Prospek Saham GGRM-HMSP-WIIM Kalau Cukai Rokok Stabil 3 Tahun

Menteri Keuangan, Purbaya beri sinyal cukai rokok tidak akan naik tahun depan, artinya tiga tahun beruntun cukai rokok stabil. Kira-kira gimana prospeknya untuk GGRM-HMSP dkk? 

Share
saham rokok

Mikirduit - Kabar gembira datang bagi industri hasil tembakau tanah air. Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, memastikan bahwa pemerintah berkomitmen untuk tidak menaikkan tarif CHT (Cukai Hasil Tembakau) hingga tahun 2027. 

Kebijakan komitmen ini mempertahankan status yang telah berjalan, di mana pada tahun 2025 dan 2026 pemerintah juga memilih menahan kenaikan tarif tarif cukai reguler demi menjaga stabilitas industri dan mengendalikan peredaran rokok ilegal.

Secara teoritis, absennya kenaikan cukai selama tiga tahun berturut-turut (2025–2027) memberikan ruang bernapas yang sangat besar bagi emiten rokok. Akankah kondisi ini cukup kuat untuk memicu rebound panjang dan membuat investor kembali agresif masuk ke saham rokok

Membaca Histori Cukai Rokok di Indonesia 

Melansir CNBC Indonesia, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan tarif cukai hasil tembakau (CHT) tidak akan naik hingga 2027. Terakhir kali cukai rokok naik terjadi pada 2024 dengan kenaikan rata-rata sebesar 10 persen. 

Setelah itu, pemerintah memilih menahan kenaikan tarif pada 2025, 2026, dan kini berencana melanjutkan kebijakan moratorium tersebut hingga 2027.

Sebagai catatan, dalam sejarah 10 tahun terakhir, periode tanpa kenaikan cukai tergolong sangat langka, karena hanya pernah terjadi pada tahun 2014 dan 2019. 

Sebelum Purbaya menjabat sebagai Menteri Keuangan pada September 2025, pemerintah hampir rutin mengerek tarif CHT setiap tahun dengan rata-rata kenaikan agresif berkisar antara 10 sampai 12 persen, bahkan sempat melonjak hingga 23 persen pada tahun 2020.

Adapun alasan pemerintah menahan kenaikan cukai di tiap periode tersebut punya alasan beda-beda: 

  • Tahun 2014: Cukai tidak naik karena adanya masa transisi penerapan UU No. 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) yang mulai mengatur pajak rokok daerah.
  • Tahun 2019: Pemerintah menahan kenaikan tarif dengan alasan perlambatan ekonomi dan melemahnya daya beli masyarakat, meski saat itu keputusan tersebut juga sempat dikaitkan erat dengan momentum tahun politik.
  • Tahun 2025 hingga saat ini: Pemerintah sengaja mengerem kenaikan karena industri sudah terlampau jenuh menanggung akumulasi kenaikan dari tahun-tahun sebelumnya yang membuat rokok ilegal marak beredar.

Namun perlu dicatat, meski sekarang cukai tidak naik, pemerintah tetap melakukan penyesuaian Harga Jual Eceran (HJE). Artinya, tekanan harga di tingkat konsumen sebenarnya masih tetap ada meski beban kenaikan cukai mulai mereda.

Di tengah kondisi tersebut, lanskap industri rokok masih dibayangi fenomena downtrading. Konsumen bukan berhenti merokok, melainkan berpindah dari rokok premium ke merek yang lebih murah karena daya beli yang melemah.

Sekilas Kinerja Keuangan Saham Rokok 

Dampak dari fenomena downtrading mulai terlihat jelas di laporan keuangan emiten-emiten rokok kuartal I-2026. Berikut kami coba ulas satu per satu: 

Saham GGRM 

GGRM menjadi salah satu emiten yang paling terdampak tren downtrading karena dominan bermain di segmen Sigaret Kretek Mesin (SKM) premium. Pada kuartal I-2026, pendapatan GGRM turun cukup dalam sebesar 12,8 persen secara tahunan. Volume segmen SKM mereka juga turun 13,3 persen YoY.

Menariknya, laba bersih GGRM justru melonjak hingga 1.372 persen YoY. Namun lonjakan ini bukan karena permintaan pulih, melainkan lebih banyak ditopang efisiensi biaya dan tidak adanya kenaikan cukai.

Sebagai gambaran, produk Gudang Garam Filter Merah isi 12 batang kini dibanderol sekitar Rp28.700. Harga yang makin mahal membuat sebagian konsumen kelas pekerja mulai turun kelas ke produk yang lebih murah.

Artinya, stabilnya cukai memang membantu menjaga margin GGRM agar tidak makin tertekan, tetapi tantangan terbesar mereka tetap mengembalikan volume penjualan yang terus melemah.

Saham HMSP 

HMSP juga menghadapi tekanan serupa sebagai pemain tier-1 di segmen premium. Pada kuartal I-2026, penjualan bersih HMSP terkoreksi 5,5 persen YoY. Namun di tengah penurunan penjualan tersebut, laba bersih HMSP masih mampu tumbuh 7,19 persen YoY.

Kondisi laba yang tumbuh di tengah penjualan turun lebih mencerminkan keberhasilan efisiensi dibanding pemulihan permintaan pasar yang sesungguhnya.

Keuntungan terbesar bagi HMSP dari stabilnya cukai adalah struktur biaya yang menjadi lebih terprediksi. Ini memberi ruang bagi perusahaan untuk menjaga margin tanpa harus terlalu agresif menaikkan harga jual produk.

Ke depan, HMSP diperkirakan akan lebih fokus memperkuat segmen Sigaret Kretek Tangan (SKT) yang padat karya serta rokok elektrik untuk menahan tekanan di segmen sigaret mesin premium. 

engan posisi kas yang masih kuat dan dividen yang relatif menarik, HMSP juga tetap punya daya tarik sebagai saham defensif.

Saham TPMA Cuma Berikan Payout Ratio Dividen di Bawah 50 Persen, Tanda Positif atau Negatif?
Saham TPMA hanya bagikan dividen payout ratio di bawah 50 persen. Ini jadi salah satu payout ratio yang terendah bagi TPMA. Apakah ini pertanda positif atau negatif?

Saham WIIM 

Sementara itu untuk saham WIIM punya positioning yang berbeda di banding 2 saham rokok premium di atas. 

WIIM justru menjadi emiten yang paling diuntungkan dari fenomena downtrading. Ketika konsumen mulai mencari rokok lebih murah, produk-produk WIIM justru mendapat limpahan pasar.

Pada kuartal I-2026, WIIM mencatat pertumbuhan penjualan sebesar 18,3 persen YoY. Laba bersihnya bahkan melonjak fantastis hingga 102,5 persen YoY menjadi Rp148,08 miliar.

Segmen SKM WIIM tumbuh sangat agresif sebesar 40,4 persen YoY. Salah satu pendorongnya adalah harga produk yang lebih terjangkau. 

Sebagai contoh, Wismilak Diplomat isi 12 batang dibanderol sekitar Rp26.900, lebih murah sekitar Rp1.800 dibanding Gudang Garam Filter Merah.

Kondisi ini membuat WIIM terlihat jauh lebih adaptif dibanding emiten besar. Selama daya beli masyarakat belum benar-benar pulih, WIIM berpotensi terus menikmati perpindahan konsumen dari rokok premium ke segmen bawah.

Realita Cukai Rokok dan Prospek Sahamnya

Sebagai respon sentimen cukai rokok tidak akan naik sampai tahun depan, pada perdagangan Rabu (20/5/2026), saham-saham rokok kompak menguat. GGRM naik 3,87 persen, WIIM menguat 2,65 persen, sementara HMSP naik 1,37 persen.

Jika ditarik lebih panjang, performa saham rokok dalam setahun terakhir sebenarnya juga cukup menarik. WIIM menjadi yang paling agresif dengan kenaikan nyaris 100 persen, disusul GGRM yang naik sekitar 71 persen, sementara HMSP menguat sekitar 16 persen.

Namun, investor tetap perlu melihat konteks yang lebih besar. Penguatan saham-saham rokok belakangan ini masih sangat jauh dibanding era keemasan mereka beberapa tahun lalu. 

Harga saham emiten rokok sampai sekarang belum mampu kembali mendekati level all-time high yang sempat tercapai sebelum periode kenaikan cukai agresif dimulai.

Penyebab utamanya adalah struktur biaya industri yang sudah telanjur berat akibat lonjakan cukai bertahun-tahun sejak 2020 hingga 2024. 

Dalam periode tersebut, kenaikan cukai yang terus berulang membuat harga rokok naik tajam, daya beli konsumen melemah, dan pola konsumsi masyarakat ikut berubah. Banyak konsumen akhirnya beralih dari rokok premium ke produk yang lebih murah atau downtrading.

Karena itu, moratorium cukai selama tiga tahun ini lebih tepat dilihat sebagai “rem darurat” agar kondisi industri tidak semakin terpuruk, bukan katalis instan yang bisa langsung melipatgandakan laba emiten rokok. Stabilnya cukai memang membantu perusahaan menjaga margin dan membuat tekanan biaya lebih terkendali, tetapi tantangan volume penjualan masih belum sepenuhnya selesai.

Dampaknya pun berbeda ke masing-masing emiten. GGRM dan HMSP yang bermain dominan di segmen premium masih menghadapi tekanan akibat pelemahan daya beli masyarakat. 

Sebaliknya, WIIM justru relatif lebih diuntungkan karena kuat di segmen harga menengah ke bawah yang sedang diminati konsumen. 

Kesimpulannya, stabilnya cukai hingga 2027 memang menjadi sentimen positif bagi sektor rokok dan mampu memperbaiki persepsi pasar dalam jangka pendek.

Namun untuk jangka panjang, pemulihan industri tetap akan sangat bergantung pada daya beli masyarakat, kemampuan emiten menjaga volume penjualan, serta strategi masing-masing perusahaan menghadapi perubahan pola konsumsi pasar.

Mau tanya langsung saham yang murah menurut founder Mikirduit saat ini, serta menunggu rilis resmi saham Dividen Mikirduit 2026?

Dapatkan semua benefit Mikirsaham.com, join sekarang dan dapatkan deretan benefit yang membantumu investasi di saham seperti:

  • Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
  • Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
  • Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
  • Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US
  • Diskusi lebih nyaman di member area tanpa ada distraksi
  • Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
  • Hingga konsultasi private dengan founder kami

Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini

Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini

💡
Dapatkan Tools Analisis Saham Paling Cocok Untuk Investor Ritel serta Pilihan Saham Indonesia hingga AS dengan AI bersama Investing Pro. Dapatkan Promo Spesial Dari Mikirduit dengan Klik di sini