5 Saham Ini Bisa Diuntungkan dari Kurs Rupiah ke Rp15.700?

saham yang diuntungkan saat rupiah melemah

Mikirduit – Saat kurs rupiah melemah dalam, banyak yang menilai saham-saham yang punya porsi ekspor besar akan diuntungkan. Mayoritas, pastinya saham komoditas. Meski, ada beberapa saham non-komoditas yang juga punya porsi ekspor besar. Pertanyaannya, seberapa besar potensi cuan saham-saham ekspor non-komoditas ini saat rupiah melemah?

Pelemahan Rupiah Sempat Tembus  Rp15.700

Dari data Bank Indonesia, kurs rupiah kembali mencatatkan pelemahan sebesar 0,2 persen menjadi Rp15.708 per dolar AS pada 11 Oktober 2023. Level ini mendekati level pelemahan rupiah tertinggi pada Januari 2023. 

Pelemahan rupiah pun wajar terjadi karena dari pasar surat berharga negara (SBN) pada September 2023 mencatatkan aksi jual bersih asing hingga Rp23,3 triliun dibandingkan dengan Rp8,89 triliun pada Agustus 2023. 

Lalu, di pasar saham hingga 10 Oktober 2023, dalam sebulan terakhir, investor asing mencatatkan aksi jual bersih saham senilai Rp988 miliar untuk pasar reguler di luar transaksi negosiasi.

Kekhawatiran inflasi kembali naik akibat serangan Israel ke Palestina membuat ada ekspektasi suku bunga Federal Reserve (The Fed) berpotensi kembali naik. Padahal, suku bunga The Fed saat ini sudah 5,5 persen atau cuma beda 25 bps dengan Bank Indonesia yang sebesar 5,75 persen. Selisih yang sedikit ini memang memicu potensi arus modal keluar asing hingga melemahkan rupiah. 

Di sisi lain, kebijakan devisa hasil ekspor disimpan di bank lokal tampaknya belum memberikan efek yang banyak terhadap pergerakan rupiah. 

Jika melihat cadangan devisa Indonesia sendiri, sedikit tergerus di September 2023 sebesar 2,18 persen dibandingkan dengan Agustus 2023 senilai 137 miliar dolar AS. Meski cadangan devisa masih dalam keadaan aman. 

Pertanyaannya, emiten apa yang diuntungkan dari pelemahan rupiah ini. Kami mengelaborasi, ada sekitar 5 saham potensial yang mendapatkan keuntungan dari pelemahan rupiah.

Di sini, kami melakukan screening ada sekitar 5 saham yang bisnisnya punya porsi ekspor cukup besar. Kira-kira, seberapa besar keuntungan yang didapatkan saham-saham tersebut saat rupiah melemah?

Untuk kamu yang mau coba strategi dividen investing, kamu bisa baca step by stepnya di sini:

1. Saham PT Tjiwi Kimia Tbk. (TKIM)

Sampai semester I/2023, TKIM mencatatkan penjualan ekspor sebesar 56 persen dari total pendapatan. Meski, pertumbuhan bisnisnya lagi turun. Kinerja pendapatan TKIM mencatatkan penurunan sebesar 7,68 persen menjadi 554 juta dolar AS dibandingkan dengan periode sama tahun lalu. Laba bersihnya turun dalam sebesar 61,58 persen menjadi 64 juta dolar AS. 

Laba bersih TKIM turun dalam akibat penurunan pendapatan bagian laba dari entitas asosiasi sebesar 35 persen menjadi 81,61 juta dolar AS. Lalu, kenaikan beban bunga sebesar 16,78 persen menjadi 22,64 juta, serta posisi rugi kurs senilai 26,77 juta dolar AS dibandingkan untung kurs 25,6 juta dolar AS pada periode sebelumnya. 

Sementara itu, dari sisi penjualan ekspor, TKIM lebih tertekan dari penurunan permintaan domestik sebesar 15 persen menjadi 243,33 juta dolar AS, sedangkan permintaan ekspor turun tipis 0,9 persen menjadi 311 juta dolar AS. 

Jika melihat secara historis, di mana kami ambil pelemahan rupiah pada 2015 dari level Rp12.000-an bisa tembus Rp14.000-an per dolar AS, serta 2018 di mana rupiah sempat tembus Rp14.000-an lagi. [pandemi covid-19 tidak kami hitung karena saat itu bisnis sedang sulit sehingga kinerja penjualan ikut turun]

Hasilnya, kami lihat pada 2015 kinerja TKIM justru tengah merosot dalam. Kinerja TKIM pada 2015 perseroan mencatatkan penurunan pendapatan sebesar 1,38 persen, dan laba bersih turun 92 persen. Namun, hal berbeda saat pelemahan rupiah di 2018, kinerja pendapatan TKIM tumbuh 11,54 persen, sedangkan laba bersihnya tumbuh 861 persen. 

Lonjakan kinerja TKIM didorong oleh dua hal utama, seperti adanya lonjakan kenaikan pendapatan dari bagian atas laba bersih entitas asosiasi sebesar 369 persen menjadi  senilai 230 juta dolar AS, serta keuntungan selisih kurs senilai 24,72 juta dibandingkan sebelumnya rugi 971.000 dolar AS. 

Satu-satunya entitas asosiasi TKIM adalah OKI Pulp and Paper Mills. TKIM memiliki 49,08 persen saham di perusahaan pabrik kertas tersebut. 

Selain itu, kinerja moncer TKIM di 2018 juga didorong oleh permintaan ekspor yang naik 6 persen, sedangkan permintaan domestik hanya naik 1,77 persen.

Jika melihat pergerakan harga saham TKIM pada periode 2015 dan 2018 sepanjang tahun, perseroan mencatatkan penurunan harga cukup tajam pada 2015 sebesar 42 persen, sedangkan pada 2018 harga sahamnya naik cukup tinggi sebesar 278 persen. Hal itu selaras dengan realisasi kinerja keuangan perseroan. 

2. Saham PT Indah Kiat Pulp and Paper Tbk. (INKP)

Bicara INKP, pasti banyak yang bertanya-tanya, apa perbedaan antara TKIM dan INKP. Keduanya sama-sama emiten kertas, hanya saja perbedaannya dari produk hilir yang dibuatnya. TKIM memiliki produk lebih beragam seperti, buku, packaging karton, dan produk kimia. Sementara itu, INKP membuat produk kemasan consumer goods, mulai dari rokok, tempat makan dan minum dari kertas, dan juga ada produk packaging karton. 

Sampai semester I/2023, kinerja INKP hampir mirip dengan TKIM. Bedanya, penurunan pendapatannya turun lebih tipis hanya sebesar 0,51 persen menjadi 1,93 miliar dolar AS, sedangkan laba bersihnya turun 32 persen menjadi 268 juta dolar AS. 

Tekanan kinerja INKP disebabkan adanya kenaikan beban pokok penjualan sebesar 4,35 persen menjadi 1,24 miliar dolar AS. Kenaikan beban pokok penjualan itu disebabkan oleh kenaikan beban produksi, terutama di bahan baku. 

Lalu, tekanan laba bersih INKP makin besar setelah perseroan mencatatkan rugi selisih kurs senilai 62,61 juta dolar AS dibandingkan dengan sebelumnya yang laba 48 juta dolar AS. Ditambah, ada kenaikan beban bunga sebesar 19 persen menjadi 143 juta dolar AS dibandingkan dengan 120 juta dolar AS pada periode sama tahun lalu. 

Menariknya adalah kinerja penjualan INKP tertekan akibat turunnya permintaan domestik sebesar 14,78 persen menjadi 776 juta dolar  AS. Sementara itu, pertumbuhan penjualan ekspor masih kokoh dengan kenaikan 12,09 persen menjadi 1,15 miliar dolar AS. Porsi ekspor INKP kepada pendapatan juga hampir tembus 60 persen. 

Sementara itu, jika melihat kinerja INKP pada periode pelemahan rupiah yang cukup dalam, perseroan mencatatkan kinerja yang lebih positif. Seperti, pada 2015, perseroan mencatatkan kenaikan pendapatan 19,26 persen dibandingkan pada 2014 yang cuma naik 1,35 persen. Lalu, laba bersihnya juga melesat 95,85 persen. 

Meski, kenaikan kinerja INKP pada 2015 didorong oleh permintaan produk dari domestik yang agresif, walaupun penjualan ekspornya juga tetap tumbuh positif. 

Sayangnya, INKP justru mencatatkan perlambatan kinerja keuangan pada 2018. Saat itu, penjualan INKP hanya tumbuh 13,97 persen atau lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan periode 2017 yang sebesar 15,93 persen. Laba bersihnya juga lebih lambat setelah tumbuh 52 persen dibandingkan 105 persen pada periode 2017. Adapun, di periode ini, penjualan ekspor INKP cenderung melambat, dan penjualan perseroan lebih ditopang permintaan domestik.

Sementara itu, dari sisi pergerakan harga saham, INKP mencatatkan penurunan sebesar 7 persen pada 2015, meski dari sisi kinerja perseroan mencatatkan kinerja yang oke. Lalu, perseroan juga mencatatkan kenaikan harga saham fantastis pada 2018 sebesar 114 persen, meski kinerjanya lebih lambat dibandingkan 2017. Meski lebih lambat, pertumbuhan positif kinerja INKP itu juga direspons positif. 

3. Saham PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP) 

Sementara itu, ICBP juga menjadi salah satu saham non-komoditas yang memiliki porsi penjualan ekspor, meski tidak terlalu besar. Sampai semester I/2023, porsi penjualan ekspor ICBP sebesar 27 persen dari total penjualan.

Kinerja perseroan pun masih tumbuh, meski penjualan hanya naik tipis 5,78 persen menjadi  Rp34,47 triliun. Namun, laba bersih ICBP meroket sebesar 196 persen menjadi Rp5,72 triliun. Laba bersih ICBP meroket karena didukung adanya keuntungan dari selisih kurs mata uang senilai Rp1,9 triliun.

Untuk penjualan ICBP masih ditopang permintaan domestik yang tumbuh 6,18 persen menjadi Rp25 triliun, sedangkan permintaan ekspor tumbuh positif sebesar 4,73 persen menjadi Rp9,41 triliun. 

Sementara itu, jika dilihat dari historis kinerja keuangannya, ICBP mencatatkan pertumbuhan yang lebih lambat dibandingkan dengan periode 2014. Hal itu terlihat setelah pendapatan 2015 hanya tumbuh 5,72 persen atau kalah dibandingkan dengan 19 persen pada 2014. Dari segi laba bersih, ICBP tumbuh 15 persen, tapi tetap masih kalah dari 17 persen. 

Berbeda dengan 2018, kinerja pendapatan ICBP naik 7,88 persen, meski masih single digit, tapi pertumbuhan itu sudah lebih tinggi dibandingkan dengan periode 2017. Begitu juga laba bersihnya yang sudah meroket 20,51 persen dibandingkan 2017 yang tumbuh 5,47 persen. 

Sementara itu, untuk pergerakan harga saham ICBP saat dolar AS menguat tidak terlalu signifikan. Pada 2015, saham ICBP cenderung sideways di level 1,6 persen, sedangkan pada 2018 saham ICBP menguat 17 persen. 

4. Saham PT Mayora Indah Tbk. (MYOR)

MYOR menjadi emiten consumer goods yang punya porsi ekspor produk lebih besar dibandingkan dengan ICBP. Sampai semester I/2023, porsi ekspor produk MYOR tembus 42,5 persen dari total penjualan. 

Di sisi lain, kinerja MYOR juga lagi cukup oke. MYOR mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 3 persen, serta laba bersih sebesar 86 persen menjadi Rp1,21 triliun. 

Lonjakan laba bersih MYOR didorong oleh penurunan beban pokok penjualan sebesar 4,52 persen menjadi Rp10,87 triliun. Penurunan itu didukung oleh penurunan biaya produksi hingga proses produksi. 

Lalu, ada kenaikan pendapatan bunga sebesar 258 persen menjadi Rp43 miliar. Keuntungan penjualan aset tetap senilai Rp6,66 miliar, serta adanya kenaikan pendapatan lain-lain sebesar 600 persen menjadi Rp133 miliar. 

Dari segi penjualan, MYOR didorong oleh pertumbuhan permintaan ekspor yang naik 8 persen menjadi Rp6,31 triliun, sedangkan permintaan domestik masih turun 0,56 persen menjadi Rp8,51 triliun. 

Sementara itu, jika dilihat dari historis kinerja keuangan pada saat rupiah tinggi, MYOR sempat mencatatkan kinerja sensasional pada 2015. Saat itu, pendapatan MYOR memang melambat 4,58 persen, tapi laba bersihnya meroket tumbuh 201 persen. 

Kinerja MYOR moncer pada 2015 karena mampu mencatatkan penurunan beban pokok penjualan ketika pendapatan tetap mampu tumbuh positif. Lalu, adanya keuntungan selisih kurs senilai Rp151 miliar. 

Sementara itu, kinerja MYOR pada 2018 sebenarnya cukup oke dari segi penjualan, yakni naik 15,58 persen. Namun, laba bersihnya cenderung melambat 7,65 persen. 

Pergerakan harga saham MYOR pada periode 2015 dan 2018 bisa dibilang cukup atraktif. Pada 2015, harga saham MYOR naik 32 persen, sedangkan pada 2018 tumbuh 29 persen.

5. Saham PT Selamat Sempurna Tbk. (SMSM)

SMSM menjadi salah satu produsen onderdil otomotif yang pasarnya lebih banyak ekspor. Sampai semester I/2023, 59 persen penjualan SMSM adalah ke pasar ekspor. 

Adapun, kinerja pendapatan SMSM per semester I/2023 tumbuh 7,48 persen menjadi Rp2,47 triliun. Lalu, laba bersihnya naik 13,75 persen menjadi Rp429 miliar. 

Dari segi penjualan, SMSM tengah menghadapi tantagan permintaan luar negeri yang cenderung stagnan setelah hanya tumbuh 0,81 persen menjadi Rp1,47 triliun. Di sisi lain, permintaan sektor domestik lagi cukup agresif setelah tumbuh 18,97 persen menjadi Rp1 triliun. 

Jika melihat kinerja secara historis saat rupiah melemah di 2015 dan 2018, pola yang ada di SMSM adalah mencatatkan perlambatan kinerja pada 2015 setelah pendapatan hanya naik 6,45 persen dan laba bersih tumbuh 9,46 persen. Lalu, SMSM justru mencatatkan pertumbuhan lebih tinggi pada 2018 setelah pendapatan naik 17 persen, sedangkan laba bersih tumbuh 11 persen. 

Sementara itu, dari sisi pergerakan harga saham saat pergolakan kurs rupiah, saham SMSM bisa dibilang bergerak cukup lambat. Pada 2015, saham SMSM hanya bergerak 2,59 persen, sedangkan pada 2018 hanya naik 9,27 persen.

Kesimpulan

Salah satu logika kenapa saat pelemahan kurs rupiah bisa menguntungkan saham yang punya bisnis ekspor adalah karena harga jual produknya bisa lebih kompetitif alias lebih murah. Untuk itu, beberapa negara juga kerap membiarkan mata uang turun untuk bisa meningkatkan daya saing produk ekspor. 

Namun, jika melihat ketika rupiah melemah dalam dibandingkan dengan kinerja keuangan serta harga saham emiten, tampaknya korelasinya tidak secara langsung. Soalnya, kinerja emiten ekspor pun akan ditentukan oleh beberapa hal seperti: 

  • Tingkat daya beli masyarakat global, jika daya beli global juga melandai berarti kinerja emiten juga tidak terdongkrak meski rupiah melemah.
  • Pergerakan harga bahan baku, terutama bahan baku komoditas yang cenderung naik-turun bisa mempengaruhi kinerja keuangan perseroan. 

Jika melihat geliat produk ekspor yang lagi laris, saham MYOR dan INKP jelas menjadi yang menarik. Dengan pelemahan rupiah, MYOR dan INKP bisa genjot permintaan ekspornya lebih tinggi lagi. Berbeda dengan emiten lainnya yang justru mencatatkan perlambatan untuk produk ekspornya tersebut.

Sayangnya, kami menilai kenaikan kedua saham itu sudah terlalu tinggi dalam 12 bulan terakhir. Saham INKP sudah naik 20,85 persen, sedangkan MYOR naik 32,34 persen. 

Meski, jika dilihat dengan price to earning ratio maupun price to book value-nya, kedua saham itu secara historis masih cukup murah. Apalagi, price to book value INKP masih di 0,67 kali dibandingkan dengan rata-rata 5 tahunnya. 

Dengan risiko penurunan harga saham akibat kenaikan yang sudah terlalu tinggi, kamu berani masuk ke saham MYOR atau INKP? dengan catatan adanya kenaikan penjualan dari ekspor sepanjang 2023 yang bisa mengerek pertumbuhan laba bersihnya. 

Mau dapat guideline saham dividen 2024?

Pas banget, Mikirduit baru saja meluncurkan Zinebook #Mikirdividen yang berisi review 20 saham dividen yang cocok untuk investasi jangka panjang lama banget.

Kalau kamu beli #Mikirdividen edisi pertama ini, kamu bisa mendapatkan:

  • Update review laporan keuangan hingga full year 2023 dalam bentuk rilis Mikirdividen edisi per kuartalan
  • Perencanaan investasi untuk masuk ke saham dividen
  • Grup Whatsapp support untuk tanya jawab materi Mikirdividen
  • Siap mendapatkan dividen sebelum diumumkan (kami sudah buatkan estimasinya)

Tertarik? yuk langsung join Mikirdividen + pakai kode kupon MIKIRWINDRES untuk dapat diskon Rp100.000 dengan klik di sini

Surya Rianto

Surya Rianto

Ex-Journalist Stock Market Enthusiast
Indonesia