Peluang Saham Menara di Tengah Tekanan Sewa dan Potensi Fiber Optik

Saham menara TOWR, MTEL, dan TBIG sudah turun sekitar 10 persen sepanjang tahun ini. Apakah ada peluang ketiganya untuk bangkit?

Peluang Saham Menara di Tengah Tekanan Sewa dan Potensi Fiber Optik

Mikirduit – Saham menara telekomunikasi menjadi salah satu yang terpuruk sepanjang 2023. Setelah, tiga pemain besarnya, yakni PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk. (MTEL), PT Sarana Menara Nusantara Tbk. (TOWR), dan PT Tower Bersama Infrastruktur Tbk. (TBIG) koreksi sekitar 10 persen sepanjang tahun ini. Apakah menjadi tanda peluang bagus di sektor tersebut?

Dalam riset CGS CIMB pada 31 Juli 2023 bertajuk hasil 2Q23 - It's a wrap menunjukkan tidak banyak kejutan dari saham-saham menara telekomunikasi tersebut. Di sisi lain, riset tersebut berekspektasi kalau konsensus Bloomberg berpotensi menurunkan proyeksi laba bersih untuk TOWR dan TBIG.

Apalagi, tren tarif sewa menara secara bulanan masih terus menurun secara kuartalan di kuartal II/2023, meski dengan tren penurunan yang lebih lambat. Hal tersebut diperkirakan akibat merger Indosat-Hutchinson.

Meskipun begitu, CGS CIMB justru tetap melihat saham TOWR memiliki peluang paling oke dibandingkan dengan saham menara lainnya.

BACA JUGA: Peluang Saham Telekomunikasi Saat Persaingan Menjadi Lebih Sehat

Prospek Saham TOWR

Sepanjang semester I/2023, TOWR mencatatkan penurunan laba bersih sebesar 7,8 persen menjadi Rp1,56 triliun. Namun, penurunan laba bersih itu lebih disebabkan oleh amortisasi pinjaman bank senilai Rp172 miliar karena ada aksi refinancing pinjaman.Hal itu terlihat dari EBITDA TOWR masih tumbuh 8 persen menjadi Rp4,9 triliun.  

TOWR mencatatkan pendapatan tumbuh 9 persen menjadi Rp5,8 triliun. Pendorong pendapatan TOWR pada semester I/2023 didorong oleh bisnis fiber optik. Di sisi lain, pendapatan dari menara turun 2 persen karena merger Indosat dan Hutchinson sehingga ada relokasi dan tidak perpanjangan kontrak menara lagi.

Hal itu membuat jumlah penyewa TOWR sepanjang kuartal II/2023 turun 49 customer, meski tetap ada tambahan pelanggan baru sebanyak 35 customer.

Meskipun begitu, dua sekuritas justru tetap optimistis dengan prospek saham TOWR.

CGS CIMB menilai TOWR tetap merekomendasikan BELI karena tingkat suku bunga BI sudah mencapai puncak, dan pelaku pasar masih belum menganggap potensi bagus dari bisnis fiber optic TOWR.

Dengan menggunakan discounted cash flow, CGS CIMB mematok target price TOWR di level Rp1.475 per saham atau 49 persen dari posisi 11 Agustus 2023 di Rp985 per saham.

Prospek kenaikan saham TOWR itu dengan menilai ada potensi penurunan suku bunga menjadi lebih rendah dan ekspansi bisnis fiber optic bisa lebih agresif lagi. Meski, ada beberapa risiko bisnis TOWR, yakni merger operator jaringan seluler yang membuat tren jumlah penyewaan menara jadi turun.

Indopremier Sekuritas juga mempertahankan rekomendasi BELI dengan mematok target price di level Rp1.400 per saham atau 42 persen dari harga saham 11 Agustus 2023. Namun, ada beberapa risiko yang masih harus dipantau seperti, pertumbuhan penyewaan menara lebih rendah dan ada tekanan pada tarif sewa.

Adapun, tarif sewa bulanan menara TOWR pada kuartal II/2023 memang mengalami penurunan menjadi Rp12,7 juta per menara dibandingkan dengan Rp13,8 juta per menara pada periode sama tahun lalu.

Prospek Saham MTEL

MTEL mencatatkan kinerja lebih baik daripada TOWR di semester I/2023 setelah mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 15 persen menjadi Rp1 triliun. Kenaikan itu didorong oleh pendapatan yang juga tumbuh 10,8 persen menjadi Rp4,13 triliun sehingga dari sisi EBITDA juga tumbuh 16,1 persen menjadi Rp3,35 triliun.

Dari segi pendapatan, porsi dari penyewaan menara masih menjadi yang paling besar setelah perseroan mengakuisisi menara PT Indosat OOredoo Hutchinson Tbk. (ISAT) pada kuartal I/2023.

Di sisi lain, MTEL berhasil menekan biaya operasional turun 7,4 persen menjadi Rp838 miliar. Penurunan itu didorong oleh penurunan biaya konstruksi dan project management sebesar 34,6 persen. Efisiensi MTEL dilakukan untuk lebih selektif memilih segmen bisnis yang punya margin keuntungan lebih tinggi.

Namun, dari segi pendapatan lainnya, MTEL masih kalah dari TOWR. MTEL baru mencatatkan pendapatan dari fiber optik senilai Rp86 miliar, sedangkan TOWR sudah tembus Rp1 triliun.

Belum lagi, dari segi harga sewa, MTEL juga jauh lebih rendah hanya senilai Rp10,6 juta per bulan.

Manajemen pun mengungkapkan, ada sekitar Rp100 miliar pendapatan dari perpanjangan kontrak yang sedang berlangsung dan baru dibukukan pada semester II/2023.

Adapun, CGS CIMB dan NH Korindo tetap merekomendasi BELI dengan potensi kenaikan harga yang tidak terlalu tinggi.

CGS CIMB mematok target harga di Rp800 per saham atau 11,25 persen dari harga saham 11 Agustus 2023. Lalu, NH Korindo mematok di Rp860 per saham atau 21,12 persen dari harga 11 Agustus 2023.

BACA JUGA: Menakar Peluang Saham ERAA untuk Mulai Rally

Prospek Saham TBIG

Kinerja TBIG bisa dibilang lebih buruk dibandingkan dengan TOWR dari segi bottom line. TBIG juga mencatatkan penurunan laba bersih hingga 17 persen menjadi Rp689 miliar pada semester I/2023. Bahkan, EBITDA TBIG juga turun 2 persen menjadi Rp2,8 triliun. Ditambah, pendapatan perseroan juga turun 1 persen menjadi Rp3,3 triliun.

Penurunan laba bersih TBIG terjadi karena adanya kenaikan beban bunga sebesar 7 persen dibandingkan dengan periode sama pada tahun lalu.

Lalu, penurunan pendapatan terjadi karena adanya merger Indosat dengan Tri Hutchinson, sama seperti kasus TOWR.

Di sisi lain, dari segi tarif sewa keseluruhan, TBIG memiliki tarif tertinggi senilai Rp13,5 juta per bulan, meski angka itu juga mengalami penurunan dibandingkan dengan periode sama tahun lalu.

Untuk saham TBIG, CGS CIMB maupun Indopremier masih rekomendasikan BELI dengan menargetkan persentase kenaikan hampir sama seperti MTEL.

CGS CIMB mematok target Rp2.200 per saham atau 11,39 persen lebih tinggi dari harga saham 11 Agustus 2023.

Indopremier mematok target price Rp2.550 per saham. Dengan asumsi tren suku bunga 2024 mulai melandai, dan relokasi menara setelah Indosat merger dengan Hutchinson bsia lebih cepat, serta bisnis fiber optik bisa tumbuh lebih agresif selama periode transisi menuju 5G.

Meski begitu, Indopremier melihat masih ada beberapa risiko untuk TBIG seperti, pertumbuhan penyewaan menara yang rendah dan tekanan pada tarif sewa menara.

Kesimpulan

Jika dilihat, arah bisnis potensial dari menara telekomunikasi selanjutnya adalah pengembangan jaringan 5G. Di mana, dalam pengembangan jaringan 5G dibutuhkan juga fiber optik yang terhubung ke menara.

Dengan begitu, jika melihat kapasitas fiber optik terbesar saat ini memang dipegang oleh TOWR yang punya sekitar 172.593 km. Porsi itu lebih besar dibandingkan dengan MTEL maupun TBIG. MTEL sejauh ini baru punya 27.269 km, sedangkan TBIG lagi berambisi menambah 30.000 km lagi dengan angka eksisting yang tidak diungkap.

Namun, dari segi pendapatan bisa terlihat, sampai semester I/2023, TOWR sudah menikmati cuan dari fiber optik hingga Rp1 triliun, sedangkan TBIG baru Rp130 miliar, dan MTEL masih Rp86 miliar. Jika optimalisasi 5G terus berjalan, bukan tidak mungkin porsi pendapatan dari fiber optik bisa melampaui sewa menara.

Untuk itu, CGS CIMB maupun Indopremier pasang target price tinggi yang diekspektasikan hingga 2024. Soalnya, saat itu, era suku bunga diprediksi mulai turun.

Kami sendiri sepakat dengan riset-riset tersebut kalau TOWR menjadi saham menara telekomunkasi paling potensial dibandingkan dengan dua pemain besar lainnya.

Alasan kuatnya, dengan potensi besar TOWR tadi, valuasinya dengan EV/EBITDA juga masih paling murah dibandingkan dengan MTEL dan TBIG. Dengan perhitungan 12 bulan terakhir, EV/EBITDA TOWR sampai semester I/2023 sebesar 10 kali, sedangkan MTEL 10,95 kali, dan TBIG 12,83 kali.

Kalau menurutmu gimana?

Referensi

  • CGS CIMB Sekuritas, 31 Juli 2023, Telco - Tower 2Q23 Results - It's a Wrap!
  • Indopremier Sekuritas, 31 Juli 2023, 2Q23 Results: Solid EBITDA and Topline Growth but Miss in Net Profit
  • Indopremier Sekuritas, 1 Agustus 2023, 2Q23 Results: In-Line  EBITDA/Revenue but Miss in Net Profit
  • NH Korindo Sekuritas, 8 Agustus 2023, Saatnya Mulai Memanen Hasil