Adu Ekspansi Grup Sinarmas dan Grup Arsari di Sektor Jaringan Telko dan Data Center

Saham DSSA lagi ngebut konsolidasi aset Grup Sinarmas di sektor telekomunikasi agar fokus di perseroan hingga Grup Arsari yang baru saja akuisisi sebagian aset fiber optik ISAT. Siapa yang lebih menarik?

Share
saham dssa dan wifi

Mikirduit – Dua grup konglomerasi lagi ekspansi di sektor telekomunikasi, yakni Grup Sinarmas dan Grup Arsari milik adik Presiden Prabowo Subianto, Hashim Djojohadikusumo. Bagaimana prospek keduanya?

DSSA memiliki beberapa bisnis utama, yakni perdagangan kimia, pertambangan dan perdagangan batu bara, telekomunikasi dan teknologi, serta energi baru terbarukan. 

Sejauh ini, bisnis terbesar DSSA ada di pertambangan dan perdagangan batu bara yang mencapai 86 persen dari total pendapatan. Sisanya, kombinasi antara perdagangan,  telekomunikasi dan teknologi, dan energi baru terbarukan. Skala pendapatan terbesar kedua ada di telekomunikasi dan teknologi yang mencapai 6,6 persen.

Secara laba kotor hingga kuartal I/2026, bisnis batu bara berkontribusi sebesar 80 persen, sedangkan telekomunikasi dan teknologi berkontribusi sebesar 18 persen. Menariknya, bisnis telekomunikasi dan teknologi DSSA ini memiliki tingkat gross profit margin terbesar, yakni 66 persen. Sementara itu, gross profit margin sekitar 30 persen.

Dalam pengembangan bisnis telekomunikasinya, DSSA bisa dibilang cukup agresif melakukan konsolidasi secara internal. Beberapa aksi korporasinya antara lain:

  • Akuisisi-merger EXCL dengan FREN. Grup Sinarmas melalui PT Global Nusa Data, PT Bali Media Telekomunikasi, dan PT Wahana Inti Nusantara memiliki 32 persen saham EXCL pasca merger yang terjadi di April 2025 (data per 3 Juli 2026). Dengan begitu, skala bisnis operator telekomunikasinya yang cenderung paling kecil via FREN menjadi lebih besar bersama EXCL, meski harus memilikinya bersama Axiata yang juga masih pegang 34 persen saham operator seluler tersebut.
  • DSSA melakukan merger penyedia internet My Republic yang memenangkan fixed wireless Access (FWA) dengan MORA, perusahaan infrastruktur telekomunikasi pada awal 2026. Pasca merger, aset MORA meningkat drastis. Kepemilikan fiber optik meningkat menjadi 116.000 km yang terdiri dari 57.779 km milik MORA dan 58.455 km milik My Republic. Lalu, kapasitas jaringan (homepass) yang tersedia bisa tembus 11 juta sambungan. Basis pelanggan sekitar 2,2  juta, serta 6 fasilitas data center dengan kapasitas 3,3 MW. 
  • DSSA melalui PT Inti Mas Bangun Sejahtera berencana mengakuisisi KETR via voluntary tender offer. DSSA menawarkan KETR dengan harga Rp523 per saham dengan syarat mereka minimal harus dapat 35 persen dari total saham. Jika di bawah itu, transaksi batal. KETR adalah perusahaan infrastruktur telekomunikasi, terutama pembangunan kabel laut. KETR juga menjadi mitra MORA dalam pengembangan kabel laut Jakarta-Batam-Singapura. Proses transaksi ini masih berjalan hingga Agustus 2026.
  • DSSA melakukan akuisisi 100 persen saham PT Bali Media Telekomunikasi senilai Rp4 triliun. Transaksi ini cenderung transaksi afiliasi karena pengendali akhirnya sama-sama Franky Oesman Widjaja. Nilai transaksi Rp4 triliun dalam kondisi Bali Media Telekomunikasi tengah merugi RP898 miliar. Namun, dari aksi ini, DSSA mendapatkan eksposure aset EXCL karena Bali Media Telekomunikasi ini memegang 24 persen saham EXCL. Transaksi ini baru diumumkan pada Juli 2026.

Di luar itu, DSSA juga melakukan ekspansi yang cukup agresif dalam pengembangan data center. Secara khusus, kini DSSA melalui PT SMPlus Digital Investama memiliki area layanan data center di 24 kota dengan total 25 data center serta kapasitas 10 MW.

Selain itu, DSSA juga lagi mengembangkan data center berstandard internasional dengan teknologi AI dan large-scale cloud computing di Indonesia bersama KIRA SG One Pte. Ltd yang merupakan bagian dari Korea Investment Real Aset Management. Nantinya, kapasitas awal data center itu sebesar 18 MW dengan target pengembangan hingga 60 MW. 

Nantinya, data center ini diharapkan bisa mulai beroperasi pada akhir 2026. Hingga Desember 2025, progres pembangunannya sudah mencapai 24 persen.

Dalam rencananya, DSSA ingin memperkuat posisi sebagai penyedia infrastruktur AI karena belanja modal terkait sektor tersebut cukup besar. Sehingga harapannya, segmen ini bisa menjadi penopang ruang pertumbuhan untuk DSSA. 

Adapun, ekspansi di sektor telekomunikasi ini bisa saling berhubungan erat dengan deretan konsolidasi aksi korporasi yang telah dilakukan DSSA dalam dua tahun terakhir.

Aksi Ekspansi Grup Arsari di Sektor Telekomunikasi

Selain Grup Sinarmas, Grup Arsari milik Hashim Djojohadikusumo, yang juga adik presiden Indonesia Prabowo Subianto juga lagi ekspansif di sektor telekomunikasi.

Hal itu dimulai pada 2024, kala itu Grup Arsari memulainya lewat kerja sama dengan WIFI. Kala itu, Grup Arsari disebut berminat untuk investasi di PT Jaringan Infra Andalan, anak usaha WIFI.

Enam bulan kemudian, Grup Arsari bersama Arwin Rasyid dan Fadel Muhammad melakukan akuisisi pengendali WIFI, yakni PT Investasi Sukses Bersama. Hal ini disebut lanjutan dari kesepakatan yang dilakukan pada Juni 2024.

Aksi akuisisi itu selaras jelang lelang frekuensi jaringan 1,4 GHz untuk fixed Wireless Access (FWA). WIFI pun mencari mitra pendukung untuk proyek tersebut, yakni NTT East hingga Orex Sai. 

Perusahaan infrastruktur telekomunikasi itu langsung dua kali menggalang dana di pasar modal.

Pertama, WIFI right issue senilai Rp5,9 triliun dengan harga pelaksanaan Rp2.000 per saham pada Juli 2025. Awalnya, dana tersebut untuk mencapai target homepass perseroan. Tapi, dalam RUPSLB 2026, WIFI mengubah rencana penggunaan dana menjadi untuk mendukung proyek Internet Rakyat perseroan. (Proyek Internet Rakyat adalah program yang dijalankan setelah perseroan memenangkan lelang frekuensi 1,4 GHz untuk FWA)

Kedua, WIFI juga menerbitkan obligasi dan sukuk ijarah dengan target Rp5 triliun. Tahap awal, WIFI menerbitkan obligasi dan sukuk ijarah sekitar Rp2,5 triliun (masing-masing Rp1,25 triliun). 

Selain melakukan ekspansi program Internet Rakyat bersama WIFI, Grup Arsari juga melakukan ekspansi dengan akuisisi aset fiber optik milik ISAT.

Jadi, Grup Arsari melalui PT Ainfrastruktur Indonesia Raya Bersama ISAT mendirikan perusahaan independen bernama PT Nusantara Fiber Teknologi.

Nah, Nusantara Fiber Teknologi ini melakukan akuisisi 84,9 persen saham PT Infra Fiber Teknologi yang punya aset fiber optik ISAT sepanjang 86.000 km senilai Rp11,7 triliun.

Adapun, 15,1 persen saham Infra Fiber Teknologi yang dimiliki ISAT menjadi inbreng aset untuk memiliki 49,1 persen saham Nusantara Fiber Teknologi, serta Lintas Arta memperoleh 0,8 persen saham Nusantara Fiber Teknologi.

Sehingga secara tidak langsung, ISAT masih punya 49,9 persen dari aset fiber optiknya tersebut. 

Infra Fiber Teknologi ini memiliki sekitar 86.000 km fiber optik mencakup jaringan backbone, bawah laut domestik, dan jaringan akses. 

Dengan model open Access, aset Infra Fiber Teknologi ini dirancang untuk memperluas kemitraan Wholesale dengan operator telekomunikasi, korporasi, hyperscaler, dan penyedia layanan digital lainnya.

Tujuan grup Arsari mengakuisisi aset ISAT itu terkait rencana untuk mendukung kebutuhan infrastruktur AI di masa depan.

Namun, belum jelas detail rencana pembangunan detail data center yang akan dikembangkan oleh Grup Arsari. 

Di sisi lain, WIFI mengklaim telah membangun 58 lokasi Edge Data Center di berbagai stasiun utama di Pulau Jawa dengan skala tier-2. Edge data center adalah fasilitas penyimpanan dan pemrosesan data berskala kecil yang ditempatkan secara strategis sangat dekat dengan pengguna akhir atau sumber data.

Kami mencari angka yang lebih detail terkait edge data center yang dimiliki oleh WIFI. Namun, mengacu ke laporan tahunan 2025 (yang harusnya sudah tercatat karena proyek ini sudah ada di 2023-2024) tidak ada informasi detail. Dalam laporan tahunannya, WIFI hanya menjelaskan kalau edge data center itu bagian dari ekosistem fiber optik, colocation, CDN, dan konektivitas.

3 Saham Backdoor Listing yang Mau Jadi Perusahaan Batu Bara, Begini Nasibnya
FORU sudah mengumumkan mau melakukan aksi right issue jumbo untuk berubah jadi perusahaan batu bara, menyusul langkah MEJA dan NINE. Lalu, bagaimana prospeknya?

Kesimpulan

Dari dua aksi korporasi ini, DSSA mungkin sudah memaparkan lebih detail dibandingkan dengan Grup Arsari via WIFI dan aset milik ISAT. Namun, keduanya punya tujuan yang sama, yakni ingin memanfaatkan peluang dari belanja modal terkait AI yang cukup besar dengan menyediakan infrastruktur pendukungnya.

Sehingga, jika realisasi belanja modal AI di dunia bisa sampai ke Indonesia, Grup Arsari dan DSSA bisa mendapatkan benefit karena sudah proses pengembangan saat ini.

Sebenarnya, selain Grup Sinarmas dan Grup Arsari, Grup Djarum via TOWR juga melakukan ekspansi ke sektor serupa. Iforte, anak usaha TOWR mulai berencana membangun data center skala kecil. iForte berencana membangun data center dengan kapasitas 10 MW secara bertahap. 

Ditambah, TOWR memiliki aset fiber optik yang cukup besar hingga 185.000 km dengan 36.247 menara telekomunikasi. Dalam 4 tahun terakhir, TOWR cukup agresif ekspansi mengakuisisi fiber optik, perusahaan menara telekomunikasi seperti SUPR dan IBST, hingga DATA. 

Artinya, ada potensi menarik dari saham-saham yang sudah ekspansi ke jaringan infrastruktur telekomunikasi tersebut.

Tantangannya, jika bubble AI benar-benar terjadi dan membuat adanya penurunan belanja modal dari ekspektasi sebelumnya, momentum dari saham-saham tersebut juga bisa hilang dan menjadi risiko terbesar yang bisa menekan harga saham-nya.

Kamu Butuh Insight dan Ide Saham Jangka Menengah-panjang hingga Swing Trading dengan Biaya Mulai dari Rp1.600 per hari?

Dapatkan semua benefit Mikirsaham.com, join sekarang dan dapatkan deretan benefit yang membantumu investasi di saham seperti:

  • Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
  • Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
  • Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
  • Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US
  • Diskusi lebih nyaman di member area tanpa ada distraksi
  • Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
  • Hingga konsultasi private dengan founder kami

Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini

Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini

💡
PROMO SPESIAL dari Investing Pro, DISKON 60% + 15% untuk pembaca Mikirduit. Dapatkan tools analisis saham dan mencari Idea hingga tools AI yang berbasis data lengkap dari Investing dengan Klik di sini

" target="_blank" rel="noopener"> Langganan Investing Pro