3 Saham Melakukan Penghapusan Saldo Laba Defisit, Pertanda Apa Nih?
Ada tiga emiten melakukan kuasi reorganiasi untuk menghapus saldo rugi yang sudah menahun di neraca. Ada siapa saja mereka dan gimana prospeknya?
Mikirduit - Ada tiga emiten pada tahun ini melakukan aksi korporasi yang mungkin terdengar asing bagi sebagian investor, yakni kuasi reorganisasi.
Mereka adalah PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMFI), PT FKS Food Sejahtera Tbk (AISA), dan PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT).
Ketiganya memiliki satu persoalan yang kurang lebih sama. Perusahaan sudah kembali mencatatkan kinerja positif, tetapi masih memiliki saldo laba rugi atau defisit historis dalam laporan keuangannya.
Masalahnya, keberadaan defisit tersebut dapat membatasi ruang perusahaan untuk membagikan dividen. Karena itu, kuasi reorganisasi menjadi salah satu cara untuk merapikan struktur ekuitas dan menghapus saldo defisit secara akuntansi.
Lantas, apa sebenarnya kuasi reorganisasi dan bagaimana mekanismenya?
Apa Itu Kuasi Reorganisasi?
Sederhananya, kuasi reorganisasi adalah proses penataan kembali struktur ekuitas perusahaan secara akuntansi untuk mengeliminasi akumulasi kerugian atau saldo laba negatif.
Aksi ini bukan restrukturisasi bisnis. Tidak ada perusahaan baru yang dibentuk, kegiatan operasional tetap berjalan, dan jumlah saham investor tidak berubah.
Mekanismenya dilakukan dengan menggunakan komponen ekuitas positif, seperti agio saham atau tambahan modal disetor dan selisih transaksi dengan entitas sepengendali, untuk menghapus saldo laba negatif. Jika belum cukup, perusahaan dapat melakukan penurunan nilai nominal saham untuk menutup sisa defisit.
Dengan begitu, perusahaan seolah mendapatkan "fresh start" secara akuntansi karena saldo defisit historis dapat menjadi nol.
Namun, perlu diingat, kuasi reorganisasi tidak menghilangkan kerugian secara ekonomi dan tidak memberikan dana tunai baru. Aksi ini hanya mengubah komposisi akun dalam ekuitas.
Sebelum melakukan kuasi reorganisasi, perusahaan juga harus memenuhi ketentuan regulator yang mengacu pada Peraturan Bapepam-LK Nomor IX.L.1 tentang Kuasi Reorganisasi, yang ditetapkan melalui Keputusan Ketua Bapepam-LK No. KEP-718/BL/2012.
Secara umum, perusahaan harus memenuhi beberapa ketentuan, antara lain:
- Memiliki prospek usaha yang baik, yang dibuktikan dengan laba usaha atau laba operasional dan laba tahun berjalan selama tiga tahun berturut-turut.
- Memiliki saldo laba negatif yang material, yaitu lebih dari 60 persen modal disetor dan lebih dari 10 kali rata-rata laba tahun berjalan selama tiga tahun terakhir.
- Kuasi reorganisasi dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan standar akuntansi yang berlaku.
- Memperoleh persetujuan RUPS untuk melaksanakan kuasi reorganisasi.
Jadi, kuasi reorganisasi bukan sekadar cara untuk "menghapus rugi". Perusahaan juga harus menunjukkan bahwa bisnisnya sudah memiliki prospek dan kemampuan menghasilkan laba, sebelum neracanya dapat dibersihkan dari defisit historis.
Nah, di 2026 ada tiga emiten yang menarik perhatian karena menjalankan aksi tersebut. Berikut kami ulas satu per satu:
Saham GMFI
GMFI menjadi salah satu emiten yang tengah melakukan kuasi reorganisasi dengan nilai defisit yang cukup besar.
Dalam RUPSLB pada 28 Juli 2026, pemegang saham menyetujui penghapusan saldo laba negatif sebesar US$512,9 juta, atau sekitar Rp9,28 triliun.
Saldo negatif tersebut merupakan hasil dari kerugian historis beruntun selama delapan tahun, yang puncaknya dipicu oleh hantaman pandemi COVID-19 serta krisis finansial pada maskapai induknya, Garuda Indonesia.
Namun, saat ini GMFI sudah memenuhi syarat untuk menghapus rugi menahun itu. Sejalan dengan Peraturan Bapepam-LK Nomor IX.L.1 tentang Kuasi Reorganisasi, yang mensyaratkan perusahaan memiliki prospek usaha baik, salah satunya dibuktikan dengan laba operasional dan laba tahun berjalan selama tiga tahun berturut-turut.
Sepanjang 2023–2025, pendapatan GMFI meningkat 31,8 persen dari US$373,21 juta menjadi US$491,88 juta. Laba operasional tumbuh 118,7 persen menjadi US$60,57 juta, sementara laba bersih naik 68,4 persen menjadi US$33,97 juta. Tren positif ini berlanjut pada kuartal I 2026, dengan laba berjalan sebesar US$6,76 juta.
Adapun, untuk menghapus defisit tersebut, GMFI menggunakan beberapa komponen ekuitas.
Pertama, perusahaan menggunakan agio saham sebesar US$299,6 juta, kemudian memanfaatkan selisih nilai transaksi dengan entitas sepengendali sebesar US$1,1 juta.
Namun, kedua pos tersebut belum cukup untuk menutup seluruh defisit. Karena itu, sisa sekitar US$212,9 juta ditutup melalui penurunan nilai nominal saham.
Penurunan nilai nominal ini penting dipahami investor. Jumlah saham yang dimiliki investor tidak berkurang dan persentase kepemilikannya tetap sama. Yang berubah hanya nilai nominal saham dalam struktur modal perusahaan.
Dengan demikian, GMFI tidak perlu melakukan penambahan modal atau meminta investor menyetor dana baru untuk menutup kerugian historis tersebut. Penyesuaian dilakukan di dalam struktur ekuitas agar saldo defisit dapat dieliminasi.
Setelah memperoleh persetujuan RUPSLB, proses kuasi reorganisasi GMFI masih harus melewati tahapan administratif berikutnya, termasuk periode pemberitahuan kepada kreditur selama 60 hari sebelum memperoleh persetujuan akhir dari Kementerian Hukum RI.
Lalu, apa yang mau dikejar GMFI? Setelah neraca dibersihkan, GMFI ingin memanfaatkan pemulihan industri penerbangan untuk kembali mendorong pertumbuhan bisnis.
Selain bisnis utama maintenance, repair and overhaul (MRO), perusahaan juga mengembangkan lini Defense & Government, Industrial Solutions, serta aerostructure.
Dengan struktur ekuitas yang lebih rapi, GMFI berharap memiliki fleksibilitas lebih besar untuk memperoleh pendanaan eksternal, mengembangkan bisnis, hingga membuka peluang pembagian dividen di masa depan apabila seluruh persyaratan telah terpenuhi.
Sebagai catatan, GMFI sudah melakukan rights issue dua kali, selesai pada awal 2025 dan awal 2026. Rencananya, mereka masih akan melakukan satu kali rights issue lagi dengan tenggat Maret 2027 untuk mengerek free float sekaligus mendanai ekspansinya.

Saham AISA
Berikutnya ada AISA yang telah menyelesaikan kuasi reorganisasi untuk menghapus saldo defisit yang menumpuk sejak 2017.
Proses ini sudah disetujui dalam RUPSLB pada 15 Mei 2026 dan mendapat persetujuan Menteri Hukum melalui Surat Keputusan Nomor AHU-0056039.AH.01.02.Tahun 2026 pada 18 Juli 2026, sehingga pengurangan modal dalam rangka kuasi reorganisasi menjadi efektif.
Defisit yang dihapus mencapai sekitar Rp2,73 triliun per 31 Desember 2025. Angka tersebut merupakan akumulasi kerugian historis, terutama pada 2017 ketika perusahaan, yang saat itu masih bernama Tiga Pilar Sejahtera Food, mengalami kerugian besar akibat penyisihan penurunan nilai piutang pihak berelasi sekitar Rp4,3 triliun dan penurunan nilai investasi sekitar Rp893 miliar.
Waktu itu, PT Indo Beras Unggul (anak usahanya) digerebek polisi pada Juli 2017 terkait dugaan kecurangan mutu dan harga beras merek Maknyuss serta Cap Ayam Jago. Kasus ini membuat penjualan ambruk, memicu gagal bayar utang, dan berujung pada investigasi manipulasi laporan keuangan.
Namun, kondisi bisnis AISA saat ini sudah jauh berbeda. AISA dalam beberapa tahun terakhir menuntaskan restrukturisasi kewajiban finansial melalui perpanjangan tenor, penurunan suku bunga, hingga konversi utang.
Ditambah, masuknya PKS Group (anak usaha FKS Food and Ingredients) lewat private placement menyuntikkan dana segar dan kendali baru.
Perusahaan akhirnya kembali mencetak laba secara konsisten sejak 2023 dan memenuhi persyaratan kuasi reorganisasi berdasarkan Peraturan Bapepam-LK Nomor IX.L.1.
Sepanjang 2023–2025, pendapatan AISA meningkat dari Rp1,70 triliun menjadi Rp1,96 triliun, sementara laba bersih melonjak dari Rp18,8 miliar menjadi Rp89,1 miliar. Laba usaha juga berada di kisaran Rp130 miliar pada 2024–2025.
Tren pertumbuhan penjualan masih berlanjut pada semester I/2026, dengan pendapatan mencapai sekitar Rp1,05 triliun, tumbuh 10,4 persen secara tahunan. Namun, laba bersih justru turun 3,2 persen menjadi sekitar Rp41,9 miliar.
Artinya, AISA memang sudah keluar dari fase rugi, tetapi masih perlu membuktikan bahwa pertumbuhan penjualan dapat diterjemahkan menjadi pertumbuhan laba yang konsisten.
Lantas, bagaimana AISA menghapus defisit menahun? Untuk menghapus defisit tersebut, AISA menggunakan agio saham sekitar Rp1,32 triliun dan selisih nilai transaksi restrukturisasi entitas sepengendali sekitar Rp198 miliar.
Karena belum cukup, sisa defisit sekitar Rp1,21 triliun ditutup melalui penurunan nilai nominal saham. Nilai nominal Saham Seri A turun dari Rp500 menjadi Rp181 per saham, sedangkan Seri B turun dari Rp200 menjadi Rp72 per saham.
Yang penting, penurunan nominal tersebut tidak mengurangi jumlah saham maupun persentase kepemilikan investor. Modal ditempatkan dan disetor penuh kemudian turun dari sekitar Rp1,9 triliun menjadi sekitar Rp685 miliar.
Dengan demikian, aksi ini bukan suntikan modal baru, melainkan penataan kembali struktur ekuitas untuk mengeliminasi defisit historis. Dan karena persetujuan Menteri Hukum telah diperoleh pada Juli 2026, proses kuasi reorganisasi AISA kini sudah selesai.

Saham BWPT
Terakhir ada BWPT yang juga mengajukan kuasi reorganisasi untuk menghapus saldo laba negatif (defisit) sebesar Rp3,71 triliun berdasarkan laporan posisi keuangan konsolidasian per 31 Desember 2025.
Defisit tersebut merupakan akumulasi kerugian dari tahun-tahun sebelumnya, yang dipengaruhi oleh tekanan keuangan akibat ekspansi usaha agresif, tingginya kewajiban dan beban bunga, dinamika kondisi eksternal, dampak pandemi COVID-19, serta optimalisasi portofolio bisnis.
Langkah ini juga sudah memenuhi persyaratan Peraturan Bapepam-LK Nomor IX.L.1 tentang Kuasi Reorganisasi.
BWPT memenuhi kriteria dengan mencatatkan laba bersih secara konsisten dan meningkat sekitar Rp160 miliar pada 2023, Rp272 miliar pada 2024, dan Rp379 miliar pada 2025 (dengan laba yang diatribusikan ke pemilik entitas induk di kisaran Rp362 miliar menurut laporan terkait).
Rata-rata laba tahunan tiga tahun terakhir mencapai sekitar Rp270 miliar, sehingga prospek kelangsungan usaha dinilai memadai untuk “fresh start” akuntansi.
Bukti pemulihan kinerja terlihat jelas. Pendapatan naik dari sekitar Rp4,20 triliun pada 2023 menjadi Rp4,30 triliun pada 2024, lalu melonjak menjadi Rp5,76 triliun pada 2025 (tumbuh sekitar 34 persen).
Laba usaha juga menguat signifikan, mencapai sekitar Rp1,19 triliun pada 2025 dari Rp927 miliar di tahun sebelumnya. Kenaikan ini ditopang oleh peningkatan volume penjualan, harga CPO yang lebih baik, serta efisiensi operasional.
Menariknya, sampai paruh pertama 2026, BWPT juga masih mencatat kinerja ciamik, laba periode berjalannaik 16,18 persen YoY menjadi Rp 215,08 miliar.
Bottom line yang solid tersebut didukung oleh kenaikan pendapatan usaha menjadi Rp 3,26 triliun pada semester I-2026, dibandingkan Rp 2,78 triliun pada semester I-2025.
Angka-angka tersebut menunjukkan perusahaan sudah keluar dari fase kerugian berat dan mampu menghasilkan profitabilitas yang berkesinambungan, meski struktur neraca masih dibebani defisit historis yang besar.
Adapun mekanisme kuasi reorganisasi BWPT relatif sederhana dibanding beberapa emiten lain.
Seluruh defisit Rp3,71 triliun dieliminasi menggunakan agio saham (tambahan modal disetor). Pos tambahan modal disetor yang sebelumnya sekitar Rp4,02 triliun akan turun menjadi sekitar Rp307 miliar setelah proses tersebut.
Tidak ada penurunan nilai nominal saham dan tidak ada pengurangan jumlah saham yang beredar. Total ekuitas tetap sama, yaitu sekitar Rp2,83 triliun. Aksi ini murni penataan ekuitas secara akuntansi dan bukan suntikan dana baru. Jumlah saham serta persentase kepemilikan pemegang saham tidak berubah.
Adapun, kuasi reorganisasi dimintakan persetujuan pemegang saham dalam RUPSLB 29 Juni 2026 lalu. Setelah dapat persetujuan dalam RUPSLB tersebut, manajemen tinggal menunggu efektivitas dan persetujuan dari Kementerian Hukum. Mau dapat stockpick dari AI untuk saham AS dan Indonesia, kamu bisa klaim diskon spesial untuk Investing Pro, Langsung langganan di sini sekarang!
Kesimpulan
Kuasi reorganisasi pada akhirnya bukan sekadar soal menghapus saldo defisit triliunan rupiah dari laporan keuangan. Langkah ini menjadi semacam "restart" secara akuntansi bagi perusahaan yang bisnisnya sudah kembali menghasilkan laba, tetapi masih terbebani kerugian historis.
GMFI, AISA, dan BWPT menunjukkan kondisi yang kurang lebih serupa, yakni kinerja operasional yang sudah membaik tetapi masih memiliki defisit besar di neraca. Bedanya, AISA sudah menyelesaikan proses kuasi reorganisasi, sementara GMFI dan BWPT masih menunggu tahapan berikutnya hingga prosesnya efektif.
Bagi investor, kuasi reorganisasi memang bisa menjadi katalis positif karena membuat struktur ekuitas lebih sehat, meningkatkan fleksibilitas pendanaan, dan membuka peluang pembagian dividen di masa depan. Namun, aksi ini tidak otomatis membuat saham menjadi menarik.
Pada akhirnya, yang paling penting tetap melihat apakah perusahaan mampu mempertahankan pertumbuhan pendapatan, laba, arus kas, dan efisiensi operasional setelah neracanya dibersihkan.
Jadi, kuasi reorganisasi bisa menjadi awal yang baru. Tetapi apakah fresh start tersebut benar-benar menghasilkan cerita turnaround yang sukses, tetap bergantung pada kemampuan masing-masing emiten dalam membuktikannya lewat kinerja bisnis.
Mau Dapat Insight Saham hingga Manfaatkan Tools Analisis dari Mikirduit?
Dapatkan semua benefit Mikirsaham.com, join sekarang dan dapatkan deretan benefit yang membantumu investasi di saham seperti:
- Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
- Tools Trading Plan by Sistem (minimal join Mikirsaham Super dan masih tahap Beta)
- Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
- Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
- Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US
- Diskusi lebih nyaman di member area tanpa ada distraksi
- Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
- Hingga konsultasi private dengan founder kami
Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini
Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini
