Saham Terkait Proyek LNG Lapangan Abadi Masela yang Diresmikan Prabowo Subianto
Setelah sekian tahun mangkrak, blok Masela akhirnya mulai jalan lagi. Proyek jumbo ini ditaksir mencapai Rp376 triliun. Kira-kira skemanya bagaimana dan emiten mana saja yang akan dapat berkahnya?
Mikirduit - Mega proyek gas Masela akhirnya resmi keluar dari masa mangkrak dan mulai memasuki fase konstruksi nyata, targetnya bisa beroperasi pada 2029 mendatang.
Presiden RI Prabowo Subianto meresmikan peletakan batu pertama (groundbreaking) Proyek Strategis Nasional (PSN) LNG Lapangan Abadi Blok Masela langsung di Kepulauan Tanimbar, Maluku pada Kamis kemarin (16/6/2027).
Proyek itu memiliki nilai investasi US$20,9 miliar atau sekitar Rp376,2 triliun (dengan asumsi kurs Rp18.000/US$).
Dalam sambutan groundbreaking proyek PSN tersebut, Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia juga mengatakan bahwa proyek itu akan menjadi penghasil gas terbesar di Indonesia.
Pemerintah memutuskan minimal 60 persen produksi gas dari Lapangan Abadi, Blok Masela akan diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Sementara itu, 40 persen sisanya akan diekspor ke pasar internasional.
Bahlil juga mengatakan kalau kebijakan ini diambil untuk mendukung program hilirisasi industri sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
Gas dari Blok Masela nantinya akan dimanfaatkan sebagai bahan baku berbagai industri strategis, salah satunya industri pupuk.
"Sebagian akan diserahkan ke PLN, PGN, dan beberapa perusahaan swasta untuk meningkatkan nilai tambah dalam rangka mendorong penciptaan nilai ekonomi di daerah," ujar Bahlil.
Sebagai gambaran, Lapangan Abadi di Blok Masela merupakan lapangan gas laut dalam dengan cadangan gas terbesar di Indonesia. Lokasinya berada sekitar 160 kilometer di lepas pantai Pulau Yamdena, Laut Arafura, dengan kedalaman laut sekitar 400 hingga 800 meter.

Lapangan ini dikelola berdasarkan Kontrak Bagi Hasil (Production Sharing Contract/PSC) Masela yang ditandatangani pada 1998 dan telah diperpanjang hingga 2055.
Jika beroperasi penuh, proyek ini diperkirakan mampu memproduksi 9,5 juta metrik ton LNG per tahun (MMTPA), 150 juta kaki kubik standar gas pipa per hari (MMSCFD), serta sekitar 35.000 barel kondensat per hari.
Perjalanan Blok Masela Sampai Menemukan Titik Terang
Untuk sampai masuk ke fase saat ini, butuh waktu hampir 3 dekade (28 tahun) sejak kontrak pertama kali ditandatangani pada tahun 1998, serta melewati masa mangkrak dan ketidakpastian selama kurang lebih 7,5 tahun.
Berikut adalah kilas balik perjalanan historis Blok Masela dari awal penemuan hingga akhirnya resmi memulai konstruksi fisik:
1. Awal Penemuan dan Eksplorasi (1998 – 2008)
Perjalanan Blok Masela dimulai pada tahun 1998 ketika Pemerintah Indonesia memberikan Kontrak Kerja Sama (KKS) Lapangan Abadi di Blok Masela kepada perusahaan migas asal Jepang, Inpex Masela Ltd.
Dua tahun berselang, tepatnya pada tahun 2000, Inpex berhasil menemukan cadangan gas berskala raksasa di laut dalam tersebut. Melalui eksplorasi panjang, pada tahun 2008 pemerintah mengonfirmasi bahwa Blok Masela menyimpan salah satu cadangan gas abadi terbesar di Indonesia.
2. Persetujuan Skema Awal (2010 – 2014)
Pada tahun 2010, pemerintah menyetujui Plan of Development (PoD) I dengan skema Floating Liquefied Natural Gas (FLNG) atau kilang terapung di atas laut (offshore). Kapasitas yang direncanakan saat itu adalah 2,5 juta ton LNG per tahun.
Namun, setelah Inpex melakukan pengeboran lanjutan pada tahun 2014, ditemukan cadangan gas tambahan yang jauh lebih besar, sehingga rencana kapasitas produksi harus dihitung ulang dan dinaikkan.
3. Fase Mangkrak I: Perdebatan Skema Pembangunan (2016 – 2019)
Ini menjadi awal mula proyek mulai berjalan di tempat. Ketika Inpex mengajukan revisi kapasitas menjadi 7.5 juta ton dengan skema laut, terjadi perdebatan sengit di tingkat kabinet pemerintahan.
Pada Maret 2016, Presiden Joko Widodo mengambil keputusan, Blok Masela wajib dibangun dengan skema darat (onshore) di Kepulauan Tanimbar demi memberikan dampak ekonomi (multiplier effect) langsung bagi masyarakat lokal.
Keputusan ini memaksa Inpex membuang seluruh kajian lama dan mendesain ulang proyek dari nol. Fase perombakan ini membuat proyek tersendat selama 3 tahun hingga PoD skema darat baru disetujui pada Juli 2019.
4. Fase Mangkrak II: Pandemi dan Hengkangnya Shell (2020 – 2023)
Tantangan berat kembali datang di awal tahun 2020 akibat pandemi COVID-19 yang memukul industri energi global.
Situasi semakin kritis ketika mitra strategis Inpex, Shell Upstream Overseas, yang memegang 35 persen saham partisipasi, memutuskan mundur dari proyek karena restrukturisasi portofolio global mereka.
Akibatnya, proyek lumpuh total secara pendanaan selama hampir 4 tahun karena Inpex tidak bisa mendanai mega proyek ini sendirian di tengah rumitnya mencari investor pengganti.
5. Titik Balik Konsorsium Baru (Akhir 2023 – 2025)
Kebuntuan bertahun-tahun akhirnya pecah pada Oktober 2023 ketika PT Pertamina (Persero) melalui PHE dan Petronas resmi mengambil alih 35 persen saham milik Shell. Komposisi kepemilikan menjadi Inpex (65 persen), Pertamina (20 persen), dan Petronas (15 persen).
Pemerintah juga menyetujui revisi PoD kedua yang memasukkan komitmen hijau berupa fasilitas penangkap karbon (Carbon Capture and Storage/CCS) dengan perpanjangan kontrak hingga 2055.
Sepanjang 2025, akselerasi di lapangan terjadi secara masif, mulai dari rampungnya studi teknis CCS, pemantapan fase Front-End Engineering Design (FEED), hingga penyelesaian pembebasan lahan kilang darat bersama masyarakat adat.
6. Menemukan Titik Terang: Groundbreaking Resmi (Juli 2026)
Setelah penantian panjang selama 28 tahun, proyek ini resmi keluar dari status mangkrak dan memasuki fase realisasi fisik.
Pada 16 Juli 2026, Presiden RI Prabowo Subianto secara resmi memimpin peletakan batu pertama (groundbreaking) pembangunan fasilitas LNG Lapangan Abadi Blok Masela di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku.
Dengan nilai investasi jumbo sebesar US$20,9 miliar (sekitar Rp376 triliun), Blok Masela diproyeksikan memproduksi 9,5 juta metrik ton LNG per tahun, 120-150 MMSCFD gas pipa, dan 35.000 barel kondensat per hari.
Demi ketahanan energi nasional, pemerintah juga menetapkan aturan ketat bahwa minimal 60 persen dari hasil produksi gas wajib dialokasikan untuk kebutuhan domestik (seperti industri pupuk, PGN, dan PLN).
Lantas siapa saja yang bakal dapat berkah?
Kami menemukan setidaknya ada empat emiten yang mendapatkan dampak positif dari proyek blok Masela ini. Beberapa ada yang sudah dapat impact langsung, sementara sebagian masih berupa potensi. Mari kita ulas satu per satu.
Saham PTRO
Emiten Prajogo Pangestu, PTRO menjadi salah satu yang kena dampak langsung.
Melansir keterbukaan informasi perusahaan, pada 2 Maret 2026, konsorsium Petrosea-Enviromate Technology International (ETI)-Nindya menandatangani kontrak Onshore LNG Perimeter Construction Works dengan INPEX Masela Ltd. untuk mega proyek Masela.
Kontrak senilai Rp989 miliar untuk pengerjaan selama 36 bulan, mencakup pembangunan pagar perimeter, jalan akses, relokasi jaringan listrik, serta opsi pembangunan pioneering jetty dan mini IVCU.
Kontrak senilai sekitar Rp989 miliar dengan masa pengerjaan 36 bulan ini mencakup pembangunan pagar perimeter, jalan akses, relokasi jaringan listrik, serta opsi pembangunan pioneering jetty dan mini IVCU. Dalam konsorsium tersebut, PTRO memiliki porsi partisipasi sebesar 36 persen.
Karena saat ini, PTRO sudah memegang proyek pembuka lahan darat, mereka berada di posisi terdepan (frontrunner) untuk memperebutkan tender konstruksi utama kilang LNG (Main EPC) yang nilainya jauh lebih masif di masa depan.
Saham ADHI
ADHI juga ikut diuntungkan dari mega proyek Masela secara langsung. Emiten konstruksi pelat merah ini memenangkan proyek otak desain teknik intinya, yaitu Front-End Engineering Design (FEED) untuk fasilitas Onshore LNG.
Tidak sendiri, ADHI membentuk konsorsium global bersama dua raksasa konstruksi energi dunia, yaitu KBR asal Amerika Serikat dan Samsung E&A asal Korea Selatan.
Tugas utama dari konsorsium ini adalah merancang cetak biru teknis detail untuk kilang gas berkapasitas 9,5 juta ton LNG per tahun, sekaligus mengintegrasikan sistem teknologi penangkapan emisi karbon (Carbon Capture and Storage).
Saham PGAS
Berikutnya ada PGAS yang akan mendapat keuntungan di sisi hilir.
PGAS menjadi salah satu emiten yang telah resmi menandatangani kesepakatan awal (Heads of Agreement) dengan INPEX untuk langsung menyerap aliran gas domestik begitu kilang beroperasi
Selain PGAS, yang dapat kesepakatan juga ada PLN dan Pupuk Indonesia, tetapi dua emiten BUMN itu belum ada sahamnya di bursa.
Adapun, keuntungan terbesar PGAS dari kesepatan itu adalah kepastian pasokan energi untuk jangka panjang.
Beberapa tahun terakhir, PGAS menghadapi tantangan berat berupa penurunan volume niaga akibat seretnya pasokan gas dari ladang-ladang tua di Sumatra Selatan dan Jawa Timur.
Cadangan gas raksasa dari Lapangan Abadi Blok Masela akan menjadi penyelamat pasokan untuk menjaga keberlangsungan distribusi gas PGAS ke ratusan ribu pelanggan industri, komersial, hingga rumah tangga.
Selain tiga emiten di atas yang mendapat dampak langsung, ada juga beberapa emiten lain yang berpotensi ikut kecipratan berkah atau memperoleh momentum positif dari proyek ini ke depannya.

Saham ELSA
Sebagai anak usaha Pertamina (yang memiliki 20 persen saham Blok Masela), ELSA berpeluang besar mendapatkan kontrak jasa hulu migas, mulai dari survei seismik lanjutan, pemeliharaan sumur, hingga pengelolaan logistik pelabuhan terintegrasi.
Saham GTSI
Blok Masela ditargetkan memproduksi 9,5 juta ton LNG per tahun. Sebagai emiten spesialis pengangkutan LNG, GTSI diunggulkan untuk memenangkan kontrak sewa kapal tanker LNG jangka panjang (Time Charter)
Menyadari potensi lonjakan pasar gas nasional dan mulainya konstruksi Masela, GTSI secara agresif melakukan penambahan armada kapal pengangkut LNG. Dampak finansial riil akan tercermin pada pendapatan berulang (recurring income) GTSI saat kilang mulai memasuki fase produksi dan pengapalan komersial. Namun, belum ada informasi detail kalau GTSI nantinya akan mendapatkan kontrak pengiriman LNG dari Masela.
Saham BNBR
Keputusan membangun kilang di darat (onshore) membutuhkan pipa baja masif berspesifikasi tinggi untuk mengalirkan gas dari sumur bawah laut terdalam (400–800 meter) ke daratan Kepulauan Tanimbar.
Melalui anak usahanya, PT Bakrie Pipe Industries (BPI), BNBR mengincar tender pengadaan pipa baja khusus hulu migas.
Jika memenangkan tender, BNBR akan mendapatkan lonjakan omset (top-line) yang signifikan pada pilar bisnis manufaktur bajanya selama masa konstruksi jalur pipa berlangsung.
Saham TPIA
Pemerintah mengalokasikan pasokan gas Blok Masela sebesar 150 MMSCFD untuk pasar domestik, dengan prioritas utama industri hilir dan petrokimia. TPIA, sebagai penguasa industri petrokimia nasional, berpotensi mengamankan kontrak pasokan gas tersebut sebagai bahan baku utama (feedstock) pabrik mereka dengan harga kompetitif secara jangka panjang.
Pasokan gas masif dari Masela menjamin ketahanan operasional dan efisiensi margin keuntungan bagi pabrik-pabrik pengolahan polimer dan kimia turunan milik TPIA.
Saham RAJA
Emiten infrastruktur gas, RAJA memiliik pengalaman dalam membangun serta mengoperasikan pipa transmisi gas bumi. RAJA berpotensi bekerja sama atau ikut berinvestasi dalam penyediaan pipa distribusi gas darat di sekitar wilayah komersial Maluku.
Saham SMDR dan HATM
Dua emiten pelayaran ini berpeluang diuntungkan selama masa konstruksi kilang, di mana akan ada mobilisasi material berat dan peralatan konstruksi secara masif ke Kepulauan Tanimbar.
Emiten jasa maritim ini berpotensi mencatatkan kenaikan volume sewa kapal kargo/tongkang logistik non-gas. Namun, sifatnya masih spekulasi, belum ada informasi resmi kalau saham-saham tersebut akan mendapatkan kontrak dari proyek tersebut.
Gimana, menurut kalian emiten mana yang paling potensial dilirik dari mega proyek Masela ini?
Mau Dapat Insight Saham Apapun yang Kamu Tanya untuk Membantu Conviction hingga Action Mulai dari Rp50 ribu per Bulan?
Dapatkan semua benefit Mikirsaham.com, join sekarang dan dapatkan deretan benefit yang membantumu investasi di saham seperti:
- Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
- Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
- Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
- Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US
- Diskusi lebih nyaman di member area tanpa ada distraksi
- Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
- Hingga konsultasi private dengan founder kami
Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini
Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini
