Adu Prospek EXCL-TLKM-ISAT Setelah Hasil Lelang Frekuensi 5G Diumumkan
Tiga operator besar di RI, EXCL, TLKM, dan ISAT sama-sama berhasil mendapatkan jatah dalam lelang frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz. Prospeknya gimana dan siapa paling menarik?
Mikirduit - Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) resmi menetapkan pemenang lelang frekuensi jaringan 4G dan 5G di Indonesia, mereka adalah Telkomsel (anak usaha dari TLKM), Indosat (ISAT), dan XLSmart (EXCL).
Dalam frekuensi 700 MHz, EXCL mendapatkan alokasi terbesar (30 MHz), diikuti oleh Telkomsel (20 MHz) dan ISAT (20 MHz). Sementara pada pita frekuensi 2,6 GHz, Telkomsel menguasai blok terbesar (80 MHz), disusul Indosat (60 MHz) dan XLSmart (50 MHz). Berikut rincian nya:
Meski Telkomsel memperoleh total spektrum paling besar, XLSmart menjadi operator yang paling agresif dalam proses lelang.
EXCL mengajukan harga penawaran tertinggi untuk pita 700 MHz dengan komitmen Rp1,060 triliun. Ditambah kemenangan di pita 2,6 GHz senilai Rp231,6 miliar, total komitmen pembayaran EXCL mencapai sekitar Rp1,29 triliun, lebih tinggi dibanding Telkomsel yang mencapai sekitar Rp1,19 triliun dan ISAT sekitar Rp879 miliar.
Besarnya nilai komitmen tersebut menunjukkan bahwa para operator harus menyiapkan belanja modal (capex) dan biaya akuisisi spektrum yang tidak sedikit dalam beberapa tahun ke depan.
Artinya, dalam jangka pendek terdapat risiko meningkatnya kebutuhan pendanaan, tekanan terhadap arus kas, hingga potensi kenaikan beban penyusutan dan amortisasi seiring spektrum mulai digunakan.

Hitung-hitungan Dampak Biaya Spektrum dari Hasil Lelang Terbaru
Meski biaya spektrum terlihat besar, ada satu perubahan regulasi yang membuat dampaknya terhadap kondisi keuangan operator menjadi jauh lebih ringan.
Pemerintah resmi melonggarkan skema Front-Loading Payment. Jika sebelumnya operator harus membayar kewajiban hingga tiga kali pada tahun pertama, kini pembayaran awal dipangkas menjadi dua kali saja atau sekitar 33 persen lebih rendah dibanding mekanisme sebelumnya.
Pada skema lama, operator diwajibkan membayar Up-front Fee sebesar dua kali nilai blok frekuensi yang dimenangkan, ditambah Annual BHP Fee sebesar satu kali untuk penggunaan tahun pertama. Kini pemerintah memangkas Up-front Fee menjadi satu kali, sementara Annual BHP Fee tetap satu kali, sehingga total pembayaran di tahun pertama menjadi jauh lebih ringan.
Dengan perubahan tersebut, tekanan terhadap struktur keuangan operator diperkirakan tetap terkendali. Berdasarkan riset BRI Danareksa, dampak terhadap EBITDA tahun 2027 relatif terbatas. EBITDA EXCL diproyeksikan hanya turun sekitar 3,3 persen, ISAT 3 persen, dan TLKM 1,5 persen.

Prospek Industri Telko Pasca Lelang
Selain skema pembayaran yang lebih ringan, pemerintah juga tidak menetapkan kewajiban pembangunan jaringan yang terlalu agresif.
Komdigi menargetkan operator mencapai cakupan populasi 5G minimal 51 persen dalam lima tahun. Artinya, operator hanya perlu meningkatkan cakupan sekitar 5 poin persentase per tahun dari posisi saat ini yang berada di kisaran 26 persen.
Target tersebut masih jauh lebih moderat dibanding negara lain di kawasan. Korea Selatan telah mencapai cakupan 5G lebih dari 90 persen hanya dalam satu tahun, sedangkan Thailand mencapai sekitar 95 persen dalam waktu kurang lebih 4,5 tahun.
Dengan demikian, siklus belanja modal (capex) untuk implementasi 5G di Indonesia diperkirakan berlangsung secara bertahap sehingga tidak memberikan tekanan yang terlalu besar terhadap kondisi keuangan operator.
Di sisi lain, tambahan spektrum hasil lelang akan meningkatkan kapasitas dan kualitas jaringan, memperluas cakupan layanan 4G maupun 5G, serta membuka peluang monetisasi dari pertumbuhan konsumsi data, cloud, AI, Internet of Things (IoT), hingga smart manufacturing.
Dengan kata lain, meski membutuhkan investasi yang besar di awal, tambahan spektrum ini berpotensi menjadi fondasi pertumbuhan pendapatan operator dalam beberapa tahun ke depan, terutama apabila mampu meningkatkan utilisasi jaringan dan mendorong kenaikan Average Revenue Per User (ARPU).
Lalu, bagaimana posisi masing-masing operator setelah lelang ini?
Secara total, TLKM masih menjadi operator dengan kepemilikan spektrum terbesar, yakni sekitar 265 MHz. Keunggulannya berada pada pita frekuensi menengah hingga tinggi (mid-high band), terutama melalui kepemilikan 80 MHz di pita 2.600 MHz dan 50 MHz di pita 2.300 MHz. Kombinasi tersebut menjadi modal penting untuk menghadirkan kapasitas jaringan 5G yang tinggi, khususnya di wilayah perkotaan dengan trafik data yang padat.

Di sisi lain, ISAT memang memiliki total spektrum paling kecil, yakni sekitar 215 MHz. Namun, distribusi frekuensinya dinilai paling seimbang karena tersebar mulai dari low band yang unggul untuk jangkauan sinyal hingga high band yang lebih optimal untuk kapasitas dan kecepatan data.
Sementara itu, EXCL kini memiliki total spektrum sekitar 217 MHz. Jumlah tersebut sebenarnya berkurang sekitar 15 MHz karena perusahaan harus mengembalikan sebagian spektrum kepada pemerintah sebagai konsekuensi merger dengan Smartfren.
Meski demikian, langkah tersebut justru dipandang positif karena berpotensi menghemat pembayaran Biaya Hak Penggunaan (BHP) hingga sekitar Rp1 triliun per tahun, sehingga dapat membantu efisiensi biaya operasional ke depan.

Jadi, Pilih EXCL, TLKM, atau ISAT?
Jika mempertimbangkan biaya spektrum, kesiapan pembangunan jaringan, kondisi keuangan, serta valuasi saham saat ini, masing-masing operator memiliki daya tarik yang berbeda.
ISAT masih menjadi pilihan utama yang menarik. Saat ini ISAT diperdagangkan pada EV/EBITDA sekitar 3,8 kali untuk proyeksi 2026, atau sekitar 1,7 standar deviasi di bawah rata-rata historis tiga tahunnya. Ditambah dengan komposisi spektrum yang seimbang antara low band dan high band serta model bisnis yang relatif efisien, ISAT dinilai memiliki fleksibilitas yang baik untuk menangkap pertumbuhan trafik data ke depan.
EXCL juga tetap menarik. Sebagian besar biaya integrasi dan penataan pasca merger dinilai telah terlewati, sementara sinergi operasional diperkirakan mulai memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap efisiensi dan profitabilitas mulai 2027.
Namun ada catatan, meski harga saham EXCL telah terkoreksi lebih dari 30 persen sejak awal tahun, valuasinya sebenarnya belum dapat dikatakan murah. Saat ini EV/EBITDA EXCL masih berada sedikit di atas rata-rata historis lima tahunnya yang berada di kisaran 5 kali, sehingga lebih tepat dikategorikan berada di area fair value.
Adapun TLKM masih dipandang netral. Bukan karena prospek bisnis telekomunikasinya memburuk, melainkan karena masih terdapat ketidakpastian terkait penyelesaian transaksi InfraNexia, yang berpotensi menjadi faktor penentu arah valuasi perusahaan dalam jangka menengah.
Sebagai informasi, TLKM saat ini tengah menjalankan aksi korporasi berupa pemisahan (spin-off) unit bisnis infrastruktur serat optik ke entitas baru bernama PT Telkom Infrastruktur Indonesia (InfraNexia).
Hingga akhir 2025, perusahaan baru menyelesaikan pengalihan tahap awal berupa lebih dari 50 persen aset wholesale fiber connectivity senilai sekitar Rp35,8 triliun, sedangkan sisa pengalihan aset ditargetkan rampung pada paruh kedua 2026.
Gimana, menurut kalian paling menarik yang mana? atau malah pilih tiga-tiga nya?
Mau Dapat Insight Saham Apapun yang Kamu Tanya untuk Membantu Conviction hingga Action Mulai dari Rp50 ribu per Bulan?
Dapatkan semua benefit Mikirsaham.com, join sekarang dan dapatkan deretan benefit yang membantumu investasi di saham seperti:
- Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
- Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
- Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
- Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US
- Diskusi lebih nyaman di member area tanpa ada distraksi
- Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
- Hingga konsultasi private dengan founder kami
Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini
Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini
