23 Digest: Gelora Saham Transportasi Berlanjut?

Mau tau apa yang bisa kita simpulkan dari kinerja pasar saham semester I/2023? Dari situ, apa sektor saham yang potensial di semester II? simak selengkapnya di sini

23 Digest: Gelora Saham Transportasi Berlanjut?

Hai para Pemikir Duit, bagaimana kinerja portofolio saham-mu sepanjang kuartal I/2023? kira-kira apakah sudah ada yang multibagger? kalau belum, kita akan ulas nasib saham sektoral sepanjang semester I/2023 plus prospek saham properti di ujung nadir era kenaikan suku bunga.

Daftar Isi Konten

Data dan Fakta Kinerja Pasar Saham Indonesia Semester I/2023

Pasar saham Indonesia bergerak tidak terlalu menarik sepanjang paruh pertama tahun ini. IHSG ditutup koreksi turun 2,76 persen selama 6 bulan pertama tahun ini. Bahkan, rata-rata transaksi cenderung lesu di bawah Rp10 triliun per hari.

Dari 10 saham paling menguat IHSG sepanjang 6 bulan ini, mayoritas dikuasai oleh emiten dari sektor bahan baku dasar dan consumer cyclical. Bahkan, saham PT Darmi Bersaudara yang lama diam di Rp50 per saham, bangkit pada April 2023 hingga melejit 206 persen sampai Juni 2023.

Namun,  untuk dalam kasus saham KAYU ada indikasi digoreng karena sahamnya tidak likuid. Lalu, tidak ada trigger utama pendorong harga sahamnya, apalagi kinerja kuartal I/2023 perseroan cukup jelek.

Kinerja IHSG selama semester I/2023
Kinerja IHSG selama semester I/2023

Di luar itu, deretan saham menguat paling tinggi yang turut diperhatikan justru dari sektor transportasi. Apalagi, indeks sektoral transportasi paling sensasional sepanjang 6 bulan pertama tahun ini. Bisa jadi, sektor transportasi bakal menjadi primadona sampai akhir tahun ini.

kinerja sektor saham semester I/2023
Kinerja saham sektoral di BEI selama semester I/2023.

Penyebabnya, mobilitas masyarakat makin aktif setelah PPKM dicabut hingga pandemi menjadi endemi dan pelepasan masker. Belum lagi, berbagai acara banyak bermunculan di daerah hingga deretan cuti bersama yang banyak dihadirkan pemerintah untuk menggenjot sektor pariwisata.

Beberapa event besar yang bisa diperhatikan bisa mengerek sektor transportasi adalah kedatangan Cold Play dan Piala Dunia U-17 di akhir tahun. Di luar itu,banyak juga event skala menengah dan kecil yang juga mengerek mobilitas masyarakat.

Di luar itu, investor asing tampaknya masih terus bertransaksi saham-saham big caps seperti, PT  Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), hingga PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI). Ketiga saham bank itu menjadi deretan net buy asing paling tinggi sepanjang semester I/2023.

Saham yang paling sering diborong dan dibuang asing sepanjang semester I/2023
Saham yang paling sering diborong dan dibuang asing sepanjang semester I/2023

Nama PT Goto Group Tbk. (GOTO) sebagai aksi pembelian asing terbesar nomor 2 sepanjang 6 bulan ini didorong oleh masuknya saham teknologi terbesar Indonesia itu ke indeks MSCI pada akhir  Mei 2023.

BACA JUGA: GOTO Masuk MSCI, Begini Nasib Harga Sahamnya

Di sisi lain, tampaknya asing mengurangi risiko dengan melepas saham terkait menara telekomunikasi seperti, PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) dan PT Mitratel Tbk. (MTEL). Meski, sejauh ini keterkaitan antara kasus korupsi BTS oleh eks Menteri Komunikasi dan Informasi Indonesia Jhonny G. Plate belum terbukti mempengaruhi saham Grup Telkom tersebut.

Deretan Saham Transportasi Potensial

Sektor transportasi itu terbagi ke dalam beberapa subsektor, seperti transportasi konsumen ritel, transportasi institusi dan industri, logistik ritel, logistik industri dan pertambangan seperti pelayaran. Dari karakter itu, dengan meningkatnya mobilitas masyarakat, artinya subsektor transportasi yang berpotensi mendulang berkah adalah transportasi konsumen ritel.

Dalam hal ini, ada beberapa saham transportasi yang melayani transportasi konsumen ritel seperti, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. (GIAA), PT Air Asia Indonesia Tbk. (CMPP), PT Blue Bird Tbk. (BIRD), PT Weha Transportasi  Indonesia Tbk. (WEHA), PT Steady  Safe Tbk. (SAFE), dan PT Eka Lestari Lorena Transport Tbk. (LRNA).

Dari keenam emiten transportasi segmen ritel itu, beberapa yang bisa dilirik antara lain, GIAA, CMPP, BIRD, dan WEHA. Pasalhnya, kinerja SAFE dan LRNA tampaknya kurang menarik untuk dinilai bakal turnaround story. Pasalnya, bisnis LRNA punya banyak pesaing yang artinya potensi pertumbuhan signifikannya cenderung rendah kecuali tiba-tiba mereka mendapatkan kontrak besar untuk masuk ke banyak jalur bus dalam waktu singkat.

Di sisi lain, kondisi GIAA dan CMPP sebenarnya juga tidak begitu bagus. Kedua emiten maskapai penerbangan itu habis berdarah-darah pasca pandemi Covid-19. Meski, khusus GIAA, memang ada persepsi memiliki good corporate governance (GCG) yang kurang bagus juga. Namun, secara global, industri maskapai mulai bangkit.

saham transportasi
valuasisaham transportasi, posisi negatif berarti tingkat ekuitas perusahaan lagi buruk.

Kini, GIAA mulai bermitra dengan Singapore Airlines untuk perbaikan kinerja keuangannya. Hal itu adalah sebuah hal lazim dalam industri maskapai penerbangan yang menandakan ada arah mendorong kinerja keuangan yang lebih baik.

Lalu, Air Asia Indonesia juga mulai menambah jam penerbangan yang lebih banyak lagi untuk rute domestik. Artinya, ada potensi pertumbuhan kinerja keuangan yang signifikan.

Di luar dua itu, posisi valuasi saham BIRD sudah terlalu tinggi, untuk itu, opsi keduanya adalah WEHA yang memiliki lini bisnis travel Daytrans, sewa bus White Horse, dan beberapa lini bisnis lainnya terkait pariwisata. Dengan model bisnis itu dan kenaikan mobilitas masyarakat, bukan tidak mungkin saham WEHA dengan price to book value (PBV) saat ini masih 0,9 kali bisa melejit lebih tinggi. Apalagi, valuasi PBV WEHA itu masih di bawah rata-rata 5 tahunnya yang sebesar 0,93 kali.

The Fed Siap Tarik Rem Kenaikan Suku Bunga, Saham Properti Bisa Jadi Multibagger?

Federal Reserve (The Fed) secara perlahan sudah mulai menaikkan tuas rem kenaikan suku bunga setelah menahan kenaikannya pada pertemuan Juni 2023. Meski begitu, Gubernur The Fed Jerome Powell masih memberikan indikasi kalau kenaikan suku bunga masih bisa terjadi maksimal 2 kali lagi di tahun ini. Hal itu akan dilakukan jika tren inflasi kembali naik.

Salah satu sektor saham yang berkaitan erat dengan naik-turunnya suku bunga adalah properti. Hal itu sudah terbukti setelah kekacauan The Great Recession di AS pada 2008, seluruh bank sentral menurunkan suku bunga, harga saham properti melejit parah.

Di sini, kami mengambil sample 4 saham properti paling senior di BEI, yakni ada PT Ciputra Development Tbk. (CTRA), PT Pakuwon Jati Tbk. (PWON), PT Bumi Serpong Damai  Tbk. (BSDE), dan PT Summarecon Agung Tbk. (SMRA).

Dalam periode 2008 sampai 2010, keempat saham itu kompak mencatatkan kenaikan harga di atas 100 persen dalam 3 tahun. Bahkan, BSDE mampu mencatatkan kenaikan hingga 1.000 persen atau ten bagger. Pada periode 2008-2010, The Fed memang memangkas habis suku bunga untuk kembali membangkitkan ekonomi.

Hal itu juga direspons penurunan suku bunga oleh Bank Indonesia demi menjaga ekonomi tetap stabil di tengah kekacauan di AS.

Begitu juga ketika BI sempat menaikkan suku bunga acuan pada 2011, tapi tak berlangsung lama beberapa bulan kemudian kembali menurunkannya ke level terendah. Keempat harga saham properti itu melejit di atas 50 persen dalam kurang dari satu tahun. Bahkan, CTRA dan SMRA sampai mencatatkan kenaikan di atas 100 persen kala itu.

Salah satu momen besar penurunan suku bunga yang berefek kepada kinerja saham properti adalah ketika BI mengganti acuan suku bunganya dari SBI 12 bulan menjadi 7 days reverse repo rate pada 2016. Dengan perubahan acuan suku bunga itu, tingkat acuan bunga BI turun lumayan drastis. Saat itu, harga keempat saham properti lawas itu juga melejit di atas 50 persen, bahkan CTRA dan PWON terbang di atas 100 persen.

Di sini, kami tidak membahas tren penurunan suku bunga saat pandemi  Covid-19 karena waktu itu suku bunga diturunkan karena ada kejadian black swan, kejadian besar yang tidak pernah diprediksi, hingga mempengaruhi pertumbuhan ekonomi global.

Saham Properti Besar Potensial untuk Menyambut Era Suku Bunga Rendah 2024

Kenapa kami yakin suku bunga bank sentral berpotensi turun pada 2024? jawabannya adalah karena tingkat suku bunga yang terlalu tinggi berpotensi menahan laju ekonomi terlalu lama. Untuk itu, bank sentral butuh menyesuaikan lagi tingkat suku bunga acuannya dalam waktu 6-18 bulan ke depan agar pertumbuhan ekonomi bisa kembali stabil.

Di sini, kami mencoba analisis saham properti potensial untuk menyambut era suku bunga rendah di 2024.

Sejatinya, dengan menggunakan PBV, keempat saham properti besar saat ini berada di posisi yang cukup murah, meski tidak murah banget. Jika mau ambil saham properti dengan PBV terkecil bisa ambil BSDE yang PBV-nya 0,66 kali. Namun, jika ingin ambil saham properti yang harga sahamnya sudah murah banget dibandingkan historisnya bisa pilih PWON. Kini, PBV PWON sekitar 1,31 kali, sedangkan rata-rata 5 tahunnya 1,75 kali.

Adapun, jika melihat kinerja keuangan per kuartal I/2023, salah satu saham properti yang potensial untuk sampai awal tahun depan adalah BSDE. Pasalnya, kinerja saham BSDE melejit cukup agresif pada kuartal I/2023. Pertumbuhan laba bersihnya tembus 154 persen menjadi Rp883 miliar.

valuasi saham properti
valuasi saham properti besar, secara valuasi saat ini berada di bawah rata-rata 5 tahunnya. 

Lonjakan kinerja BSDE itu didorong oleh kenaikan pendapatan sebesar 41,88 persen menjadi Rp2,87 triliun. Ditambah adanya kenaikan pendapatan bunga dan investasi sebesar 31,03 persen menjadi Rp114 miliar.

Namun, salah satu kelemahan BSDE adalah jumlah pendapatan recurring income atau pendapatan berulangnya dari sewa dan lainnya masih rendah. Sehingga, untuk jangka panjang, kestabilan kinerja keuangan BSDE masih labil karena masih bergantung terhadap jual-beli aset yang jumlahnya bisa berkurang sesuai dengan ketersediaan landbanknya.

Untuk saham properti yang punya prospek bagus untuk jangka panjang adalah PWON. Si raja mall di Indonesia itu berpotensi mendulang cuan lebih besar lagi ketika suku bunga diturunkan. Namun, keuntungan PWON bukan berasal dari penjualan properti, tapi dari geliat trafik pusat perbelanjaan dan aktivitas perkantoran yang meningkat.

Soalnya, 78 persen pendapatan PWON berasal dari pendapatan berulang. Saat aktivitas mall dan perkantoran kembali meningkat, pertumbuhan pendapatan PWON bisa melejit lebih tinggi lagi.

Deretan Cerita tentang Backdoor Listing Agung Sedayu Grup

Hati-hati Beradu Nasib di Saham Gorengan, Kolestrolnya Bisa Bikin Kantongmu Jebol

Per Juni 2023, BEI telah merilis papan pemantauan khusus. Jadi, papan pemantauan khusus ini menjadi tempat saham-saham bermasalah yang punya notasi khusus. Jadi, sebagai investor saham, kita bisa mengetahui, apa saja saham-saham yang lagi punya tato notasi khusus dan harga sahamnya bisa turun hingga ke Rp1 per saham.

Dalam skemanya, BEI akan menerapkan papan pemantauan khusus ini menjadi dua tahap.

Pertama, saham yang masuk kriteria likuiditas akan diperdagangkan secara periodic call auction, mekanisme perdagangan dengan kuotasi permintaan dan penawaran akan cocok pada jam tertentu. Harga pasar akan ditentukan berdasarkan volume paling besar.

Mekanisme ini sudah dijalankan setiap periode pre-opening dan pre-closing.

Adapun, dalam tahap pertama ini, harga saham bisa ke Rp1 dengan ketentuan auto rejection setiap naik atau turun Rp1 per saham jika harga saham sudah di angka Rp1 - Rp10. Jika di atasnya, harga saham akan ARA atau ARB simetris 10 persen.

Kedua, perdagangan akan dilakukan full call auction. Jadi, perdagangan akan dilakukan periodic call auction sebanyak 5 sesi dalam sehari perdagangan bursa.

Sejak berlaku 12 Juni 2023 hingga saat ini, sudah ada sekitar 12 saham di papan pemantauan khusus yang harga sahamnya turun di bawah Rp50 per saham. Ke-12 saham itu antara lain, EPAC, KIAS, PADI, MIRA, TAMU, TAMA, TARA, MKNT, GAMA, MDRN, dan HADE.

Jadi, jangan asal trading saham-saham berpotensi masuk papan pemantauan khusus ya, risikonya gede banget.

Btw, sebelum menutup 23 Digest edisi Juni 2023, saya sebagai Founder Mikir Duit, ingin membuka komunitas via Group Whatsapp. Namun, komunitas ini akan agak sedikit eksklusif dengan di-kuota maksimal 200 orang. Dalam tahap pertama ini, saya akan buka kuota 50 orang pertama.

Jika kamu tertarik masuk grup komunitas untuk berbagi ilmu tentang ilmu keuangan, yuk isi form di sini ya.

Saya akan mulai menjalankan grupnya mulai 3 Juli 2023.

Bye-bye Juni 2023, semoga semester II/2023 marketnya lebih seru ya.


23 Digest adalah publikasi bulanan dari Mikirduit yang merekap ada kejadian keuangan besar apa sepanjang bulan tersebut. Publikasi ini bakal dirilis setiap akhir bulan.