Mengukur Prospek HRTA Saat Harga Emas Terus Meroket

Harga emas lagi tinggi, kira-kira gimana prospek saham emas? kali ini kami akan ulas prospek saham yang jualan emas, bukan yang nambang. Bakal meroket juga nggak ya?

Mengukur Prospek HRTA Saat Harga Emas Terus Meroket

Mikirduit – Harga emas dunia sudah tembus 2.400 dolar AS per troy ounce menjadi level tertinggi sepanjang masa selaras dengan risiko ekonomi global. Di tengah kenaikan harga emas tersebut, ada satu emiten yang dianggap berpotensi mendapatkan keuntungannya, saham itu adalah HRTA. Apakah benar-benar diuntungkan atau tidak? simak ulasan lengkapnya di sini.  

HRTA mencatatkan pertumbuhan kinerja keuangan yang agresif di sepanjang kuartal pertama 2024. Pendapatan perseroan naik sebesar 89 persen menjadi Rp4,01 triliun. Lalu, laba bersih naik sebesar 46 persen menjadi Rp102 miliar. 

Meski laba bersih naik tinggi, tapi gross profit margin (GPM) HRTA turun menjadi 6,44 persen dibandingkan dengan 9,69 persen pada periode sama tahun lalu. Artinya, ada kenaikan signifikan pada pos beban pokok pendapatan.Penyebabnya, ada kenaikan biaya pembelian bersih untuk persediaan bahan baku sebesar 80 persen menjadi Rp3,94 triliun.

Dari hasil kuartal pertama ini, apakah berarti HRTA diuntungkan dari kenaikan harga emas?

Jawabannya tidak sepenuhnya. Secara pendapatan, HRTA akan mencatatkan kenaikan karena nominal harga jual produk emas-nya akan naik. Namun, secara laba kotor akan terlihat kalau margin keuntungannya tidak begitu besar. Soalnya, saat harga emas naik, HRTA harus beli emas di harga yang tinggi juga. Sehingga tingkat margin keuntungannya bisa dibilang tetap. Meski, HRTA bisa mengatur biaya operasional lebih efisien untuk menjaga pertumbuhan laba bersih tetap menarik. 

Kalau begitu, bagaimana prospek saham HRTA ke depannya dengan keuntungan dari penjualan emas saat harga tinggi ini hanya mengangkat nominal pendapatan saja?

Overview Bisnis HRTA

Untuk detail terkait prospek HRTA, kami akan mengulas model bisnis HRTA secara keseluruhan. Perseroan memiliki tiga anak usaha, yakni Emas Murni Abadi sebagai bisnis pemurnian emas, Gemilang Hartadinata Abadi sebagai holding anak usaha perhiasan, serta Aurum Digital Internusa untuk platform jualan emas yang dimiliki perseroan secara in-house. 

Hingga 2023, HRTA memiliki 5 pabrik, yang terdiri 3 pabrik perhiasan dengan total kapasitas produksi 18 ton, 1 pemurnian dengan kapasitas 9 ton, dan 1 pabrik perhiasan dengan emas 99 persen dan emas batangan dengan kapasitas 12 ton.

Untuk penjualan produknya, HRTA memanfaatkan beberapa Channel seperti:

  • E-commerce
  • Supermarket seperti Alfamart, Ranch Market, dan department store seperti Matahari
  • Mitra franchise
  • Penjualan secara grosir ke toko emas lainnya
  • Serta toko emas milik HRTA sendiri yang kini sudah ada 85 gerai di Lampung, Jakarta, Jawa Barat, Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara, dan Sulawesi.

Sejauh ini, HRTA memiliki market share sekitar 10,36 persen di segmen perhiasan,28,51 persen di segmen emas batangan, dan secara total untuk penjualan produk emas memiliki market share sebesar 18,52 persen.

Salah satu nilai lebih dari produk emas batangan HRTA dibandingkan dengan UBS, Antam, dan Lotus Archi adalah selisih jual-beli (antara harga jual dengan harga buyback) menjadi paling tipis, yakni 8,44 persen.

Lalu, HRTA juga bekerja sama dengan BRIS dan BJB Syariah (anak usaha BJBR) untuk menyediakan pembelian cicil emas setiap bulan.

Selain itu, HRTA juga sudah memasuki pasar ekspor. Hingga 2023, HRTA mencatatkan kontribusi pendapatan dari segmen ekspor emas sudah mencapai 33,26 persen dari total pendapatan.

Peluang Saham Emas Ikut All Time High Seperti Komoditasnya
Harga emas sudah all time high, tapi kenapa harga saham emas masih disitu-situ aja? simak ulasan tujuh saham emas di Indonesia ini ya.

Prospek Saham HRTA

Meski, dari segi pertumbuhan bisnis terlihat sangat signifikan, tapi ada beberapa perhatian kami, terutama di tingkat utang berbunga terhadap ekuitas yang masih cukup tinggi. Debt to Equity rasio HRTA tergolong tinggi sebesar 1,32 kali. Apalagi, HRTA juga berencana menambah tingkat utang obligasi senilai Rp500 miliar yang lagi proses diterbitkan. 

Salah satu yang menjadi perhatian kami adalah tingkat utang yang tinggi itu menjadi berpotensi risiko jika melihat margin keuntungan HRTA yang tipis. Tingkat gross profit margin HRTA dalam periode 2023-kuartal I/2024 sekitar 6-9 persen. Jika ada penurunan pendapatan karena hal tidak terduga, tingkat risiko utang HRTA bisa menjadi sangat tinggi. 

Meski begitu, HRTA juga sudah merencanakan untuk melakukan pengurangan rasio utang dalam rencana jangka panjangnya, yakni di 2026-2027. Pada periode itu, perseroan juga menargetkan bisa membuat posisi arus kas menjadi lebih sehat. 

Dalam periode 2016-2023, rata-rata posisi arus kas operasi HRTA memang negatif. Pada 2023, mencatatkan negatif Rp394 miliar, meski pada kuartal I/2024 kembali positif Rp28 miliar. 

Lalu, apa yang dilakukan perseroan sepanjang 2024-2025?

Jika dilihat dari kerangka bisnisnya, perseroan punya beberapa rencana pada periode 2024-2025 seperti, meningkatkan kualitas produk untuk bisa masuk list Good Delivery dari London Bullion Market Association (LBMA), memperkuat kolaborasi dengan partner strategis dari domestik dan internasional, menurunkan biaya dana dari obligasi seperti melakukan refinancing dengan pinjaman berbunga lebih rendah, memperluas partner ekspor, memastikan bahan baku dari penambang lokal, serta berencana mencari pembiayaan berbasis ekuitas seperti right issue atau private placement. 

Terkait memperluas partner ekspor ini, perseroan juga tengah menjajaki peluang masuk ke negara selain India. Beberapa pasar yang dibidik antara lain, Thailand, Vietnam, Singapura, dan Amerika Serikat. 

Dengan berbagai rencana itu, HRTA menargetkan bisa mencatatkan kenaikan pendapatan sebesar 48 persen menjadi Rp18,9 triliun, serta laba bersih naik 39,34 persen menjadi Rp425 miliar. 

Kesimpulan

Secara umum, HRTA memang memiliki risiko kredit yang cukup tinggi karena DER lebih dari 1 kali dengan tingkat margin keuntungan yang tipis. Namun, mengingat aset yang diperjual-belikan HRTA ini emas, bisa dibilang aset cukup likuid, leverage atau tingkat utang itu bisa dikesampingkan asal perseroan benar-benar menjalankan berbagai rencana tersebut. 

Meski begitu, kami menilai HRTA tetap perlu dilihat memiliki risiko, untuk itu jika ingin masuk ke HRTA, kamu bisa perkecil alokasi modal, seperti 10-15 persen dari total dana investasi-mu di saham. Lalu, harus masuk di harga murah jangan di pucuk. Kedua hal itu dilakukan untuk manajemen risiko terkait hal tidak terduga ke depannya. 

Apalagi, dari segi dividen juga tidak besar dengan rata-rata tingkat dividend yield sekitar 2-3 persen per tahun. Lalu, teranyar HRTA juga punya tato F, yakni sanksi administrasi yang diberikan karena pelanggaran ringan.

Dengan menggunakan strategi itu, per 21 Mei 2024, harga saham HRTA bisa dibilang cukup mahal karena asumsi harga wajarnya ada di Rp381 per saham. Artinya, jika kamu mau masuk ke harta bisa cari posisi di bawah harga tersebut dengan bisa kombinasi posisi teknikalnya. 

Kalau menurutmu, berapa harga beli HRTA yang paling oke?

Last Promo Join Mikirdividen Diskon Rp200.000 Hingga 24 Mei 2024

Deretan benefit yang bisa kamu dapatkan jika join Mikirdividen:

  • Update review laporan keuangan saham dividen fundamental bagus hingga full year 2024 dalam bentuk rilis Mikirdividen edisi per kuartalan
  • Perencanaan investasi untuk masuk ke saham dividen
  • Grup Whatsapp support untuk tanya jawab materi Mikirdividen
  • Publikasi eksklusif bulanan untuk update saham mikirdividen dan kondisi market
  • Event online bulanan

Tertarik? langsung saja beli Zinebook #Mikirdividen dengan klik di sini

Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini