September Mencekam, Data Ekonomi AS hingga Hasil Rapat Bank of Japan Menjadi Penentu Risiko Market

Terlepas dari badai MSCI di Agustus 2026 yang sudah lewat, ada beberapa data ekonomi makro dan keputusan bank of Japan yang bisa mengubah arah market. Simak ulasan detailnya di sini.

Share
september mencekam

Mikirduit – Mulai akhir pekan ini (3-4 September 2026), ada beberapa data ekonomi yang menjadi perhatian dan bisa jadi risiko pasar ke depannya? kami jelaskan detail dampaknya di sini.

Key Takeaways

  • Data tenaga kerja hingga inflasi AS pada 3–11 September 2026 menjadi penentu utama apakah probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada rapat 15–16 September akan semakin menguat atau justru mereda.
  • Jobless claim atau non-farm payroll yang lebih kuat serta PPI dan CPI yang lebih tinggi dari ekspektasi berpotensi memperbesar risiko kenaikan suku bunga, sementara data yang terlalu lemah bisa memunculkan kekhawatiran perlambatan ekonomi AS.
  • Pasar juga perlu mewaspadai potensi kenaikan suku bunga Bank of Japan karena penguatan yen dan pembalikan yen carry trade dapat memicu likuidasi aset global serta outflow dari pasar saham Indonesia hingga kripto.
  • Mikirduit Masterclass 2026, Wealthverse: Dapatkan bocoran aset paling menarik untuk 2026-2027. Early Bird cuma Rp250.000 (kuota terbatas, amankan seat-mu sekarang juga) dengan klik link di sini

Ada beberapa data ekonomi Amerika Serikat yang ditunggu dan dikhawatirkan menjadi pemicu kenaikan suku bunga The Fed pada 15-16 September 2026. Lalu, Bank of Japan yang juga diindikasikan kembali menaikkan suku bunga.

Beberapa data yang menjadi perhatian antara lain, Jobless Claim, non-farm Payroll, Producer Price Index (PPI), hingga inflasi.

Deretan data-data ekonomi AS yang kami sebutkan di sini menjadi krusial setelah pertemuan di Jackson Hole pada akhir Agustus 2026 kemarin. Dalam pertemuan itu, Ketua The Fed Kevin Warsh memberikan sinyal jika Federal Reserve masih memiliki pekerjaan yang harus dilakukan jika inflasi masih berada di atas target 2 persen.

"Dengan standar saya, kami ingin inflasi bisa terkendali menuju target 2 persen. Jika tidak, kami memiliki pekerjaan yang harus dilakukan," ujarnya pada 28 Agustus 2026 di Jackson Hole.

Pekerjaan yang dibahasnya jika inflasi masih di atas 2 persen dikaitkan dengan peluang kenaikan suku bunga. Masalahnya, data inflasi AS terakhir per Juli 2026 itu sebesar 3,4 persen yang berarti di atas 2 persen.

Dari sini, setiap detail tren data tenaga kerja hingga inflasi dalam 1-2 pekan ke depan menjadi data yang sensitif dalam pasar keuangan, termasuk pasar saham.

Dari data Fedwatch tool by CME Group memproyeksikan kemungkinan kenaikan suku bunga sebesar 25 bps menjadi 3,75 persen - 4 persen memiliki probabilitas 62,3 persen. Tingkat kemungkinan ini meningkat drastis dalam sepekan terakhir (terutama setelah pertemuan Jackson Hole) setelah sebelumnya peluangnya hanya 36,6 persen.

Lalu, bagaimana proyeksi data-data ekonomi terkait?

Data Jobless Claim AS (Mingguan)

Jobless Claim mingguan di Amerika Serikat akan rilis pada 3 September 2026. Jobless Claim memberikan gambaran seberapa banyak warga AS yag mengajukan klaim dalam posisi menganggur atau tanpa pekerjaannya. Proyeksinya, Joblaiss Claim akan mencatatkan kenaikan menjadi 205.000 dibandingkan dengan 203.000 pada pekan sebelumnya.

Dalam dua pekan terakhir, realisasi data jobless claim selalu berada di bawah proyeksi seperti pekan terakhir Agustus 2026 diproyeksikan 208.000, tapi hanya 203.000m lalu data yang rilis pada 20 Agustus 2026 diproyeksikan 210.000, ternyata hanya 206.000.

Apa dampaknya dari data Jobless Claim tersebut?

Sebenarnya, posisi naik dan turun ini memiliki risiko masing-masing.

Jika Jobless Claim naik apalagi di atas ekspektasi berarti ada harapan suku bunga the Fed tidak akan naik dalam jangka pendek (kecuali ada data pendukung setelahnya). Namun, kondisi itu juga memberikan gambaran kondisi ekonomi Amerika Serikat lagi melemah.

Jika Jobless Claim turun(jumlah pekerja meningkat dan ada potensi mendorong inflasi), berarti risiko kenaikan suku bunga the Fed bakal lebih tinggi.

Data jobless claim mingguan sering dijadikan early signal jika hasilnya di luar ekspektasi.

💡
Mau dapat stockpick dari AI untuk saham AS dan Indonesia, kamu bisa klaim diskon spesial untuk Investing Pro, Langsung langganan di sini sekarang!

Non-farm Payroll Bulanan AS

Non-farm Payroll adalah data yang menghitung jumlah pekerja di AS yang menerima upah dari berbagai sektor kecuali pertanian. Data non-farm payroll akan dirilis pada 4 September 2026.

Sejauh ini, proyeksinya tingkat non-farm Payroll berpotensi naik menjadi 50.000 dibandingkan dengan 30.000 pada periode bulan sebelumnya.

Menariknya, dalam 2 bulan terakhir, realisasi non-farm payroll selalu di bawah ekspektasi. Seperti, pada Juni diperkirakan 110.000, tapi realitanya hanya 49.000. Begitu juga pad Juli diperkirakan 78.000, tapi realitanya hanya 30.000.

Dampaknya, jika non-farm payroll mencatatkan kenaikan bahkan lebih tinggi dari perkiraan, ada indikasi potensi kenaikan suku bunga The Fed menjadi lebih besar. Pasalnya, tingkat tenaga kerja mencatatkan kenaikan yang bisa mendorong inflasi.

Jika non-farm payroll turun memang membuat probabilitas kenaikan suku bunga menjadi lebih rendah. Tapi, menjadi indikasi risiko ekonomi lebih lemah.

Cara Trading Saham Lebih Praktis dengan Fitur Fast Trade Ajaib
Salah satu kunci trader bisa memanfaatkan momen adalah kemudahan dalam melakukan analisis dan transaksi jual-beli dengan cepat. Ajaib menyediakan itu dalam fitur Fast Trade-nya. Apa itu? ini penjelasannya

Price Producer Index (PPI)

Price Producer Index menggambarkan perkembangan harga jual barang dan jasa yang dijual oleh produsen. Dalam data price producer indeks (PPI) ada beberapa jenis, data PPI bulanan, PPI tahunan, dan PPI inti yang mengecualikan harga makanan dan energi. Data PPI akan dirilis pada 10 September 2026

Untuk saat ini, kami belum mendapatkan detail konsensus terkait proyeksi PPI.

Logika membaca data PPI antara lain: jika PPI mencatatkan kenaikan bahkan lebih tinggi dari industri, artinya biaya produksi meningkat. Hal itu bisa mempengaruhi terhadap harga jual ke konsumen dan mengerek inflasi lebih tinggi. Sehingga, artinya, potensi kenaikan suku bunga The Fed menjadi lebih besar.

Lalu, jika PPI turun berarti biaya produksi lebih murah sehingga harga di konsumen akhir bisa lebih rendah. Sehingga probabilitas kenaikan suku bunga menjadi lebih rendah.

Consumer Price Index (CPI) alias Inflasi

Consumer Price Index atau inflasi ini yang menjadi salah satu indikator The Fed akan menaikkan suku bunga atau tidak. Data inflasi AS akan dirilis pada 11 September 2026.

Jika inflasi melandai ke bawah 3,4 persen, berarti The Fed memiliki alasan kuat untuk tetap mempertahankan suku bunga. Masalahnya, jika inflasi naik tembus ke atas 3,4 persen lagi, berarti probabilitas kenaikan suku bunga The Fed bisa menjadi lebih tinggi.

3 Saham Contrarian Investing Mikirduit yang masih Bisa Dilirik di September 2026
Kami mencatat ada 4 saham contrarian investing yang sudah keluar area BUY. Meski begitu, dari 4 saham itu, ada 1 saham yang masih bisa dilirik, serta 2 saham yang masih berada di area BUY.

Rencana Bank of Japan Menaikkan Suku Bunga

Pekan selanjutnya, pasar akan menghadapi dua rapat bank sentral dari dua negara besar, yakni The Fed pada 15-16 September 2026 dan Jepang 17-18 September 2026. Hal yang ditunggu adalah hasil dari rapat bank sentral Jepang karena ada beberapa indikasi potensi kenaikan suku bunga.

Perkiraan kenaikan suku bunga Jepang muncul dari pernyataan Gubernur Bank of Japan Kazuo Ueda yang mengatakan pihaknya fokus menganalisis risiko inflasi yang meningkat dalam pertemuan di September 2026.

Sampai data Juli 2026, Jepang mencatatkan inflasi sebesar 1,9 persen. Jika di atas 2 persen, ada indikasi upaya-upaya kenaikan suku bunga lebih lanjut. Namun, kenaikan suku bunga bank sentral Jepang bisa berisiko bagi pasar.

Kenaikan suku bunga Jepang bisa membuat era bunga murah benar-benar berakhir. Ditambah, adanya potensi penguatan yen.

Hal ini bisa memicu investor global yang selama ini melakukan pinjaman dalam bentuk yen dengan biaya rendah untuk beli aset di luar negeri akan melikuidasi posisinya. Alhasil, ada potensi outflow di beberapa pasar saham dunia termasuk Indonesia. Bahkan, ada potensi menekan kripto dan Bitcoin.

Di sisi lain, bagi pemerintah AS, mereka berharap suku bunga malah naik. Alasannya agar mencegah pelemahan yen makin memburuk. Ketika yen terus melemah, Jepang bisa menjual obligasi pemerintah AS yang dimilikinya untuk menjaga likuiditas di dalam negeri. Hal itu bisa mendorong imbal hasil obligasi AS meningkat dan mengerek biaya pinjaman bagi masyarakat AS.

Sehingga, posisinya bisa dibilang suku bunga naik ada risiko, suku bunga ditahan juga ada risiko. Tinggal nanti dilihat, risiko mana yang akan terjadi.

Apa yang Kamu Dapatkan Jika Join Mikirsaham?

  • Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
  • Tools Trading Plan by Sistem (minimal join Mikirsaham Super dan masih tahap Beta)
  • Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
  • Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
  • Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US
  • Diskusi lebih nyaman di member area tanpa ada distraksi
  • Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
  • Hingga konsultasi private dengan founder kami

Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini

Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini

Investasi Crypto di PINTU sekarang