Hal yang Bisa Dilakukan Holder GOTO Jelang 31 Agustus 2026 hingga Potensi Batas harga Gocap Dicabut
Saham GOTO jadi perhatian setelah didepak dari MSCI Global Standard, pasalnya harganya di gocap sudah tiga bulan lebih. Lantas, bagaimana investor bisa keluar?
Mikirduit - MSCI mendepak saham GOTO dari konstituen global standar dengan alasan tidak likuid, apalagi harganya sudah di level gocap sejak 5 Mei 2026 sampai saat ini. Finalnya, di 31 Agustus 2026, seharusnya passive fund keluar dari GOTO karena saham itu sudah didepak, tapi dia kadung di gocap, jadi bagaimana nasibnya ya?
Key Takeaways
- GOTO didepak dari MSCI Global Standard dan passive fund berpotensi keluar efektif 31 Agustus 2026, tetapi transaksi justru ramai di pasar negosiasi, bahkan Morgan Stanley menambah kepemilikan hingga menembus 5 persen.
- Fundamental GOTO mulai membaik dengan laba bersih Rp608 miliar di Semester I/2026, tetapi pemangkasan komisi ojol menekan prospek sehingga guidance Adjusted EBITDA 2026 diturunkan menjadi Rp1,4–1,5 triliun.
- Rencana BEI membuka batas bawah harga dari Rp50 berpotensi membuat GOTO menemukan harga keseimbangan baru di bawah gocap, sehingga holder perlu mewaspadai panic selling, sementara investor baru bisa mempertimbangkan akumulasi bertahap setelah volatilitas mulai mereda.
- Mikirduit Masterclass 2026, Wealthverse: Dapatkan bocoran aset paling menarik untuk 2026-2027. Early Bird cuma Rp250.000 (Tersisa hanya untuk 14 pendaftar lagi) dengan klik link di sini
Harga Rp50 di pasar reguler itu sudah mentok batas bawah. Saham jadi sulit untuk dijual, hal ini yang membuat MSCI bilang kalau ada isu likuiditas di saham GOTO. (IDX juga tengah mengkaji penghapusan batas bawah harga di pasar reguler ini, detail dampaknya kami tuliskan di part paling bawah)
Namun, menurut kami, saham GOTO bukan tidak likuid, hanya saja transaksinya pindah jalur ke pasar nego. Tidak ada harga yang membatasi di pasar nego, tidak ada antrian jual dan beli, hanya murni kesepakatan antara dua belah pihak.
Secara month to date (3–27 Agustus 2026), kami mencatat transaksi di pasar nego terbilang cukup ramai.

Salah satu yang paling mencolok saham GOTO sempat menempati posisi top stock di pasar nego dengan nilai transaksi mencapai Rp907,3 miliar pada 20 Agustus 2026. Menariknya, transaksi tersebut terjadi dengan rata-rata harga terendah selama periode pengamatan kami, yakni Rp21 per saham.
Di sisi lain, rata-rata harga tertinggi yang tercatat di pasar nego berada di level Rp43 per saham, terjadi pada 10 Agustus 2026. Namun, nilai transaksinya relatif lebih kecil, yakni sekitar Rp15,9 miliar.

Yang menarik lagi, di tengah kekhawatiran pasar akan risiko outflow asing di saham GOTO jelang efektif MSCI. Ada investor asing, yakni Morgan Stanley yang terpantau jutru membeli saham GOTO di pasar nego pada 21 Agustus 2026.
Transaksi dilakukan sebanyak dua kali. Pertama, Morgan Stanley membeli sebanyak 3.13 miliar lembar di harga Rp23 per saham, nilai transaksi mencapai Rp72,19 miliar. Kedua, transaksi dilakukan pada hari dan harga yang sama sebanyak 657,34 juta lembar. Sehingga totalnya jadi Rp87,3 miliar.
Setelah transaksi tersebut, kepemilikan Morgan Stanley meningkat dari 55,57 miliar saham (4,8267 persen) menjadi 59,37 miliar saham (5,1563 persen), sehingga porsinya resmi menembus level 5 persen di GOTO.


Satu hal menjadi pertanyaan lagi, di saat MSCI mengeluarkan kenapa Morgan Stanley malah beli?
Menurut kami, alasan jual MSCI lebih ke teknis. GOTO sudah tidak sesuai dengan aturan yang ditetapkan untuk masuk stock universe mereka lagi.
Sementara itu, berdasarkan laporan keterbukaan informasi BEI, tujuan Morgan Stanley beli saham GOTO hanya untuk investasi. Namun, jika kita menilik lebih jauh, sebenarnya fundamental GOTO perlahan kian membaik.
Jadi, di sini Morgan Stanley melihat beli saham GOTO lagi sebagai kesempatan "diskon besar" untuk meraup keuntungan jangka panjang.
Review Fundamental GOTO
GOTO mencatatkan laba bersih sebesar Rp608 miliar pada Semester I/2026, sebuah pencapaian historis yang berhasil membalikkan posisi rugi bersih sebesar Rp580 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Keberhasilan ini ditopang oleh pertumbuhan profitabilitas selama dua kuartal berturut-turut, yaitu laba bersih Rp258 miliar di Kuartal I/2026 dan Rp350 miliar di Kuartal II/2026.

Kinerja positif induk Gojek dan Tokopedia ini juga ditopang oleh pendapatan bersih yang meningkat 28 persen secara tahunan (yoy) dari Rp8,5 triliun menjadi Rp10,9 triliun pada semester I/2026.
Mayoritas pendapatan perusahaan ditopang oleh layanan jasa pengiriman sebesar Rp3,2 triliun, yang tumbuh 16,5 persen secara tahunan. Kontribusi lainnya berasal dari imbalan jasa Rp3,15 triliun, pendapatan pinjaman Rp2,71 triliun, e-commerce service fee dari PT Tokopedia Rp551 miliar, pendapatan iklan Rp254 miliar, serta pendapatan lain-lain Rp1,13 triliun.
Di sisi lain, pertumbuhan biaya dan beban usaha masih tetap terjaga, hanya meningkat 17 persen yoy menjadi Rp10,2 triliun.

Berlanjut ke paruh kedua tahun ini, langkah GOTO untuk mempertahankan profitabilitas malah menghadapi tantangan baru dari sisi regulasi.
Sejak 1 Juli 2026, GOTO mulai menurunkan komisi perjalanan bagi pengemudi ojek online (ojol) di Indonesia dari 20 persen menjadi 8 persen, mengikuti arah Pemerintah.
Fokus investor yang lebih forward looking, kini beralih mengantisipasi efek regulasi itu, yang dikhawatirkan mempengaruhi strategi monetisasi perusahaan. Dalam paparan presentasi terbaru, manajemen GOTO juga menyebut efek dari regulasi itu akan berpotensi menghilangkan prospek Adjusted EBITDA senilai Rp300 miliar pada semeter II/2026.
Oleh karena itu, guidance Adjusted EBITDA diturunkan dari Rp1,7 - Rp1,8 triliun menjadi Rp1,4 - Rp1,5 triliun pada tahun ini.

Berbalik soal peluang GOTO bangkit dari gocap, menurut kami, akan sangat bergantung pada kemampuan perusahaan mempertahankan tren laba positif. Jika pada kuartal III/2026 GOTO kembali mencatat laba dengan pertumbuhan yang lebih tinggi, peluang saham ini untuk “bangun tidur” dan melanjutkan pemulihan tentu semakin terbuka.
Katalis earning release membuat harga bangkit itu sudah pernah terbukti pada kuartal I/2026, ketika GOTO pertama kali mencetak laba sejak berdiri, harganya langsung melejit dari gocap, berselang dua mingguan harganya merangkak ke 71. Walaupun setelah itu harga terkonsolidasi dan terjun lagi ke gocap.

Jadi, bukan tidak mungkin harga akan bangkit lagi dari gocap. Selama kinerjanya terus membaik.
Namun, di sisi lain, ada faktor regulasi yang perlu diperhatikan. BEI saat ini tengah menggodok aturan terkait batas harga bawah saham di pasar reguler dan tunai, serta mekanisme FCA, yang berpotensi menurunkan batas bawah dari Rp50 menjadi Rp1 per saham.
Jika aturan tersebut nantinya disetujui, maka ceritanya bisa menjadi berbeda. Pergerakan GOTO tidak lagi semata-mata soal “bangkit dari gocap”, tetapi akan lebih ditentukan oleh mekanisme demand-supply di pasar. Apalagi, rata-rata harga transaksi GOTO di pasar reguler sendiri sudah berada di kisaran Rp20 per saham.

Rencana BEI Menghapus Batas Harga Rp50 per saham
Salah satu yang mengejutkan adalah rencana BEI untuk menghapus batas bawah harga pasar reguler yang saat ini senilai Rp50 per saham. Hal itu sontak mengagetkan para holder saham GOTO yang sudah terbenam di harga gocap dalam hampir 4 bulan terakhir.
Kabarnya, BEI berencana menerapkan kebijakan itu di 7 September 2026. Hal itu membuat transaksi saham GOTO di pasar nego pun meningkat. Lalu, jika kebijakan itu diterapkan, apakah harga sham GOTO bakal turun ke Rp21 (harga terendah dari transaksi nego) atau hingga Rp2 per saham yang dikhawatirkan banyak orang?

Sebenarnya, kami menilai penghapusan batas bawah Rp50 itu memiliki dua sisi mata uang.
Dari segi positif: dengan begitu saham GOTO yang mentok di Rp50 sehingga dinilai tidak likuid itu bisa mulai bergerak. Meski risiko turun ke bawah Rp50 menjadi sangat besar. Tapi dari situ, GOTO akan membentuk posisi harga baru yang seimbang tanpa terbatas di harga Rp50 per saham.
Dari segi negatif: investor saham yang hold dengan harga rata-rata tinggi akan menghadapi risiko penurunan harga yang signifikan sehingga tingkat kerugiannya bisa meningkat.
Di luar dari dua sisi tersebut, pembukaan batas harga Rp50 ini bisa menjadi peluang untuk mengangkut saham murah dalam fase transisinya. Bahkan, nantinya setelah pembentukan harga baru selesai, saham-saham gocap itu bisa mencatatkan volatilitas yang menarik. Rata-rata saham yang berada di bawah Rp50 per saham bisa mencatatkan kenaikan harga yang signifikan jika momentumnya juga pas.
Jadi, hal yang harus dilakukan bagi investor saham dengan rencana pembatasan penghapusan tersebut antara lain:
- Jika masih punya barang di harga tinggi, jangan buru-buru antri jual secepatnya saat aturan berlaku. Alasannya, saat itu terjadi panic selling yang membuat harga turun. Sehingga jika kita ikut panik jual bisa menjual di harga rendah. Tunggu sampai kepanikan mereda dan evaluasi prospek emiten terkait dari fundamental hingga teknikal untuk bisa jual di harga yang lebih baik. Selama, bisnis emitennya tidak berisiko kena PKPU hingga pailit harusnya aman.
- Jika belum punya barang bisa beli saat peak panik selling secara bertahap, serta mulai cicil ketika kepanikan mereda.
Nah, kalau kamu termasuk yang punya GOTO? mana jalan yang akan kamu pilih?
Apa yang Kamu Dapatkan Jika Join Mikirsaham?
- Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
- Tools Trading Plan by Sistem (minimal join Mikirsaham Super dan masih tahap Beta)
- Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
- Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
- Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US
- Diskusi lebih nyaman di member area tanpa ada distraksi
- Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
- Hingga konsultasi private dengan founder kami
Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini
Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini

