Prospek Saham CPIN Setelah Didepak MSCI Global Standard, Begini Perhitungan Potensi Rebound-nya
Saham CPIN sudah melewati tekanan aksi jual asing di 31 Agustus 2026 setelah didepak dari MSCI Global Standard. Lalu, bagaimana dengan prospek saham CPIN selanjutnya?
Mikirduit – Saham PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. (CPIN) sudah berada di level yang terdiskon setelah di-downgrade MSCI dari Global Standard ke Small Caps. Namun, dari segi kinerja keuangan masih bertumbuh walau ada bayang-bayang risiko kenaikan biaya saat momentum El Nino. Jadi, seberapa menarik saham CPIN saat ini?
Dalam membahas daya tarik saham CPIN, kami akan memberikan dua sudut pandang. Pertama, prospek teknikal rebound setelah saham MSCI Global Standard turun kasta ke Small Caps hingga dikeluarkan.
Kami akan menggunakan data 3 tahun terakhir. Kedua, membahas prospek kinerja saham CPIN dibandingkan dengan peers-nya seperti PT Japfa Comfeed Tbk. (JPFA) hingga PT Malindo Feedmill Tbk. (MAIN).
Waktu yang Dibutuhkan Saham yang Didepak MSCI Global Standard untuk Rebound
Kami menggunakan data dalam 3 tahun terakhir (sejak 2023) untuk melihat tren pemulihan harga saham yang didepak dari indeks MSCI Global Standard. Kami mencatat ada sekitar 18 saham Indonesia yang keluar dari indeks saham MSCI Global Standard sejak Februari 2023. Kami mengecualikan beberapa saham yang keluar sebagai perbandingan karena dinilai kurang apple to apple dengan kondisi CPIN.
Dalam hal ini, kami akan mengecualikan saham PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA), PT Amman Mineral International Tbk. (AMMN), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN), PT Chandra Asri Tbk. (TPIA), PT Bank Jago Tbk. (ARTO), dan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO). Alasannya, periode 5 saham itu di indeks MSCI global cukup sebentar dana DSSA serta BREN kena status high shareholding concentration atau HSC, sedangkan TPIA lebih kepada faktor volatilitas yang tinggi dengan status saham milik Prajogo Pangestu.
Hasilnya, saham yang dikeluarkan dari Global Standard dengan status turun kasta maupun didepak sepenuhnya memiliki probabilitas kenaikan harga saham (rebound) dalam periode 4 - 12 bulan. Hal itu membuat saham seperti PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP) hingga PT Kalbe Farma Tbk. (KLBF) belum terlihat mencatatkan rebound yang signifikan.
Pembuktiannya adalah di saham KLBF dan ICBP yang akan masuk periode 12 bulan di November 2026 nanti. Untuk CPIN, periode 12 bulannya masih di akhir Agustus 2027.

Peluang dan Risiko Saham CPIN
Jika melihat tren kinerja keuangan CPIN, perseroan mencatatkan pertumbuhan laba bersih yang cukup solid di semester I/2026 dengan kenaikan sebesar 94,7 persen menjadi Rp3,71 triliun.
Kenaikan itu, mayoritas didorong efisiensi yang membuat tingkat margin keuntungan membaik. Hal itu bisa terlihat dari pertumbuhan laba kotor tembus 47,1 persen menjadi Rp6,95 triliun, sedangkan laba usaha naik 74,2 persen menjadi Rp4,64 triliun. Padahal, dari segi penjualan hanya mencatatkan kenaikan 19,2 persen menjadi Rp39,42 triliun.
Dari segi segmen bisnis, pertumbuhan paling agresif terjadi di segmen pakan. Dari segi pendapatan, segmen pakan mencatatkan kenaikan 46 persen menjadi Rp13,38 triliun. Ditambah, segmen pakan menjadi kontributor pendapatan terbesar kedua.
Posisi kedua ada di penjualan days old chick yang mencatatkan kenaikan 71,5 persen menjadi Rp2,28 triliun.
Dari segi kontributor utama, yakni ayam pedaging, juga masih mencatatkan pertumbuhan positif dengan kenaikan sebesar 6,7 persen menjadi Rp17,43 triliun.
Dalam lonjakan pendapatan di segmen pakan dan DOC itu, saham CPIN tidak mencatatkan penjualan ke satu customer dengan porsi lebih dari 10 persen. Artinya, customer cukup beragam.
Jika melihat guidance CPIN 2026 dari manajemen, realisasi kinerja saat ini sangat on-the track. Manajemen memasang target guidance moderat dengan pertumbuhan penjualan dan laba tahun berjalan sebesar 5 persen. Dengan begitu, estimasi pendapatan sebesar Rp74 triliun, sedangkan laba bersih sekitar Rp5,93 triliun.
Dengan realisasi semester I/2026, jika dihitung secara annualized, CPIN bisa mencapai di atas target guidance manajemen.

Tantangan Saham CPIN
Namun, ada satu tantangan terbesar di sektor saham ini, yakni El Nino.
Adapun, korelasi El Nino dengan saham pakan ternak antara lain, kekeringan dan cuaca panas berpotensi membuat produksi jagung terganggu. Dengan kondisi Supply jagung terganggu, harga jagung bisa naik. Hal itu bisa membuat biaya pakan naik dan margin bisnis pakan tertekan.
Sepanjang paruh pertama tahun ini, harga bahan baku CPIN sudah naik 14,8 persen menjadi Rp27,22 triliun. Tapi, tingkat kenaikan itu masih bisa diakomodir dengan pendapatan yang tumbuh 19,2 persen.
Lalu, bagaimana secara realita kinerja CPIN saat menghadapi El Nino 2015-2016? jawabannya tidak terpengaruh signifikan. Laba bersih CPIN masih naik 21,4 persen menjadi Rp2,23 triliun, sedangkan pendapatan naik 17,8 persen menjadi Rp35,26 triliun.
Namun, hasil kinerja yang positif pada 2015-2016 ini juga dipengaruhi oleh penataan industri oleh pemerintah dan pelaku industri pada 2016. Hal itu terjadi karena ada kondisi supply-demand perunggasan yang tidak seimbang. Hal itu membuat harga DOC menjadi lebih sehat dibandingkan dengan sebelumnya.
Lalu, CPIN juga mulai memperluas bisnis broiler farming pada 2016 sebagai bagian dari integrasi bisnis secara vertikal.
Sehingga kenaikan kinerja keuangan CPIN pada 2015-2016 lebih kepada faktor perbaikan industri dari ketidakseimbangan Supply dan integrasi bisnis secara vertikal.

Pola serupa terjadi pada 2023-2024, saham CPIN tidak mencatatkan penurunan laba bersih pada saat El Nino. Malah, CPIN mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 60,1 persen menjadi Rp3,71 triliun.
Kunci CPIN adalah mampu mengendalikan cost. Apalagi, CPIN juga bekerja sama dengan BISI untuk memperoleh jagung langsung dari petani yang dimulai sejak 2024.
Sayangnya, meski kinerja CPIN tidak goyah saat menghadapi El Nino, tapi tren harga saham cenderung tertekan.
Dalam periode 2015, harga saham CPIN turun 31,6 persen dengan drawdown paling maksimal sebesar 65 persen. Namun, harga saham CPIN mencatatkan pemulihan sekitar 18,2 persen dalam periode 2016.
Begitu juga ketika 2023-2024. Harga saham CPIN turun 11,5 persen pada 2023 dengan drawdown paling maksimal mencapai 29,3 persen. Lalu, di 2024 mencatatkan penurunan sebesar 5,3 persen dengan drawdown maksimal sebesar 17,1 persen.
Selain itu, hal yang berpotensi menjadi risiko adalah jika ada anomali dari permintaan program MBG. Saat ini, ruang pertumbuhan meningkat juga selaras kenaikan permintaan produk unggas dari MBG. Jika ada faktor yang membuat program ini dihentikan (walaupun peluangnya kecil), bisa menjadi risiko untuk CPIN dari segi normalisasi permintaan.
Sehingga, untuk saat ini, value dari CPIN adalah saham yang harganya lagi terdiskon dengan pertumbuhan yang masih agresif.
Apa yang Kamu Dapatkan Jika Join Mikirsaham?
- Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
- Tools Trading Plan by Sistem (minimal join Mikirsaham Super dan masih tahap Beta)
- Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
- Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
- Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US
- Diskusi lebih nyaman di member area tanpa ada distraksi
- Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
- Hingga konsultasi private dengan founder kami
Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini
Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini

