Rebalancing GDX dan GDXJ Sebentar Lagi, Saham Emas Mana Paling Potensial?
Rebalancing GDX dan GDXJ akan segera dilakukan pertengahan September ini. Ada beberapa saham emas RI yang potensial masuk dan keluar, siapa saja mereka?
Mikirduit – Saham emas lagi menunggu hasil dari rebalancing dua Exchange Trade Fund (ETF) yang mengacu ke saham emas, yakni VanEck, yaitu Global Gold Miners Index (GDX) dan Global Junior Gold Miners Index (GDXJ). Untuk periode September 2026, hasil evaluasi akan diumumkan pada 11 September, dan perubahan indeks akan mulai diimplementasikan pada 18 September 2026. Lantas, siapa yang berpotensi masuk, siapa yang terancam keluar, dan seberapa besar dana yang bisa mengalir ke saham-saham tersebut?
Keyt akeaways
- EMAS menjadi kandidat paling menarik dalam rebalancing September 2026 karena berpeluang naik dari GDXJ ke GDX dengan estimasi inflow sekitar US$115–119 juta atau setara 4,1–4,2 persen free float.
- PSAB menjadi saham yang paling berisiko karena harga Rp595 masih sekitar 7 persen di bawah estimasi level aman Rp640 untuk bertahan di GDXJ, sementara ARCI diperkirakan relatif aman.
- AMMN dan BRMS diperkirakan tetap bertahan di GDX, tetapi seluruh proyeksi flow dan komposisi masih dapat berubah hingga penentuan bobot 9 September dan pengumuman resmi 11 September 2026.
- Mikirduit Masterclass 2026, Wealthverse: Dapatkan bocoran aset paling menarik untuk 2026-2027. Early Bird cuma Rp250.000 (kuota terbatas, amankan seat-mu sekarang juga) dengan klik link di sini
Sebenarnya, Apa Itu GDX dan GDXJ?
Kalau masih asing dengan kedua nama ini, sederhananya GDX dan GDXJ adalah ETF yang memberikan eksposur ke saham-saham perusahaan tambang emas dan perak global.
GDX fokus pada perusahaan tambang emas dan perak yang berukuran besar dan relatif mapan. Sementara GDXJ lebih fokus pada perusahaan yang ukurannya kecil hingga menengah atau biasa disebut junior miners.
Nah, kenapa ini penting buat saham emas Indonesia?
Karena ETF seperti GDX dan GDXJ menggunakan indeks tersebut sebagai acuan dalam menentukan portofolionya. Ketika komposisi indeks berubah, fund yang mengikuti indeks perlu ikut menyesuaikan kepemilikannya.
Kalau sebuah saham masuk, ada potensi permintaan baru atau inflow. Sebaliknya, kalau saham keluar, ada potensi tekanan jual atau outflow.
Jadi, rebalancing bukan sekadar perubahan daftar saham. Ada potensi arus dana yang ikut bergerak di belakangnya.
Syarat Saham Emas Bisa Masuk GDX dan GDXJ
Sebelum bicara soal siapa yang berpeluang masuk, kita perlu tahu dulu bagaimana MarketVector memilih konstituennya.
Salah satu syarat paling dasar adalah seberapa besar eksposur perusahaan terhadap emas atau perak.
Untuk anggota baru, minimal 50 persen pendapatan atau sumber daya mineral harus berasal dari emas/perak. Sementara untuk perusahaan yang sudah menjadi anggota, kriterianya lebih longgar, yaitu minimal 25 persen.
Selain itu, ada beberapa persyaratan lain untuk kandidat baru:
- Free float di atas 10 persen
- Market cap di atas US$150 juta
- Rata-rata nilai transaksi harian 3 bulan atau ADTV di atas US$1 juta
Sementara untuk anggota lama:
- Free float minimal 5 persen
- Market cap minimal US$75 juta
- Minimal 25 persen pendapatan atau sumber daya mineral berasal dari emas/perak
Perbedaan aturan ini penting karena membuat saham yang sudah berada di dalam indeks memiliki “ruang bertahan” lebih besar dibandingkan saham yang baru ingin masuk.
Itu juga menjelaskan kenapa perusahaan yang bisnisnya tidak sepenuhnya emas, misalnya produsen dengan eksposur besar ke tembaga, masih bisa bertahan di indeks selama memenuhi kriteria untuk anggota lama.

Nah, GDX dan GDXJ Bedanya di Mana?
Meski sama-sama berisi saham perusahaan tambang emas dan perak, GDX dan GDXJ punya karakteristik serta aturan seleksi yang berbeda.
GDX, Fokus ke Saham Market Cap Jumbo
GDX ditujukan untuk perusahaan tambang emas dan perak yang relatif besar dan mapan. Indeks ini tidak menggunakan satu batas market cap yang tetap, melainkan menargetkan sekitar 90 persen dari total free-float market cap perusahaan yang memenuhi kriteria, dengan minimal 25 konstituen.
Artinya, batas ukuran perusahaan untuk masuk GDX bisa berubah mengikuti kondisi pasar dan ukuran perusahaan tambang global lainnya.
GDXJ, Fokus ke Saham Market Cap Small-Middle
Sementara itu, GDXJ dirancang untuk memberikan eksposur ke perusahaan tambang emas dan perak yang lebih kecil hingga menengah, termasuk perusahaan pada tahap eksplorasi dan pengembangan.
Karena itu, ukuran perusahaan yang dibutuhkan relatif lebih rendah. Untuk anggota baru, full market cap minimal sekitar US$50 juta untuk masuk ke universe, sementara proses seleksinya kemudian mempertimbangkan posisi perusahaan dalam kelompok kapitalisasi pasar yang memenuhi kriteria indeks.
Berbeda dengan GDX, GDXJ hanya melakukan reconstitution konstituen pada Maret dan September, meski penyesuaian bobot dilakukan setiap kuartal.

Proyeksi Saham Indonesia yang Masuk dan Keluar Indeks GDX dan GDXJ
Setelah memahami perbedaan GDX dan GDXJ serta kriteria seleksinya, kami menggunakan data harga penutupan per 31 Agustus 2026 untuk melihat posisi saham emas Indonesia.
Hasilnya, PT Merdeka Gold Resources Tbk. (EMAS) menjadi kandidat yang paling menarik karena berpeluang masuk GDX, sementara PT J Resources Tbk. (PSAB) justru menghadapi risiko keluar dari GDXJ. Di sisi lain, PT Amman Mineral International Tbk. (AMMN), PT Bumi Resources Mineral Tbk. (BRMS), dan PT Archi Indonesia Tbk. (ARCI) diperkirakan masih bertahan di indeks masing-masing.

Posisi EMAS terlihat lebih kuat dari perkiraan awal. EMAS ditutup di Rp9.600, atau sekitar 5,5 persen di atas estimasi level Rp9.100 yang kami gunakan sebagai batas indikatif masuk GDX.
Sebaliknya, PSAB ditutup di Rp595, masih sekitar 7 persen di bawah level Rp640 yang kami perkirakan diperlukan agar posisinya lebih aman di GDXJ.
Sementara itu, ARCI di Rp1.345 masih berada sekitar 35 persen di atas threshold Rp995, sehingga posisinya di GDXJ relatif aman.
Untuk AMMN dan BRMS, keduanya diperkirakan tetap menjadi konstituen GDX. Namun, perubahan komposisi indeks tetap dapat membuat bobot keduanya berkurang secara pasif.
Potensi Dana yang Keluar dan Masuk
Setelah melihat siapa yang berpotensi masuk dan keluar, pertanyaan berikutnya adalah, seberapa besar sebenarnya uang yang bisa bergerak akibat rebalancing ini?
Untuk menghitungnya, kami menggunakan AUM ETF VanEck yang terdaftar di AS, yaitu sekitar US$32,3 miliar untuk GDX dan US$10,2 miliar untuk GDXJ.
Angka tersebut kemudian dikalikan dengan estimasi bobot masing-masing saham setelah mempertimbangkan weighting caps yang berlaku di indeks.
Hasilnya, EMAS menjadi kandidat dengan potensi flow terbesar.Jika EMAS benar-benar masuk GDX, estimasi inflow-nya mencapai sekitar US$115–119 juta.

Angka tersebut setara sekitar 4,1–4,2 persen dari free float EMAS, atau kurang lebih 13 hari perdagangan berdasarkan nilai transaksi hariannya.
Sementara itu, potensi flow dari saham lain jauh lebih kecil karena sebagian besar berasal dari penyesuaian bobot, bukan perubahan status konstituen.
Namun, angka tersebut tetap merupakan estimasi secara mekanis, bukan angka final.
Hasil akhirnya masih dapat berubah jika MarketVector memperbarui float factor, jumlah konstituen GDX berubah, atau harga saham global berubah sebelum penentuan bobot pada 9 September 2026.
Kesimpulan
Rebalancing September 2026 membuat EMAS menjadi saham yang paling menarik untuk dicermati, karena berpeluang naik kelas dari GDXJ ke GDX dengan potensi inflow sekitar US$115–119 juta. Sementara itu, AMMN dan BRMS diperkirakan tetap bertahan di GDX, ARCI relatif aman di GDXJ, sedangkan PSAB menghadapi risiko keluar.
Namun, seluruh estimasi masih bisa berubah hingga penentuan bobot pada 9 September dan pengumuman hasil pada 11 September 2026. Jadi, untuk saat ini, EMAS menjadi kandidat utama penerima flow, sementara PSAB menjadi yang paling perlu diwaspadai dari sisi risiko keluar.
Mau Diskusi Saham Langsung dengan Founder Mikirduit?
Join Mikirsaham sekarang dan dapatkan benefit:
- Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
- Tools Trading Plan by Sistem (minimal join Mikirsaham Super dan masih tahap Beta)
- Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
- Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
- Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US
- Diskusi lebih nyaman di member area tanpa ada distraksi
- Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
- Hingga konsultasi private dengan founder kami
Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini
Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini

