Saham dengan PER Ratusan Kali Lebih Cuan Daripada Blue Chip?

Saham dengan PER ratusan kali bisa lebih cuan daripada blue chip? begini perhitungannya sehingga aman untuk investasi dan trading.

Saham dengan PER Ratusan Kali Lebih Cuan Daripada Blue Chip?

Mikirduit – Saham dengan price to earning ratio (PER) ratusan kali ternyata lebih baik dibandingkan saham dengan PER kecil yang dianggap murah. Kalimat ini saya dapatkan dari pesan sebuah Whatsapp di kala market memang lagi berdarah-darah. Apakah artinya strategi beli saham murah sudah tidak ampuh digunakan untuk mencari cuan?

Jika merujuk pernyataan itu, memang benar, ada beberapa saham dengan PER ratusan kali yang mencatatkan kenaikan harga sangat tinggi dalam sebulan terakhir. 

Beberapa saham itu seperti, DOOH dengan PER 12 bulan terakhir 218 kali sudah naik 128 persen. Lalu, ada GULA dengan PER 183 kali sudah naik 70 persen, serta ada KING dengan PER 565 kali dengan kenaikan harga saham 36 persen. 

Sementara itu, saham dengan PER rendah seperti saham-saham batu bara yang skala kapitalisasi pasarnya lebih besar, SMDR, TKIM, INKP, malah mencatatkan koreksi dalam sebulan terakhir. Meski, untuk TKIM dan INKP sepanjang 2023 sudah naik sekitar 12 - 14 persen. 

💡
Saya screening cepat saja saham PER kecil ini. Belum berarti semuanya sudah murah ya.

Apakah ini berarti value investing sudah tidak berlaku?

Saya pernah mendengar kalimat value investing sudah mati ketika tren saham teknologi. Waktu itu, saham bank digital, seperti PT Bank Jago Tbk. (ARTO) menggeliat hingga di atas Rp18.000 per saham. Sampai-sampai disebut bisa menyalip PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA). 

Belum lagi, wacana IPO startup unicorn yang dibuka oleh PT Bukalapak Tbk. (BUKA) meski berakhir pahit. Namun, di sini sudah ada perdebatan jika nggak perlu lagi melihat valuasi, yang penting prospek. Dengan merujuk pasar saham teknologi Amerika Serikat (AS). 

Pertanyaannya, apakah value investing atau mencari saham bagus yang murah sudah benar-benar tidak ampuh lagi?

BACA JUGA: Deretan Saham Murah di Indonesia Versi Peter Lynch

Joel Greenblatt pernah menjelaskannya dalam kelas kuliahnya di Columbia University pada medio 2005, terkait kenapa value investing sudah terlihat tidak menarik. Dalam hal ini, Greenblatt merujuk ke salah satu metriks valuasi, yakni price to earning ratio. 

Menurutnya, metriks price to earning ratio masih relevan dalam mencari saham murah. Namun, untuk bisa menikmati keuntungan dari pembelian saham bagus yang mudah dengan metriks price to earning ratio memang tidak bisa terlihat dalam waktu cepat. 

Hal itulah yang membuat PE diabaikan [terutama di Amerika Serikat kala itu yang lagi booming saham teknologi, meski terjadi bubble dotcom pada 2000]. Penyebabnya, banyak investor saham yang tidak sabar menunggu untuk bisa menikmati cuan dengan strategi mencari saham murah dengan PE tersebut. 

Tingkat kesabaran menunggu ini bahkan terhitung dalam rentang pendek, yakni hanya setahun. Jika saham value investing yang dianggap murah itu belum naik tinggi selama setahun, berarti saham murah itu dianggap gagal. Atau banyak yang sebut value trap. 

Kalau begitu, dengan data saham PER tinggi kinerjanya lebih baik dibandingkan PER rendah, serta pernyataan Greenblatt ini menjadi bukti kalau cuan di pasar saham tidak perlu mencari saham murah? 

Memahami Penyebab Saham PER Ratusan Kali Bisa Berkinerja Lebih Baik

Ketika kalimat saham dengan PER ratusan kali bisa berkinerja lebih baik dibandingkan dengan saham murah, pas banget saya lagi baca-baca modul sertifikasi bidang keuangan. Jadi, dalam modul itu dijelaskan sebuah hal wajar jika saham PER ratusan kali bisa berkinerja lebih baik dibandingkan saham blue chip atau saham bagus yang lagi murah. Soalnya, saham itu termasuk jenis saham spekulatif. 

Jadi, jenis saham ini disebut memberikan peluang spekulatif untuk para investor. Biasanya, harga saham spekulatif ini naik jika ada momen yang dianggap tepat menjadi alasannya, salah satunya yang lagi ramai sekarang terkait laporan keuangan. 

Saham-saham jenis ini memang bisa memberikan tingkat keuntungan yang besar, ketika saham-saham bluechip lagi turun. Namun, risikonya, saham ini bisa memberikan hasil yang berlawanan alias turun cepat dalam periode singkat. Ya, sesuai hukum investasi, high risk, high return.

Lalu, apakah salah berinvestasi [trading] dalam jangka pendek di saham spekulatif ini? tentunya tidak. Alasannya, ya kalau ada peluang cuan kenapa tidak dimanfaatkan. Hanya yang WAJIB dipahami adalah, peluang saham-saham seperti ini cukup tinggi, begitu juga dengan risikonya. 

Salah satu saham spekulatif yang paling banyak menyedot perhatian mungkin ARTO. Saham bank digital yang diakuisisi oleh Gopay, anak usaha GOTO, itu awalnya adalah bank kecil di Bandung yang lagi kelilit kredit bermasalah. Sejak 2017, saya sudah ngobrol dengan Direktur Utamanya waktu itu, kalau mereka lagi mencari investor baru untuk mengembangkan bisnisnya. Semua itu pun terealisasi pada 2019. 

Di sini, sudah mencuat rumor kalau ARTO akan menjadi Bank Gojek, meski disulapnya menjadi Bank Jago. Apalagi yang akuisisi adalah kelompok Patrick Walujo yang merupakan investor dari Gojek [karena waktu itu belum merger dengan Tokopedia]. 

Harga saham ARTO pun melejit, semua euforia senang, yang beli di Rp1.000 sampai Rp5.000 per saham pastinya bisa menikmati cuan jika menjual di atas Rp10.000 per saham. Namun, yang hold dan yakin harga saham ARTO akan terus tumbuh mengalahkan BBCA mungkin tengah merana. Ya, itulah sebuah saham spekulasi berdasarkan rumor tanpa dasar fundamental yang kuat. Sampai, pada periode itu membandingkan jumlah ekosistem GOTO yang bisa dimanfaatkan ARTO dibandingkan dengan BBCA untuk memperkuat asumsi.

Saat ini, ada beberapa saham yang tengah naik daun seperti PANI, META, AMMN yang ketiganya ada afiliasi secara tidak langsung dan jauh banget, yakni terhubung oleh Grup Salim. Belum lagi emitennya Prajogo, seperti BREN dan CUAN yang terus mendaki naik.

Apakah itu semua saham spekulatif? wah kalau saya sebut saham spekulatif banyak yang ngamuk lagi nanti. Secara umum, semua saham itu punya cerita masing-masing. Seperti, PANI dianggap sebagai saham properti terbesar di Indonesia karena punya land bank yang luas hasil akuisisi entitas afiliasi milik Agung Sedayu Group.

BACA JUGA: Beli Saham PANI Nggak Nih? 

META juga dianggap potensial karena akan menggarap proyek tol elevated kedua di Jakarta yang total nilai proyeknya sekitar Rp21 triliun bersama ACST. AMMN pun dianggap akan punya kinerja yang bagus, meski kinerja kuartal II/2023-nya jeblok akibat ekspor bijih tembaganya ditangguhkan, dan kini sudah bisa ekspor lagi.

BACA JUGA: Penyebab Saham META Menguat 

BREN pun memiliki kisah sebagai perusahaan panas bumi terbesar di Indonesia, serta CUAN yang lagi rajin akuisisi, dari anak usaha INDY hingga rumor terdekat ada mau transaksi dengan salah satu emiten lagi. 

BACA JUGA: Perbandingan BREN vs PGEO

Namun, sekali lagi, itu semua hanya sekadar cerita pendukung untuk saham-saham tersebut naik. Kenapa? karena jika kembali melihat fundamental maupun prospek fundamentalnya, bisa berujung seperti ARTO. Kenapa? karena jika semua cerita itu ternyata tidak merepresentasikan ke kinerja keuangannya, saham itu berpotensi ditinggalkan. Bahkan, tanpa menunggu hasilnya direpresentasikan, saham itu akan ditinggalkan karena mencari saham berkualitas lain saat suku bunga sudah turun nanti. 

💡
Ada pepatah yang bilang, sesuatu yang terlalu cepat terbangnya, jatuhnya juga akan cepat.

Kok begitu? ya karena saham bagusnya sudah pada murah sehingga waktunya menuai cuan dari saham blue chip dan lainnya. 

Jadi, Apakah Berbahaya Investasi atau Trading di Saham Spekulatif

Jawabannya tentu saja tidak, asal kita paham risikonya. Saya sendiri beberapa kali masuk ke saham spekulatif. Misalnya, saat saham PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. (GIAA) ke Rp53 per saham. Saya borong dalam jumlah tidak terlalu banyak. Hasilnya, harga saham GIAA yang baru pulih naik lumayan cepat. Cerita kalau saham ini akan membawa jemaah haji lebih banyak 2 kali lipat dari tahun sebelumnya pun jadi pendorong. 

Sampai akhirnya cerita itu usai, saham GIAA mulai melandai, saya langsung jual di Rp89 per saham. Meski tidak dapat di harga tinggi sekitar Rp90-an per saham, yang penting cuan. Kenapa dijual? ya kalau tidak dijual nantinya bisa nyangkut lama banget, meski saya pegang di harga cukup bawah.

Tapi, GIAA sekarang di Rp91 per saham, nyesel nggak jual kecepatan? ya tidak juga karena kan sudah untung. 

Cerita lainnya sedikit berlawanan, saya coba spekulasi di saham FREN, alokasi modalnya tidak terlalu banyak juga. Waktu itu, saya beli FREN di Rp80-an per saham setelah turun dari level Rp100 per saham. Asumsinya, saham telekomunikasi ini kalau pun bangkrut bakal diakuisisi oleh saham lainnya, karena punya aset yang menarik untuk menambah pangsa pasar. 

Yaps, dalam beberapa bulan, harga saham FREN sempat balik lagi naik ke Rp100-an per saham. Namun, apa daya, saya terlalu maruk untuk berharap lebih. Apalagi, waktu itu ada isu Alibaba mau masuk. Namun, semua ambyar, sekarang saham FREN turun lagi di area Rp50-an per saham, serta mau ada rencana right issue jumbo. Nyesel nggak? ya mau nyesel juga ngapain, itu risiko masuk di saham spekulatif.

Kesimpulan

Kalau begitu, lebih baik beli saham spekulatif ya karena ada peluang cuan ratusan persen. Ya, silahkan tapi yang penting paham risikonya. 

Namun, kalau menurut saya, kita bisa membagi portofolio dengan investasi di saham bagus secara fundamental dan murah, serta bagi dividen. Lalu, dikombinasi dengan trading saham spekulatif tersebut. Porsinya, tentu harus lebih banyak di saham dividen long-term untuk masa depan yang lebih baik. Kalau saya sendiri tipenya agak konservatif, yakni 90 persen saham dividen, 10 persen saham spekulatif. 

Nggak saya peluang cuannya? 

kenapa merasa sayang dengan peluang cuannya jika kita bisa cuan dengan cara santai dengan saham dividen? 

Soalnya, kalau trading saham, termasuk ke saham spekulatif kita wajib pantau pergerakan harga setiap hari. Di mana, mungkin kita tidak punya cukup waktu. Soalnya, kalau lengah sedikit saja, bisa kehilangan momentum dan nyangkut. 

Untuk itu, saya sendiri tidak pernah melarang mau trading atau investasi, semuanya balik lagi sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Kalau saya sendiri lebih ke investasi karena merasa lebih santai dan bisa menikmati hobi serta mencari pendapatan aktif. 

Kalau kamu lebih suka yang mana?

Mau dapat guideline saham dividen 2024?

Pas banget, Mikirduit baru saja meluncurkan Zinebook #Mikirdividen yang berisi review 20 saham dividen yang cocok untuk investasi jangka panjang lama banget.

Kalau kamu beli #Mikirdividen edisi pertama ini, kamu bisa mendapatkan:

  • Update review laporan keuangan hingga full year 2023 dalam bentuk rilis Mikirdividen edisi per kuartalan
  • Perencanaan investasi untuk masuk ke saham dividen
  • Grup Whatsapp support untuk tanya jawab materi Mikirdividen
  • Siap mendapatkan dividen sebelum diumumkan (kami sudah buatkan estimasinya)

 Yuk langsung join Mikirdividen DISKON LANGSUNG Rp100.000 klik di sini ya

Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini