Insentif Bebas Bea Impor Bahan Baku Plastik dan LPG, Apa Saham yang Diuntungkan?
Imbas perang harga plastik telah melonjak signifikan. Oleh karena itu, pemerintah membebaskan bea impor untuk bahan baku plastik. Seharusnya ini akan menguntungkan bagi pemain di sektor plastik. Kira-kira siapa saja yang bakal diuntungkan? apakah menarik untuk dibeli saham-nya?
Mikirduit - Pemerintah membebaskan bea impor untuk bahan baku plastik dan LPG. Hal ini diharapkan bisa menekan harga plastik yang sudah melambung ratusan persen beberapa waktu ini.
Emiten kemasan plastik seperti PBID-ESIP dkk diharapkan mendapat keuntungan dari itu karena beban impor berkurang. Lantas, apakah jadi menarik untuk ikutan beli sahamnya saat ini?
Pemerintah Bebaskan Bea Impor Bahan Baku Plastik dan LPG
Pemerintah resmi memberikan insentif berupa pembebasan bea impor untuk bahan baku plastik dan LPG selama enam bulan ke depan.
Kebijakan ini diambil untuk meredam lonjakan harga plastik di dalam negeri yang belakangan naik tajam, seiring terganggunya pasokan bahan baku utama seperti nafta.
Dalam konferensi pers di Kemenko Perekonomian, Jakarta, Selasa (27/4/2026), Menko Airlangga Hartarto menyebut terganggunya pasokan nafta akibat penutupan Selat Hormuz di Timur Tengah ikut mendorong lonjakan harga plastik kemasan, bahkan mencapai 50% hingga 100%.
Ia juga mengingatkan, kondisi tersebut bisa berdampak lebih luas karena kenaikan biaya kemasan berisiko mendorong harga bahan pangan dan memicu inflasi ke depan.
Sebagai langkah antisipasi, secara rinci pemerintah memutuskan memberikan insentif berupa bea masuk 0% untuk impor sejumlah bahan baku plastik. Setidaknya ada enam jenis yang mendapat fasilitas ini, di antaranya polipropilena (PP), polyethylene (PE), LLDPE (Linear Low-Density Polyethylene), dan HDPE (High-Density Polyethylene).
Di sisi lain, pemerintah juga menambah stimulus untuk sektor petrokimia dengan menurunkan bea masuk impor LPG menjadi 0 persen dari sebelumnya 5 persen, khususnya untuk mendukung kebutuhan industri.

Deretan Emiten yang Diuntungkan
Dari sejumlah insentif itu perusahaan yang paling diuntungkan tentu adalah pemain di sektor kemasan plastik. Kenapa begitu? karena struktur biaya mereka sangat bergantung pada bahan baku berbasis resin plastik seperti PP dan PE.
Ketika harga bahan baku melonjak, margin langsung tertekan. Sebaliknya, dengan adanya pembebasan bea impor, tekanan biaya ini berpotensi mereda.
Kami mencatat ada 15 emiten plastik di BEI berikut daftarnya:
Dari sederet emiten itu, secara garis besar bisnisnya memang akan diuntungkan, tetapi mereka punya kondisi keuangan yang berbeda, jadi efeknya tentu tidak akan langsung mulus.
Kami mengindentifikasi ada tiga poin penting yang patut diperhatikan:
Pertama, valuasinya ada yang masih murah, tapi ada yang sudah mahal banget
Dari sisi PBV, terlihat perbedaan yang cukup lebar. Beberapa saham seperti AKPI (0,20 kali), IPOL (0,32 kali), dan SMKL (0,54 kali) masih tergolong murah. Di sisi lain, ada saham yang sudah mahal seperti IMPC (42,49 kali) dan YPAS (6,97 kali), yang mencerminkan ekspektasi pasar yang sudah tinggi.
Menariknya, saham-saham yang paling responsif pada hari ini terhadap kebijakan baru itu, seperti ESIP, IPOL, FPNI, YPAS, EPAC, dan IMPC, sebagian sudah mengalami kenaikan harga signifikan, bahkan ESIP dan YPAS sudah naik ratusan persen sejak awal tahun. Artinya, sebagian peluang mungkin sudah mulai terpricing oleh pasar.
Kedua, pertumbuhan laba tinggi, tapi kualitasnya belum merata
Beberapa emiten mencatatkan pertumbuhan laba yang sangat tinggi, seperti APLI, SMKL, ESIP, dan EPAC yang tumbuh ratusan hingga ribuan persen.
Namun, di sisi lain masih ada emiten yang mencatatkan kerugian seperti BRNA, FPNI, TRST, dan YPAS.
Ini menunjukkan bahwa sektor plastik dan kemasan masih dalam kondisi yang belum sepenuhnya solid. Jadi meskipun headline pertumbuhan terlihat menarik, tetap perlu selektif karena tidak semua perusahaan benar-benar berada dalam kondisi fundamental yang kuat.
Ketiga, pergerakan saham lebih didorong sentimen, cocok untuk trading jangka pendek
Kenaikan harga yang agresif, seperti ESIP naik 27,04 persen dalam sehari atau IPOL naik 13,01 persen, menunjukkan bahwa sentimen kebijakan (seperti pembebasan bea impor) menjadi pendorong utama saat ini.
Namun, perlu dicermati bahwa banyak saham di sektor ini memiliki likuiditas yang rendah, dengan volume transaksi yang tipis bahkan terkadang tidak aktif. Kondisi ini membuat pergerakan harga menjadi lebih sensitif.
Dengan karakter seperti ini, strategi yang lebih relevan cenderung trading jangka pendek, bukan untuk hold jangka panjang.
Bahkan, YPAS saat ini masih berada dalam papan pemantauan khusus (FCA), akibat harga saham yang sudah naik terlalu cepat, artinya secara risk-reward ratio juga sudah lebih tinggi risk-nya dibandingkan potensi cuan lagi.
Gimana, kalian juga ikut cuan dari momentum saham plastik ini atau masih wait and see?
Dapatkan Analisis dan Diskusi Komprehensif, serta Screeningan Saham yang Menarik untuk Trading hingga Jangka Panjang
Kamu bisa dapatkan semuanya di Mikirsaham.com, join sekarang dan dapatkan deretan benefit yang membantumu investasi di saham seperti:
- Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
- Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
- Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
- Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US,
- Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
- Hingga konsultasi private dengan founder kami
Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini
Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini