Saham PTBA hingga BSSR Rilis Lapkeu Kuartal II/2026, Begini Gambaran Prospek Saham Batu Bara di Akhir 2026

Lima emiten batu bara sudah menerbitkan kinerja keuangan paruh pertama tahun ini. Semua punya cerita berbeda, tapi katalis kenaikan harga batu bara tahun ini jadi booster laba mereka. Kira-kira siapa yang paling menarik?

Share
saham batu bara

Mikirduit -  Saham batu bara sempat mendapatkan angin segar setelah beberapa emiten yang terkena pemangkasan produksi bisa revisi target lebih tinggi di paruh kedua. Apalagi, harga batu bara dunia juga malah naik ke 141 dolar AS per saham. Dengan melihat kinerja beberapa saham batu bara yang sudah rilis seperti PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) hingga PT Baramulti Suksessaran Tbk. (BSSR), bagaimana prospek saham batu bara? 

Secara industri, sektor batu bara tahun ini sebenarnya terbantu dari kenaikan harga komoditasnya yang terbang 30 persenan dalam setahun. Namun, produksi menghadapi tantangan RKAB, meski begitu ada harapan dari revisi yang kabarnya sudah banyak dapat persetujuan akan mendorong pemulihan di paruh kedua tahun ini. 

Adapun, soal kinerja pada paruh pertama, kami melihat efeknya beda-beda untuk tiap emiten. Ada yang ketiban cuan dengan pertumbuhan ratusan persen, ada yang tumbuhnya moderat, ada juga yang justru anjlok dalam karena persoalan yang lebih kompleks. 

Sumber: Trading Economics

Mari kita ulas satu per satu secara lebih detail:

Saham PTBA 

Pertama, ada PTBA yang mencetak kinerja paling kuat di semester I/2026. Pendapatannya tumbuh 8 persen secara tahunan (YoY) menjadi Rp22 triliun, yang menarik laba bersih melonjak 218 persen YoY menjadi Rp2,6 triliun.

Kalau dilihat lebih dalam, PTBA masih sangat bergantung pada bisnis batu bara. Sekitar 98,4 persen pendapatan atau Rp21,67 triliun berasal dari penjualan batu bara. Sisanya Rp355,5 miliar berasal dari bisnis lain seperti listrik, briket, minyak sawit, jasa kesehatan, dan sewa. 

Dari sisi pelanggan, PLN masih menjadi kontributor terbesar dengan pendapatan sekitar Rp6,8 triliun atau 31 persen dari total pendapatan. Sementara itu, transaksi dengan seluruh pihak berelasi mencapai sekitar Rp9,4 triliun atau 43 persen dari pendapatan konsolidasian.

Kenaikan laba yang jauh lebih besar dari pertumbuhan pendapatan terutama karena PTBA berhasil menekan biaya. 

Beban pokok pendapatan turun menjadi Rp17,78 triliun dari Rp18,2 triliun. Biaya jasa penambangan turun dari Rp6,19 triliun menjadi Rp5,73 triliun, sedangkan jasa angkutan batu bara turun dari Rp4,6 triliun menjadi Rp3,9 triliun. Meski begitu, biaya bahan bakar dan pelumas justru naik dari Rp1,9 triliun menjadi Rp2,28 triliun.

Dari sisi operasional, volume produksi semester I/2026 memang turun 10 persen menjadi 19,4 juta ton, sementara penjualan turun 2 persen menjadi 21,1 juta ton.

Namun, penurunan volume ini berhasil tertutup oleh kenaikan harga jual rata-rata batu bara yang naik sekitar 10 persen secara tahunan.

Sementara itu, kalau menilik kinerja kuartal II/2026 sendiri, ternyata juga kuat hasilnya. Pendapatan tumbuh 22 persen secara kuartalan (QoQ( jadi Rp21 triliun. Laba bersih juga melonjak 130 persen QoQ menjadi sekitar Rp1,84 triliun.

Pemulihan juga terlihat dari operasionalnya. Produksi pada kuartal II/2026 naik 94 persen QoQ menjadi 12,8 juta ton, sementara volume penjualan naik 8 persen menjadi 10,9 juta ton. ASP juga ikut naik sekitar 14 persen QoQ, sehingga margin laba kotor meningkat menjadi 22,3 persen, dari 15,5 persen pada kuartal I/2026.

Menurut kami, produksi yang lebih kuat di kuartal II terjadi karena pada kuartal pertama, perusahaan dihadapkan ketidakpastian jatah RKAB yang membuat operasional jadi tertunda.

Dalam radar kami, PTBA sebenarnya masuk sebagai emiten diuntungkan dari RKAB karena mendapat tambahan jatah produksi sekitar 5 persen tahun ini. Jadi, dari sisi volume produksi harusnya masih cukup terjaga sampai akhir tahun. 

Yang paling menentukan kinerja PTBA ke depan tetap di harga batu bara, sementara dari sisi biaya perlu diperhatikan kenaikan harga bahan bakar yang bisa kembali menekan biaya produksi.

Saham AADI 

Berikutnya ada PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI). Laba bersih semester I/2026 tercatat mencapai sekitar US$474 juta, naik 10 persen YoY, dengan pendapatan tumbuh 6,1 persen menjadi sekitar US$2,5 miliar. 

Secara khusus, kinerja pada kuartal II/2026 menunjukkan perbaikan yang lebih kuat dengan laba bersih mencapai US$ 330 juta, melesat 42 persen YoY 

Namun, kinerja kuartal II/2026 menunjukkan perbaikan yang lebih kuat, dengan laba bersih mencapai US$330 juta, naik 42 persen YoY.

Kenaikan laba pada kuartal kedua terutama ditopang oleh harga jual dan volume penjualan batu bara yang meningkat. ASP batu bara naik menjadi US$75,6 per ton, tumbuh 15 persen secara kuartalan, sementara volume penjualan naik 22 persen menjadi 18,4 juta ton. 

Alhasil, laba kotor melonjak 51 persen secara tahunan dan 104 persen secara kuartalan menjadi US$525 juta, dengan margin laba kotor (GPM) naik menjadi 34,9 persen, dari 24,7 persen pada kuartal I/2026.

Efisiensi biaya juga ikut membantu. Cash cost turun 2 persen secara kuartalan menjadi US$41,2 per ton, seiring stripping ratio yang turun menjadi 3,8 kali, dari 4,2 kali pada kuartal I/2026.

Saham KOTA Mau Right Issue Hampir Rp5 triliun untuk Beli Dua Perusahaan Terkait Tahir, Begini Prospeknya
Saham KOTA ngegas 20 persen lebih di tengah rencana rights issue Rp4,4 triliun untuk beli land bank. Kira-kira gimana prospeknya?

Secara bisnis, pertambangan batu bara masih menjadi kontributor terbesar dengan pendapatan sekitar US$2,38 miliar, tumbuh 3,8 persen. 

Namun, bisnis logistik tumbuh lebih cepat, yakni 20,2 persen. AADI juga mulai mendapat kontribusi dari bisnis penyewaan aset pembangkit listrik dan jasa penunjangnya, dengan pendapatan perdana US$44,21 juta. 

Segmen ini bahkan membukukan laba sekitar US$22,6 juta, berbalik dari rugi US$1,1 juta. Bisnis tersebut dijalankan melalui PT Kaltara Power Indonesia dan mendapat transaksi dari PT Kalimantan Aluminium Industry untuk mendukung smelter aluminium PT Alam Tri Minerals Tbk. ( ADMR)

Di luar kinerja operasional, AADI juga masih memiliki potensi tambahan laba dari rencana divestasi Kestrel kepada Yancoal Australia Ltd. Transaksi ini belum tercatat dalam laporan semester I/2026 karena masih dalam proses. 

Dengan kepemilikan AADI sebesar 47,9 persen, nilai transaksi berpotensi memberikan keuntungan sekitar US$121 juta–US$152 juta, tergantung perhitungan nilai tercatat dan realisasi transaksi.

Jika divestasi tersebut selesai pada semester II/2026, tambahan keuntungan ini berpotensi membuat laba AADI 2026 berada di kisaran US$1,06 miliar–US$1,09 miliar, berdasarkan annualisasi laba semester I/2026 sebesar sekitar US$947,5 juta.

Dengan asumsi payout ratio 60 persen seperti tahun buku 2025 dan kurs Rp17.757 per dolar AS, dividen AADI berpotensi sekitar Rp1.215 per saham.

Menurut kami, momentum pertumbuhan laba yang positif sangat mungkin dipertahankan sampai akhir tahun selama harga batu bara masih di level tinggi, ditambah dari produksi AADI relatif aman karena tidak adanya pemangkasan jatah dalam RKAB. 

Namun, tetap perlu ada risiko dari sisi logistik, seiring dengan adanya kebakaran hutan dan El-Nino di Kalimantan membuat debit sungai menurun, hal ini dikhawatirkan bisa menghambat distribusi dan volume penjualan dalam jangka pendek. 

Saham ITMG 

Selanjutnya ada PT Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITMG). Setelah rilis kinerja keuangan, emiten ini juga mendapat kabar baik dari tambahan kuota produksi batu bara setelah revisi RKAB. 

Kinerjanya sepanjang semester I/2026 juga cukup solid, dengan laba bersih mencapai sekitar US$110 juta, naik 17 persen YoY, sementara pendapatan tumbuh 9 persen menjadi US$1 miliar dari US$919 juta pada periode yang sama tahun lalu. Laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sendiri mencapai US$106 juta.

Kenaikan pendapatan terutama ditopang oleh volume penjualan dan harga jual yang sama-sama naik. Volume penjualan meningkat 5 persen menjadi 12,3 juta ton, sementara ASP naik 4 persen menjadi US$81 per ton, sejalan dengan penguatan harga acuan batu bara. Alhasil, laba kotor ikut naik 14 persen menjadi US$256 juta, dengan margin laba kotor meningkat dari 24,5 persen menjadi 25,6 persen.

Dari sisi produksi, ITMG mencatat produksi sebesar 9,9 juta ton sepanjang semester I/2026. Produksi pada kuartal II/2026 mencapai 5,3 juta ton, naik 13 persen secara kuartalan dari sekitar 4,6 juta ton pada kuartal I/2026.

Namun, kenaikan produksi juga dibarengi dengan biaya yang lebih tinggi. Cost of revenue naik 7 persen menjadi US$744 juta, terutama karena biaya penambangan dan transportasi yang meningkat seiring stripping ratio naik menjadi 10,3 kali, dari 9,3 kali. Harga bahan bakar yang ikut naik juga menjadi tambahan tekanan biaya.

Target Jumbo Kapasitas PLTS, Berikut Saham-saham yang Bisa Dilirik
Saham PLTS punya momentum dari rencana ekspansi jumbo pemerintah meningkatkan daya dari pembangkit listrik matahari. Apakah bisa terealisasi? simak saham yang menarik dipantau di sini

Kalau dilihat dari pasarnya, pendapatan ITMG masih banyak dari ekspor. China dan Jepang menjadi dua pasar terbesar dengan kontribusi masing-masing sekitar US$271 juta dan US$269 juta. Penjualan ke Filipina juga tumbuh cukup tinggi, yakni 137 persen menjadi US$104 juta, sementara Thailand melonjak 287 persen menjadi US$42 juta. Di pasar domestik, ITMG mencatat pendapatan sekitar US$175 juta.

Dari sisi keuangan, posisi ITMG juga cukup kuat. ITMG memiliki kas dan setara kas US$738 juta serta deposito jangka pendek US$66 juta. Dengan total aset sekitar US$2,4 miliar, kas dan deposito tersebut setara sekitar 33 persen dari aset perusahaan. Sementara itu, pinjaman bank jangka panjang hanya sekitar US$14 juta, sehingga posisi neracanya masih sangat sehat dengan kondisi net cash.

Yang cukup menarik, ITMG baru saja mendapat persetujuan revisi RKAB 2026, sehingga kuota produksi tahun ini menjadi sekitar 23 juta ton. Dengan realisasi produksi semester I/2026 sebesar 9,9 juta ton, masih ada ruang produksi sekitar 13,1 juta ton pada semester II/2026. Artinya, secara teori ITMG perlu memproduksi sekitar 6,55 juta ton per kuartal pada paruh kedua tahun ini, lebih tinggi dari rata-rata produksi pada dua kuartal pertama.

Kalau kuota tersebut bisa dimanfaatkan dengan baik, volume penjualan dan pendapatan ITMG di semester II/2026 berpeluang ikut terdorong. 

Dengan tambahan volume tersebut, laba bersih 2026 diperkirakan bisa berada di kisaran US$230 juta–US$250 juta. Jika menggunakan asumsi payout ratio 70 persen, kurs Rp17.757 per dolar AS, dan jumlah saham 1,13 miliar lembar, dividen berpotensi berada di kisaran Rp2.530–Rp2.750 per saham.

Namun, yang perlu diperhatikan adalah eksekusi produksi. ITMG hanya punya sekitar empat bulan tersisa untuk mengejar tambahan volume tersebut, sementara kenaikan stripping ratio, biaya bahan bakar, dan potensi gangguan logistik akibat kekeringan atau El Nino bisa menjadi tantangan di semester II/2026.

Kami juga mengantisipasi risiko ketidakpastian regulasi pajak pada 2027 karena windfall tax dan bea keluar hanya ditunda tahun ini, tahun depan bisa saja dikaji lagi. 

Saham BSSR 

Berikutnya ada BSSR. Kinerjanya sepanjang semester I/2026 juga cukup positif. Laba bersih mencapai sekitar US$63 juta atau Rp1,1 triliun, naik 27 persen secara tahunan, sejalan dengan pendapatan yang tumbuh 11 persen menjadi US$361,1 juta dari US$324,5 juta pada periode yang sama tahun lalu.

Kinerja BSSR masih banyak ditopang bisnis batu bara, terutama pasar ekspor. Dari pendapatan tersebut, BSSR juga membayar royalti kepada pemerintah sekitar US$40 juta, terdiri dari US$30,2 juta dari anak usaha PT Antang Gunung Meratus (AGM) dan US$9,8 juta dari tambang BSSR.

Dari sisi neraca, posisi kas dan setara kas BSSR pada akhir semester I/2026 mencapai sekitar Rp1,88 triliun. Dengan utang yang relatif rendah, posisi kas ini memberikan ruang yang cukup untuk kebutuhan operasional maupun pembagian dividen. Namun, jumlah kas juga perlu dilihat bersama pembayaran dividen tahun sebelumnya dan kebutuhan modal kerja perusahaan.

Kalau melihat operasionalnya, BSSR punya dua sumber produksi utama, yaitu tambang BSSR di Kalimantan Timur dan tambang AGM di Kalimantan Selatan. AGM menjadi penyumbang volume yang lebih besar dan berkontribusi sekitar 75 persen dari total royalti.

💡
Mau dapat stockpick dari AI untuk saham AS dan Indonesia, kamu bisa klaim diskon spesial untuk Investing Pro, Langsung langganan di sini sekarang!

Namun, kedua tambang sama-sama cukup bergantung pada jalur pengangkutan menggunakan tongkang melalui sungai, sehingga kondisi debit air menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan, terutama saat musim kemarau atau El Nino.

Selain faktor logistik, karakter batu bara BSSR yang berada di kisaran 3.800–4.200 kcal/kg GAR juga membuat kinerja cukup sensitif terhadap harga batu bara kalori rendah serta biaya freight dan hauling. Di sisi lain, operasional AGM juga masih menghadapi potensi kendala dari jalur hauling dan fasilitas pelabuhan perantara.

Dari sisi produksi, BSSR juga perlu memperhatikan kuota RKAB 2026. Alokasi awal produksi tahun ini berada di kisaran 11–12 juta ton, lebih rendah dibandingkan produksi pada tahun-tahun sebelumnya yang sempat mencapai 17–18 juta ton.

Sejauh ini kami belum dapat update revisi RKAB untuk BSSR, artinya, kalau tidak ada tambahan kuota, ruang BSSR untuk meningkatkan produksi pada semester II/2026 menjadi lebih terbatas.

Meski begitu, BSSR tetap menarik untuk diperhatikan dari sisi dividen. Dengan asumsi laba 2026 berada di kisaran US$115–125 juta dan payout ratio 85 persen, dividen berpotensi mencapai sekitar US$97,7–106,3 juta. Dengan kurs Rp17.757 per dolar AS dan 2,616 miliar saham beredar, potensi dividen kumulatifnya berada di kisaran Rp660–720 per saham. 

Jadi, selain kinerja laba yang masih tumbuh, posisi kas yang cukup kuat dan karakter BSSR sebagai emiten dengan pembagian dividen tinggi menjadi daya tarik utamanya, meski kuota RKAB dan risiko logistik sungai tetap perlu dicermati.

Saham UNTR 

Berikutnya ada PT United Tractor Tbk. (UNTR) yang kinerja-nya justru lagi loyo, tetapi persoalan-nya cukup kompleks karena bisnisnya terdiversifikasi. 

Pada paruh pertama tahun ini, pendapatan turun 15 persen menjadi Rp58,3 triliun dari Rp68,5 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Laba bersih bahkan anjlok 88 persen menjadi sekitar Rp956 miliar, dari Rp8,1 triliun pada semester I/2025.

Namun, penurunan laba ini perlu dilihat lebih dalam karena ada beban satu kali yang cukup besar. 

Sepanjang semester I/2026, UNTR mencatat non-recurring items sekitar Rp3,3 triliun, utamanya dari penurunan nilai investasi di bisnis panas bumi serta pembayaran terkait kegiatan sebelumnya di kawasan hutan pada tambang nikel Stargate.

Bisnis panas bumi menjadi salah satu yang cukup menarik perhatian. UNTR mencatat impairment atas Supreme Geothermal Energy, sehingga bisnis ini memberikan tekanan cukup besar ke laba tahun ini. Jadi, penurunan laba 88 persen tidak sepenuhnya menggambarkan kondisi operasional inti UNTR. 

Kalau non-recurring items dikeluarkan, laba bersih UNTR masih berada di sekitar Rp4,3 triliun, atau turun 48 persen secara tahunan. Artinya, bisnis inti memang sedang melemah, tetapi penurunannya tidak sedalam angka laba bersih yang terlihat di laporan.

Di luar faktor tersebut, tekanan juga datang dari bisnis utama UNTR. Penjualan alat berat Komatsu turun karena pelanggan tambang menahan pembelian akibat alokasi RKAB batu bara yang lebih rendah. 

Kondisi yang sama ikut menekan bisnis kontraktor tambang PAMA karena ketika produksi pelanggan turun, kebutuhan jasa penambangan juga ikut berkurang.

Bisnis emas juga menjadi salah satu penyebab penurunan kinerja. Tambang Emas Martabe sempat menghentikan operasionalnya, sehingga penjualan emas UNTR turun cukup tajam. Tambang tersebut baru kembali beroperasi pada periode kuartal II/2026, sehingga kontribusinya sepanjang semester I masih belum maksimal.

Dari sisi neraca, posisi UNTR juga berubah cukup signifikan. Per akhir Juni 2026, UNTR sudah berada dalam posisi net debt sekitar Rp9,4 triliun, berbalik dari net cash Rp7,7 triliun pada akhir 2025. Perubahan ini terutama mencerminkan akuisisi perusahaan tambang emas dan program buyback saham.

Adapun, update terbaru dari operasional UNTR yang sudah rilis sampai Juli 2026. Terpantau sudah mulai ada pemulihan.

welthverse

Penjualan alat berat Komatsu pada Juli mencapai 399 unit, naik 31 persen secara bulanan, sementara volume overburden naik 12 persen menjadi 90,9 juta bcm. 

Namun, secara kumulatif tujuh bulan, penjualan Komatsu masih turun 23 persen menjadi 2.393 unit, sedangkan volume overburden turun 10 persen menjadi 572,5 juta bcm.

Penjualan batu bara selama tujuh bulan juga masih turun 16 persen menjadi 8 juta ton, sementara penjualan emas baru mencapai 32 ribu ons, turun 78 persen secara tahunan karena Martabe baru kembali beroperasi pada pertengahan Mei.

Di sisi lain, penjualan nikel mencapai 973 ribu wmt, turun 25 persen tetapi sudah setara 81 persen dari target 2026.

Jadi, cerita UNTR tahun ini sebenarnya cukup kompleks. Bisnis inti memang sedang tertekan karena RKAB yang lebih rendah dan gangguan di tambang emas, sementara laba juga terkena beban satu kali yang cukup besar dari impairment bisnis panas bumi dan persoalan kawasan hutan. 

Setelah Martabe kembali beroperasi dan aktivitas operasional mulai meningkat pada Juli, semester II akan menjadi periode penting untuk melihat apakah pemulihan tersebut bisa benar-benar mengangkat kinerja UNTR.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, PTBA, AADI, ITMG, dan BSSR masih menunjukkan kinerja yang cukup solid di semester I/2026, dengan harga batu bara menjadi salah satu penopang utama. 

Sementara UNTR jadi yang paling loyo karena persoalan lebih kompleks dari bisnis yang terdiversifikasi, tetapi peluang pemulihan akan terbuka pada paruh kedua tahun ini. 

Menurut kami, kinerja sektor batu bara (kecuali UNTR) akan bergantung pada momentum harga komoditas yang masih tinggi.

Jika bertahan sampai akhir tahun, pertumbuhan laba harusnya masih akan terjaga bagi mayoritas emiten. Sementara untuk produksi tahun ini, harusnya kekhawatiran sudah mereda karena revisi RKAB sudah banyak yang dapat persetujuan. 

Namun, PR dalam jangka pendek adalah efisiensi waktu untuk mengoptimalkan produksi. Pasalnya, hanya tersisa kurang dari 4 bulan sampai akhir tahun.

Berikutnya pada tahun depan, kami juga masih memantau soal regulasi pajak. Tahun ini memang masih bernapas lega karena windfall tax dan bea keluar ditunda, tetapi tahun depan bisa saja beda cerita. 

Sejauh ini, menurut kami untuk pemain yang fokus jualan domestik seperti PTBA dan AADI harusnya akan relatif aman, tetapi untuk ITMG dan BSSR yang punya eksposur jualan ekspor besar potensi akan kena dampak. 

Meski begitu, dua emiten itu masih punya neraca kuat untuk bertahan dari ketidakpastian. Kami juga masih melihat ini bisa jadi peluang untuk dividend play. 

Menurut kalian, dari lima emiten jadinya siapa yang paling menarik?

Apa yang Kamu Dapatkan Jika Join Mikirsaham?

  • Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
  • Tools Trading Plan by Sistem (minimal join Mikirsaham Super dan masih tahap Beta)
  • Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
  • Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
  • Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US
  • Diskusi lebih nyaman di member area tanpa ada distraksi
  • Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
  • Hingga konsultasi private dengan founder kami

Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini

Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini

Investasi Crypto di PINTU sekarang