan terakhir secara operasional bisa mencatatkan arus kas operasional Rp24 triliun,serta punya arus kas setara kas Rp51 triliun, ya kewajiban jangka pendek itu jelas bukan masalah.

Setelah mengetahui ini apa yang kita lakukan? ya kita lihat pergerakan harga sahamnya. jika perusahaan yang kinerja keuangannya masih dinilai cukup solid lalu pergerakan harga sahamnya turun, jika punya modal, kita bisa ambil posisi beli.

Namun, jika ternyata kinerja keuanga perusahaan ternyata tidak solid seperti PUDP dalam contoh tulisan ini. Ya udah skip aja, jangan dilihat-lihat. Kecuali kalau mau trading jangka pendek.

Ini cara saya dalam memilih saham saat ada momen laporan keuangan. Kalau kamu gimana?