Adu Kuat Saham Haji Isam dan Hashim Saat IHSG Kena Badai Net Sell Asing
Setelah pidato kenegaraan Presiden Prabowo Subianto, saham-saham yang terkait circle-nya tampak menunjukkan tajinya, seperti dari grup Haji Isam dan Hashim Djojohadikusumo. Kira-kira masih menarik dilirik atau buat trading jangka pendek saja?
Mikirduit - IHSG mencatatkan tekanan jual asing sejak pengumuman rebalancing MSCI di 12 Agustus 2026. Total net sell asing dalam sepekan terakhir mencapai Rp1,99 triliun. Apakah, saham yang terkait Haji Isam dan Hashim akan lanjut terbang?
Key Takeaways
- Saham TEBE, PGUN, dan JARR mendapat dorongan kuat dari narasi biodiesel, sawit, serta rumor korporasi, tetapi volatilitas tinggi membuatnya lebih cocok untuk trading momentum jangka pendek daripada mengejar harga setelah lonjakan tajam.
- DOOH masih didominasi ekspektasi terhadap MTO, pengendali baru, dan potensi sinergi dengan WIFI, sementara valuasinya sudah sangat mahal sehingga risiko koreksinya tetap besar.
- WIFI menjadi yang paling menarik secara fundamental karena pertumbuhan pendapatan dan laba sudah nyata dengan valuasi yang relatif lebih masuk akal, meski ekspansi agresif dan kenaikan beban bunga tetap perlu diawasi.
- Mikirduit Masterclass 2026, Wealthverse: Dapatkan bocoran aset paling menarik untuk 2026-2027. Early Bird cuma Rp250.000 (Tersisa hanya untuk 23 pendaftar lagi) dengan klik link di sini
Saham grup Haji Isam tercatat yang naik paling kencang. TEBE naik signifikan, dua hari mentok Auto Reject Atas (ARA). Diikuti JARR kemarin ARA sehari dan PGUN terbang hampir 20 persen sehari.
Saham milik Hashim juga pada naik. DOOH (yang dianggap terkait dengan Hashim karena ada hubungan bisnis dan kini pengendalinya adalah Tinawati yang juga pemegang saham di WIFI bersama Hashim) sebulan ini sudah dalam tren naik, dalam dua hari beruntun naiknya hampir 10 persen per hari, WIFI juga menyusul kemarin naik hampir 10 persen.
Kalau diakumulasi begini geraknya dalam lima hari perdagangan aktif terakhir:

Saham dari dua grup itu menunjukkan taji setelah pidato Presiden, menurut kami memang ada hubungan yang bisa dibilang satu circle. Kenapa bisa begitu?
Grup Haji Isam dan Prospek Sahamnya
Haji Isam, konglomerat penguasa tambang batubara, kelapa sawit (CPO), logistik, hingga industri biodiesel asal Batulicin, Kalimantan Selatan, melalui bendera Jhonlin Group.
Ia dikenal sebagai salah satu penyokong dana utama dan tim sukses dalam kampanye Pilpres Prabowo Subianto.
Kedekatan ini sangat menonjol di era pemerintahan saat ini, di mana Haji Isam kerap diajak langsung oleh Prabowo ke Istana untuk dikenalkan kepada investor-investor asing (seperti investor Jepang).
Selain itu, ia juga dianugerahi gelar tanda kehormatan Bintang Mahaputra Utama langsung oleh Presiden Prabowo atas kontribusinya pada ekonomi nasional. Kekerabatannya pun meluas ke jajaran kabinet, seperti Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman yang merupakan sepupunya.
Menyambung pembahasan soal saham TEBE, PGUN, dan JARR yang menguat signifikan setelah pidato Presiden, menurut kami ada kaitannya dengan prospek industri sawit dan biodiesel nasional.
Dari segi peta geografis, posisi JARR, PGUN, dan TEBE di Pulau Kalimantan memberikan keunggulan logistik yang masif untuk memenangkan program B50, sekaligus membuka gerbang lebar masuk ke industri masa depan, Bioavtur atau Sustainable Aviation Fuel (SAF)
Pabrik biodiesel dan refinery milik JARR berada di Batulicin, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan. Integrasi operasional di satu lokasi ini memotong biaya logistik secara drastis saat mengolah CPO menjadi FAME (biodiesel).
Kebun kelapa sawit milik PGUN terletak di Kalimantan Timur, berdampingan geografis dengan Kalimantan Selatan. Hal ini memudahkan pengiriman bahan baku (feedstock) CPO ke pabrik pengolahan JARR tanpa biaya kapal antarpulau.
Sementara itu, sebagai penyedia jalur angkut (hauling road) dan pelabuhan di Kalimantan, TEBE memegang kunci kelancaran transportasi logistik terintegrasi di wilayah operasional utama Jhonlin Group.
Selain karena prospek CPO, kenaikan saham-saham itu menurut kami ada kaitan dengan rumor pasar yang merebak soal Haji Isam mau akuisisi 62 persen saham BYAN dari Low Tuck Kwong. Namun, pihak BYAN mengaku tidak mengetahui rumor tersebut.
Jadi, menurut kami kenaikan kencang ini sifatnya lebih banyak karena narasi saja. Menilai dari pergerakan harganya secara historis, tipe saham di grup Haji Isam punya risiko volatilitas yang tinggi.
Kecenderungan-nya setelah harga naik kencang, biasanya akan terjadi koreksi signifikan juga. Dan ini mulai terjadi hari ini, perlu diwaspadai jika harga tidak bisa membuat higher low, ada potensi kembali lanjut sideways.
Menurut kami, saham Haji Isam lebih cocok untuk taktikal jangka pendek dulu atau scalping ketika daya beli ramai di pasar.

Grup Hashim dan Prospek Sahamnya
Beralih ke Hashim Djojohadikusumo yang merupakan pemilik Arsari Group (yang bergerak di sektor pertambangan, perkebunan, kertas, dan proyek air bersih dekat IKN), serta menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra
Hashim adalah adik kandung dari Presiden Prabowo Subianto. Sepanjang karier politik Prabowo, Hashim merupakan "jangkar finansial" sekaligus penasihat politik paling tepercaya.
Di pemerintahan saat ini, Hashim diberi amanat resmi sebagai Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi, menjadikannya representasi langsung kebijakan energi hijau sang Kakak di level internasional.
Ada dua saham miliknya yang kami soroti naik kencang setelah Pidato Presiden, yaitu DOOH dan WIFI.
Mulai dari saham DOOH dulu, kami lihat sudah lebih dari sebulan tren naiknya cukup kuat, posisinya sudah di resistance, bahkan kemarin sempat mau menguji level All Time High-nya.
Selama bulan Juli saja, harga saham DOOH memang sudah naik 130 persen lebih, berlanjut sampai Agustus ini secara month to date juga melejit 30 persenan.
Menurut kami, untuk kejar harga sudah tidak worth it, lebih baik menunggu koreksi wajar dulu untuk momentum trading buy on retracement selama tren masih naik. Adapun, support terdekat bisa dipantau ke area 300, jika breakdown ada support selanjutnya bisa ke MA20 daily di 249.

Sementara itu, untuk WIFI secara teknikal punya gerakan berbeda. Saham ini baru berusaha bangkit setelah terjun lebih dari 35 persen dari awal tahun.
Rebound kencang kemarin menunjukkan saham WIFI sedang membentuk akumulasi yang terstuktur, geraknya mengikuti MA20 daily menunjukan beberapa higher low. Hal ini juga menandai optimisme investor mulai kembali.
Namun, kenaikan ini tetap perlu dilihat sebagai fase awal pemulihan, bukan berarti tren bullish sudah sepenuhnya terkonfirmasi.
Investor perlu memperhatikan apakah WIFI mampu menembus resistance terdekat dengan volume yang kuat. Kalau berhasil, momentum kenaikannya bisa semakin solid. Adapun, resistance terdekat berada di 2150, sementara support yang masih dijaga ada di 1885.

Dari sisi katalis bisnis, saham DOOH dan WIFI itu masih sama-sama bermain di ekosistem digital, tapi dari sisi yang berbeda. DOOH fokus di periklanan digital luar ruang, sementara WIFI punya bisnis infrastruktur internet berbasis fiber optik.
Menariknya, daya tarik kedua saham ini makin kuat setelah masuknya pengendali baru DOOH, yaitu PT Sinergi Internasional Investama (SII). Pasalnya, sosok di balik SII ada Tinawati, yang juga tercatat sebagai salah satu Ultimate Beneficial Owner (UBO) pemilik saham WIFI.
Dalam waktu dekat ini, setelah SII mengakuisisi 51 persen saham DOOH. Akan ada MTO yang dijadwalkan pada akhir Agustus 2026. Akuisisi awal dilakukan di harga Rp50 per saham, pasar kini ramai berspekulasi soal berapa harga MTO yang nantinya ditetapkan.
Kalau dilihat lebih jauh, masuknya Tinawati sebagai pengendali baru DOOH melalui SII dan keterkaitannya dengan WIFI membuat pasar melihat peluang terbentuknya ekosistem digital dari hulu ke hilir. WIFI bisa berperan di sisi infrastruktur lewat jaringan fiber optik, sementara DOOH menjadi kanal monetisasi lewat bisnis iklan digital di stasiun dan transportasi.
Tapi kalau melihat fundamentalnya, keduanya punya cerita yang cukup berbeda. DOOH masih lebih banyak digerakkan ekspektasi, terutama terkait MTO dan potensi sinergi dengan WIFI.

Laba memang tumbuh tinggi secara persentase, tetapi secara nominal masih relatif kecil sehingga kenaikan harga sahamnya sudah jauh mendahului kemampuan perusahaan mencetak laba. Valuasi sudah sangat mahal, PBV saat ini di 10 kali, sementara PE sudah mau 100 kali.
Sementara itu, WIFI mulai punya cerita fundamental yang lebih nyata. Pendapatan tumbuh sangat pesat, terutama didorong bisnis FTTH. Efeknya juga terasa sampai bottom line, di mana laba naik dari Rp409 miliar pada semester I/2025 menjadi Rp662 miliar pada semester I/2026.
Valuasi juga sudah make sense dengan PBV terkini di 1,44 kali dan PE di 21,47 kali. Meski begitu, ekspansi agresifnya juga perlu dicermati karena ikut meningkatkan beban bunga dari utang yang digunakan untuk membangun jaringan.
Jadi sederhananya, WIFI punya kombinasi cerita dan fundamental, sedangkan DOOH saat ini lebih banyak mengandalkan ekspektasi pasar terhadap MTO dan potensi sinergi ke depannya.
Ditambah, ada kemungkinan DOOH mengganti bisnis. Pasalnya, sebelum diakuisisi oleh Tinawati, DOOH melepas tiga anak usaha yang menjadi core bisnisnya. Salah satu anak usaha dilepas ke eks pengendali IRSX. Namun, belum ada tanda apa bisnis DOOH selanjutnya.
Kesimpulan
Kalau ditarik benang merahnya, kenaikan saham-saham yang terkait Haji Isam dan Hashim setelah pidato Presiden memang tidak bisa dilepaskan dari kuatnya ekspektasi pasar terhadap kebijakan pemerintah. Namun, katalisnya tidak sama dan kualitas fundamentalnya juga berbeda.
Untuk TEBE, PGUN, dan JARR, cerita utamanya masih berkaitan dengan ekspektasi terhadap penguatan industri sawit, biodiesel, dan kedaulatan energi. Ditambah dengan rumor-rumor korporasi yang sempat beredar, tidak heran kalau pergerakannya menjadi sangat agresif. Namun, volatilitasnya juga tinggi sehingga menurut kami lebih cocok dilihat sebagai saham taktikal untuk trading jangka pendek, bukan sekadar mengejar harga setelah naik kencang.
Sementara itu, DOOH juga masih lebih banyak digerakkan oleh ekspektasi. Cerita MTO, masuknya pengendali baru, serta potensi sinergi dengan ekosistem WIFI memang menarik, tetapi valuasinya sudah sangat tinggi dibandingkan kemampuan perusahaan mencetak laba saat ini. Karena itu, lebih menarik menunggu koreksi daripada mengejar harga di level sekarang.
WIFI menjadi yang paling menarik secara fundamental. Selain mendapatkan sentimen dari narasi digitalisasi dan keterkaitannya dengan DOOH, kinerja keuangannya juga mulai menunjukkan pertumbuhan yang nyata. Pendapatan dan laba terus meningkat, sementara valuasinya masih relatif lebih masuk akal. Meski begitu, ekspansi agresif dan kenaikan beban bunga tetap menjadi risiko yang perlu diperhatikan.
Jadi, kalau dibagi berdasarkan karakternya, TEBE, PGUN, dan JARR lebih cocok untuk trading berbasis momentum, DOOH lebih spekulatif dengan katalis MTO, sedangkan WIFI punya kombinasi antara momentum, cerita bisnis, dan fundamental yang lebih solid.
Dengan kata lain, tidak semua saham yang ikut "manggung" setelah pidato Presiden punya kualitas cerita yang sama. Tinggal pilih, mau mengejar momentum jangka pendek atau mencari cerita yang masih bisa berkembang lebih panjang.
Gimana, menurut kalian menarik lirik yang mana?
Dapatkan Insight dan Belajar Saham dengan Praktek Langsung Bersama Founder Mikirduit
Dapatkan semua benefit Mikirsaham.com, join sekarang dan dapatkan deretan benefit yang membantumu investasi di saham seperti:
- Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
- Tools Trading Plan by Sistem (minimal join Mikirsaham Super dan masih tahap Beta)
- Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
- Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
- Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US
- Diskusi lebih nyaman di member area tanpa ada distraksi
- Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
- Hingga konsultasi private dengan founder kami
Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini
Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini

