Geng Pebisnis Terbesar di Pasar Modal Indonesia

Bukan Grup Salim, Djarum, atau siapapun, ternyata inilah geng pebisnis terbesar di Bursa Efek Indonesia. Kamu punya sahamnya nggak?

Geng Pebisnis Terbesar di Pasar Modal Indonesia

Mikir Duit – Jika melihat deretan orang terkaya di dunia, nama yang terlintas pasti ada Grup Djarum, Grup Salim, Prajogo Pangestu, hingga Low Tuck Kwong. Namun, tahukah kamu ada geng pebisnis yang bisa dibilang menguasai pasar modal di Indonesia? bisa dibilang ini adalah geng pebisnis terbesar yang ada di Indonesia dan menguasai berbagai sektor.

Geng pebisnis yang memiliki 26 saham di Indonesia itu adalah anak-anak dari para pendiri PT Astra International Tbk. (ASII). 50,11 persen saham Grup Astra saat ini memang dimiliki oleh perusahaan asal Inggris di Hong Kong, yakni Jardine melalui Jardine Cycle & Carriage Ltd. Namun, jauh sebelum itu, ASII didirikan oleh pengusaha legendaris Indonesia, yakni William Soeryadjaya.

Astra dibangun dari sebuah perusahaan kecil mati suri yang memiliki lisensi bisnis impor yang dibeli oleh adiknya Tji Kian Tie untuk William yang terseret kasus sengketa bisnis. Setelah keluar dari penjara Banceuy Bandung, Tji Kian Tie memberikan perusahaan impor itu karena abangnya itu dinilai jago dalam hal berdagang.

William bersama Tji Kian Tie dan Teddy Thohir pun mulai mengembangkan bisnis perusahaan konglomerasi tersebut. Perusahaan kecil itu diberikan nama Astra International, dengan filosofi dari mitologi Yunani Kuno yang berarti terbang ke langit dan menjadi bintang terang.

para karyawan dan pendiri astra pertama kali
Di sini, ada William Soeryadjaya bersama Teddy Thohir sebagai pendiri dan juga dua karyawan pertama dari Astra yang baru didirikan.

Awalnya, Astra menjual produk impor seperti limun merek Prim Club dan kornet CIP. Selain itu, Astra juga jual produk lokal seperti, pasta gigi Fresh O Dent. Lalu, Astra juga sempat bisnis distribusi fosfat Aluminium dan bohlamp lampu. Hingga juga merambah bisnis ekspor minyak kopra dan minyak goreng.

Bisnis Astra mulai berkembang ketika era Orde Baru dimulai. Di sini, Astra menjadi importir aspal dari Marubeni Jepang untuk membangun jalan. Bahkan, Astra juga mendapatkan pinjaman dana senilai 2,9 juta dolar AS untuk mengimpor truk atau apapun dari Amerika Serikat (AS) dengan catatan hasil barang impornya tidak boleh untuk pemerintah.

Sayangnya, Astra mengimpor truk Chevrolet milik General Motors untuk kebutuhan pemerintahan. Dari situ, Astra dilarang untuk mengimpor produk lebih banyak lagi dari Negeri Paman Sam. Di sini, juga arah bisnis Astra mulai mendekat ke Jepang.

Memasuki 1968, ketika Astra siap melaju, William mengajak keponakannya Teddy Rachmat untuk bergabung dalam pengembangan bisnis alat berat. Setahun kemudian Benny Subianto, kawan Teddy Rachmat, juga bergabung ke Astra. Di sini, perkembangan bisnis Astra makin pesat setelah bekerja sama dengan Toyota hingga melahirkan mobil Kijang yang merupakan Kerja Sama Indonesia Jepang.

BACA JUGA: Review 21 Portofolio Saham Milik Grup Salim

Astra IPO dan Sahamnya Jadi Rebutan Konglomerat

William Soeryadjaya membawa Astra IPO pada 4 April 1990 dengan menawarkan harga Rp14.850 per saham (jika dihitung saat ini, harga IPO-nya setara Rp104,36 per saham jika disesuaikan dengan stock split, rights issue, dan penerbitan saham bonus). Dengan jumlah saham yang diterbitkan sebanyak 30 juta lembar saham, total perolehan dana IPO Astra sekitar Rp445,5 miliar kala itu.

Sayangnya, beberapa saat setelah membawa Astra IPO, William harus rela melepas sisa kepemilikannya di sana untuk menyelesaikan masalah bisnis anaknya. Edward Soeryadjaya yang memiliki bisnis Bank Summa terkena masalah gara-gara terlalu banyak menyalurkan kredit ke pihak berelasi dan sektor properti. Tingkat kredit macetnya tembus 70 persen atau setara Rp1,2 triliun. Ditambah, dia punya utang Rp500 miliar.

Bank Summa pun sudah tidak terselematkan hingga dilikuidasi pemerintah pada 14 Desember 1992. William pun tidak mau namanya tercoreng, dia menyelesaikan kewajiban Bank Summa kepada nasabah dan juga masalah lainnya dengan menjual saham Astra.

William jual saham Astra kepada konsorsium badan pemerintah dan beberapa konglomerat seperti Eka Tjipta Widjaja, Prajogo Pangestu, Bob Hasan, dan Salim Grup pada 15 Januari 1993.

Tarik ulur kepemilikan Astra ini pun cukup menarik setelah Putera Sampoerna yang memegang 15,8 persen saham perusahaan tersebut sempat ingin menaikkan kepemilikannya menjadi 25 persen. Namun, pemerintah menolaknya. Pada akhirnya, kepemilikan saham Astra dari badan pemerintah dan Putera Sampoerna dilepas ke tangan Bob Hasan pada 1997. Sisanya, saham Astra masih dipegang oleh konsorsium para konglomerat Indonesia.

Sampai akhirnya krisis 1997-1998 mendera Indonesia, termasuk menerjang bisnis Astra. Akhirnya, Astra juga masuk ke dalam portofolio Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Kepemilikan konsorsium konglomerat termasuk Bob Hasan yang mencapai 40 persen dari total saham berpindah ke BPPN.

Setelah memiliki saham Astra pada 1999, pemerintah melalui BPPN pun melakukan penjualan dengan skema tender. Beberapa pihak yang ikut antara lain konsorsium Jardine Cycle & Carriage bersama Batavia Investment Management Ltd., Lazard Asia Fund, PT Bhakti Investama (sekarang MNC Investama), dan Government of Singapore Investment Corp. Selain itu ada juga Gilbert Global Equity Partners, dan konsorsium Newbridge Capital bersama Chase Asia Equity Partners, PT Nusantara Investment Fund, Batavia Investment Fund, dan PT Saratoga Investama Sedaya Tbk. (SRTG).

Sayangnya, SRTG yang didirikan oleh anak William, yakni Edwin Soeryawidjaya gagal dalam tender saham Astra. Justru, Jardine yang menjadi pemenang dengan transaksi pembelian saham senilai 506 juta dolar AS pada 25 Maret 2000.

Para Eks Astra Bersatu Mengembangkan Bisnis

Di tengah kecamuk krisis dan rebutan kepemilikan Astra, sebenarnya para anak-anak eks pendiri Astra mulai mengembangkan bisnis sendiri sejak 1998. Misalnya, Teddy P. Rachmat memutuskan cabut dari Astra dan merintis bisnisnya sendiri bersama Benny Subianto,kini diteruskan anaknya Arini Subianto. Mereka mendirikan Triputra Grup yang bisa dibilang memiliki lini bisnis yang sama seperti Astra.

Kini, Triputra Grup memiliki empat perusahaan yang telah melantai di bursa efek Indonesia, yakni PT Dharma Satya Nusantara Tbk. (DSNG), PT Triputra Agro Persada Tbk. (TAPG), PT Kirana Megatara Tbk. (KMTR), dan PT Dharma Polimetal Tbk. (DRMA).

Bukan cuma itu, ketika saham Astra sudah tidak dimiliki keluarga William, sebenarnya Edwin anaknya membuat private equity bersama wonderkid Sandiaga Uno bernama PT Saratoga Investama Tbk. (SRTG). Bahkan, SRTG mengikuti tender untuk merebut kembali saham ASII yang sudah dilepas hampir satu dekade sebelumnya. Sayangnya, konsorsium SRTG kalah saing dalam tender dengan Jardine.

SRTG sendiri berkembang dengan memiliki portofolio bisnis yang beragam. SRTG memiliki investasi di 7 perusahaan publik, yakni PT Adaro Energy Tbk. (ADRO), PT Merdeka Gold Copper Tbk.(MDKA),PT Tower Bersama Infrastruktur Tbk. (TBIG), PT Nusa Raya  Cipta Tbk. (NRCA), PT Provident Investasi Tbk. (PALM), PT Aneka Gas Industri Tbk. (AGII), dan PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk. (MPMX).

Dari deretan perusahaan investasi SRTG itu juga ada irisan dengan kepemilikan saham dari para pendiri dan sesepuh eks Astra. Seperti ADRO yang juga dimiliki oleh Boy Thohir, anak dari Teddy  Thohir, Teddy Rachmat, dan Benny Subianto.

Lalu, MDKA juga ada jejak Boy Thohir, terutama di anak usaha barunya, yakni PT Merdeka Battery Materials Tbk. (MBMA). Kemudian, di MPMX ada grup perusahaan milik Benny Subianto.

Di sisi lain, Teddy Rachmat dan Boy Thohir juga berkolaborasi di beberapa emiten seperti, PT Surya Esa Perkasa Tbk. (ESSA) dan PT Adi Sarana Armada Tbk. (ASSA). Serta hubungan kerja sama dengan menantu Teddy Rachmat, yakni Patrick Walujo di saham PT Goto Company Tbk. (GOTO), PT BFI Finance Tbk. (BFIN), dan PT Trimegah Sekuritas Tbk. (TRIM) melalui Northstar grup.

Selain itu, masing-masing para eks pendiri dan sesepuh Astra ini juga memiliki portofolio bisnsi masing-masing.

Seperti, Boy Thohir yang secara pribadi juga memiliki sebagian saham multifinance PT WOM Finance Tbk. (WOMF). Lalu, Benny Subianto juga memiliki saham PT Surya Semesta Internusa Tbk. (SSIA).

Terakhir, kolaborasi Teddy Rachmat dengan menantunya Patrick Walujo juga memiliki investasi via private equitynya Northstar seperti, PT Bank Jago Tbk. (ARTO), PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT), PT Bundamedik Tbk. (BMHS), PT Indosat Ooredoo Hutchinson Tbk. (ISAT), dan PT BTPN Syariah Tbk. (BTPS).

Kesimpulan

Dari kisah Grup Astra ini cukup menarik, setelah kepemilikannya lepas, para sesepuh di dalamnya tetap menjaga keep in touch dan membangun bisnis baru yang lebih potensial. Bahkan, beberapa bisnis dari para sesepuh Astra ini masih berhubungan dengan perusahaan yang didirikannya seperti, DRMA yang menyupplai kebutuhan onderdil dari Astra.

Market cap PBV saat ini Rata-rata PBV 5 tahun -
ADMR 41.291 4,45 13,45
ADRO 75.486 0,78 0,95
AGII 5.949 1,61 1,05
AMRT 115.022 9,73 6,94
ARTO 44.340 5,35 20,58
ASSA 4.493 2,69 3,02
BFIN 22.194 2,39 1,82
BMHS 3.286 2,05 3,95
BTPS 16.485 1,87 4,07
DRMA 6.282 4,17 3,07
DSNG 6.412 0,78 1,05
ESSA 11.714 1,7 2,11
GOTO 133.833 1,09 3,29
ISAT 73.169 2,5 1,74
KMTR 2.300 1,19 1,42
MBMA 81.536 6,86 7,25
MDKA 80.289 5,33 5,59
MPMX 4.686 0,74 0,56
NRCA 873 0,71 0,7
PALM 4.378 0,75 0,93
SRTG 22.942 0,41 0,53
SSIA 2.117 0,55 0,6
TAPG 12.209 1,18 1,64
TBIG 44.634 3,8 6,35
TRIM 1.592 1,48 1,44
WOMF 1.608 1,06 0,75

total market cap saham dari geng pebisnis terbesar di BEI ini sekitar Rp819 triliun.

Kalau kita yang para orang biasa bikin lingkaran seperti para orang kaya tersebut bisa bikin sesuatu yang wah juga nggak ya?