Saham PGAS Diputus Bayar Rp2 triliun ke Gunvor, Begini Prospek Sahamnya

PGAS menghadapi tantangan setelah diresmikan kalah gugatan arbitrase oleh Gunvor Singapore. Kerugian ditaksir mencapai Rp2,3 triliun yang setara setengah kali laba-nya dalam setahun. Kira-kira gimana nasibnya? apakah masih menarik sahamnya? 

Share
saham PGAS

Mikirduit - Ada kabar kurang sedap untuk PT Pertamina Gas Negara Tbk. (PGAS). Berdasarkan keterbukaan informasi yang dirilis BEI, manajemen PGAS menyatakan telah menerima Putusan Arbitrase No. 246358 terkait gugatan yang diajukan oleh Gunvor Singapore Pte. Ltd. (Gunvor) melalui The London Court of International Arbitration (LCIA).

Key Takeaways

  • PGAS kalah dalam putusan arbitrase parsial melawan Gunvor, dengan nilai tuntutan sekitar US$130,41 juta atau ±Rp2,28 triliun. Namun, kewajiban final belum otomatis dibayar karena PGAS masih menelaah putusan, menyiapkan langkah hukum lanjutan, dan proses eksekusi tetap harus melalui pengadilan di Indonesia.
  • Dampak ke laba berpotensi material, tetapi sebagian sudah diantisipasi lewat provisi. PGAS telah membentuk provisi sengketa LNG sebesar US$72,02 juta atau sekitar Rp1,2 triliun, sehingga jika kewajiban akhirnya mendekati tuntutan Gunvor, masih ada potensi selisih sekitar US$58 juta yang perlu ditanggung.
  • Di luar sengketa, fundamental PGAS masih punya sejumlah katalis, mulai dari pemulihan volume perdagangan gas, ekspansi pipa, peluang perbaikan margin dari evaluasi HGBT, pengembangan bisnis LNG, hingga prospek jangka panjang dari Blok Masela. Secara teknikal, saham masih konsolidasi dengan support 1.475 dan 1.365, sementara perubahan tren naik membutuhkan breakout di atas 1.550.
  • Mikirduit Masterclass 2026, Wealthverse: Dapatkan bocoran aset paling menarik untuk 2026-2027. Early Bird cuma Rp250.000 (Tersisa hanya untuk 14 pendaftar lagi) dengan klik link di sini

Putusan tersebut dikeluarkan pada 26 Agustus 2026 dan untuk saat ini masih bersifat parsial. Dalam putusan tersebut, PGAS dinyatakan harus membayar kompensasi kepada Gunvor terkait sengketa yang terjadi.

Selama proses arbitrase, Gunvor menuntut kompensasi sekitar 130,41 juta dolar AS, atau setara dengan kurang lebih Rp2,28 triliun. Sementara itu, audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI sebelumnya mengestimasi potensi risiko finansial maksimal dari perkara ini bisa mencapai 376 juta dolar AS.

Meski begitu, PGAS belum serta-merta harus membayar kompensasi tersebut sekarang. Manajemen masih melakukan penelaahan menyeluruh terhadap putusan, termasuk menghitung dampaknya terhadap kondisi keuangan Perseroan.

Selain itu, putusan arbitrase tersebut masih membutuhkan proses eksekusi melalui pengadilan negeri di Indonesia sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. Manajemen PGAS juga menyatakan akan mengambil langkah-langkah hukum lanjutan yang dinilai perlu dan tepat.

Sebagai gambaran skalanya, nilai tuntutan 130,41 juta dolar AS setara dengan lebih dari dua kali laba bersih PGAS dalam satu kuartal, jika menggunakan rata-rata laba sekitar Rp1 triliun per kuartal. Artinya, perkara ini memang cukup material dan layak diperhatikan investor.

saham PGAS

Kronologis Kasus PGAS x Gunvor

Sengketa hukum antara PGAS dan Gunvor bermula dari kesepakatan jual beli LNG yang diteken kedua pihak pada 2022. Dalam kesepakatan tersebut, PGAS berkomitmen memasok 8 kargo LNG per tahun kepada Gunvor untuk periode 1 Januari 2024 hingga 31 Desember 2027.

Namun, ketika periode pengiriman mulai berjalan, PGAS menghadapi kendala dalam proses pengalihan atau novasi portofolio LNG dari induk usahanya, PT Pertamina (Persero). Kondisi tersebut membuat PGAS tidak dapat memenuhi pengiriman LNG sesuai kesepakatan.

PGAS kemudian menyampaikan klaim force majeure kepada Gunvor. Namun, Gunvor menolak alasan tersebut. Perselisihan yang tidak menemukan titik temu ini akhirnya berlanjut ke arbitrase internasional.

Berikut kronologinya:

23 Juni 2022 — PGAS dan Gunvor Meneken Kesepakatan

Awal sengketa ini bermula ketika PGAS dan Gunvor resmi menandatangani Master LNG Sales and Purchase Agreement (MSPA) serta Confirmation Notice (CN).

Melalui kesepakatan tersebut, PGAS berkomitmen memasok 8 kargo LNG setiap tahun kepada Gunvor. Kontrak berlaku untuk periode 1 Januari 2024 hingga 31 Desember 2027.

LNG untuk memenuhi komitmen tersebut rencananya menggunakan portofolio yang berasal dari induk usaha PGAS, PT Pertamina (Persero).

3 November 2023 — PGAS Ajukan Force Majeure

Masalah mulai mencuat menjelang dimulainya periode pengiriman. Pada 3 November 2023, PGAS menyampaikan notifikasi force majeure atau keadaan kahar kepada Gunvor.

Klaim tersebut berkaitan dengan terhambatnya proses pengalihan atau novasi portofolio LNG dari Pertamina kepada PGAS sebagai subholding gas. Kendala ini akhirnya membuat PGAS tidak dapat melaksanakan pengiriman kargo LNG sesuai kontrak.

Namun, Gunvor tidak menerima alasan force majeure yang diajukan PGAS. Perbedaan pandangan mengenai kewajiban pengiriman tersebut kemudian berkembang menjadi perselisihan antara kedua pihak.

September 2024 — Gunvor Membawa Perkara ke Arbitrase

Setelah tidak menemukan penyelesaian secara bisnis, Gunvor akhirnya membawa perselisihan tersebut ke jalur hukum.

Pada September 2024, Gunvor resmi mendaftarkan gugatan terhadap PGAS melalui The London Court of International Arbitration (LCIA) dengan nomor perkara 246358.

Untuk menghadapi perkara tersebut, PGAS menunjuk firma hukum global Mayer Brown sebagai konsultan hukum.

Januari 2025–Juni 2026 — Proses Arbitrase Berjalan

Perkara kemudian memasuki proses pemeriksaan di LCIA. Tribunal arbitrase dibentuk pada awal 2025, sebelum proses berlanjut ke pemeriksaan materi gugatan, pembuktian, hingga pembahasan mengenai nilai kerugian yang diklaim Gunvor.

Dalam proses arbitrase tersebut, Gunvor menuntut kompensasi sekitar US$130,41 juta, atau setara dengan kurang lebih Rp2,28 triliun.

Sementara itu, berdasarkan hasil audit BPK RI, potensi risiko finansial yang berkaitan dengan perkara tersebut sebelumnya diperkirakan dapat mencapai maksimal sekitar US$376 juta. Perlu dicatat, angka US$376 juta merupakan estimasi potensi risiko, bukan nilai kompensasi yang otomatis harus dibayarkan PGAS.

26 Agustus 2026 — Tribunal Mengeluarkan Putusan Parsial

Setelah proses arbitrase berlangsung, tribunal akhirnya mengeluarkan Putusan Arbitrase No. 246358 pada 26 Agustus 2026.

Dalam putusan yang masih bersifat parsial tersebut, PGAS dinyatakan harus membayar kompensasi kepada Gunvor terkait sengketa yang terjadi.

Namun, prosesnya belum selesai. PGAS masih melakukan penelaahan menyeluruh terhadap putusan tersebut, termasuk mencermati implikasinya terhadap Perseroan. Manajemen juga menyatakan akan mengambil langkah-langkah hukum lanjutan yang dianggap perlu dan tepat.

Dampak Terhadap Fundamental PGAS dari Kejadian Ini

Secara umum, jika PGAS harus membayar sekitar Rp2 triliun, berarti ada potensi pos beban kalah gugatan senilai tertulis yang menjadi beban ke laba bersih perseroan. Di sisi lain, PGAS sudah mengantisipasi sebagian risiko tersebut sejak jauh hari. Berdasarkan Laporan Keuangan Desember 2025, PGAS telah membentuk provisi sengketa LNG sebesar US$72,02 juta, atau sekitar Rp1,2 triliun.

Sederhananya, provisi ini merupakan pencadangan yang sudah disiapkan perusahaan untuk mengantisipasi potensi kewajiban dari sengketa tersebut. Jadi, jika nantinya ada pembayaran setelah putusan dieksekusi, sebagian dampaknya terhadap laba sudah tercermin melalui pencadangan ini.

Namun, apakah provisi tersebut cukup?

Ini yang masih perlu dicermati. Nilai provisi US$72,02 juta masih lebih rendah dibandingkan tuntutan Gunvor sebesar US$130,41 juta. Artinya, jika pada akhirnya kewajiban PGAS mendekati nilai tuntutan tersebut, masih ada potensi selisih yang perlu ditanggung Perseroan.

Drama Investasi Felda di Saham BWPT, Bisa Imbas ke Saham Peter Sondakh Lainnya?
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim sampai minta bantuan Presiden Indonesia Prabowo Subianto untuk menyelesaikan sengketa antara Felda dengan Grup Rajawali. Apakah bisa terdampak ke saham-saham Grup Rajawali lainnya?

Di sisi lain, putusan arbitrase dari London juga tidak otomatis bisa langsung dieksekusi di Indonesia. Gunvor masih harus melalui proses pendaftaran dan eksekusi melalui pengadilan negeri di Indonesia sesuai dengan aturan yang berlaku. Artinya, masih ada tahapan hukum yang harus dilalui sebelum kewajiban tersebut benar-benar dieksekusi di Indonesia.

Yang juga menarik, di luar persoalan kompensasi atas kargo LNG yang gagal dikirim, kontrak utama pasokan LNG antara PGAS dan Gunvor masih tetap berlaku hingga akhir 2027. Artinya, sengketa kompensasi ini tidak serta-merta menghapus kewajiban PGAS dalam kontrak jangka panjang tersebut.

Jadi, untuk investor, ada dua hal utama yang perlu dicermati. Pertama, berapa besar kewajiban yang pada akhirnya harus dibayar PGAS setelah seluruh proses hukum selesai. Kedua, apakah provisi US$72,02 juta yang sudah dibentuk cukup untuk menutup dampaknya terhadap laba Perseroan.

Untuk saat ini, jawabannya masih menunggu proses lanjutan dari putusan arbitrase tersebut.

Ngopdar Online Agustus 2026: Proxy Saham Terkait Data Center AI
Saham data center mulai booming di tengah kekhawatiran belanja modal yang signifikan. Lalu, apa saja saham-saham terkait data center di Indonesia?

Prospek Bisnis PGAS di Tengah Sengketa Gunvor

Di luar persoalan hukum dengan Gunvor, prospek bisnis PGAS sebenarnya masih cukup menarik. 

Dalam dua tahun terakhir, kinerja operasional PGAS mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan, terutama dari sisi volume penyaluran gas. Beberapa analis juga memperkirakan laba bersih PGAS tahun ini masih bisa tumbuh 15 persen setahun (YoY) menjadi 247 juta dolar AS dari 215 juta dolar AS pada 2025 

Volume perdagangan gas PGAS sendiri mulai kembali meningkat setelah sebelumnya sempat tertekan akibat tingginya biaya pembelian gas. 

Pada kuartal II/2026, volume perdagangan gas tercatat mencapai sekitar 865 BBTUD. Sejalan dengan pemulihan tersebut, pendapatan PGAS diproyeksikan berada di kisaran 3,83 miliar dolar AS - 4,19 miliar dolar AS.

Pertumbuhan PGAS juga tidak hanya mengandalkan bisnis jual beli gas. Perseroan melalui subholding gas masih terus memperluas infrastruktur, salah satunya lewat penyelesaian Pipa Dumai–Sei Mangke dan Pipa Tegal–Cilacap. Ekspansi ini diharapkan bisa membuka akses PGAS ke pasar domestik baru, terutama kawasan industri di Sumatra dan Jawa bagian selatan.

💡
Mau dapat stockpick dari AI untuk saham AS dan Indonesia, kamu bisa klaim diskon spesial untuk Investing Pro, Langsung langganan di sini sekarang!

Dari sisi margin, kebijakan pemerintah terkait Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) juga menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan. Wacana evaluasi atau pengurangan jumlah industri yang mendapatkan harga gas khusus potensi jadi katalis positif bagi PGAS. Pasalnya, jika beban harga jual gas bersubsidi bisa lebih terkendali, margin bisnis PGAS berpeluang kembali membaik.

Di saat yang sama, PGAS juga terus mengembangkan bisnis beyond pipeline, terutama melalui infrastruktur LNG seperti FSRU Lampung dan Terminal Arun. 

Pengembangan ini membuat sumber pertumbuhan PGAS tidak hanya bergantung pada jaringan pipa, tetapi juga semakin terdiversifikasi ke bisnis LNG. Langkah tersebut sekaligus memperkuat posisi PGAS dalam pengembangan infrastruktur gas dan transisi energi di Indonesia.

Lalu, bagaimana dengan Blok Masela?

Salah satu katalis yang menarik untuk PGAS dalam jangka panjang adalah keterlibatannya dalam proyek raksasa Blok Masela. 

Namun, perlu dipahami bahwa posisi PGAS di proyek ini berada di sisi hilir, bukan sebagai perusahaan yang mengembangkan blok migas tersebut. PGAS berperan sebagai calon pembeli utama (offtaker) gas domestik melalui kesepakatan prinsip atau Head of Agreement (HoA) yang telah disepakati.

Dampak Blok Masela terhadap PGAS pun bisa dilihat dari dua sisi. Dalam jangka pendek, yang lebih penting justru bukan tambahan pendapatan, melainkan kepastian komersial. Jika konsorsium pengembang Masela, termasuk INPEX, Pertamina, dan Petronas, berhasil merampungkan Final Investment Decision (FID) serta memperoleh kejelasan mengenai harga jual gas, pasar bisa mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengenai potensi margin PGAS dari pasokan gas Masela.

Karena itu, perkembangan menuju FID dan kesepakatan harga gas menjadi sentimen yang patut diperhatikan hingga akhir tahun. Semakin jelas struktur komersialnya, semakin mudah bagi investor untuk menghitung potensi kontribusi Masela terhadap bisnis PGAS ke depan.

Sementara itu, dampak operasional yang benar-benar terasa masih berada dalam jangka panjang, yakni ketika proyek Masela mulai masuk tahap produksi. Jika berjalan sesuai rencana, pasokan gas dalam skala besar dari Masela nantinya dapat memperkuat ketersediaan gas domestik dan disalurkan melalui infrastruktur PGAS untuk memenuhi kebutuhan industri maupun pembangkit listrik.

Artinya, Masela bukan katalis yang langsung membuat laba PGAS melonjak dalam waktu dekat. Namun, proyek ini bisa menjadi salah satu sumber kepastian pasokan gas dalam jangka panjang, sekaligus membuka peluang pertumbuhan volume distribusi PGAS ketika produksi sudah berjalan.

Kesimpulan

Meski sengketa Gunvor menjadi sentimen negatif yang perlu diperhitungkan, cerita bisnis PGAS sebenarnya belum habis. Pemulihan volume gas, ekspansi infrastruktur, potensi perbaikan margin dari kebijakan HGBT, pengembangan bisnis LNG, hingga prospek pasokan dari Blok Masela masih menjadi sejumlah katalis yang bisa menopang kinerja Perseroan ke depan.

Buat investor, tantangannya sekarang adalah melihat dua cerita ini secara bersamaan yaitu seberapa besar dampak sengketa Gunvor terhadap laba dalam jangka pendek, dan seberapa kuat katalis bisnis PGAS mampu menopang pertumbuhan dalam jangka panjang.

Secara teknikal, saham PGAS ini masih di fase konsolidasi dengan dua support yang menjadi sideways ini di 1475 dan 1365. Untuk mengubah tren menjadi naik, PGAS butuh breakout dari resistance di 1550.

Momen cicil beli masih menarik diperhatikan di saham PGAS ini dari level saat ini sampai support 1365, atau bisa menunggu pembalikan arah tren ketika bisa breakout resistance. Namun, perlu diantisipasi jika harga terjun dari support tersebut bisa kembali menuju tren turun lagi. 

teknikal saham PGAS

Gimana, menurut kalian saat ini peluang akumulasi atau masih wait and see dulu?

Apa yang Kamu Dapatkan Jika Join Mikirsaham?

  • Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
  • Tools Trading Plan by Sistem (minimal join Mikirsaham Super dan masih tahap Beta)
  • Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
  • Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
  • Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US
  • Diskusi lebih nyaman di member area tanpa ada distraksi
  • Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
  • Hingga konsultasi private dengan founder kami

Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini

Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini

 

Investasi Crypto di PINTU sekarang