Cerita di Balik Crossing Jumbo Saham SINI Senilai Rp760 miliar
Saham SINI melejit tujuh persenan hari ini setelah kemarin ada transaksi nego jumbo sampai Rp760 miliar, setara 12,5 persen dari total saham beredar. Kira-kira siapa dibaliknya dan apa tujuannya?
Mikirduit - Saham SINI hari Rabu ini (12/8/2026) melejit lebih dari 7 pesenan setelah kemarin mencatat transaksi jumbo di pasar nego senilai Rp760,5 miliar, nilai ini mewakili 1,5 juta lot saham setara 12,5 persen dari total saham beredar. Transaksi tersebut dilakukan melalui broker Panca Global Sekuritas (PG).
Key takeaways:
- Transaksi crossing jumbo Rp760,5 miliar di SINI lebih merupakan penataan ulang kepemilikan antar-pengendali, bukan pergantian pengendali atau sinyal pemegang saham lama keluar.
- Rights issue Rp3,61 triliun menjadi modal utama transformasi SINI ke bisnis batu bara, termasuk akuisisi KMS senilai Rp1,73 triliun yang membawa cadangan besar tetapi masih memiliki tantangan profitabilitas.
- Kunci prospek SINI berikutnya ada pada eksekusi operasional, yakni seberapa cepat aset tambang KMS, PBC, dan CBP bisa meningkatkan produksi, arus kas, dan akhirnya membawa perseroan kembali mencetak laba.
- Mikirduit Masterclass 2026, Wealthverse: Cara Menumbuhkan Kekayaan dari Multi Aset. Belajar dari 0 manajemen aset hingga praktek dan komposisi aset yang pas untuk menghadapi peluang dan tantangan 2026-2027 selama 2 Hari secara Online. Early Bird cuma Rp250.000 (Hanya untuk 50 pendaftar pertama) dengan klik link di sini
Menariknya, transaksi itu dieksekusi di harga Rp5.070 per lembar, diskon lumayan dalam sekitar 24,32 persen dari harga penutupan kemarin di posisi Rp6.700 per lembar.
Berdasarkan keterbukaan informasi resmi di Bursa Efek Indonesia (BEI), aksi pindah tangan ini merupakan skema penyesuaian portofolio antar-pengendali, dengan komitmen tidak mengubah pengendali.
Tercatat ada empat pihak yang terlibat. Hendrikus Yulidar Putra Karim resmi masuk memborong 90 juta saham dari Ever Grace Investment senilai Rp456,3 miliar, yang membuat Ever Grace mengosongkan seluruh posisinya hingga tersisa 0 persen, sementara Hendrikus kini langsung mengempit 7,48 persen porsi saham SINI.
Perlu dicatat, Ever Grace ini merupakan perusahaan investasi dan trading. Peran mereka di SINI, kami nilai hanya sebagai standby buyer waktu rights issue (RI) beberapa waktu lalu dan sebagai penampung saham sementara saja. Tujuan ini juga sudah disampaikan sebelumnya dalam prospektus.
Ever Grace tercatat masuk saham SINI pada 23 Juli 2026 di harga pelaksanaan RI senilai Rp5000 per lembar, setelah 19 hari dana parkir, mereka jual di harga Rp5070 per lembar, selisihnya itu sudah merupakan cuan mereka sekitar 1,40 persen setara Rp6,3 miliar (gross, di luar potongan pajak, dll). Kami nilai keuntungan itu cukup wajar dianggap sebagai arranger fee.

Yang menarik lagi, masuknya Hendrikus sebagai pemegang saham langsung sebenarnya bukan berarti muncul pengendali baru di SINI. Dalam keterbukaan informasi, Hendrikus memang sudah tercatat sebagai bagian dari kelompok pengendali bersama Happy Hapsoro dan Limas Ananto.
Hendrikus punya hubungan erat dengan pengendali SINI, beliau adalah Chairman di PT Autumn Prima Indonesia sejak 2014 sampai saat ini.
Di sisi lain, PT Deli Indonesia Raya menyerap 60 juta saham dari PT Autumn Prima Indonesia senilai Rp304,2 miliar. Transaksi ini mengamankan kepemilikan Deli Indonesia Raya di angka 7,48 persen (setara 90 juta saham).
Setelah transaksi itu, Autumn Prima Indonesia kini mengempit sisa 144,3 juta saham atau 12,01 persen, masih konsisten bertahan sebagai pengendali utama SINI.
Adapun berikut susunan kepemilikan SINI terbaru setelah transaksi nego jumbo kemarin:

Kalau disederhanakan, transaksi crossing di pasar nego ini lebih terlihat sebagai penataan ulang kepemilikan di dalam kelompok pengendali.
Saham yang sebelumnya berada di entitas cangkang dialihkan ke individu dan entitas terafiliasi baru supaya struktur kepemilikannya lebih rapi dan siapa pemilik akhirnya alias ultimate beneficial owner (UBO) jadi lebih jelas.
Menariknya, transaksi ini dilakukan di harga Rp5.070 per saham. Harga tersebut bisa saja menjadi salah satu acuan atau floor price secara psikologis bagi investor, karena mencerminkan harga yang disepakati oleh pihak-pihak dalam grup pengendali.
Jadi, meskipun transaksinya dilakukan dengan diskon dibanding harga pasar reguler, aksi ini lebih mengarah ke penataan portofolio internal, bukan tanda bahwa pemilik saham sedang ramai-ramai menarik modal dari SINI.
Lalu, setelah struktur kepemilikan SINI semakin jelas, pertanyaan berikutnya tentu adalah bagaimana prospek bisnis perseroan ke depan. Apalagi, transaksi ini terjadi tak lama setelah SINI mendapat suntikan dana besar dari rights issue dan mulai mengubah arah bisnisnya ke sektor batu bara.

Prospek Bisnis Saham SINI
Masuknya Deli Grup semakin mempertegas kongsi strategis antara gerbong Happy Hapsoro dan Prajogo Pangestu di SINI.
Menariknya, perubahan struktur kepemilikan ini terjadi di tengah transformasi besar SINI, yang perlahan meninggalkan bisnis akomodasi dan pengolahan kayu untuk serius masuk ke bisnis tambang batu bara.
Setelah rights issue, SINI mengantongi dana segar sekitar Rp3,61 triliun. Dana ini menjadi amunisi penting, bukan cuma untuk ekspansi, tetapi juga untuk memperbaiki kondisi neraca perseroan.
Perbaikan Ekuitas Negatif Jadi Positif
Per kuartal I 2026, SINI masih mencatat ekuitas negatif Rp676 miliar. Angka ini terutama berasal dari tambahan modal disetor yang negatif sekitar Rp733 miliar dan akumulasi rugi sekitar Rp76 miliar.
Namun, ekuitas negatif ini perlu dilihat sedikit lebih dalam. Kondisinya bukan semata-mata karena bisnis SINI terus merugi. Porsi terbesar justru berasal dari pencatatan akuntansi atas transaksi internal di masa lalu.
Ceritanya, SINI pernah mengakuisisi saham perusahaan tambang PT Dwi Daya Swakarya (DDS) dengan harga yang lebih tinggi dari nilai bukunya. Saat itu, DDS masih berada di bawah pengendali yang sama dengan SINI.
Karena merupakan transaksi antarentitas sepengendali, pencatatannya mengikuti PSAK 38. Selisih tersebut tidak bisa begitu saja dicatat sebagai aset, melainkan menjadi pengurang ekuitas. Jadi, ada unsur akuntansi yang cukup besar di balik posisi ekuitas negatif SINI saat ini.

Nah, setelah rights issue, kondisi ini berpeluang berubah.
Dana sekitar Rp3,6 triliun yang masuk ke perseroan akan tercermin dalam tambahan modal dan agio saham. Secara kasar, dana tersebut berpotensi menutup saldo negatif sebelumnya dan membuat ekuitas SINI berbalik menjadi positif di kisaran Rp2,93 triliun, dengan asumsi tidak ada penyesuaian material lainnya.
Memang, sampai saat ini laporan keuangan kuartal II 2026 belum terbit. Tapi menurut kami, keterlambatan tersebut masih cukup bisa dipahami karena proses rights issue dan perubahan struktur permodalan terjadi dalam periode yang berdekatan.
Dana Rights Issue Untuk Akuisisi Tambang Batu bara
Perlu dicatat, salah satu penggunaan terbesar dana rights issue SINI adalah mengakuisisi tambang 99,99 persen saham PT Kemilau Mulia Sakti (KMS) dari entitas Prajogo Pangestu, PTRO senilai Rp1,73 triliun.
KMS sendiri merupakan perusahaan holding yang memiliki tambang batu bara melalui PT Cristian Eka Pratama (CEP) di Kalimantan Timur. Dari sisi aset, tambang ini punya cadangan sekitar 72,9 juta ton dan resources sekitar 134,5 juta ton, dengan umur tambang kurang lebih 15 tahun.
Tapi ada catatan penting, KMS saat ini masih merugi. Akumulasi kerugiannya bahkan meningkat dari sekitar Rp60 miliar pada 2024 menjadi Rp156 miliar pada 2025. Kualitas batu baranya juga tergolong rendah, berada di kisaran 3.900-an kcal/kg.
Jadi, akuisisi KMS ini memang memberikan SINI akses ke aset batu bara dengan cadangan yang cukup besar, tetapi bukan berarti aset tersebut langsung otomatis menghasilkan laba.
Justru pekerjaan rumah SINI berikutnya adalah memperbaiki kinerja KMS sekaligus mengoptimalkan aset tambangnya supaya bisa memberikan kontribusi positif ke depan.
Untuk KMS, manajemen menyampaikan rencana produksi bertahap, mulai sekitar 1 juta ton per tahun pada tahap awal dan naik hingga sekitar 5 juta ton per tahun saat kapasitas optimal. KMS juga diproyeksikan memiliki life of mine sampai sekitar 2038.
Bahkan, manajemen memproyeksikan KMS membukukan pendapatan sekitar US$52 juta pada 2026 dan US$158,97 juta pada 2027.
PTRO Tetap Jadi Partner Penting
Menariknya, meskipun KMS diambil alih dari PTRO, hubungan keduanya tidak berhenti di transaksi jual-beli aset.
PTRO tetap menjadi partner penting SINI dalam menjalankan operasional tambang. Selain menjadi pemegang saham SINI dengan porsi 19,88 persen, PTRO juga berperan sebagai kontraktor tambang untuk sejumlah aset SINI.
Melalui dua anak usaha SINI, yakni PT Pesona Bara Cakrawala (PBC) dan PT Cakrawala Bara Persada (CBP), perseroan telah mengunci kontrak jasa pertambangan bersama PTRO sepanjang usia tambang (life of mine) dengan total nilai sekitar Rp9,3 triliun.
Artinya, SINI tidak perlu membangun kemampuan operasional tambangnya dari nol. PTRO sudah membawa pengalaman, alat berat, hingga kemampuan infrastruktur pertambangan untuk mendukung proses produksi.
Kerja sama ini menjadi penting karena tantangan bisnis tambang bukan cuma soal punya cadangan batu bara. Cadangan tersebut harus bisa ditambang, diangkut, dan dikirim dengan biaya yang efisien.
Dengan dukungan PTRO, proses seperti pengupasan lapisan tanah (overburden removal) hingga pengangkutan batu bara diharapkan bisa berjalan lebih terukur.
Untuk PBC dan CBP sendiri, SINI menargetkan total produksi hingga 50 juta ton batu bara di Kalimantan Tengah. Adapun PBC ditargetkan melakukan first-cut produksi komersial pada kuartal IV 2026, sementara CBP menyusul pada kuartal IV 2027.
Kesimpulan
Jadi, kalau ditarik dari awal, crossing jumbo Rp760,5 miliar ini lebih terlihat sebagai penataan ulang kepemilikan di dalam kelompok pengendali, bukan aksi ganti pengendali atau tanda pemilik lama sedang keluar dari SINI.
Justru yang menarik ada di cerita setelahnya. SINI sedang mengubah wajah bisnisnya dari perusahaan akomodasi dan pengolahan kayu menjadi pemain tambang batu bara. Dana rights issue Rp3,61 triliun mulai diputar, salah satunya untuk mengakuisisi KMS senilai Rp1,73 triliun.
KMS memang membawa aset tambang dengan cadangan yang cukup besar, tetapi juga punya pekerjaan rumah karena masih merugi dan kualitas batu baranya relatif rendah. Artinya, nilai akuisisi tersebut baru akan benar-benar terasa kalau SINI berhasil mengubah aset tersebut menjadi produksi dan arus kas.
Di sisi lain, dukungan PTRO sebagai partner operasional memberikan modal penting untuk mengejar target produksi PBC dan CBP.
Jadi, setelah drama crossing dan perubahan kepemilikan selesai, cerita SINI berikutnya bukan lagi soal siapa yang pegang sahamnya, tetapi seberapa cepat aset tambang yang sudah dibeli bisa mulai berproduksi dan menghasilkan uang.
Dan di situlah pasar akan mulai menguji, apakah transformasi besar SINI ini benar-benar bisa menjadi mesin pertumbuhan baru atau justru masih menyisakan banyak pekerjaan rumah.
Harapan utamanya tentu bisa mencetak laba. Menurut kamu tahun ini apakah SINI akan mencatat turnaround pertama-nya setelah merugi tiga tahun beruntun?
Dapatkan Insight dan Belajar Saham dengan Praktek Langsung Bersama Founder Mikirduit
Dapatkan semua benefit Mikirsaham.com, join sekarang dan dapatkan deretan benefit yang membantumu investasi di saham seperti:
- Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
- Tools Trading Plan by Sistem (minimal join Mikirsaham Super dan masih tahap Beta)
- Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
- Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
- Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US
- Diskusi lebih nyaman di member area tanpa ada distraksi
- Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
- Hingga konsultasi private dengan founder kami
Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini
Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini
