5 Saham Paling Banyak Dibeli Asing 2 Hari Terakhir, Siapa Paling Menarik?

Investor asing tampaknya sudah mulai menunjukkan appetite masuk ke pasar saham Indonesia, dimulai dari akumulasi saham bank dan konglomerasi. Ada saham aoa saja itu dan gimana prospeknya? 

Share
investor asing mulai masuk ke saham Indonesia

Mikirduit - Setelah Piala Dunia selesai, geliat dana asing perlahan sudah mulai masuk ke pasar saham Indonesia. IHSG bahkan sudah nanjak lebih dari 11 persen secara month-to-date di bulan Juli 2026. 

Jika bulan ini benar-benar ditutup hijau, kita akan resmi mengakhiri tren merah dalam enam bulan beruntun dari awal tahun. 

Secara teknikal, IHSG saat ini masih tertahan di area resistance MA50 harian. Jika berhasil ditembus, indeks berpeluang melanjutkan penguatan menuju area 6.800.

Menariknya, penguatan dalam beberapa waktu terakhir terjadi setelah IHSG membentuk higher low di area 5.600, yang kini menjadi support kuat. Selama level tersebut tetap terjaga, peluang terjadinya pembalikan tren masih terbuka.

Di sisi lain, support terdekat berada di kisaran 5.900. Apabila IHSG mampu bertahan di area ini dan kembali membentuk higher low, hal tersebut akan semakin mengonfirmasi struktur tren yang mulai berbalik ke arah bullish.

Deretan Saham yang Diakumulasi Asing 

Seiring dengan IHSG yang sedang di fase akumulasi, geliat asing mulai menunjukkan minat di saham bank besar dan konglomerasi. 

Kami menarik data net foreign buy dalam dua hari terakhir (17 dan 20 Juli 2026), ada akumulasi besar oleh asing di deretan saham berikut: 

Sumber: Stockbit (17 dan 20 Juli 2026)

Saham bank swasta terbesar di RI,  BBCA jadi top net foreign buy senilai Rp711,98 miliar. Saham bank BUMN lain menempati urutan kedua dan keempat, yaitu BBRI dan BMRI, masing-masing diakumulasi asing Rp361,1 miliar dan Rp136 miliar. 

Sementara dari konglomerasi, ada saham Prajogo Pangestu yaitu TPIA dan BRPT yang ramai dibeli asing, masing-masing sampai Rp329,7 miliar dan Rp105,88 miliar. 

Kira-kira gimana prospeknya dan mana yang paling menarik? mari kita ulas satu per satu.

Saham BBCA 

Saham BBCA jadi saham paling banyak dilirik asing. Bukan tanpa alasan, menurut kami valuasi saham bank swasta terbesar di RI sudah sangat menarik, kondisi fundamental juga masih solid. 

Momentum secara teknikal di saham BBCA juga mendukung. Meskipun saat ini posisinya sedang uji resistance, kami menilai tren sudah jauh membaik dan saat ini sedang di fase akumulasi. Support terdekat bisa perhatikan MA20 daily di posisi 6100. 

Dari sisi valuasi, meskipun saham BBCA sudah naik sekitar 36 persen dari bottom, PBV masih di 3,09 kali yang posisinya di bawah -1 standar deviasi. Sebagai catatan, waktu saham BBCA terjun ke bawah level 5000, PBV sempat mencapai 2,29 kali yang merupakan posisi paling murah dalam 10 tahun. 

Secara fundamental, BBCA masih sangat solid, meski pertumbuhan labanya memang mulai melambat. Selama Januari sampai Mei 2026, BBCA membukukan laba bersih Rp25,7 triliun, naik 2 persen secara tahunan. 

Menariknya, pertumbuhan ini lebih banyak ditopang oleh pendapatan non-bunga yang naik 9 persen, sementara Net Interest Income (NII) justru turun 1 persen karena margin bunga masih tertekan.

Di sisi lain, pertumbuhan kredit baru mencapai 5 persen, masih di bawah target perusahaan di kisaran 8 sampai 10 persen. Ini menunjukkan BBCA masih cukup hati-hati dalam menyalurkan kredit di tengah tren suku bunga yang tinggi. 

Meski begitu, posisi likuiditasnya tetap sangat kuat. LDR turun menjadi 77,1 persen dari 80 persen setahun lalu, sementara CASA tumbuh lebih dari 11 persen. Artinya, BBCA masih punya dana murah yang melimpah sehingga biaya dananya relatif lebih terjaga dibanding banyak bank lain.

Ringkasnya, saham BBCA sudah di posisi menarik secara teknikal dan valuasi. Secara fundamental juga solid, hanya tantangannya di pertumbuhan akan cenderung moderat karena strategi perusahaan yang masih konservatif di era suku bunga naik saat ini. 

Saham BBRI 

Berikutnya, ada saham BBRI yang berada di urutan kedua top net buy asing dalam dua hari terakhir. 

Sama seperti BBCA, secara teknikal BBRI punya pola akumulasi yang menarik. Bisa dilihat seperti rounding bottom atau bisa juga menyerupai double bottom. Jika pola ini terkonfirmasi, tren pembalikan arah naik akan semakin terbuka. Namun, saat ini posisinya sudah dekat resistance neckline di 3150, sementara support terdekat dari MA20 daily di 2800. 

Secara valuasi, BBRI juga menarik, jauh lebih murah juga dari BBCA. PBV saat ini ada di 1,37 kali, posisinya ada di bawah -2 standar deviasi selama 10 tahun. Valuasi saat ini sudah setara dengan level termurah BBRI saat Pandemi 2020 silam. 

Beralih ke fundamental, menurut kami BBRI mungkin terasa lebih berat dibanding bank besar lain. 

Meskipun sudah menetapkan diri sebagai bank universal, tak dipungkiri UMKM masih menjadi core-nya, lebih dari 70 persen portofolio kreditnya ada di segmen ini. Kondisi ini membuat BBRI lebih sensitif terhadap perlambatan ekonomi dan kenaikan risiko kredit. 

Hingga Mei 2026, beban operasional naik 13 persen secara tahunan, sementara biaya provisi meningkat 8 persen dan sudah dinaikkan selama dua bulan berturut-turut. Ini menunjukkan tekanan di segmen UMKM masih cukup terasa. Rasio NPL juga masih menjadi yang tertinggi di antara bank besar, berada di kisaran 3 persen.

💡
Butuh Tools dan Screener untuk analisis saham AS yang lengkap hingga AI yang sudah berbasis data yang kuat sehingga nggak halu? Tandanya kamu siap gas PROMO SPESIAL dari Investing Pro, DISKON 60% + 15% untuk pembaca Mikirduit, langsung coba sekarang dengan Klik di sini

Dari sisi laba, BBRI memang masih mencatat pertumbuhan positif. Laba bersih bank only mencapai Rp20,4 triliun, naik 10 persen secara tahunan. Namun, kenaikan ini dipengaruhi oleh pendapatan dividen sekitar Rp4 triliun yang diakui lebih awal dibanding tahun lalu. Jika faktor tersebut dikeluarkan, laba bersih justru diperkirakan turun sekitar 13 persen secara tahunan.

Meski begitu, masih ada yang menarik dari BBRI secara fundamental. Emiten ini punya NIM relatif tinggi dibanding bank raksasa lain, ada di 6,3 persen, pendapatan juga paling jumbo sampai Rp48 triliun. Penyaluran kredit juga tetap ekspansif, dalam lima bulan pertama tahun ini berhasil tumbuh 12 persen, jauh melampaui guidance perusahaan di rentang 7-9 persen.

Tantangannya, pertumbuhan tersebut harus ditopang oleh likuiditas yang mulai ketat, terlihat dari LDR yang sudah mencapai 91,6 persen dan credit cost sebesar 3,3 persen. Selain itu, kami juga masih mencermati potensi negative carry dari program Kopdes, terutama setelah target realisasinya dipangkas dari 80.000 menjadi 40.000 unit.

Tambahan lagi yang menarik dari BBRI adalah potensial dividen ke depan. Perusahaan ini punya historis rajin bagi dividen dengan DPR 90 persen lebih tiap tahun, dengan posisi harga yang sudah turun dalam dari awal tahun membuat yield yang didapat potensial dua digit sampai 10 persenan.

promo mikirduit

Saham BMRI 

Saham bank pelat merah berikut yang lagi rajin diakumulasi asing ada BMRI. Menurut kami, alasan saham ini mulai menarik juga berasal dari sisi valuasi dan momentum teknikal. 

Dari fundamental juga cukup mendukung karena pertumbuhan profitabilitas jauh lebih impresif diantara bank besar lain. 

Secara teknikal dulu, pergerakannya menunjukkan ada pola double bottom, tetapi saat ini sedang uji resistance neckline di 4500. Jika tidak mampu melanjutkan kenaikan, ada potensi koreksi jangka pendek ke support terdekat dulu di kisaran 4200, dekat MA50 daily. 

Secara trend, geraknya sudah sangat membaik, tinggal menunggu adanya higher low baru yang meningkatkan peluang tren pembalikan arah dari akumulasi menuju naik. 

Kalau bicara soal fundamental, BMRI punya positioning penyaluran kredit lebih banyak di korporasi. Jadi secara struktur, risiko kredit jauh lebih aman. NPL sampai Mei 2026 juga hanya di kisaran 1 persen. 

Dari sisi profitabilitas, selama lima bulan beruntun pada 2026, laba bersih bank-only BMRI tumbuh 19 persen yoy menjadi Rp23,3 triliun. 

Pertumbuhan tersebut didukung oleh kenaikan pendapatan bunga bersih (Net Interest Income/NII) sebesar 10 persen, pertumbuhan kredit mencapai 21 persen YoY, serta penurunan beban provisi sebesar 16 persen yoy. 

Meski demikian, Net Interest Margin (NIM) mulai mengalami tekanan dan turun menjadi 4,3 persen atau sekitar 30 basis poin dibandingkan tahun sebelumnya, seiring meningkatnya biaya dana (cost of fund). 

Efek suku bunga naik kami nilai masih akan menjadi tantangan dalam beberapa bulan ke depan yang bisa menggerus NIM. Namun, dengan pertumbuhan kredit yang tetap kuat dan kualitas aset yang terjaga, serta potensi penurunan biaya cadangan lain, kemungkinan besar bisa menjaga momentum pertumbuhan tetap positif. 

Yang menarik lagi dari saham BMRI adalah prospek dividen. Sama seperti BBRI, karena efek penurunan harga dari awal tahun, potensi yield yang didapatkan bisa berkisar 10 persenan untuk tahun depan, dengan catatan minimal DPR sama seperti tahun ini di 70 persenan.

Saham ASII Dapat Restu Buyback Rp8 triliun, Apakah Harganya Bisa Balik ke Rp6.000?
Saham ASII dapat restu buyback Rp8 triliun. Dalam rencana aksi korporasi itu, apakah saham ASII berpotensi balik ke Rp6.000 per saham?

Saham TPIA 

Beralih ke saham konglo, ada dari Prajogo Pangestu yaitu saham TPIA yang masuk top net buy foreign di posisi ketiga. Saham TPIA bahkan sudah terbang kisaran 10 persen hanya dalam dua hari terakhir, melesat ke atas level 2000, setelah konsolidasi kisaran satu bulan. 

Menurut kami, gabungan narasi dan aksi korporasi menjadi katalis kenaikan harga saham TPIA. Emiten konglo satu ini tampaknya mulai agresif ekspansi. 

Paling baru, TPIA resmi masuk bisnis sampah jadi energi atau waste to energy (WtE) yang sedang dijalankan Danantara. Melalui anak usahanya, PT Chandra Waste Energy, TPIA sudah dapat jatah proyek PSEL di Serang Raya, 

TPIA garap proyek itu dalam konsorsiumnya, Masa Depan Energi Indonesia bersama Beijing GeoEnviron Engineering dan Tech Inc. Saat ini, anak usaha itu sedang dalam tahap pengembangan. Kemungkinan konstruksi baru mulai 2027 dan perlu waktu 2 tahun pembangunan, target komersial 2029.

Kalau sudah jadi, PSEL itu ditargetkan mengelola sampai sampai 1.161 ton per hari. Harapannya, ini bisa jadi 35 Megawatt untuk dialirkan ke jaringan listrik lokal.

Menariknya, sekarang segmen energi sudah jadi kontributor paling besar di pendapatan TPIA, sampai 60 persen lebih di kuartal I/2026. Padahal pada periode yang sama tahun lalu, kontribusinya masih nihil. Berkat itu, pendapatan TPIA pada kuartal pertama ini bisa melejit 287 persen yoy, efeknya terasa optimal sampai bottom line yang melesat 954 persen yoy. 

Hal ini terjadi berkat ekspansi anorganik yang dilakukan TPIA tahun lalu. Jadi, saat ini mereka sedang menuai hasil dari hal yang ditabur sebelumnya. 

Sebagai catatan, tahun lalu TPIA mengakuisisi dan mengintegrasikan aset Shell Energy & Chemicals Park Singapore di Pulau Bukom dan Jurong, sekaligus meningkatkan efisiensi operasional melalui pemanfaatan Refuse-Derived Fuel (RDF), yaitu bahan bakar yang diolah dari sampah untuk boiler batu bara di fasilitas Pulo Ampel, Serang, Banten. Langkah ini menghasilkan penghematan biaya operasional kisaran 5 persen. 

Menurut kami, kinerja kuartal II/2026 untuk TPIA harusnya masih akan dapat revenue optimal dari sektor energi, utamanya karena harga minyak yang sempat tembus US$ 100 per barel. 

Beralih ke segmen petrokimia, ada sentimen positif bagi TPIA dari proyek LNG Blok Masela yang kini resmi memasuki fase konstruksi. Meski proyek ini baru diperkirakan mulai beroperasi dalam 3 hingga 4 tahun ke depan, prospek jangka panjangnya cukup menarik.

Pasalnya, gas dari Blok Masela diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan industri hilir, termasuk sektor petrokimia. Sebagai salah satu pemain petrokimia terbesar di Indonesia, TPIA berpotensi memperoleh pasokan gas dari proyek tersebut sebagai bahan baku. Jika terealisasi, hal ini dapat meningkatkan efisiensi biaya produksi sekaligus memberikan kepastian pasokan gas dalam jangka panjang.

Masih berhubungan soal petromikia, TPIA juga baru saja mengumumkan pembangunan fasilitas CA-EDC (Chlor Alkali dan Ethylene Dichloride) di Cilegon, Banten sudah masuk progress 72 persen, manajemen optimis 2027 bisa mulai berjalan operasinya.

Saham BRPT 

Terakhir, ada saham konglo Prajogo Pangestu lagi, yaitu BRPT yang masuk jajaran top net buy asing dua hari ini. 

BRPT kami nilai menarik juga karena secara langsung dapat benefit dari prospek TPIA, karena BRPT itu adalah induk usaha yang punya kendali di saham TPIA dengan kepemilikan 34,63 persen.  

Karena bisnis TPIA dikonsolidasikan ke BRPT, sebagian besar total pendapatan dan laba bersih BRPT juga  bersumber dari kinerja TPIA. Jadi, tidak heran kalau kinerja kuartal I/2026 emiten ini ikut melejit juga, laba bersih tercatat mencapai US$271 juta atau sekitar Rp4,7 triliun, naik 803 persen yoy. 

Selain dari TPIA, BRPT juga dapat cuan dari anak usaha lain, contohnya yang sudah listing lagi ada CDIA. Emiten ini masih punya cash jumbo hasil dari IPO tahun lalu yang fokusnya digunakan untuk ekspansi. 

Sesaat setelah IPO pada Juli 2025, CDIA langsung merealisasikan dana hasil melantai di bursa senilai Rp929,3 miliar untuk membeli dua unit kapal tanker bahan kimia baru dari Jepang melalui anak usahanya, PT Marina Indah Maritim (MIM)

Pada April 2026, CDIA meresmikan kapal pengangkut bahan kimia cair (chemical tanker) baru berkapasitas 9.000 DWT yang diberi nama Boreas. Kapal yang dikelola oleh anak usahanya, CSI, dijadwalkan mulai beroperasi penuh pada Juni 2026 untuk melayani rute domestik hingga internasional (Asia ke Eropa). 

Berlanjut pada Mei 2026, CDIA resmi membeli 57,5 persen saham ELPI Trans Cargo senilai Rp17,25 miliar dari PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk (ELPI). Melalui akuisisi ini, CDIA mengambil alih kendali penuh atas armada kapal logistik non-offshore seperti kapal tunda (tugboat), kapal tongkang (barge), dan kapal kargo curah (bulk carrier). 

Lalu yang paling baru, pada awal Juli 2026 ini,CDIA melalui anak usahanya, PT Chandra Shipping International (CSI), mengumumkan rencana untuk mengakuisisi 40% saham PT Armada Maritim Persada (AMP).

AMP sendiri merupakan anak usaha dari emiten batu bara milik Prajogo Pangestu lainnya, yaitu CUAN. Langkah ini ditujukan untuk semakin memperkuat ekosistem logistik maritim grup. 

Rumor soal mengawal anak usaha IPO juga masih santer terdengar dari awal tahun yaitu PT Griya Idola, emiten yang mengelila bisnis bidang properti dan kawasan industri. 

Sementara dari sisi teknikal, menurut kami BRPT punya pergerakan yang lebih rapi dan tidak terlalu volatile dibandingkan dengan saham lain di satu grup nya. Kami menilai posisinya saat ini sedang di fase akumulasi, dengan targer resistance terdekat di 2020, sementara support yang perlu dijaga ada di MA20 daily sekitar level 1700-an. 

Jadi, gimana menurut kalian dari lima saham yang lagi diakumulasi asing itu mana paling menarik?

Dapat Insight, Bisa Konsultasi dan Diskusi di Grup, hingga Ikut Event Online Bulanan untuk Update Perkembangan Pasar Saham cuma mulai Rp50 ribu per Bulan?

Dapatkan semua benefit Mikirsaham.com, join sekarang dan dapatkan deretan benefit yang membantumu investasi di saham seperti:

  • Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
  • Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
  • Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
  • Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US
  • Diskusi lebih nyaman di member area tanpa ada distraksi
  • Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
  • Hingga konsultasi private dengan founder kami

Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini

Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini

💡
Disclaimer: artikel di sini hanya memberikan insight dan edukasi terkait pasar modal, bukan rekomendasi jual-beli.
Join Mikirsaham Sekarang