Belum Tamat, Ini Saham Batu bara yang Prospeknya Bagus

Saham batu bara memang lagi dalam tekanan harga komoditas turun, kampanye ramah lingkungan, hingga royalti yang selangit. Apakah masih ada masa depan untuk saham batu bara?

Belum Tamat, Ini Saham Batu bara yang Prospeknya Bagus

Mikir Duit – Kami sempat bilang kalau tahun ini jadi pesta dividen jumbo terakhir saham batu bara. Namun, hal itu bukan berarti kalau saham batu bara bakal tamat di tahun ini. Ada beberapa peluang besar menanti saham batu bara, salah satunya dengan hilirisasi produk batu bara menjadi lebih ramah lingkungan. Jadi, ada apa saja saham batu bara yang punya prospek bagus di masa depan?

Kalau kemarin, kami sudah bahas terkait alasan kinerja keuangan saham batu bara di kuartal I/2023 hancur lebur. Jawabannya adalah karena pada kuartal pertama tahun ini ada pengenaan skema royalti batu bara yang baru, sedangkan di periode sama tahun lalu tidak ada. Perbedaan royalti dari 3 persen sampai 7 persen menjadi 5 persen hingga 13,5 persen memberikan dampak signifikan terhadap beban pokok perusahaan batu bara.

Detail angka dan penjelasannya bisa kamu baca di artikel Mikirduit di sini [BACA JUGA: Fakta Terbaru Penyebab Kinerja Keuangan Saham Batu bara Babak Belur di Kuartal I/2023]

Hal ini langsung memperkuat asumsi lama kalau saham batu bara bakal masuk periode sunset layaknya saham rokok. Soalnya, harga batu bara terus turun, ada kampanye ramah lingkungan yang berpotensi mengurangi permintaan batu bara, serta tambahan biaya pengenaan skema royalti baru yang lebih mahal.

Jadi, apakah saham batu bara benar-benar tidak memiliki masa depan?

Masa Depan Saham Batu Bara

Tenang, masa depan saham batu bara masih ada lho. Dari skema pengenaan royalti batu bara yang baru dan sangat tinggi itu, ada terselip insentif untuk perusahaan batu bara di Indonesia.

Insentifnya adalah pemberian tarif royalti 0 persen kepada perusahaan batu bara yang sudah melakukan hiirisasi produk batu baranya. Namun, apakah sudah ada saham batu bara yang melakukan hilirisasi saat ini? jelas jawabannya belum, tapi kalau di masa depan, sudah ada beberapa saham yang menyiapkannya. Siapa saja mereka?

Saham PT Bukit Asam Tbk. (PTBA)

PTBA sudah merencanakan untuk pengembangan produk gasifikasi batu bara sejak 2019. Bahkan, PTBA sudah menandatangani dengan beberapa calon pembelinya, seperti PT Pupuk Indonesia (Persero) hingga PT Chandra Asri Petroleum Tbk. (TPIA).

Rencananya, pabrik gasifikasi batu bara itu bisa rampung pada 2021 dengan total biaya investasi hingga Rp3 triliun. Namun, hingga saat ini, pabrik gasifikasi batu bara milik PTBA itu tak kunjung rampung.

Bahkan, salah satu konsorsium proyek gasifikasi PTBA ini, yakni Air Product and Chemical Inc. memutuskan untuk keluar dari proyek tersebut. Jadi, konsorsium proyek tersebut hanya menyisakan PTBA dengan PT Pertamina (Persero).

Di sisi lain, manajemen PTBA masih menegaskan pihaknya akan terus melanjutkan proyek hilirisasi tersebut, meski Air Product memutuskan hengkang.

2. Saham PT Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITMG)

ITMG juga dikabarkan sudah siap memulai proyek hilirisasi batu bara dengan produk gasifikasi. ITMG mengembangkan proyek hilirisasi itu di bawah anak usaha PT Indominco Mandiri.

ITMG disebut menggelontorkan modal hingga 200 juta dolar AS atau setara dengan Rp2,94 triliun. Targetnya, proyek hilirisasi itu akan rampung dan mulai beroperasi secara komersial pada 2025.

Dalam hasilan kajian ITMG, perseroan menargetkan pasar dari produk gasifikasi ini adalah industri pupuk. Untuk itu, mereka telah menandatangani nota kesepahaman dengan PT Pupuk Kaltim untuk menggunakan produknya jika nantinya sudah beroperasi secara komersial.

Nantinya, ITMG akan mulai memasok gas ke Pupuk Kaltim secara terbatas pada 2027-2028.

Saham PT Bumi Resoruces Tbk. (BUMI)

Selain PTBA dan ITMG, BUMI juga menjadi salah satu yang mulai mengerjakan proyek hilirisasi batu bara untuk gasifikasi. Sayangnya, nasib BUMI hampir mirip dengan PTBA, karena perusahaan asal Amerika Serikat Air Product and Chemical Inc. memutuskan untuk cabut dari Indonesia, termasuk proyek hilirisasi batu bara di Indonesia bersama PTBA dan BUMI.

Harusnya, salah satu pabrik hilirisasi batu bara milik BUMI sudah beroperasi pada 2024, sedangkan satu pabrik lagi beroperasi pada 2025. Namun, dengan hengkangnya Air Product, artinya ada risiko proyek tersebut molor.

Kabarnya, pihak BUMI juga lagi mencari mitra baru untuk mengerjakan proyek. Sebelumnya AIr Product merencanakan anggaran Rp33 triliun untuk mengerjakan proyek tersebut.

Emiten Batu bara Lainnya

Di sisi lain, emiten batu bara lainnya tidak semuanya menuju proyek hilirisasi batu bara. Beberapa malah banting setir ke bisnis nikel dan mobil listrik. Seperti, PT Indika Energy Tbk. (INDY) dan PT TBS Energy Tbk. (TOBA) yang mulai serius mendalami industri kendaraan listrik.

Khusus INDY, sebenarnya melalui PT Kideco sudah mengembangkan hilirisasi produk batu bara dalam bentuk briket dan kokas. Namun, perseroan juga ingin mendiversifikasi sumber pendapatannya ke sektor yang lebih booming.

Lalu, PT Harum Energy Tbk. (HRUM) juga sudah makin matang dalam mengembangkan bisnis tambang nikelnya.

Untuk emiten besar, hanya tersisa PT Adaro Energy Tbk. (ADRO) dan PT Bayan Resources Tbk. (BYAN) yang masih galau.

Sebenarnya, ADRO sudah menjajaki prospek untuk ekspansi ke bisnis gasifikasi batu bara. Namun, memang belum ada kejelasan bagaimana rencana mereka selanjutnya. Di sisi lain, BYAN juga masih memperhitungkan apakah masuk bisnis energi alternatif lain seperti, pembangkit listrik tenaga surya atau gasifikasi batu bara.

Kesimpulan

Cerita hilirisasi batu bara ini bakal seperti kisah nikel dan mobil listriknya. Ceritanya bakal membutuhkan waktu yang panjang sekali. Apalagi, proyek hilirisasi juga tidak murah, makanya tidak semua emiten batu bara yang semangat melakukan hilirisasi.

Lalu, apakah hilirisasi ini akan menjadi sentimen pendorong saham batu bara? jawabannya belum tentu. Meski begitu, jika hilirisasi sudah berjalan, bukan tidak mungkin saham batu bara kembali booming dan harga sahamnya kembali bangkit.

Dari ketiga saham yang sudah merencanakan hilirisasi itu, mana yang jadi favoritmu?