Mencari Tanda-tanda Bottom Saham BBCA yang Terus Turun Perlahan

Sejak awal tahun saham BBCA terus mengalami tekanan jual, harganya sudah turun lebih dari 25 persen, dana asing sampai Rp24 triliun juga menguap dari saham itu. Kira-kira mau sampai berapa saham bank sejuta umat itu turun? kapan bisa bangkit lagi? 

Share
saham BBCA

Mikirduit -  Harga saham BBCA turun terus dari awal tahun, dana asing pun menguap sampai Rp24 triliun. Kira-kira apa alasan di balik penurunan saham bank sejuta umat itu? masih menarik-kah untuk dilirik lagi saat ini? 

Alasan Dibalik Saham BBCA Turun Terus 

Harga saham bank swasta terbesar di RI, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) terus mengalami penurunan, kalau ditarik dari awal tahun sudah 25 persen lebih. 

Sementara dari posisi tertinggi yang pernah dicapai dalam sejarahnya di Rp10.950 per saham pada 23 September 2024, saham BBCA sudah terjun kisaran 45 persen. 

Untuk bangkit ke level itu butuh tenaga yang lebih kuat sampai 81 persen. Namun, tidak menutup kemungkinan dengan tekanan jual yang masih ada, saham BBCA masih bisa turun lagi. 

Sumber: Google Finance

Lantas, sebenarnya apa yang membuat saham BBCA turun terus? padahal secara fundamental, bisa dibilang masih solid. 

Pertama, isu teknis MSCI 

Tak dipungkiri sejak akhir Januari lalu, ketika morning call MSCI menyoroti free float di Indonesia telah membuat IHSG tergoncang, bahkan sampai trading halt dua kali. 

Saham big caps bluechip sampai konglo semua ikut kena dampaknya, termasuk BBCA. 

Perlu dipahami dulu juga, bahwa BBCA itu saham dengan porsi terbesar di MSCI. Melansir data Ishares MSCI Indonesia alokasinya sampai 17,42 persen pada akhir 2025. 

Saham BBCA juga telah bertahta puluhan tahun di bursa sebagai saham market cap teratas, artinya saham itu sangat likuid. Jadi, tidak heran kalau saham ini dijadikan tujuan untuk dijual lebih dulu. 

Meskipun dari awal tahun, MSCI masih melakukan interim freeze, keputusan mereka sudah menyeret big fund asing yang melakukan tindakan preventif terlebih dahulu. 

Tak heran, kalau dari awal tahun, dana asing yang menguap dari BBCA sampai Rp24 triliun. Nilai itu, sudah lebih dari 60 persen dari total dana asing yang keluar dari IHSG sebanyak Rp30 triliun di pasar regional. Bisa dibilang saham BBCA itu memang kapal induknya IHSG. 

angka bobot BBCA di porto Blackrock Desember 2025
angka bobot BBCA di porto Blackrock April 2026
Sumber: Ishares MSCI Indonesia ETF by Blackrock

Karena isu MSCI ini masih akan berlanjut hingga Juni, seiring evaluasi free float yang seharusnya selesai pada Mei, tetapi ditunda ke periode tersebut, pasar masih perlu mengantisipasi potensi penyesuaian bobot lanjutan.

Sejauh ini, bobot saham BBCA telah turun dari 17,42 persen menjadi 15,24 persen, atau terkoreksi sekitar 2,18 poin (12,5 persen secara relatif). Penurunan ini tercermin dari berkurangnya nilai investasi dari sekitar US$63,2 juta menjadi US$43,2 juta, yang mengindikasikan adanya outflow sekitar US$20 juta.

Namun, perlu dipahami lagi, kalau penurunan bobot itu faktornya karena penurunan harga saham BBCA yang memang signifikan dari awal tahun, belum ada pengurangan porsi dari MSCI sendiri. 

Oleh karena itu, sampai Juni kami mengantisipasi adanya penyesuaian bobot, baik dari MSCI itu sendiri dan risiko penurunan harga saham BBCA yang masih bisa lanjut.

Kami membuat tiga skenario risiko outflow yang masih bisa terjadi di saham BBCA dari isu teknis ini, setidaknya dalam jangka pendek sampai bulan Juni 2026, sebagai berikut: 

Skenario konservatif

Pada skenario konservatif, ketika bobot turun ke 14 persen, potensi outflow tambahan diperkirakan sekitar US$3,5 juta setara Rp59,5 miliar (asumsi kurs Rp17.000/US$). 

Skenario moderat 

Dalam skenario moderat, jika bobot turun lebih dalam ke 12 persen, estimasi outflow meningkat menjadi sekitar US$9,2 juta atau sekitar Rp156,4 miliar. 

Skenario agresif 

Sementara itu, pada skenario agresif dengan penurunan bobot menjadi 10 persen, potensi outflow dapat mencapai sekitar US$14,9 juta atau Rp253,3 miliar. 

Kedua, ada tekanan eksternal 

Secara industri, sektor bank di Indonesia itu bisa dibilang kepala naga, yang mencerminkan bagaimana kondisi riil di lapangan. Saham BBCA yang sedang tertekan bisa menjadi gambaran dari pemulihan ekonomi Indonesia yang belum sepenuhnya solid. 

Hal itu terjadi karena tekanan inflasi, kurs melemah, suku bunga yang ditahan tinggi terlalu lama, dan ketidakpastian global, membuat fungsi intermediasi bank berjalan lebih hati-hati. 

Ini positif dari sisi kehati-hatian, tapi juga menunjukkan permintaan dan penyaluran kredit belum optimal.

Dari sisi kualitas aset, nilai kredit bermasalah (NPL) naik menjadi Rp186 triliun (+7,1 persen YoY), meski rasionya masih aman di 2,2 persen. Ini menandakan risiko kredit mulai meningkat, sehingga bank makin selektif.

Deretan Fakta Saham yang Disebut Terafiliasi Grup Sinarmas dari BULL hingga KETR
Selain diakuisisi Prajogo Pangestu, salah satu rumor paling panas adalah jika diakuisisi Grup Sinarmas. Berikut ulasan 6 saham yang ada rumor terafiliasi dengan Grup Sinarmas

Pertumbuhan kredit juga melambat ke 9,0 persen karena bunga pinjaman yang tinggi membuat pelaku usaha menahan ekspansi. 

Di sisi lain, likuiditas yang cukup ketat (LDR 83,7 persen) membuat bank harus bersaing mencari dana, sehingga biaya dana naik dan menekan margin.

Secara keseluruhan, fundamental bank masih kuat, tapi pertumbuhannya tidak secepat sebelumnya. Ini yang membuat pergerakan saham perbankan cenderung masih terbatas.

NPL ratio BBCA
LDR dan pertumbuhan kredit
Sumber: Company Presentation 1Q26, Data industri dari OJK

Ketiga, strategi BBCA masih mode defensif 

Melanjutkan risiko dari faktor kedua, BBCA pun menerapkan strategi defensif dengan cenderung lebih berhati-hati dalam ekspansi. 

Alhasil, BBCA harus meningkatkan pembentukan cadangan kerugian kredit untuk menjaga kualitas aset tetap sehat. Konsekuensinya, sebagian dana harus disisihkan sehingga profitabilitas tidak bisa tumbuh optimal dalam jangka pendek. 

Terlihat dari kinerja kuartal I/2026, BBCA mengalokasikan provisi atau cadangan untuk kredit macet sampai Rp1,2 triliun, naik 45 persen dari periode tahun sebelumnya. Sebagai catatan juga, sampai akhir tahun lalu, pencadagan juga dinaikkan sampai 90 persen lebih dalam setahun mencapai Rp3,46 triliun. 

Tren kenaikan pencadangan ini bisa saja masih berlanjut sampai pertengahan tahun kalau kondisi ekonomi belum membaik, imbasnya profitabilitas akan tumbuh tipis, seperti yang sudah tercermin sampai tiga bulan pertama tahun ini saja laba BBCA hanya tumbuh kisaran 3 persen setahun.

Kinerja BBCA
Sumber: Company Presentation 1Q26

Yang perlu diperhatikan, kenaikan pencadangan ini bukan cuma langkah jaga-jaga, tapi karena memang sudah ada kerugian nyata yang terjadi. Hal ini terlihat dari penghapusbukuan (write-off) kredit BBCA yang mencapai Rp7,7 triliun pada 2025. 

Artinya, ada sebagian pinjaman yang sudah dianggap tidak bisa ditagih lagi, sehingga harus dihapus dari pembukuan. Walaupun langkah ini bagus untuk menjaga laporan keuangan tetap sehat, ini juga menunjukkan bahwa kondisi nasabah memang sedang tertekan dan kesulitan membayar. 

Laporan keuangan BBCA
Sumber: Laporan Keuangan BBCA 2025

Jadi, kenaikan cadangan dan write-off ini jadi tanda bahwa risiko kredit bukan cuma potensi ke depan, tapi sudah benar-benar terjadi. Ke depannya, kondisi ini kemungkinan membuat BBCA tetap berhati-hati dalam menyalurkan kredit sampai kondisi ekonomi membaik. 

Dari kinerja terbaru pada kuartal I/2026, sebenarnya juga sudah tercermin di mana BBCA hanya menyalurkan kredit 5,6 persen lebih banyak dari tahun lalu, ini menjadi pertumbuhan single digit pertama sejak 2022 di periode yang sama. 

data pertumbuhan kredit BBCA
Sumber: Data dikumpulkan mandiri, company presentation

Area yang Perlu Diperhatikan Potensi Jadi Bottom 

Beralih ke lantai bursa, ketika melihat harga saham BBCA yang terus turun, pertanyaan selanjutnya adalah akan turun sampai berapa lagi? 

Sebenarnya dengan penurunan yang sudah sangat tajam, secara risk-reward ratio itu sudah sangat menarik, kalau nantinya kondisi ekonomi sudah normal dan bank sudah bisa ekspansi lagi, maka potensi harga merangkak kembali ke ATH bisa terbuka (tapi ini masih dalam jangka panjang). 

Maka, strategi mencicil beli sampai area yang diperkirakan bisa menjadi bottom untuk yang belum punya BBCA akan menjadi sangat menarik. 

Kami menilai secara teknikal area 5500 - 4700 seharusnya bisa menjadi area support kuat yang akan diuji, artinya bisa menjadi area cicil beli yang menarik. 

Sumber: Tradingview, 28 April 2026

Namun, kami juga mempertimbangkan secara valuasi juga, di mana saham BBCA itu terbilang paling premium di antara big banks lain meskipun sudah turun dalam. 

PER terkini masih di kisaran 12 kali dengan PBV di 2,85 kali. Jika PER turun ke 10 kali, maka harga BBCA masih bisa ke 5000 (masih masuk area cicil beli secara teknikal). 

Kemudian untuk worst care skenario, jika PBV bisa ke kisaran 1,5 kali yang tidak jauh beda dengan rata-rata industri, harga saham BBCA bisa ke level 3150. 

Sumber: Stockbit, 28 April 2026

Perlu digaris bawahi, level bottom itu hanya perkiraan kami saja, realita-nya tidak ada yang tahu tepatnya bisa sampai berapa. 

Namun, yang pasti alasan dari penurunan harga saham BBCA itu lebih banyak karena faktor eksternal, bukan karena fundamental yang bermasalah. 

Sejauh ini market masih menantikan potensi pemulihan yang lebih kuat dari sisi ekonomi, terutama daya beli masyarakat dan meredanya isu teknis MSCI. Setelah itu, harusnya akan ada potensi pemulihan bertahap dari saham BBCA. 

Strategi untuk Holder Saham BBCA 

Bagi holder saham BBCA yang sudah lama, mungkin rasanya nano-nano karena warna merah kemungkinan besar menyelimuti porto, tetapi syukurnya masih ada dividen yang menjadi pemanis tiap tahun. 

Strategi average down masih bisa menjadi pendekatan yang relevan, tetapi perlu dilakukan dengan disiplin, yaitu hanya di area support kuat, bukan saat harga masih dalam tren turun bebas. 

Tujuannya agar penambahan posisi dilakukan di area yang secara teknikal memiliki potensi pantulan, sehingga risiko bisa lebih terkontrol.

Selain itu, sebaiknya average down dilakukan bertahap (scaling in), bukan sekaligus, untuk mengantisipasi kemungkinan harga masih melanjutkan penurunan

Yang tidak kalah penting, pastikan keputusan menambah posisi tetap didasarkan pada keyakinan bahwa fundamental BBCA masih kuat dalam jangka panjang, bukan sekadar karena harga sudah turun dalam.

Dengan pendekatan yang disiplin dan terukur, volatilitas jangka pendek justru bisa dimanfaatkan sebagai peluang untuk mengumpulkan saham di harga yang lebih menarik. 

Namun, tetap perlu diingat bahwa proses pembentukan bottom tidak terjadi secara instan, sehingga kesabaran menjadi kunci utama dalam strategi ini.

Kesimpulan

Ringkasnya, secara timeline saat ini dalam jangka pendek, setidaknya sampai Juni saham BBCA masih ada potensi turun karena evaluasi MSCI. 

Namun di sisi lain, skala penurunan yang sudah cukup dalam saat ini justru bisa mulai dimanfaatkan oleh investor jangka panjang untuk melakukan akumulasi secara bertahap, terutama di area-area support kuat.

Kuncinya bukan menebak titik bottom secara presisi, tetapi bagaimana menyusun strategi masuk yang disiplin dan bertahap, sambil tetap memperhatikan perkembangan sentimen pasar. 

Jika kondisi ekonomi mulai membaik dan tekanan teknikal mereda, maka peluang pemulihan saham BBCA secara perlahan akan semakin terbuka.

Gimana, kalian tim yang udah setia sama BBCA atau yang baru mau masuk nih?

Dapatkan Analisis dan Diskusi Komprehensif, serta Screeningan Saham yang Menarik untuk Trading hingga Jangka Panjang

Kamu bisa dapatkan semuanya di Mikirsaham.com, join sekarang dan dapatkan deretan benefit yang membantumu investasi di saham seperti:

  • Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
  • Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
  • Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
  • Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US,
  • Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
  • Hingga konsultasi private dengan founder kami

Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini

Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini

💡
Dapatkan Tools Analisis Saham Paling Cocok Untuk Investor Ritel serta Pilihan Saham Indonesia hingga AS dengan AI bersama Investing Pro. Dapatkan Promo Spesial Dari Mikirduit dengan Klik di sini