Deretan Fakta Saham yang Disebut Terafiliasi Grup Sinarmas dari BULL hingga KETR

Selain diakuisisi Prajogo Pangestu, salah satu rumor paling panas adalah jika diakuisisi Grup Sinarmas. Berikut ulasan 6 saham yang ada rumor terafiliasi dengan Grup Sinarmas

Share
saham Grup Sinarmas

Mikirduit – Ada deretan saham yang digaungkan terafiliasi dengan Grup Sinarmas sehingga harganya sempat meroket. Namun, sampai detik ini statusnya masih misterius apakah Grup Sinarmas mengendalikan atau sekadar menjadi pemilik minoritas. Jadi, bagaimana prospek saham-saham tersebut?

Salah satu saham yang lagi disorot berpotensi diakuisisi oleh Grup Sinarmas adalah BULL. Saham kapal milik Grup Danatama ini sudah naik 28,57 persen sejak awal tahun 2026. Rumor Grup Sinarmas masuk ke BULL dimulai dari kuartal IV/2025 setelah emiten kapal tanker itu menyelesaikan private placement-nya.

Beberapa cocoklogi potensi Grup SInarmas mengakuisisi BULL antara lain:

  • Misteri sosok Fortune Street sebagai investor dari saham BULL saat private placement di akhir 2025. Saat proses private placement, banyak yang menilai Fortune Street memiliki keterkaitan dengan Grup Sinarmas. Dalam Public Expose di akhir 2025, manajemen BULL bantah hal tersebut, tapi tetap tidak menyebutkan siapa sosok di balik Fortune Street.
  • Grup Sinarmas melalui Frontier Resources mengakuisisi 100 persen saham Hyundai LNG Shipping dari IMM Private Equity dan IMM Investment senilai Rp43 triliun. Transaksi itu diindikasi ada hubungannya dengan rencana aksi korporasi di BULL. Apalagi, di saat yang bersamaan, BULL juga lagi ekspansi ke bisnis kapal LNG. Merespons tersebut, Direktur BULL Wong Kevin memberikan jawaban diplomatis seperti, kalau ada prospek usaha dengan Sinarmas, mereka bisa saja menjajaki hal tersebut.
  • Ferita Lie diangkat menjadi Komisaris Independen dalam RUPSLB pada 23 April 2026. Ferita dikaitkan dengan kedekatannya dengan Grup Sinarmas karena punya rekam jejak sejak 2013 hingga November 2025 di Grup Sinarmas (mulai GEMS, SMMA, hingga Sinarmas Sekuritas). Kini, Ferita fokus menjadi Presiden Directur Marx Consulting Group yang membantu masalah hukum, keuangan, hingga kebutuhan pendanaan dan aksi akuisisi.

Jadi, apakah Grup Sinarmas akan mengakuisisi BULL? jawabannya belum diketahui karena tidak ada keterbukaan informasi yang sudah dirilis. Jika belum ada keterbukaan informasi berarti jika ada aksi korporasi sifatnya masih negosiasi yang mentah (probabilitas akan deal-nya masih sangat rendah).

Jika dilihat struktur pemegang saham di atas 1 persen-nya, BULL dimiliki oleh 13 pihak dengan komposisi kepemilikan 54,8 persen. Ke-13 pihak itu antara lain:

  • PT Delta Royal Sejahtera sebesar 14,53 persen (Terafiliasi dengan Presiden Direktur BULL Wong Kevin dan Grup Danatama)
  • Fortune Street Ltd 9,09 persen (Investor yang masuk saat Private Placement 2025)
  • PT KB Valbury Sekuritas 6,84 persen 
  • PT Danatama Kapital Investama 5,37 persen (Grup Danatama)
  • Interventures Capital Pte. Ltd. 4,98 persen (secara historis, nama Interventure Capital pernah membantu retstruktrisasi utang ELTY hingga tercantum sebagai pemegang saham pada 2017-2018)
  • Kingswood Union Corporation 3,75 persen. (Kingswood masuk pada akhir Januari 2026 dengan membeli 443 juta lembar saham dari PT Delta Royal Sejahtera. Di IDX, Kingswood memiliki beberapa saham lainnya, yakni CNKO, BSIM, APIC, dan BNBR).
  • Aries Liman 2,57 persen (dari penelusuran kami, sampai saat ini, Aries Liman masih menjabat sebagai Vice Chairman di Panin Sekuritas)
  • Wong Kevin 1,92 persen (Presiden Direktur BULL)
  • PT Danatama Makmur Sekuritas 1,31 persen (Grup Danatama)
  • UBS AG Singapore Branch 1,27 persen
  • Nan Hui Maritime Pte., Ltd 1,06 persen
  • Nan Hua Maritime Pte. Ltd 1,06 persen
  • UBS AG London 1,05 persen

Salah satu yang bisa dikaitkan dengan Grup Sinarmas secara tidak langsung adalah Kingswood Union Corp yang juga sempat menjadi pemegang saham BSIM (Bank Sinarmas). Ditambah, Kingswood juga sempat memiliki saham di CNKO yang disebut terafiliasi dengan Grup Sinarmas. Tapi, nama itu sudah hilang termasuk dari list pemegang saham di atas 1 persen kedua saham tersebut.

Saham PYFA

Sebelum BULL, beberapa saham lainnya diduga memiliki hubungan dengan Grup Sinarmas. Salah satunya adalah PYFA. Semua itu bermula dari PYFA yang diakuisisi oleh Rejuve Global Investment Pte. Ltd pada 2020. Nah, pasca diakuisisi oleh Rejuve, PYFA pindah kantor ke Sinarmas MSIG Tower.

Lalu, apa hubungan PYFA dengan Grup Sinarmas selain keberadaan kantor baru sejak diakuisisi Rejuve?

Jika merujuk ke Ultimate Beneficial Owner PYFA adalah Lee Ee Ling yang menjadi pemilik dari Rejuve. Namun, kami tidak menemukan apakah Lee Ee Ling punya korelasi kuat dengan Grup Sinarmas.

Jika melihat komposisi direksi PYFA, untuk Presiden Direktur dipegang oleh Lee Yan Gwan. Secara rekam jejak, Lee Yan Gwan memiliki beberapa pengalaman dari Direktur Komersial SCTV pada 1998-2000, Deputy CEO dari Lippo Grup pada 2001 - 2002. Lalu, Direktur Grup Sinarmas 2013-2015. Sebelum menjamah PYFA, dia juga menjabat sebagai SVP di Cathay Organization Holdings Ltd Singapura pada 2016-2018.

Artinya, Lee Yan Gwan memang punya korelasi hubungan dengan Grup Sinarmas setelah sempat menjabat Direktur Grup Sinarmas pada 2013-2015.

Selain itu, ada pemegang saham PT Dian Ciptamas Agung yang memiliki korelasi kuat dengan Grup Sinarmas. Nama entitas itu sempat masuk ke obligasi wajib konversi FREN bersama DSSA. Namun, kami belum menemukan bukti lainnya yang lebih kuat kalau Dian CIptamas Agung adalah milik Sinarmas.

Teranyar, Dian Ciptamas juga menjadi pemegang saham DWGL sebesar 9,72 persen. Kala itu, DWGL yang sebelumnya merupakan anak usaha CNKO IPO pada 2017 bersama penjamin emisi Sinarmas Sekuritas. Nama Dian Ciptamas Agung pun sudah muncul sejak DWGL IPO pada periode tersebut. 

Dari sisi komisaris, ada Robby Yulianto sebagai Komisaris Utama, Widjanarko Brotosaputro sebagai komisaris, Charles D Marpaung dan Maura Linda Sitanggang sebagai komisaris independen.

Untuk posisi Robby Yulianto, tidak ada korelasi kuat dengan Grup Sinarmas. Robby sempat disebut memiliki posisi di SOSS. Sosok Robby Yulianto lebih dekat dengan Nirmala Taruna yang juga memiliki Aldiracita Sekuritas. 

Nirmala Taruna juga memiliki afiliasi dengan PT Transpacific Mutual Capita yang memiliki Asuransi Jiwa Starinvestama. Afiliasinya melalui Bambang Wijono yang menjadi komisaris di Nirmala Taruna yang juga Direktur di Tranpacific Mutual Capita. 

Kedua pihak itu juga terepresentasi dari posisi kepemilikan saham oleh PT Asuransi Jiwa Starinvestama 5,1 persen dan PT Aldiracita Sekuritas Indonesia sebesar 3,05 persen.

Saham COCO

Selaras dengan PYFA, COCO juga dikaitkan dengan Grup Sinarmas setelah diakuisisi oleh Mahogany Global Investment Pte. Ltd pada 2021. Pengendali akhir dari Mahogany Global  Investment adalah Lee Ee Ling, nama yang sama persis dengan pengendali PYFA melalui Rejuve.

Jika dirunut, hubungan antara COCO dan Grup Sinarmas secara langsung terkait dengan pembiayaan yang diberikan Bank Sinarmas (BSIM) kepada perseroan.

Dari sisi manajemen, COCO dipimpin oleh Sugianto Soenario yang punya pengalaman dari Grup Oran Tua, Wings Group, Sugus Candies, KINO, hingga terakhir sebagai Direktur Utama PT Sukses Makmur Jaya. Kami tidak mendapatkan informasi siapa pemiliknya, tapi ini adalah bisnis manufaktur makanan dan minuman di Surabaya.

Adapun, nama PT Sukses Makmur Jaya ini mirip dengan salah satu klien terbear perseroan, yakni PT Sukses Makmur Abadi. Namun, kami juga tidak menemukan data detail hubungan antara Sukses Makmur Jaya dengan Sukses Makmur Abadi.

Lalu, untuk posisi Presiden Komisaris ada sosok Widjanarko Brotosaputro yang juga merupakan komisaris di PYFA. Artinya, Widjanarko mewakili dari pemegang saham yang sama antara PYFA dengan COCO. Adapun, Widjanarko tercatat sebagai seorang dokter yang juga punya pengalaman cukup lama di PT Combiphar. Sebelum menjadi komisaris di PYFA, dia menjabat sebagai Business Unit Director di PT Ikapharmindo Putramas atau IKPM (Salah satu produsen perawatan bayi dengan brand Huki) pada 2016.

Posisi Widjanarko di PYFA maupun COCO juga tidak bisa membuktikan kaitannya dengan Grup Sinarmas.

Namun, jika merujuk kepada posisi pemegang saham di atas 1 persen, ada potensi korelasi tipis-tipis dengan Grup Sinarmas.

Secara umum, pemegang saham COCO di atas 1 persen antara lain:

  • Mahogany Global Investment Pte. Ltd 51,32 persen (yang pengendali akhirnya sama dengan PYFA)
  • DBS Bank Ltd sebesar 5,24 persen
  • Maruarar Sirat sebesar 3,31 persen (Menteri Perumahan Kabinet Prabowo)
  • IR. P. Sudarto 2,82 persen (jika merujuk ke Pui Sudarto, berarti ini adalah sosok pendiri PT Pulau Intan Baja Perkasa)
  • Trimegah Sekuritas (TRIM) sebesar 2,25 persen
  • PT Puri Damai Sejahtera sebesar 2,23 persen (Perusahaan yang terafiliai dengan Maruarar Sirait)
  • PT Mitra Sawit Baru sebesar 1,71 persen (Diketahui Mitra Sawit Baru terafiliasi dengan Mahanusa Capital yang didirikan Daniel Budiman (sempat jadi direktur independen BIRD) serta Widjaja Tannady yang pernah menjadi direktur Bank Kesawan (sekarang QNB Indonesia dengan kode saham BKSW). Mahanusa Capital juga pernah masuk ke saham BUVA pada 2023 sebelum melepasnya pada 2025.
  • PT Inter Jaya Corpora sebesar 1,42 persen (Pengendali lama COCO sebelum diakuisisi oleh Mahogany)
  • Lee Yan Gwan sebesar 1,35 persen (sosok Presiden Direktur PYFA yang juga punya historis kaitan dengan Grup Sinarmas)
  • Anthonio sebesar 1,26 persen (kami tidak memiliki informasi atas nama Anthonio ini)
5 Aksi Korporasi Saham Bank Skala Menengah, Begini Prospeknya
Dalam beberapa tahun terakhir, deretan bank kelas menengah seperti BNLI, BNGA, BDMN, dan NISP lagi gencar ekspansi, yang paling baru ada BBTN mau caplok bisnis kredit jumbo. Kira-kira apa tujuan mereka dan gimana prospeknya ke depan?

Saham CNKO

Saham CNKO juga diduga ada afiliasi dengan Grup Sinarmas, terutama ketika Anderson Bay Pte. Ltd melakukan akuisisi 10 persen saham perseroan. Dalam transaksi itu, Sinarmas Sekuritas terlibat dalam pelaksanaan tender wajib perseroan.

Lalu, apa hubungan CNKO dengan Grup Sinarmas?

Hubungan antara pengendali CNKO sebelumnya dengan Grup Sinarmas memiliki kisah panjang, terutama pada 2021. Kala itu, tiba-tiba Presiden Komisaris CNKO Andri Cahyadi melaporkan Indra Widjaya ke Bareskrim Polri. Andri Cahyadi melaporkan dengan tuduhan perkara penipuan, perbuatan curang, penggelapan dalam jabatan, pemalsuan surat, dan tindak pidana pencucian uang.

Dari versi Andri Cahyadi, kasus ini bermula pada 2014. Kala itu, CNKO menjalin kerja sama untuk supplai batu bara domestik ke PLN. CNKO mendapatkan kontrak suplai hingga 7 juta ton per tahun selama 20 tahun. Di sini, salah satu sumber suplai batu bara adalah Grup Sinarmas dengan jatah 5 juta ton per tahun melalui CNKO.

Dari hasil kerja sama itu, Grup SInarmas juga menempatkan 1 direksi Benny Wirawansa. Saat 2015, Andri punya 53 persen saham CNKO sedangkan sisanya publik.

Namun, kala itu Andri mengklaim setelah kerja sama dengan Sinarmas, dia mengaku kehilangan saham dan perusahaannya jadi punya utang. Bahkan, Andri juga mengaku tidak menerima keuntungan.

Konflik ini sempat masuk masa perdamaian di 2019. Andri disebut akan diebrikan sejumlah uang dan sebagian hak perusahaan yang ada akan dikembalikan. Namun, kontrak memasok batu bara ke PLN tetap diminta Sinarmas. Namun, Andri menolak karena kontrak dengan PLN berjalan selama 20 tahun baru berjalan 5 tahun. Dengan alasan itu Andri Cahyadi melaporkan ke bareskrim.

Balasan terjadi pada 2021, Hotman Paris yang menjadi pengaca Indra Widjaja menjelaskan kalau klien-nya Indra Widjaja tidak ada kaitannya dengan apapun yang terjadi atas berkurangnya saham CNKO tersebut. Lalu, fakta hukum sebenarnya perusahaan Andri Cahyadi mengagunkan saham tersebut ke perusahaan asing untuk menjamin pelunasan utang dengan agunan crossing saham.

Drama CNKO berlanjut setelah nama Andri Cahyadi dicopot sebagai Komisaris CNKO. Bahkan, kisah terakhir Andri Cahyadi dihukum pidana karena diduga melakukan bisnis batu bara bodong pada 2023.

Selanjutnya, saham CNKO yang masuk papan notasi khusus mencatatkan aksi korporasi setelah 10 persen sahamnya dicaplok oleh Anderson Bay. Tidak ada bukti detail apakah Anderson Bay ini milik Grup Sinarmas atau bukan.

Dari struktur manajemen, CNKO terlihat sangat erat dengan Grup Sinarmas. Robin Wirawan yang menjabat sebagai Direktur Utama juga punya posisi di PT Borneo Indobara, yang merupakan anak usaha GEMS.

Namun, kami memang tidak menemukan korelasi antara Pudjianto Gondosasmito sebagai Presiden Komisaris CNKO dengan Grup Sinarmas.

Jika melihat komposisi pemegang saham di atas 1 persen, ada 5 pihak, yakni:

  • Anderon Bay Pte.Ltd pegang 45,59 persen (status sebagai pengendali)
  • Alan Kuntjoro pegang 2 persen (kami tidak menemukan detail sosok pemegang saham ini)
  • Nixon Jacobus Silfanus pegang 1,82 persen (diketahui sebagai pendiri PT Indo Premier Sekuritas)
  • Vivi GUnawan pegang 1,67 persen (kami tidak menemukan detail sosok pemegang saham ini)

Saham PBSA

Salah satu yang cukup mencolok adalah saham PBSA, emiten kontraktor pabrik CPO ini diduga ada afiliasi dengan Grup Sinarmas setelah harga sahamnya meroket. Beberapa rumor berkembang, PBSA juga dilirik untuk diakuisisi oleh Grup Sinarmas. . Secara bisnis, klien terbesar PBSA memang adalah dari perusahaan Grup Sinarmas dan sebagian kecil dari Unilever. 

Namun, dari penelusuran kami, posisi saham PBSA saat ini hanya dimiliki oleh pengendali lama melalui PT Ascend Bangun Persada dan PT Sigma Mutiara. Ultimate beneficial owner PBSA antara lain, Yonggi Tanuwidjaja, Erwin Tanuwidjaja, dan Halim Susanto. Ketiganya tidak ada hubungan langsung dengan Grup Sinarmas.

Jika Yonggi dianggap punya afiliasi dengan Grup Sinarmas, berarti itu sudah terjadi dari dulu bukan baru-baru ini. Pasalnya, Yonggi adalah ultimate beneficial owner bahkan sempat jadi Direktur Utama sebelum 2020.

Dari komposisi pemegang saham di atas 1 persen juga tidak ada nama yang related dengan Grup Sinarmas. Ada 5 pemegang saham di atas 5 persen saham PBSA:

  • PT Ascend Bangun Persada sebesar 46,16 persen (pengendali)
  • PT Sigma Mutiara sebesar 37,56 persen (Pengendali)
  • Bank of Singapore Ltd sebesar 4,22 persen
  • UOB Kay Hian Private Ltd. sebesar 1,71 persen
  • PT Paramitha Adhi Perkasa sebesar 1,22 persen. (memiliki kaitan erat dengan Erwin Tanuwidjaja)

Saham KETR

Saham KETR yang sempat melompat ke Rp1.000 per saham juga dikaitkan dengan Grup Sinarmas. Ada kabar, KETR akan diakuisisi oleh Grup Sinarmas. Asumsi itu muncul setelah MORA diakuisisi merger dengan bisnis MyRepublic milik Grup Sinarmas.

Asumsi itu terjadi karena ada afiliasi antara KETR dengan MORA melalui PT Gema Lintas Benua. Saat IPO, Galumbang Menak adalah pemegang saham akhir dari KETR melalui PT Fajar Sejahtera Mandiri Nusantara (Pengendali KETR) dan PT Gema Lintas Benua.

Perkembangannya, Joy Wahjudi yang kini menjadi ultimate beneficiary owner dari KETR dengan komposisi pemegang saham terbesar tetap di PT Fajar Sejahtera Mandiri Nusantara sebesar 56,5 persen dan PT Gema Lintas Benua sebesar 18 persen.

Di sisi lain, afiliasi antara KETR dengan MORA terjadi melalui PT Gema Lintas Benua yang dimiliki Galumbang Menak. Saat pre-IPO, Gema Lintas Benua memiliki 33,78 persen saham perseroan. Sisanya, dimiliki afiliasi Grup Sinarmas melalui PT Candrakarya Multi Kreasi (yang dimiliki Farida Bau dan Immanuel Eka Putra). Ditambah, FREN juga punya kepemilikan saham di MORA pasca IPO.

Lalu, setelah FREN merger dengan EXCL, Grup Sinarmas melakukan restrukturisasi MORA dengan merger dengan Myrepublic. Sehingga, pengendalinya tidak ada perubahan sama sekali tetap di afiliasi Grup Sinarmas.

Lalu, apakah berarti Grup Sinarmas memiliki KETR dengan menjadi pengendali MORA? Jawabannya ya tidak juga karena yang jadi pengendali akhir KETR tetap Joy Wahyudi etelah Bahtera Bintang Nusantara mengambil alih PT Fajar Sejahtera Mandiri Nusantara pada 2024.

Irisan terbesar antara MORA dan KETR hanya ada di PT Gema Lintas Benua milik Galumbang Menak, yang saat ini posisinya juga bukan pengendali di masing-masing saham tersebut.

Jika melihat komposisi pemegang saham di atas 1 persen dari KETR antara lain:

  • PT Fajar Sejahtera Mandiri Nusantara pegang 56,53 persen (dimiliki oleh Joy Wahyudi secara tidak langsung)
  • PT Gema Lintas Benua sebesar 17,99 persen (dimiliki oleh Gambulang Menak)
  • Rudy Susanto sebesar 1,7 persen (kami tidak mendapatkan informasi detail tentang Rudy Susanto)
  • UBS AG London 1,49 persen.

Kesimpulan

Terkadang, isu sebuah grup konglomerasi besar masuk ke sebuah saham mungkin baru tahapan sekadar rumor hingga sifatnya hanya bermitra satu sama lain. Namun, harga saham bisa bergejolak signifikan.

Namun, yang terpenting di sini, fokus dari kita sebagai investor ritel adalah manage expectation terkait potensi kenaikan harga. Jangan sampai dibutakan hingga akhirnya malah boncos.

Dapatkan Analisis dan Diskusi Komprehensif, serta Screeningan Saham yang Menarik untuk Trading hingga Jangka Panjang

Kamu bisa dapatkan semuanya di Mikirsaham.com, join sekarang dan dapatkan deretan benefit yang membantumu investasi di saham seperti:

  • Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
  • Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
  • Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
  • Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US,
  • Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
  • Hingga konsultasi private dengan founder kami

Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini

Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini

💡
Dapatkan Tools Analisis Saham Paling Cocok Untuk Investor Ritel serta Pilihan Saham Indonesia hingga AS dengan AI bersama Investing Pro. Dapatkan Promo Spesial Dari Mikirduit dengan Klik di sini