Angin Segar Saham Batu Bara dan Nikel di Paruh Kedua, Pajak Baru Ditunda hingga Tambahan RKAB
Kabar baik datang untuk sektor batu bara dan nikel. Pemerintah memastikan windfall tax dan bea keluar ditunda tahun ini, revisi RKAB juga sudah mulai selesai. Kira-kira gimana prospeknya ke depan? saham apa saja yang menarik dilirik?
Mikirduit - Sektor batu bara dan nikel tampaknya mulai bisa bernapas lega. Ada tiga kabar baik dari pemerintah, mulai dari penundaan penerapan windfall tax dan bea keluar pada 2026 hingga revisi RKAB yang hampir selesai. Gimana detailnya? mari kita ulas satu-satu.
Key Takeaways
- Sektor batu bara dan nikel dapat napas lega pada 2026 karena pemerintah menunda bea keluar dan windfall tax, sehingga tekanan biaya tambahan berkurang, meski risikonya masih terbuka untuk 2027.
- Katalis terbesar berikutnya ada di revisi RKAB 2026, karena tambahan kuota produksi bisa membantu emiten yang sebelumnya terkena pemangkasan besar, terutama di batu bara dan nikel.
- Harga komoditas masih cukup menopang profitabilitas, tetapi tantangan utama emiten bukan lagi harga, melainkan volume produksi, kepastian kuota, dan kemampuan menjaga biaya serta ekspansi tetap sehat.
- Mikirduit Masterclass 2026, Wealthverse: Dapatkan bocoran aset paling menarik untuk 2026-2027. Early Bird cuma Rp250.000 (Tersisa hanya untuk 14 pendaftar lagi) dengan klik link di sini
Kabar Baik Sektor Batu Bara dan Nikel
Pemerintah memastikan tidak akan menerapkan bea keluar maupun windfall tax untuk batubara dan nikel pada 2026.
Sebelumnya, kedua kebijakan tersebut sempat dipertimbangkan sebagai cara untuk menambah penerimaan negara ketika harga komoditas sedang tinggi. Hal tersebut sempat membuat pemain tambang di Indonesia khawatir bisa menekan beban pajak makin berlapis.
Saat ini dengan penundaan itu, pemain tambang batu bara dan nikel bisa sejenak bernapas lega, karena tidak perlu menghadapi tambahan beban pajak. Harusnya, biaya bisa lebih terjaga.
Namun, untuk 2027 pemerintah masih belum menentukan kebijakannya. Artinya, peluang penerapan bea keluar atau windfall tax tahun depan masih terbuka dan kemungkinan akan dibahas dalam proses penyusunan RAPBN 2027.
Di sisi lain, pemerintah masih punya peluang mendapatkan tambahan penerimaan dari kenaikan produksi batubara melalui revisi RKAB 2026. Jika harga batubara tetap tinggi dan volume produksi meningkat, penerimaan negara juga berpotensi ikut bertambah.
Sementara itu, dalam RAPBN 2027, pemerintah menargetkan penerimaan dari bea keluar sebesar Rp26,83 triliun, dengan CPO masih menjadi salah satu kontributor utamanya.
Revisi RKAB Sudah Capai Tahap Persetujuan
Melansir Bloomberg Technoz, revisi RKAB 2026 saat ini sudah mulai memasuki tahap persetujuan. Kementerian ESDM menyebut sekitar belasan perusahaan batu bara dan belasan perusahaan nikel telah mendapatkan persetujuan revisi RKAB.
Meski begitu, pemerintah belum mengungkapkan berapa besar tambahan kuota produksi yang diberikan kepada perusahaan-perusahaan tersebut.
Sebagai catatan, dalam pengumuman resmi pemerintah terakhir kali menyebutkan memangkas target produksi batu bara tahun ini menjadi sekitar 600 juta ton, jauh di bawah realisasi 2025 yang mencapai 817,48 juta ton.
Sementara untuk nikel, jatah RKAB tahun ini diperkirakan mencapai 260 juta hingga 270 juta ton bijih nikel, yang juga merosot tajam dari kuota tahun lalu sebesar 379 juta ton. Penurunan alokasi kuota yang signifikan di kedua sektor ini sempat memicu kekhawatiran terjadinya pengetatan pasokan di pasar domestik maupun global.

Jika nantinya ada penambahan kuota dari target yang ditetapkani itu, sembari menunggu hasil revisi RKAB 2026 yang sudah diajukan Juli lalu potensi bisa membuka ruang bagi tambahan volume produksi di sisa tahun ini.
Di tengah proses tersebut, Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) berharap proses RKAB 2027 bisa dilakukan dengan lebih terencana, karena akan ada catatan tambahan terkait kepatuhan perpajakan dan pengajuan akan dimulai Oktober mendatang.
Menurut APBI, kepastian dan kecepatan proses persetujuan penting agar perusahaan memiliki cukup waktu untuk menyusun rencana produksi, kontrak penjualan, kebutuhan tenaga kerja, alat berat, hingga logistik.
APBI juga menilai bukan hanya waktu persetujuan yang perlu diperbaiki, tetapi mekanisme dan parameter evaluasi RKAB juga perlu dibuat lebih jelas. Dengan begitu, perusahaan bisa lebih mudah menyesuaikan rencana operasionalnya dan mengurangi ketidakpastian dalam menjalankan produksi.

Update Harga Batu Bara dan Nikel
Beralih ke harga komoditas, harga batu bara acuan ICE Newcastle masih bertahan di atas 130 dolar AS per ton hingga perdagangan Rabu (26/8/2026), sekaligus berada di level tertinggi dalam tiga minggu.
Kenaikan ini didukung permintaan energi Asia yang masih kuat dan risiko pasokan yang belum mereda. Dari China, sinyal stimulus untuk mendorong ekonomi dan investasi infrastruktur juga bisa ikut menopang konsumsi listrik dan batu bara.
Sementara itu, gelombang panas di Jepang membuat kebutuhan listrik untuk pendingin ruangan meningkat, sehingga berpotensi mendorong penggunaan pembangkit listrik berbahan bakar batu bara.

Sementara itu, harga nikel berada di sekitar 17.000 dolar AS per ton, mulai pulih dari level terendah dalam lebih dari satu bulan. Pergerakan ini ditopang oleh ekspektasi pasokan nikel Indonesia yang lebih ketat.
Pemerintah memang masih membuka peluang tambahan kuota produksi secara selektif, terutama untuk smelter yang kekurangan bahan baku. Kalau tambahan kuota diberikan, pasokan bijih nikel bisa kembali bertambah dan berpotensi membatasi kenaikan harga.
Di sisi lain, persediaan nikel di LME dan China masih cukup tinggi, sehingga pasokan nikel olahan di pasar juga masih melimpah dan menjadi salah satu tekanan bagi harga.
Ke depan, Indonesia juga berencana meluncurkan bursa komoditas dan mineral strategis pada Januari 2027, yang kemungkinan mencakup nikel. Langkah ini diharapkan bisa membuat Indonesia punya pengaruh lebih besar dalam pembentukan harga komoditas di pasar domestik.

Menurut kami, di level harga saat ini, batu bara dan nikel di Indonesia masih berada dalam kondisi yang relatif aman bagi perusahaan untuk mencetak cuan, karena harga jual komoditas masih berada di atas cash cost yang dikeluarkan untuk produksinya.
Menariknya, untuk pemain tambang batu bara dan nikel di Indonesia punya cash cost paling murah dibandingkan rata-rata pemain global lainnya.
Dengan kondisi tersebut, profitabilitas dan daya saing perusahaan tambang harusnya masih cukup terjaga, dengan asumsi tidak mempertimbangkan pengeluaran lain, karena banyak juga perusahaan yang punya agenda ekspansi dengan akuisisi jor-joran.

Apa Kabar Pemain Batu bara dan Nikel di RI?
Menurut kami, dari sisi harga tidak begitu ada masalah, tetapi volume produksi yang dibatasi masih jadi tantangan. Tantangan utama bagi emiten saat ini justru ada di volume produksi yang dibatasi melalui RKAB.
Kabar baiknya, proses revisi RKAB 2026 sudah mulai memasuki tahap persetujuan. Namun, pemerintah masih belum membuka secara detail berapa tambahan kuota produksi yang diberikan. Artinya, katalis berikutnya bagi emiten tambang adalah seberapa besar tambahan kuota produksi yang akhirnya mereka dapatkan.
Pada April lalu, kami sempat mengulas emiten yang masuk daftar pantauan kami mengalami pemangkasan cukup signifikan.
Dari sektor batu bara, KKGI kemungkinan besar masuk ke mode survival mode pada tahun ini. Pasalnya, waktu itu sempat mengumumkan produksi yang disetujui Kementerian ESDM hanya sekitar setengah porsi atau sekitar 2, 24 juta metrik ton (MT) dari target yang diajukan 4 juta MT.

Padahal pada 2025, dengan volume produksi di atas 5 juta MT, KKGI masih melempem kinerja keuangannya, pendapatan turun 53 persen secara tahunan (YoY) dan laba bersih anjlok 94,9 persen YoY.
Harapan saat ini adalah mengoptimalkan tambahan kuota dari revisi RKAB, serta melakukan efisiensi biaya.
Harapan itu juga berlaku sama untuk beberapa perusahaan yang menurut berbagai laporan disebutkan mengalami pemangkasan signifikan, seperti ITMG, BYAN, BSSR, dan GEMS. Meskipun, dari catatan kami belum menemukan berapa kuota yang mereka dapatkan tahun ini.
Sementara itu perusahaan batu bara yang masih di zona aman, menurut penelusuran kami ada AADI, BUMI, dan INDY mereka punya izin IUPK dan kontribusi untuk kebutuhan domestik signifikan.
Di sisi lain, emiten batu bara pelat merah, PTBA jadi yang relatif diuntungkan, karena justru dapat tambahan kuota 5 persen, yang dilaporkan perusahaan pada April 2026 lalu.

Beralih ke pemain nikel, kami menemukan data untuk empat emiten, ada yang berada di zona aman dan ada yang masuk mode survival.
Pemain swasta PT Weda Bay Nickel dan DKFT menjadi pihak yang paling terdampak akibat pemangkasan kuota awal yang drastis, sehingga terpaksa mengajukan revisi tambahan di paruh kedua demi mengamankan pasokan smelter mereka.
Sementara itu, INCO berada di posisi aman karena alokasi kuotanya dikunci secara terukur hanya untuk memenuhi kebutuhan hilirisasi internal perusahaan.
Sebaliknya, ANTM justru dapat keuntungan setelah berhasil menyelesaikan evaluasi administratif dengan mencatatkan kenaikan kuota dasar nikel sebesar 12,3 persen menjadi 18,1 juta wet MT.

Gimana, menurut kalian untuk revisi RKAB 2026 ini akan menjadi juru selamat atau justru masih menjadi tantangan sektor batu bara dan nikel?
Apa yang Kamu Dapatkan Jika Join Mikirsaham?
- Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
- Tools Trading Plan by Sistem (minimal join Mikirsaham Super dan masih tahap Beta)
- Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
- Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
- Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US
- Diskusi lebih nyaman di member area tanpa ada distraksi
- Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
- Hingga konsultasi private dengan founder kami
Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini
Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini

