Kinerja Laba Bersih Saham Consumer Goods Meroket, Tanda Ekonomi Baik-baik Saja? - Part 1

Sekilas, ada yang membantah ekonomi Indonesia melambat. Basis data bantahan itu adalah realisasi kinerja laba bersih emiten consumer goods dan ritel masih naik tinggi. Kami coba ulas dalam 2 part di sini.

Share
saham consumer goods

Mikirduit – Ekonomi disebut melambat, tapi beberapa saham consumer goods dan ritel justru mencatatkan pertumbuhan kinerja keuangan kuartal II/2026 yang cukup solid. Apakah menjadi pertanda sebenarnya ekonomi dalam kondisi baik?

Pertumbuhan ekonomi digambarkan dari pertumbuhan growth domestic product (GDP) yang dihitung dari konsumsi (rumah tangga) ditambah investasi yang masuk ditambah spending dari pemerintah ditambah hasil selisih antara ekspor dan impor. Nantinya hasil GDP itu akan dibandingkan sesuai periodenya.

Jika ingin melihat dampak dari kinerja emiten yang bertumbuh terhadap ekonomi, berarti kita bisa melihat hitungan kasar dari saham sektor consumer goods (produsen produk konsumsi primer) dan sektor consumer cyclical (terutama perusahaan ritel). Pendapatan yang dihasilkannya bisa dianggap konsumsi masyarakat. Tapi, apakah benar sedang bertumbuh?

Kami mengambil 10 saham consumer goods dengan nilai pendapatan terbesar yang bisnisnya membuat produk untuk dijual ke konsumen akhir atau minimal punya hubungan erat dengan konsumsi konsumen akhir.

Hasilnya, ke-10 saham itu menghasilkan pendapatan akumulasi senilai Rp337 triliun. Nilai itu setara 10 persen dari nominal konsumsi rumah tangga di kuartal II/2025 yang senilai Rp3.226 triliun. Kala itu, konsumsi rumah tangga berkontribusi sebesar 54,25 persen dari total GDP.

Lalu, jika dilihat, hasilnya ada 7 dari 10 saham yang mencatatkan pertumbuhan laba bersih di atas dua digit. Paling besar ada GGRM mencatatkan kenaikan pendapatan sebesar 2.440 persen, disusul MAIN naik 266 persen, dan JPFA naik 166 persen.

Laba Bersih GGRM Gemilang Tapi Pendapatan Turun

Meski begitu, GGRM yang mencatatkan pertumbuhan laba bersih yang sangat signifikan itu tidak ditopang oleh pertumbuhan pendapatan. Toh, pendapatan GGRM hingga kuartal II/2026 malah turun 7,19 persen.

Laba bersih GGRM lebih ditopang dari efisiensi yang cukup signifikan dari beberapa pos seperti:

  • Beban pokok pendapatan turun 13 persen (lebih dalam dari penurunan pendapatan sebesar 7,19 persen)
  • Beban usaha turun 33 persen (jauh lebih dalam dari penurunan pendapatan maupun laba kotor).

Apa hal yang diefisiensikan oleh GGRM? Kami mencatat hampir seluruh pos pengeluaran pokok pendapatan dari segi produksi mencatatkan penurunan.

  • Bahan baku untuk rokok dan kertas karton turun 12 persen
  • Upah langsung turun 18 persen
  • Biaya produksi tidak langsung turun 10 persen

Lalu, dari segi beban usaha juga mencatatkan penurunan beban dari seluruh pos dengan komposisi dua terbesar antara lain:

  • Kompensasi karyawan dari akumulasi beban penjualan dan beban umum turun 27 persen
  • Biaya transportasi, pengangkutan, iklan, promosi, dan beban pemasaran lainnya turun 42 persen

Adapun, jika mengacu ke segmen produsen rokok, hal serupa juga dialami oleh HMSP. Perseroan memang mencatatkan pertumbuhan laba bersih tumbuh 97 persen, tapi pendapatan hanya naik 2,4 persen. Dalam kasus HMSP, pendapatannya masih bertumbuh positif. Kenaikan laba bersih yang signifikan didorong dari beban biaya yang naiknya lebih rendah dari kenaikan pendapatan.

Artinya di sektor itu mencatatkan kunci pertumbuhan laba bersih dari efisiensi bukan kenaikan permintaan produk yang signifikan.

Deretan Saham Batu Bara yang Mulai Lirik Hilirisasi Batu Bara Selain BUMI
Banyak perusahaan batu bara berlomba lakukan hilirisasi, tujuannya adalah untuk menangkap insentif royalti 0 persen, sekaligus meningkatkan harga jual. Siapa saja mereka dan gimana prospeknya?

Pakan Ternak dan Produsen Susu Dapat Berkah MBG?

Sementara itu, saham pakan ternak mencatatkan pertumbuhan laba bersih yang atraktif didorong oleh pertumbuhan pendapatan dua digit. Kami mengambil sampel dari CPIN, dan MAIN yang keduanya kompak mencatatkan pertumbuhan pendapatan dan laba bersih dua digit. (JPFA belum rilis laporan keuangan)

Jika dilihat dari kinerja keuangan kuartal II/2026 MAIN, kenaikan pendapatan yang tembus 19 persen ditopang oleh biaya operasional yang naik lebih dari pendapatan sehingga margin keuntungan menjadi makin lebar.

Catatannya, khusus untuk MAIN, perseroan kembali mencatatkan kerugian di 3 bulan kuartal II/2026 senilai Rp24 miliar. Tingkat kerugian ini lebih baik dibandingkan dengan catatan rugi Rp36 miliar pada periode sama tahun sebelumnya.

Namun, hal yang menjadi perhatian adalah kerugian itu terjadi saat pendapatan MAIN di 3 bulan kuartal II/2026 naik 22 persen dibandingkan dengan periode sama tahun sebelumnya. 

Jika kami breakdown, faktornya adalah secara pendapatan antar kuartal mencatatkan penurunan 2,5 persen. Hal ini masih wajar karena di kuartal pertama ada momentum bulan puasa dan Idul Fitri. 

Namun, dari segi beban pokok pendapatan malah naik 3,4 persen menjadi Rp3,4 triliun. Sehingga laba kotor antar kuartal turun 50,7 persen menjadi Rp198 miliar. Sementara itu, ada penyesuaian nilai wajar aset biologis negatif Rp20 miliar dan beban penjualan naik 9,1 persen menjadi Rp76 miliar. Meski, beban umum administrasi turun 30 persen menjadi Rp118 miliar, tapi hal itu tetap membuat rugi operasional di tiga bulan kuartal kedua senilai Rp16 miliar.

Jika dilihat dari per segmen bisnis, tekanan terbesar bisnis MAIN di 3 bulan kuartal II/2026 ada di ayam pedaging yang mencatatkan rugi segmen Rp56 miliar. 

Sementara itu, bisnis susu yang di luar 10 besar juga mencatatkan pertumbuhan kinerja agresif dua digit dari segi pendapatan dan laba bersih.

CMRY mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 25 persen dan laba bersih sebesar 17 persen, sedangkan ULTJ mencatatkan pertumbuhan pendapatan 34 persen dan laba bersih sebesar 73 persen. 

Jika di-breakdown, penyokong kinerja keuangan keduanya adalah bisnis susu, sedangkan bisnis makanan (sosis dan nugget kanzler untuk CMRY) malah mengalami penurunan.

Ada indikasi hal ini juga didorong oleh anggaran MBG yang terus berjalan normal hingga setengah jalan kuartal kedua. 

Hal serupa diduga jadi penyokong beberapa segmen produk bisnis pakan ternak yang membuat harga ayam dan telur bisa berada di harga yang tidak murah seperti siklus-siklus sebelumnya.

Tantangannya, jika realisasi penurunan anggaran MBG mulai terasa bisa berdampak terhadap potensi kinerja keuangan di 2027. Untuk dampak di 2026, harusnya cenderung kecil karena basis di 2025 anggaran MBG belum secara penuh dioptimalkan.

💡
Mau dapat stockpick dari AI untuk saham AS dan Indonesia, kamu bisa klaim diskon spesial untuk Investing Pro, Langsung langganan di sini sekarang!

Realita Permintaan Produk Consumer Goods di Saham AMRT, INDF, dan MYOR

Realita konsumsi masyarakat bisa terlihat dari kinerja AMRT, INDF, dan MYOR. Ketiga-nya memiliki hubungan langsung dengan mayoritas konsumsi rumah tangga.

AMRT mencatatkan pertumbuhan yang moderat single digit. Pendapatan naik 6,49 persen, sedangkan laba bersih naik 7,5 persen. Lalu, INDF mencatatkan pertumbuhan pendapatan 9,5 persen, tapi mengalami penurunan laba bersih 19 persen. Lalu, MYOR mencatatkan pertumbuhan pendapatan 0,7 persen dengan laba bersih tumbuh 46 persen. 

Untuk AMRT, tren pertumbuhan moderat karena kondisi bisnis di pulau Jawa yang berkontribusi terhadap 60 persen pendapatan sudah cukup matang. Rata-rata pertumbuhan pendapatan di daerah Jawa di bawah 5 persen, sedangkan di luar Jawa masih bisa tumbuh 12 persen.

AMRT menargetkan pembukaan 800 toko baru sepanjang 2026 yang terdiri dari 500 toko sendiri dan 300 franchise dengan belanja modal mencapai Rp500 miliar. Sampai kuartal I/2026 sudah dibuka 211 gerai. Namun, jumlah ekspansi itu masih belum terefleksi di pertumbuhan kinerja perseroan. 

Alasannya, 800 jumlah gerai itu hanya menambah 3 persen dari total jumlah gerai yang saat dimiliki perseroan sekitar 21.000-an gerai.

Berbeda dengan AMRT, INDF secara bisnis mencatatkan pertumbuhan yang lebih bagus. Pendapatan naik 9,5 persen, sedangkan laba usaha turun 14,2 persen yang disebabkan kenaikan dari selisih rugi kurs.

Jika mengacu ke laba usaha, INDF masih tumbuh 13,6 persen. Adapun, pendorong kinerja laba usaha INDF adalah bisnis Bogasari (tepung) yang mencatatkan kenaikan 21,5 persen. Sementara itu, bisnis produk consumer goods milik ICBP tumbuh moderat di bawah 5 persen. Bahkan, bisnis agribisnisnya mencatatkan penurunan 4,4 persen.

Dari sisi MYOR, perseroan hanya mencatatkan pertumbuhan pendapatan nyaris stagnan setelah cuma naik 0,7 persen. Tapi, laba bersih naik 46 persen didorong oleh penurunan biaya bahan baku dan kemasan sebesar 15,6 persen, tenaga kerja turun 2,6 persen, dan total biaya produksi turun 12,6 persen.

Artinya, pertumbuhan laba bersih MYOR didorong oleh efisiensi bukan dari segi kenaikan demand dari bisnis utamanya.

Anomali di UNVR dan GOOD

GOOD dan UNVR memiliki pola kinerja yang berbeda. GOOD mampu mencatatkan kenaikan pendapatan tembus 20 persen, tapi laba bersih hanya tumbuh 4,92 persen, sedangkan UNVR mampu mencatatkan laba bersih naik 37 persen meski pendapatan hanya naik 7 persen.

Untuk saham GOOD, kenaikan kinerja pendapatan yang signifikan diduga dari hasil peluncuran produk baru di 2025 yang dampaknya baru terasa di 2026. Sepanjang 2025, GOOD meluncurkan sekitar 27 produk baru yang mulai tercatat kinerja di semester I/2026.

Hal ini diindikasi dari kenaikan biaya bahan baku, tenaga kerja, hingga beban penjualan yang cukup signifikan. Hal itu yang membuat laba bersih GOOD terkesan tumbuh moderat saat pendapatan tumbuh dua digit.

Sementara itu, kinerja laba bersih UNVR yang tumbuh dua digit juga karena ada faktor penjualan Sariwangi ke Grup Djarum. Dari situ, UNVR mencatatkan keuntungan penjualan bisnis senilai Rp870 miliar. Namun, secara laba usaha, UNVR mencatatkan pertumbuhan yang sangat tipis hanya 1,9 persen.

Pertumbuhan laba usaha 1,9 persen itu pun sudah dari hasil efisiensi iklan dan riset pasar yang turun 17,5 persen. Meski, beban distribusi meningkat 25,7 persen.

Kesimpulan

Dari kinerja saham consumer goods dan ritel primer ini, kenaikan laba bersih tidak bisa dijadikan gambaran sebagai kondisi ekonomi baik-baik saja. Alasannya, ada banyak faktor yang membuat laba bersih terlihat naik:

  • Efisiensi besar-besaran yang ada indikasi mengurangi pengeluaran karyawan hingga memang ada efisiensi dari biaya marketing dan sebagainya
  • Laba naik dari hasil penjualan aset, sedangkan bisnis intinya masih tertatih-tatih
  • Laba naik karena ada momentum khusus terkait kebijakan dan program pemerintah yang membuat anggaran belanja beralih ke produk emiten tersebut

Dari situ, keselarasan antara pertumbuhan pendapatan dan laba bersih bisa memperlihatkan bagaimana kondisi bisnis yang ada sekarang.

Bisa dibilang dari deretan saham consumer goods, tingkat daya beli cukup menantang dengan mayoritas sudah mencatatkan pertumbuhan single digit.

Stock Digest Edisi Juli 2026 Baru Dirilis, Beberapa Saham Value dan Contrarian Investing Pilihan Sudah Keluar Area BUY, Apa yang masih bisa dilirik?

Kamu bisa ikutan event rutin bulanan Mikirduit dengan menjadi member Mikirsaham. Kami juga lagi ada promo akhir bulan nih, dapatkan DISKON spesial dengan kode promo: GAJIANJULI. Promo terbatas hanya untuk 20 pendaftar pertama hingga 31 Juli 2026. (Berlaku untuk semua paket)

Dapatkan semua benefit Mikirsaham.com, join sekarang dan dapatkan deretan benefit yang membantumu investasi di saham seperti:

  • Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
  • Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
  • Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
  • Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US
  • Diskusi lebih nyaman di member area tanpa ada distraksi
  • Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
  • Hingga konsultasi private dengan founder kami

Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini

Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini 

Investasi Crypto di PINTU sekarang