23 Digest: Sektor Saham Pilihan Jelang Sell in May

Akhir April menjadi pertanda mayoritas emiten sudah merilis kinerja keuangan kuartal I/2023. Kira-kira, dari hasil itu, apa yang bisa kita simpulkan ya?

23 Digest: Sektor Saham Pilihan Jelang Sell in May

Hai para Pemikir Duit, tidak terasa kita sudah otw Mei 2023 nih. Bicara bulan Mei, pasti yang dibahas apa nih saham yang sell in may and go away. Apa itu Sell in May and Go Away? kita akan bahas hal itu, tapi sebelumnya kita akan kasih gambaran bagaimana prospek pasar saham setelah rilis kinerja keuangan kuartal I/2023. Apa nih saham yang menarik?

Daftar isi Konten

Secara umum, dari 256 emiten yang sudah rilis laporan keuangan kuartal I/2023, 45 persen mencatatkan pertumbuhan laba bersih. Dengan catatan, pertumbuhan laba bersih di sini termasuk yang mencatatkan perlambatan persentase kenaikannya ya. 29 persen mencatatkan penurunan laba bersih, 16 persen masih terus merugi, dan hanya 9 persen yang mencatatkan turnaround dari rugi menjadi laba bersih.

BACA JUGA: Kinerja Keuangan Kuartal I/2023 Ratusan Emiten di BEI, Cek di sini

Lalu, sektor saham apa yang menarik di 2023?

Sesuai Prediksi, Kinerja Keuangan Batu bara Mulai Tertekan karena Harga Batu bara Tidak Setinggi 2022

Memang, belum seluruh emiten sektor batu bara sudah merilis laporan keuangan kuartal I/2023. Rata-rata baru emiten batu bara skala kecil yang sudah merilis, kecuali dua emiten, yakni PT Bukti Asam Tbk. (PTBA) dan PT United Tractors Tbk. (UNTR).

Hasilnya, untuk PTBA sangat di bawah ekspektasi. Pasalnya, PTBA mencatatkan penurunan laba bersih sebesar 49 persen menjadi Rp1,16 triliun dibandingkan dengan periode sama pada tahun lalu.

Sebenarnya, pendapatan PTBA tumbuh 21,35 persen menjadi Rp9,95 triliun. Namun, beban pokok penjualannya melejit lebih tinggi sebesar 66,16 persen menjadi Rp7,89 triliun. Penyebabnya, ada kenaikan biaya jasa penambangan batu bara dan juga angkutan distribusi batu bara.

ekspresi setelah beli saham batu bara di pucuk jelang tren penurunan kinerjanya
Kamu yang nyangkut setelah berburu dividen saham batu bara, bisa jadi bakal begini? hehe

Biaya jasa penambangan naik sebesar 41 persen menjadi Rp2,09 triliun, sedangkan biaya angkutan batu bara dengan kereta api juga melejit 59,78 persen menjadi Rp2,05 triliun. Hal ini menjadi perhatian juga, jika harga batu bara turun, sedangkan biaya-biaya itu naik, artinya kinerja keuangan PTBA 2023 juga sangat berisiko merugi.

Namun, apakah semua saham batu bara akan bernasib seperti PTBA?

Jika melihat UNTR mungkin saja tidak. Namun, dengan catatan, UNTR adalah emiten pertambangan terintegrasi ya. Anak usaha PT Astra International Tbk. (ASII) itu punya lini bisnis sewa alat berat, jasa penambangan, dan punya tambang batu bara sendiri. Jadinya, mereka bisa mengatur biaya lebih banyak daripada PTBA, yang meski terafiliasi dengan PT Kereta Api Indonesia (Persero), tetap saja sulit mengatur biayanya.

Hal itu terrefleksi dalam kinerja keuangan kuartal I/2023 UNTR yang masih mampu tumbuh di atas 20 persen, tapi kinerjanya cenderung melambat.

Misalnya, pertumbuhan pendapatan UNTR di kuartal I/2023 tumbuh 24,69 persen menjadi Rp34,88 triliun, sedangkan laba bersihnya tumbuh 23,2 persen menjadi Rp5,32 triliun. Namun, persentase pertumbuhannya jauh lebih lambat jika dibandingkan dengan kinerja kuartal I/2022, saat itu pendapatan UNTR melejit 56,32 persen, sedangkan laba bersihnya tumbuh 131,45 persen.

Hal ini jelas wajar. sepanjang 2023, harga batu bara dunia sudah turun 52 persen dari harga 380 dolar AS per ton pada akhir 2022 menjadi 183 dolar AS per ton pada 28 April 2023.

Namun, kejadian yang menimpa PTBA benar-benar anomali, kita akan coba cari klarifikasi dari manajemen kenapa biaya tersebut bisa melejit tinggi. Soalnya, jika harga batu bara masih di atas 100 dolar AS per ton, setidaknya yang terjadi hanyalah perlambatan pertumbuhan, belum sampai penurunan laba bersih.

Mencari Sektor Saham yang Mencolok Setelah Rilis Kinerja Kuartal I/2023

Sektor apa yang paling menarik ya?

Dari prediksi Tim Mikr Duit, sektor saham yang bakal mencolok itu adalah dari dunia pernikelan. Seperti, yang pernah tertulis di sini.

BACA JUGA: Banjir IPO Sektor Nikel, Tanda Bakal Jadi Primadona 2023?

Namun, sampai kuartal I/2023, baru PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) yang merilis laporan keuangannya. Hasilnya cukup bagus sih, laba bersih INCO melejit 45 persen 98,15 juta dolar AS. Kenaikannya pun ditopang oleh pendapatan yang tumbuh 54 persen menjadi 363 juta dolar AS.

Sayangnya, kinerja INCO ini kurang merepresentasikan pertumbuhan industri nikel di Indonesia. Alasannya, skema penjualan nikel INCO sepenuhnya diberikan kepada dua pemegang saham utamanya, yakni Vale Canada dan Sumitomo Jepang dengan kontrak yang sudah pasti.

Kita masih perlu menunggu kepastian dari PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM), PT Harum Energy Tbk. (HRUM), PT Merdeka Gold Copper Tbk. (MDKA) dan Harita Group. Apakah ada pergerakan kinerja keuangan yang signifikan dari beberapa emiten yang punya keterkaitan dengan industri nikel dalam jumlah besar tersebut.

Peluang Sektor Bank Jadi Primadona 2023

Nah, di luar sektor nikel, ada satu sektor yang emiten besarnya mencatatkan pertumbuhan kinerja keuangan yang bagus, yakni perbankan. Bayangkan, keempat bank besar, yakni PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI), serta PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) mampu mencatatkan pertumbuhan laba bersih di atas 20 persen.

Awalnya, memang terlihat keren, meski kenaikan laba bersih itu lebih dipicu ke penurunan pencadangan untuk antisipasi kredit macet yang masih terus berlanjut. BBCA dan BBNI menjadi yang masih menurunkan pencadangan secara signifikan sebesar 40-an persen. Tak ayal, laba bersih keduanya pun mampu tumbuh di atas 30 persen, bahkan BBCA hingga 42 persen, meski pendapatan bunga bersihnya jauh lebih rendah dari pertumbuhan laba bersihnya.

Namun, ada risiko besar menghadang emiten perbankan, yakni risiko kenaikan beban bunga. Jujur, secara historis, BBCA punya peluang paling kecil kena kenaikan beban bunga karena bank swasta itu telah menjadi bank transkasi untuk berbagai kebutuhan keuangan. Sehingga, beban bunganya cenderung rendah.

Justru, BBRI, BMRI, dan BBNI yang rentan mencatatkan kenaikan suku bunga tinggi jika terjadi pengetatan likuiditas serta adanya kenaikan suku bunga. Ketiganya terintegrasi dengan berbagai proyek pemerintah dan kini kondisi emiten konstruksi juga tertatih-tatih.

Masalahnya, kondisi itu sudah terlihat di bank skala menengah seperti, PT Bank Permata Tbk. (BNLI), PT Bank Danamon Tbk. (BDMN), dan terutama PT Bank Panin Tbk. (PNBN).

Seperti, BNLI mampu mencatatkan pendapatan bunga bersih sebesar 20,67 persen, tapi laba bersihnya hanya tumbuh 0,75 persen. Setelah ditelisik terjadi kenaikan pencadangan dalam jumlah besar, yakni naik 178 persen menjadi Rp571 miliar. Kenaikan pencadangan itu sebagai langkah antisipatif mengingat rasio kredit bermasalah gross BNLI naik tipis dari 3,17 persen menjadi 3,18 persen.

Kinerja kuartal I/2023 saham Bank
Kinerja bank besar dan menengah di kuartal I/2023, hasilnya agak jomplang. Si besar pada cuan besar, si menengah malah tertatih-tatih kenaikan beban bunga yang tinggi. Pertanda jelang periode cuci piring sektor bank nih? (satuan uang di sana dalam jutaan rupiah ya)

Di sisi lain, BDMN dan PNBN memiliki kasus yang berbeda. Keduanya mencatatkan pendapatan bunga bersih yang melambat, bahkan PNBN mencatatkan penurunan. Setelah ditelisik, sebenarnya pendapatan bunga grossnya kedua bank itu tumbuh, tapi pendapatan bunga bersihnya cenderung kurang bagus karena adanya kenaikan beban bunga signifikan.

Seperti, pendapatan bunga BDMN tumbuh 11 persen, tapi beban bunganya naik 42 persen sehingga pendapatan bunga bersihnya hanya tumbuh 7 persen. Laba bersih BDMN malah turun pun disebabkan perseroan juga menaikkan beban pencadangan sebesar 17 persen.

Adapun, PNBN hampir serupa dengan BDMN. Pendapatan bunga tumbuh 6,74 persen, tapi beban bunga malah naik 42 persen, sehingga pendapatan bunga bersih turun 5,84 persen, bahkan laba bersih turun 9,88 persen meski perseroan telah memangkas biaya pencadangan sebesar 34 persen. Biasanya, pemangkasan biaya pencadangan itu bisa mengerek laba bersih, tapi ini malah tetap turun.

Untuk itu, dengan kejadian di bank menengah ini, sektor bank juga cukup menantang di kuartal-kuartal selanjutnya tahun ini. Bahkan, ada kemungkinan, di tahun ini tidak ada sektor saham yang mencolok jika melihat seluruh sektor usaha cenderung tertekan.

Jadi, Hasil Laporan Keuangan Kuartal I/2023 Adalah Momen untuk Sell in May?

Baca peluangnya di sini ya!

Istilah Sell in May and Go Away sering dianggap jadi pertanda pasar saham akan Bearish mulai bulan Mei karena adanya aksi jual. Namun, apakah benar akan terjadi seperti itu?

Jika dilihat sejarahnya, Sell in May and Go Away muncul pertama kali di Inggris pada abad 18 awal. Waktu itu, sektor keuangan di London punya istilah, jual-lah pada Mei dan pergi, kembali lagi di haru St. Leger, salah satu acara pacuan kuda terkenal di sana yang dilaksanakan setiap September.

Istilah itu merujuk agar para investor, bangsawan, dan bankir di Inggris menjual saham pada Mei untuk bersantai dan menikmati musim panas sampai nanti jelang musim gugur setelah acara pacuan kuda St. Leger selesai.

Lalu, Amerika Serikat juga menggunakan istilah itu untuk menahan diri melakukan investasi baru di Mei hingga September. Kalau Indonesia bagaimana?

Kita bisa melihat dalam 10 tahun terakhir, bulan yang buruk bagi IHSG adalah November dengan mencatatkan pertumbuhan negatif sebanyak 7 kali dalam 10 tahun terakhir.

Kinerja bulanan IHSG dalam 10 tahun terakhir
Tercatat, November adalah bulan terburuk untuk IHSG, sedangkan Desember, Oktober, dan Mei adalah bulan terbaik untuk IHSG dalam 10 tahun terakhir. / Stockbit

Di sisi lain, ketika Mei tiba,IHSG cenderung bergerak mix selama 10 tahun terakhir dengan mencatatkan 5 kali kenaikan dan penurunan secara bulanan.

Hal ini mengindikasikan, mungkin saja pihak investor asing ada yang tetap berpegang teguh pada istilah Sell in May and Go Away karena beberapa kebutuhan, seperti liburan musim panas. Namun, penurunan harga saham di Mei dan Juni langsung di-counter aksi beli di Juli. Hal itu terlihat Juli menjadi salah satu bulan terbaik untuk IHSG selama 10 tahun terakhir.

Jadi, apa yang harus kita lakukan jelang Sell in May and Go Away? pantau saham yang valuasinya murah, dan mulai masuk saat ada peluang bagus.

Tim Mikir Duit akan terus update harga saham termurah yang pastinya bukan murahan di dua konten ini ya.

BACA JUGA: Deretan Saham Termurah Menurut Price to Book Value
BACA JUGA: Deretan Saham Termurah Menurut Price to Earning Ratio

Pastinya, harapan kita pasar saham Indonesia juga segera bangkit. Lalu, jika AS terjadi krisis keuangan [soalnya ada risiko kredit macet segmen UMKM di sana bakal tinggi kayak cerita di sini], justru bisa jadi remedy agar pasar saham Indonesia lebih ramai lagi ya.

Btw, sebelum menutup 23 Digest edisi April 2023, saya sebagai Founder Mikir Duit, ingin mengajak kamu yang punya semangat membantu masyarakat biasa untuk memahami keuangan dari investasi hingga atur keuangan dari nol menulis di sini. Kalau tertarik bisa hubungi saya di sini: +62 85942186849

Bye-bye April yang banyak liburnya, selamat datang Mei semoga semuanya jadi lebih baik ya!


23 Digest adalah publikasi bulanan dari Mikirduit yang merekap ada kejadian keuangan besar apa sepanjang bulan tersebut. Publikasi ini bakal dirilis setiap akhir bulan.