Saham Keluar-Masuk FTSE, Sejauh Mana Harganya Meroket?

Saham grup Bakrie lagi kompak menguat pas banget dengan momen FTSE umumin rebalancing dan ada 4 saham Bakrie di sana. Kira-kira bakal menguat sejauh apa ya?

Saham Keluar-Masuk FTSE, Sejauh Mana Harganya Meroket?

Mikirduit – Ada 18 saham Indonesia yang masuk ke indeks global FTSE. Lalu, ada sekitar 14 saham yang didepak dari indeks tersebut. Lalu, apa efek keluar-masuk indeks FTSE kepada harga saham?

FTSE global index adalah salah satu indeks saham asal Inggris yang mengumpulkan saham-saham di seluruh dunia dengan menggunakan perhitungan khusus dan direbalancing sebanyak 2 kali dalam setahun, yakni di Februari-Maret dan Agustus-September.

Lalu, apa efeknya ke harga saham? sebenarnya efek rebalancing indeks ini hampir sama seperti ada di MSCI maupun LQ45 dan IDX30, yakni saham-saham yang masuk indeks tersebut dalam jangka pendek berpotensi mencatatkan kenaikan permintaan beli yang tinggi dari manajer investasi pasif. Begitu juga yang keluar, bakal mencatatkan kenaikan permintaan jual yang tinggi.

Hasilnya, ada peluang harga saham juga ikut menguat dengan catatan tidak ada sentimen lain yang berlawan sehingga permintaan dan penawaran seimbang (menjadi sideways) atau malah berlawanan dengan sentimen rebalancing.

💡
Rebalancing Indeks FTSE Global (efektif 15 September 2023): Large Market Cap-> in: -, out: - | Mid Market Cap -> in:, - out: MNCN, MSIN | Small Market Cap -> in: BUKA, BUMI, BRMS, MAPA, MNCN, PGEO out: HEAL, KRAS | Micro Market Cap -> in: ASSA, TUGU, BJTM, DEWA, ENRG, HRTA, HILL, IPCC, KRAS, CARS, CUAN, STAA out: ACST, ADMF, BMSR, AUTO, HOKI, KINO, KBLI, META, NIKL, PTRO, INAF, SHIP.

Alasan Perubahan Peserta Indeks Saham Bisa Bikin Permintaan Beli dan Jual Meningkat

Jika melihat dari kinerja saham yang masuk FTSE pada periode Agustus-September 2023 ini. Dari total 18 saham, ada 14 saham yang menguat, 2 koreksi, 1 sideways, dan 1 lagi disuspensi. Artinya, bisa disimpulkan saham yang diundang masuk ke indeks jadi menguat.

Di sisi lain, saham yang dikeluarkan dari FTSE mayoritas merah. Dari total 14 saham, 9 saham koreksi, 3 saham menguat, dan 1 saham sideways.

Kenapa bisa begitu?

BACA JUGA: Efek Saham Keluar Masuk MSCI

Jadi, semua itu dipengaruhi oleh reksa dana indeks dan exchange traded fund (ETF) di mana skema produk ini adalah investasi pasif, artinya produk reksa dana dibuat hanya mengikuti saham-saham di indeks yang diacunya. Misalnya, ada produk reksa dana I-ETF FTSE Indonesia Low Volatility Factor Index milik manajer investasi Insight.

Nah, mayoritas reksa dana di sana adalah saham-saham Indonesia yang menjadi bagian dari indeks FTSE. Ketika Index FTSE melakukan refinancing, berarti mereka juga harus menyesuaikan, beli saham yang masuk, dan jual saham yang keluar dari indeks tersebut.

Bayangkan, produk reksa dana FTSE ini nggak cuma ada di Indonesia, tapi juga di seluruh dunia. Sehingga ketika ada rebalancing seperti ini efeknya lumayan memberikan kenaikan permintaan beli maupun jual.

Namun, euforia kenaikan atau penurunan harga saham saat pengumuman hingga periode efektif rebalancing hanya berlangsung sementara. Saat terjadi kenaikan dan penurunan akibat rebalancing itu, ada juga trader-trader yang mencari peluang cuan dari sana.

Hasilnya, ketika sudah melewati periode efektif indeks setelah rebalancing, harga saham bergerak sebaliknya. Saham yang masuk ke indeks berpotensi mengalami koreksi, sedangkan saham yang keluar malah berpotensi naik.

Kenapa? karena banyak yang melakukan aksi ambil untung setelah melewati periode efektif. Lalu, saham-saham yang keluar dari indeks malah dianggap potensial karena sudah murah.

Misalnya, ketika awal 2023, PT Cisaura Montain Dairy Tbk. (CMRY) menjadi salah satu saham Indonesia yang masuk ke mid cap FTSE. Setelah pengumuman sebulan sebelumnya alias pada Januari 2023, harga saham CMRY naik 18 persen dalam sebulan.

Namun, setelah tanggal efektif, harga saham CMRY malah koreksi 13,79 persen atau mendekati level sebelum pengumuman masuk rebalancing indeks tersebut.

BACA JUGA: Efek Saham Keluar Masuk LQ45

Begitu juga ketia PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) didepak dari FTSE pada Agustus 2022. Harga sahamnya langsung koreksi 8,55 persen sampai periode efektif. Namun, setelah periode efektif pada 15 September 2023, harga sahamnya kembali naik.

Di luar itu, ada juga anomali seperti saham PT Surya Semesta Internusa Tbk. (SSIA) yang didepak dari FTSE pada awal 2023. Saat itu, saham SSIA memang lagi uptrend, kami lupa apa penyebabnya, kalau tidak salah terkait bisnis kawasan industri di Subang. Bahkan, pengumuman SSIA didepak dari FTSE tidak mempengaruhi pergerakan harga sahamnya. Meski, berefek membuat koreksi saat jelang periode efektif.

Jadi, Sejauh Apa Harga Saham Bakrie yang Masuk FTSE Bisa Terbang?

Holder atau yang sempat beli saham Bakrie seperti BUMI, BRMS, ENERG, dan DEWA pasti lagi senyum-senyum. Soalnya, saham Bakrie yang masuk FTSE ini kompak naik di atas 5 persen, hanya ENRG yang naik cuma 4,35 persen.

Namun, kami menilai kenaikan harga saham Bakrie ini terlalu lebay, berarti ada potensi risiko penurunannya juga bakal dalam setelah periode efektif. Bahkan, mungkin kenaikan harga saham setelah hari ini hingga hari efektif tidak akan terlalu signifikan lagi.

Perhatian kami justru yang menarik di saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN). Jadi, saham ini lagi disuspensi, artinya akan ada delay permintaan beli dari para manajer investasi global jika suspensinya tidak dibuka hingga periode efektif nanti. Jadi kepikiran, jangan-jangan abis dibuka nanti bisa meroket harganya?

Tapi, itu hanya perkiraan spekulasi dengan risiko yang tinggi. Adapun, kalau mau masuk pun benar-benar pas pembukaan setelah suspensi CUAN dicabut. Soalnya kalau telat dikit makin mahal harga belinya.

Kalau kamu, ada trading saham yang baru masuk FTSE atau nunggu barang murah di saham yang keluar FTSE aja?