Deretan Saham Batu Bara yang Mulai Lirik Hilirisasi Batu Bara Selain BUMI

Banyak perusahaan batu bara berlomba lakukan hilirisasi, tujuannya adalah untuk menangkap insentif royalti 0 persen, sekaligus meningkatkan harga jual. Siapa saja mereka dan gimana prospeknya?

Share
saham batu bara

Mikirduit - Batu bara memang terkenal sebagai bahan bakar tidak ramah lingkungan. Dalam jangka panjang, produksinya akan terus dikurangi sebagai komitmen meningkatkan bauran EBT. 

Kementerian ESDM tahun ini juga secara resmi telah memotong target produksi batu bara nasional lewat RKAB. 

Pemerintah juga berkomitmen tidak lagi memberikan izin bagi pembangunan PLTU batu bara baru, serta perlahan mulai mematikan atau mempensiunkan dini pembangkit listrik berbasis batu bara yang sudah berumur tua.

Oleh karena itu, banyak perusahaan batu bara mulai melakukan diversifikasi bisnis. Selain itu, mereka juga mengembangkan proyek hilirisasi agar batu bara tidak hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi diolah menjadi produk bernilai lebih tinggi. 

Dalam artikel kali ini, kami akan lebih berfokus membahas soal hilirisasi batu bara.

Apa itu Hilirisasi Batu Bara? 

Hilirisasi batubara adalah proses pengolahan bahan baku batubara mentah menjadi produk turunan yang bernilai ekonomis lebih tinggi. 

Selama bertahun-tahun, industri pertambangan Indonesia sangat bergantung pada skema gali-dan-kirim (direct export batu bara mentah). 

Melalui hilirisasi, batu bara tidak lagi sekadar dibakar sebagai bahan bakar mentah, melainkan ditransformasikan secara kimia maupun fisik menjadi bahan baku industri Petrokimia, energi alternatif pengganti LPG, hingga komponen manufaktur steel/metalurgi. 

Jenis-Jenis Teknologi Hilirisasi Batu Bara 

Pengolahan batu bara menjadi produk turunan terbagi ke dalam beberapa rantai teknologi utama: 

  1. Gasifikasi Batu Bara (Coal Gasification), proses mengubah batu bara padat menjadi gas sintetis (syngas yang terdiri dari CO dan H2) pada suhu dan tekanan tinggi. Produk turunan : Dimethyl Ether (DME) sebagai pengganti LPG, Metanol, Amonia, dan Pupuk. 
  2. Peningkatan Kualitas Batu Bara (Coal Upgrading / Briquetting), proses mengurangi kadar air (moisture) pada batu bara kalori rendah (low-rank coal) agar efisiensi pembakarannya meningkat. Produk turunan: Batu bara briket/tergradasi (upgraded coal).
  3. Pencairan Batu Bara (Coal Liquefaction), proses mengonversi batu bara padat menjadi bahan bakar minyak sintetis (BBM sintetis/dina).Produk turunan: Bahan Bakar Minyak sintetis (BBM sintetis, Solar, dan Avtur). 
  4. Pembuatan Semikokas (Semi-coke) & Koks, proses karbonisasi batu bara pada suhu tinggi tanpa oksigen untuk menghilangkan zat volatil.Produk turunan: Semikokas yang digunakan sebagai reduktor dalam industri smelter metalurgi (seperti pembuatan nikel pig iron/NPI dan baja).
  5. Ekstraksi Kimia & Karbon Terapan, proses ekstraksi komponen asam humat/fulvat atau pemrosesan batu bara menjadi bahan karbon teknis. Produk turunan: Activated carbon, pupuk organik, dan synthetic graphite.

Dari sederet teknologi hilirisasi di atas, belum semua emiten batu bara di Indonesia bisa menerapkan itu, tetapi setidaknya sudah ada yang menjalankan sebagian. 

Dalam pantauan kami, ada empat emiten yang punya komitmen menjalankan hilirisasi batu bara, berikut kami rinci satu per satu: 

Saham BUMI 

Paling baru, ada BUMI melalui anak usahanya, PT Kaltim Prima Coal (KPC) dan PT Arutmin Indonesia, menginisiasi pembentukan joint venture PT Bumi Etam Chemical (BEC) dengan nilai investasi proyek mencapai US$ 2,3 miliar (sekitar Rp41 triliun berdasarkan kurs Rp18.000/US$). 

Proyek gasifikasi batu bara menjadi metanol ini merupakan yang pertama di Indonesia. Berlokasi di Kutai Timur, Kalimantan Timur, proyek ini dirancang untuk menyerap sekitar 7,7 juta ton batu bara berkalori rendah per tahun sebagai bahan baku produksi metanol. 

Proyek ini akan memasuki tahap final investment decision (FID) hingga initial operation pada periode Agustus 2026–2029, dengan target mulai beroperasi penuh pada 2030.

Dengan kapasitas produksi tahap awal sebesar 2 juta ton metanol per tahun dan asumsi harga metanol global di kisaran US$  300 - 350 per ton, BUMI berpotensi mengantongi tambahan pendapatan sekitar US$ 600 juta hingga US$ 700 juta (sekitar Rp9,5 triliun hingga Rp11 triliun) per tahun. 

Prospek proyek dengan modal besar ini juga makin diperkuat oleh dorongan permintaan metanol domestik untuk program Biodiesel B50, serta efisiensi biaya operasional berkat insentif royalti 0 persen. 

Rahasia Dari Anjloknya Laba Bersih UNTR Sebesar 88 persen Pada Semester I/2026
Emiten kontraktor dan pertambangan milik grup Astra, UNTR mencatat penurunan tajam pada kinerja sepanjang paruh pertama 2026. Laba susut drastis, bahkan nilainya tak sampai Rp1 triliun. Apa alasan dibaliknya? apakah itu hanya sementara atau masih berisiko?

Saham PTBA 

Perjalanan hilirisasi batu bara PTBA telah dimulai sejak 2018 lewat inisiasi proyek Coal-to-DME, yang kemudian ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) hingga diresmikan groundbreaking-nya pada awal 2022. 

Meskipun sempat mengalami penyesuaian studi kelayakan akibat mundurnya Air Products pada 2023, PTBA bersama MIND ID dan BPI Danantara kini mematangkan restrukturisasi konsorsium mitra baru, dengan beroperasi komersial penuh (COD) pada kuartal IV-2030.

Dengan estimasi nilai investasi mencapai US$ 2,1 - 2,5 miliar (sekitar Rp41-45 triliun berdasarkan kurs Rp18.000/US$). Proyek ini dirancang mengolah 6 hingga 7 juta ton batu bara kalori rendah per tahun guna menghasilkan 1,4 juta ton DME sebagai substitusi impor LPG nasional. 

Setelah beroperasi penuh, fasilitas ini berpotensi memberikan tambahan pendapatan konsolidasi sebesar US$ 450 juta hingga US$ 550 juta per tahun bagi PTBA.

💡
Mau dapat stockpick dari AI untuk saham AS dan Indonesia, kamu bisa klaim diskon 60% + 15% untuk Investing Pro cuma sampai 31 Juli 2026, Langsung langganan di sini sekarang!

Saham INDY 

INDY melalui anak usahanya, PT Kideco Jaya Agung, mengembangkan hilirisasi batu bara menggunakan teknologi Underground Coal Gasification (UCG) dengan modal US$ 257,4 juta (sekitar Rp4,63 triliun dari kurs Rp18.000/US$) .

Rencana Pengembangan Batubara melalui teknologi UCG telah mendapat persetujuan Kementerian ESDM pada Januari 2022 sebagai bagian dari syarat perpanjangan izin dari PKP2B menjadi IUPK.

Perusahaan mengalokasikan belanja modal (capex) sebesar US$257,4 juta untuk proyek ini. Produk yang ditargetkan meliputi PLTMG (Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas) berkapasitas 6 MW yang direncanakan beroperasi pada 2029, dan produksi ammonia sebesar 100.000 ton per tahun atau urea 172.000 ton per tahun yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2031.

Saat ini, proyek masih berada pada tahap pengurusan perizinan lingkungan (AMDAL) serta penyempurnaan studi kelayakan teknis. Ketika fasilitas UCG ini mencapai kapasitas komersial penuh pasca-2031, proyek ini diperkirakan mampu memberikan kontribusi pendapatan tambahan berkisar US$ 150 juta hingga US$ 250 juta per tahun bagi INDY. 

Penerapan teknologi UCG ini juga membuat Kideco berhak mendapatkan insentif pembebasan royalti 0 persen atas volume batu bara yang digasifikasi di dalam tanah, sehingga dampaknya ke depan akan optimal meningkatkan margin dan efisiensi operasional perusahaan. 

Di saat yang sama, INDY sedang mempercepat transisi portofolio bisnisnya menuju target 50 persen pendapatan non-batu bara (fokus mengalokasikan >90 persem capex ke proyek non-batu bara seperti tambang emas Awak Mas dan energi terbarukan). 

Saham ITMG 

ITMG melalui anak usahanya, PT Indominco Mandiri (IMM), sebelumnya sempat mengkaji proyek Underground Coal Gasification (UCG) dan gasifikasi batu bara di Bontang, Kalimantan Timur. 

Namun, proyek tersebut akhirnya dibekukan sementara karena calon pembeli utama (offtaker) beralih ke sumber energi yang lebih murah. Selain itu, kebutuhan investasinya juga sangat besar, sementara teknologi UCG dinilai belum terbukti secara komersial di Indonesia.

Sebagai gantinya, ITMG mengalihkan fokus hilirisasinya ke proyek semi-coke, yakni pengolahan batu bara menjadi reduktor untuk kebutuhan industri smelter metalurgi. 

Proyek ini akan memanfaatkan batu bara dari tambang milik sendiri dan membutuhkan belanja modal yang jauh lebih rendah dibandingkan proyek gasifikasi.

Manajemen menargetkan pengembangan proyek semi-coke akan berjalan setelah proses transisi PKP2B IMM menjadi IUPK yang berakhir pada 2028. 

Menurut kami, langkah ini cukup masuk akal. Selain mengurangi risiko dari proyek gasifikasi yang mahal dan belum memiliki pasar yang kuat, strategi semi-coke juga lebih sesuai dengan kebutuhan industri smelter yang terus berkembang di Indonesia, ditambah dapat insentif 0 persen royalti dan mengamankan kepastian regulasi ke IUPK.

Stock Digest Edisi Juli 2026 Baru Dirilis, Beberapa Saham Value dan Contrarian Investing Pilihan Sudah Keluar Area BUY, Apa yang masih bisa dilirik?

Kamu bisa ikutan event rutin bulanan Mikirduit dengan menjadi member Mikirsaham. Kami juga lagi ada promo akhir bulan nih, dapatkan DISKON spesial dengan kode promo: GAJIANJULI. Promo terbatas hanya untuk 20 pendaftar pertama hingga 31 Juli 2026. (Berlaku untuk semua paket)

Dapatkan semua benefit Mikirsaham.com, join sekarang dan dapatkan deretan benefit yang membantumu investasi di saham seperti:

  • Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
  • Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
  • Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
  • Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US
  • Diskusi lebih nyaman di member area tanpa ada distraksi
  • Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
  • Hingga konsultasi private dengan founder kami

Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini

Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini 

Investasi Crypto di PINTU sekarang