23 Digest: Potensi Saham Telko Saat Persaingan Makin Sehat

Masalah suku bunga the Fed yang berpotensi setara dengan BI bisa menjadi satu masalah. Namun, di luar itu sektor telekomunikasi berpotensi rebound di paruh kedua tahun ini. Cek analisisnya di sini

23 Digest: Potensi Saham Telko Saat Persaingan Makin Sehat

Hai para pemikir duit, nggak terasa kita akan memasuki Agustus 2023. Kini, para emiten lagi masuk musim rilis laporan keuangan. Di luar hasilnya, kira-kira, sektor apa yang bakal potensial ya ke depannya?

Namun, ada salah satu hal yang bikin degdean nih, yakni kenaikan suku bunga The Fed yang masih terus berlanjut dan hanya selisih 0,25 persen dengan suku bunga Indonesia. Kira-kira gimana efeknya ya?

Daftar Isi Konten

Jika Tingkat Suku Bunga Bank Indonesia Setara dengan The Fed

Setelah The Fed kembali menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 bps menjadi 5,5 persen, kondisi ini memunculkan kekhawatiran ke Indonesia di mana selisih suku bunga dengan Amerika Serikat (AS) hanya tersisa 0,25 persen lagi. Secara teoritis, selisih suku bunga dengan AS yang menipis berisiko membuat terjadinya arus modal keluar dari Indonesia dan membuat rupiah tertekan.

Menurut Bloomberg, selilsih antara bunga AS dan Indonesia menjadi level terendah sejak 2003. Bahkan, jika The Fed menaikkan suku bunga pada September 2023 dan BI tetap dalam kebijakan menahan suku bunga, itu akan menjadi rekor baru di mana suku bunga AS dan Indonesia bisa setara.

Head of emerging-market sovereign debt Abrdn Plc Edwin Gutierrez mengatakan, fundamental ekonomi Indonesia masih cukup positif. "Inflasi terkendali, neraca berjalan tetap surplus, dan pertumbuhan ekonomi diperkirakan tetap lebih cepat pada kuartal II/2023," ujarnya.

Edwin pun tetap pada posisi untuk hold SBN Indonesia tanpa ada rencana meningkatkan kepemilikan. "Alasannya, kami menilai perlu ada diversifikasi risiko sehingga cukup untuk hold posisi yang ada, tanpa menambah kepemilikan," ujarnya.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo pun menekankan kalau Indonesia tidak perlu menyesuaikan suku bunga meskipun The Fed kembali menaikkannya.

"Untuk stabilisasi nilai tukar, kami akan melakukan intervensi dan operasi pasar seperti menjual obligasi jangka pendek untuk meningkatkan yield obligasi dan menarik arus masuk modal asing," ujarnya.

Perry juga menekankan obat perekonomian Indonesia bukan ada di tingkat suku bunga. "Namun, obatnya adalah untuk menjaga rupiah tetap stabil dan itu yang akan kami lakukan," ujarnya.

Salah satunya dengan cara menerapkan kebijakan repatriasi dana hasil devisa yang bakal mulai dilakukan pada 1 Agustus 2023.

Hal ini sesuai dengan penjelasan kami terkait upaya yang mungkin dilakukan Bank Indonesia saat selisih suku bunga dengan The Fed menipis.

BACA JUGA: Selisih Suku Bunga Indonesia dengan Amerika Serikat Menipis, Begini Efeknya ke Pasar Saham

Dari kebijakan repatriasi dana hasil ekspor itu, pemerintah Indonesia berharap bisa menggandakan cadangan devisa dari posisi terakhir sekitar 137 miliar dolar AS menjadi lebih dari 300 miliar dolar AS.

Di sisi lain, arus modal asing yang masuk ke pasar keuangan sepanjang pekan keempat Juli 2023 sekitar Rp700 miliar. Dengan rincian, investor asing keluar dari SBN senilai Rp300 miliar dan masuk ke pasar saham senilai Rp1 triliun.

Secara akumulasi sejak awal tahun, pasar SBN Indonesia masih mencatatkan net buy asing sekitar Rp94,52 triliun.

Tantangan selanjutnya jika The Fed menaikkan suku bunga 25 bps lagi pada September dan suku bunga Indonesia dan AS menjadi setara. Apakah ada arus modal keluar besar dari Indonesia? kita perlu nantikan hasil dari DHE dan efeknya ke pergerakan rupiah.

Sementara ini, untuk pantau emiten yang punya utang dolar AS cukup besar karena berisiko terkena fluktuasi yang besar, jika ada hal-hal yang tak terduga.

APLN Buyback Obligasi Dolar AS dengan Utang Rupiah, Demi Keamanan Keuangannya?

Selaras dengan tren selisih suku bunga BI dan The Fed yang menipis, salah satu perusahaan properti PT Agung Podomoro Land Tbk. (APLN) memutuskan untuk buyback obligasi dalam dolar AS seniornya yang diterbitkan pada 2017 menjadi utang rupiah.

Jadi, di pertengahan Juli 2023, APLN mengumumkan akan melakukan buyback obligasi senilai 300 juta dolar AS yang bakal jatuh tempo pada tahun depan. Dalam keterangan resminya di  IDX, APLN akan menawarkan harga obligasinya senilai 600 dolar AS per 1000 dolar AS. Jika kami asumsikan, APLN rela merogoh kocek bayar pemegang obligasi senilai 180 juta dolar AS untuk aksi buyback ini.

Dalam aksi buyback itu, APLN akan mendapatkan dana dalam bentuk rupiah. Dalam keterangan di IDX pada 20 Juli 2023, APLN telah mencairkan pinjaman senilai Rp1,8 triliun dari PT Bank Danamon Tbk. (BDMN) untuk keperluan proses buyback tersebut. Lalu, dalam keterangan resminya, APLN juga akan mendanai pembayaran pinjaman itu dari hasil penjualan aset perseroan. Meski, tidak dijelaskan secara detail aset yang mana.

Namun, jika dihitung biaya dalam melakukan buyback ini terhitung cukup besar. Dengan asumsi dari harga beli kembalinya secara total 180 juta dolar AS,serta bayar pokok sekitar 300 juta dolar AS, dan bayar kupon yang tersisa sekitar 16,32 juta dolar AS.

Merespons kebijakan itu, dua lembaga rating, fitch dan standard & poor menurunkan peringkat utang APL Realty Holdings. Alasan keduanya, aksi buyback obligasi ini dengan utang baru ini adalah salah satu konsep gagal bayar, dengan cara mencegah itu terjadi lewat aksi buyback.

Meski, manajemen perusahaan menilai aksi buyback itu tidak akan mempengaruhi bisnis APLN secara keseluruhan. Namun, langkah yang diambil kedua lembaga rating dengan menurunkan peringkat utang, termasuk rupiah, itu menjadi wajar karena tingkat utang APLN berpotensi naik cukup besar.

Pertanyaan selanjutnya, ada kalimat pembayaran sisa buyback menggunakan penjualan aset itu apakah akan menggunakan dana dari hasil penjualan Central Park senilai Rp4,53 triliun? apalagi, tujuan APLN menjual mall tersebut memang digunakan untuk melunasi utang perseroan.

Jika benar, sebenarnya dengan begitu keuangan APLN akan menjadi lebih sehat. Tinggal bagaimana ke depannya APLN bisa mencatatkan omzet yang signifikan dengan beban utang yang berkurang, apalagi utang yang hilang dalam bentuk kurs dolar AS.

Saham Sektor Telekomunikasi Siap Meroket di Sisa 2023?

Saham sektor telekomunikasi seperti PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk., PT Indosat Ooredo Hutchinson Tbk. (ISAT), dan PT XL Axiata Tbk. (EXCL) memang tidak terlalu mencolok sepanjang semester I/2023. Namun, ternyata ada beberapa peluang dari saham-saham tersebut yang bisa jadi katalis penggerak harganya di sisa tahun ini.

Pertama, persaingan antara TLKM via Telkomsel vs EXCL makin ketat. Kedua perusahaan telekomunikasi ini mulai bersaing untuk produk fixed mobile convergance (FMC). Fakta menariknya, tarif  EXCL yang merilis produk ini lebih dulu pada Oktober 2021 terhitung lebih mahal daripada Telkomsel yang baru saja merilisnya.

Dalam riset UOB Kayhian pada 27 Juli 2023 memperkirakan dengan tambahan produk FMC, pendapatan Telkomsel berpotensi tumbuh 10 persen pada 2023. Lalu, EXCL berpotensi mencatatkan pertumbuhan pendapatan 9 persen. Dengan catatan, kedua perusahaan telekomunikasi itu tidak melakukan perang harga terkait produk FMC tersebut.

Ekspektasi itu muncul karena karakter produk FMC ini membuat konsumen harus berlangganan selama minimal 12 bulan. Jika membatalkan langganan sebelum periode itu, maka akan dikenakan denda sekitar Rp1 juta. Dengan begitu, produk FMC akan membuat konsumen lebih loyal jika para operator mampu memberikan layanan yang mumpuni.

Riset UOB Kayhian menilai jika bisnis FMC Telkomsel dan EXCL ini berpotensi berdampak positif terhadap bisnis secara keseluruhan. Dengan asumsi 5 persen pelanggan seluler kedua operator (Telkomsel 151 juta pelanggan dan EXCL 58 juta pelanggan), berarti pelanggan broadband atau internet tetapnya akan meningkat hingga 110 persen menjadi 20 juta pelanggan dalam jangka panjang.

Di sisi lain, ISAT bukan tanpa peluang, perseroan juga baru merilis pusat experience yang dinamakan Marvelous Xperience Center (MX Center) di Jakarta. Manajemen ISAT menjelaskan mereka akan menawarkan teknologi canggih seperti 5G untuk mendorong transformasi industri di Indonesia. Adapun, riset UOB Kayhian berekspektasi transformasi 5G di Indonesia akan masih fokus di konsumen business to business. Apalagi, dari data sampai kuartal I/2023 mencatatkan total BTS 5G di Indonesia sudah meningkat 117 persen menjadi 378 menara, tapi pemanfaatannya masih kurang dari 1 persen.

Jadi saham telekomunikasi apa yang menarik di koleksi?

Peluang Saham Telekomunikasi

Beberapa riset dari UOB Kayhian dan BCA Sekuritas memiliki beberapa pendapatan berbeda tentang prospek saham telekomunikasi, meski keduanya sepakat saat ini masih bisa ambil posisi BUY.

Peluang saham EXCL

UOB Kayhian cenderung moderat menilai prospek EXCL. Bahkan, target price yang dipasang hanya punya ruang kenaikan sebesar 1,32 persen dari harga saat ini.

Adapun, alasan UOB Kayhian lebih moderat terhadap EXCL karena menilai ada waktu yang diperlukan EXCL-LINK untuk mengejar ketertinggalan dari Indohome, serta posisi EXCL masih menjadi operator telekomunikasi terbesar ketiga.

Angka itu berbanding terbalik dengan BCA Sekuritas yang lebih optimistis. BCAS memasang target price untuk saham EXCL di level Rp3.150 per saham atau 38,7 persen dari harga per 31 Juli 2023.

BCA Sekuritas menilai dengan arah industri telekomunikasi yang tidak lagi melakukan perang harga cenderung menguntungkan EXCL. Pasalnya, kontribusi pendapatan data EXCL lebih dari 90 persen dari total pendapatan.

BCA Sekuritas memasang target price Rp3.150 untuk 12 bulan ke depan. Target harga itu ditetapkan dengan asumsi EV/EBITDA EXCL bisa berada di kisaran 4,75 - 5,01 kali pada 2024-2025.

Peluang Saham ISAT

Berbeda dengan saham ISAT,UOB Kayhian lebih positif ke saham tersebut dengan pasang target price Rp10.400 per saham atau 13 persen dari posisi harga per 31 Juli 2023.

Target harga optimistis itu berasarkan posisi  EV/EBITDA ISAT yang berpotensi berada di 5,2 kalipada 2023 dan 2024. Posisi itu berada di dekat rata-rata historis standard deviasi +1 yang artinya posisi harga ISAT akan menuju level agak premium.

Alasan UOB Kayhian lebih optimistis antaralain kemampuan ISAT untuk meningkatkan pangsa pasar setelah merger dengan Tri Hutchinson, prospek pertumbuhan laba yang kuat pada 2023 dan 2024, dan kualitas neraca yang lebih baik.

Sebenarnya, BCA Sekuritas juga selaras dengan UOB Kayhian yang menilai ISAT layak mencapai valuasi yang lebih mahal jika melihat margin EBITDA yang solid serta posisi free cash flow yang lebih baik.

Jadi, margin EBITDA ISAT dinilai sudah lebih tinggi dari rata-rata industri setelah naik menjadi 47,6 persen pada kuartal II/2023 dibandingkan 44,6 persen pada kuartal I/2023.

ISAT juga mencatatkan rata-rata pendapatan per pengguna sekitar 2,4 persen menjadi Rp34.300 dibandingkan dengan periode sama tahun lalu. Ekspektasinya, rata-rata pendapatan per pengguna ISAT bisa naik menjadi Rp37.000 hingga Rp40.000 pada 2023 atau 2024.

Untuk itu, BCA Sekuritas memasang target price untuk ISAT 4,34 persen dari harga per 31 Juli 2023 sekitar Rp9.600 per saham.

Peluang Saham TLKM

Untuk TLKM, UOB Kayhian memasang target cukup tinggi, yakni Rp4.700 per saham atau 26 persen dari harga per 31 Juli 2023.

Asumsi target harga TLKM itu berdasarkan target EV/EBITDA TLKM pada 2023 yang diperkirakan tembus 7,8 kali. Asumsi itu menggunakan indikator kepemilikan TLKM di Telkomsel dan optimistis terhadap pertumbuhan bisnis FMC Telkomsel yang terintergrasi dengan Indohome.

Jadi, Mana yang Lebih Oke untuk Dibeli?

Sebenarnya, jika melihat secara valuasi EV/EBITDA, posisi EXCL menjadi saham paling murah di industrinya. Namun, memang permasalahannya adalah EXCL menjadi operator ketiga terbesar atau masih kalah dari TLKM dan ISAT dalam skala pangsa pasar.

Namun, kami [tim Mikirduit.com] menilai peluang pertumbuhan bisnis EXCL justru masih cukup besar setelah mengakuisisi LINK. Meski, aksi itu langsung dibalas dengan Telkomsel lewat aksi merger dengan Indihome.

Tantangan dari kedua emiten telekomunikasi itu adalah agar tetap rasional dalam memberikan harga untuk produk FMC-nya. Tujuannya, ya agar peforma keuangannya bisa terjadi.

Valuasi saham telekomunikasi/ BCA Sekuritas
Valuasi saham telekomunikasi cenderung menggunakan EV/EBITDA dengan alasan sektor tersebut salah satu yang padat dengan modal. Di sini, forecast 2023, valuasi EXCL jadi paling murah, tapi di 2024 justru ISAT yang berpotensi lebih murah/ BCA Sekuritas

Menurut kami, untuk investasi jangka panjang, EXCL dan TLKM cukup menarik untuk dikoleksi bertahap alias tidak all in. Di sisi lain, untuk ISAT, kami menilai proses merger antara ISAT dengan Tri Hutchinson masih membutuhkan waktu dan bisa mempengaruhi kinerja keuangannya di masa depan. Meski, ketika transisi seperti penyesuaian jumlah karyawan dan integrasi bisnis lebih baik berpotensi membuat bisnis ISAT bisa lebih profitable. Untuk itu, beberapa riset memperkirakan EBITDA ISAT bisa tumbuh lebih positif.

Selain itu, alasan kami mengesampingkan ISAT adalah karena tingkat likuiditas harga saham ISAT paling rendah dibandingkan dengan EXCL dan TLKM. Saat ada sentimen, memang saham ISAT bakal sangat likuid, tapi setelah sepi sentimen berpotensi agak sepi. Jadi, untuk mengurangi risiko di saham yang likuiditasnya kurang ramai, kami pilih EXCL dan TLKM.

Nah, kalau menurutmu apa saham telekomunikasi yang paling menarik? atau justru kamu mau melirik potensi sektor menara telekomunikasinya? topik sektor menara telekomunikasi juga menarik jadi bahasan kita di rubrik riset nanti ya. Nantikan konten kami selanjutnya.

Btw, sebelum menutup 23 Digest edisi Juli 2023, saya sebagai Founder Mikir Duit, ingin kembali membuka gerbang join ke Group Whatsapp kami yang sudah berjalan sebulan terakhir.

Jika kamu tertarik masuk grup komunitas untuk berbagi ilmu tentang ilmu keuangan, yuk isi form di sini ya.

Selamat datang Agustus 2023, semoga ada titik cerah untuk pasar saham yang lebih ramai lagi ya. Semangat!

Referensi

  • Bloomberg News, 28 Juli 2023, Fed Hike Shrinks Indonesia' Rate Differential to All-Time Low
  • Koran Bisnis Indonesia, 31 Juli 2023, Pasar SBN, Aliran Modal Asing Terus Bergulir
  • Keterbukaan Informasi PT Agung  Podomoro Land Tbk. (APLN) di IDX periode 11 Juli 2023 - 28 Juli 2023
  • Laporan Keuangan PT Agung Podomoro Land Tbk. (APLN) Kuartal I/2023
  • Riset UOB Kayhian, 27 Juli 2023, Telco's 2023 Data Revenue To Jump 10% yoy
  • Riset BCA Sekuritas, 31 Juli 2023, 1H23 Results: Improvement in EBITDA Boosted by Data Revenue Growth
  • Riset BCA Sekuritas, 31 Juli 2023, Past Episode Data Tariff Hikes has Fruitful 1H23 EBITDA In-Line