Memahami Strategi untuk 4 Kelompok Saham dari Konglo hingga Fundamental, Semuanya Bisa Cuan Lho
Dalam 3 tahun terakhir, saham konglo seolah jadi pilihan terbaik di saham. Untuk itu, kami berikan gambaran kelompok saham apa saja yang bisa memberikanmu cuan.
Mikirduit – Dalam 2-3 tahun terakhir, investor ritel sering mendengar istilah saham konglo. Padahal, semua saham dimiliki oleh konglomerat. Namun, kisah saham konglo yang bergerak sangat fluktuatif membuatnya digambarkan sebagai kelompok saham tertentu yang perhitungannya tidak bisa menggunakan fundamental. Namun, apakah saham konglo bisa untuk investasi, serta apakah saham fundamental sudah tamat atau bisa comeback lagi?
Highlight
- Dikotomi saham konglo dan fundamental sebenarnya kurang relevan karena semua tipe saham—baik konglo, backdoor listing, fundamental, maupun tidak likuid—tetap punya peluang cuan dan rugi tergantung strategi, manajemen risiko, serta kedisiplinan investor.
- Saham konglo dan backdoor listing menawarkan potensi high risk high return dengan volatilitas dan likuiditas terbatas, sehingga kunci strateginya adalah alokasi modal kecil, disiplin take profit bertahap (misalnya di atas 20–30 persen), serta tegas memasang stop loss.
- Saham fundamental belum “tamat” karena dengan analisis kinerja dan strategi beli-jual yang tepat—seperti yang dicontohkan pada saham Bank Mandiri (BMRI), Bank Negara Indonesia (BBNI), Astra Indonesia (ASII), dan Telkom Indonesia (TLKM)—investor tetap bisa meraih kombinasi capital gain dan dividen di tengah siklus ekonomi.
- Untuk diskusi saham secara lengkap, pilihan saham bulanan, dan insight komprehensif untuk member, kamu bisa join di Mikirsaham dengan klik link di sini.
Saya masih ingat ketika saham konglo mengalami auto rejection bawah (ARB), sedangkan penurunan saham yang diasumsikan sebagai saham fundamental tidak separah saham-saham konglo tersebut. Sampai akhirnya ada pertanyaan, kan saham BBCA dimiliki konglo, berarti dia saham konglo juga dong?
Nah, dikotomi antara saham konglo dan fundamental sebenarnya agak tidak penting. Alasannya, mau itu saham konglo dan fundamental, kamu tetap punya probabilitas cuan dan rugi kok. Soalnya, semua akan tergantung strategi-mu apakah cocok dengan tipe saham yang dipilih. Nah, untuk memudahkan, kami akan memberikan penjelasan terkait 4 jenis saham, yakni saham konglo, saham backdoor listing, saham fundamental, dan saham yang nggak likuid.
Memahami 4 Kelompok Saham Berdasarkan Karakternya
Jadi, kami coba bagi pengertian ke-4 kelompok saham yang sering jadi pembahasan, serta apa strategi yang cocok untuk keempat saham tersebut.
Saham Konglo
Saham konglo didefinisikan sebagai saham-saham yang bervolatilitas cukup tinggi bahkan pergerakan harganya melampaui prospek pertumbuhan kinerja fundamentalnya. Dalam pergerakan saham konglo ini, yang diperhatikan adalah bagaimana pergerakan harga sahamnya agresif sehingga terkesan memberikan keuntungan optimal.
Jika dianalisis secara fundamental (melihat historis dan forward looking hingga perbandingan sektoral), tipe saham ini tidak bisa dianalisis karena valuasinya sudah cukup tinggi. Namun, dari segi fluktuasi harga masih bisa memberikan keuntungan yang cukup signifikan, meski risiko koreksinya tinggi.
Di sini, investor hanya bisa mempercayai kalau konglo terkait mampu mengerek harga sahamnya. Meski, biasanya kenaikan harga saham juga dilandasi narasi-narasi ekspansi yang terdengar luar biasa, tapi belum terlihat bagaimana realisasinya ke kinerja emiten terkait. Hanya saja, kenaikan harga sahamnya seolah-olah sudah menggambarkan kalau ekspansi yang dilakukan pasti berdampak positif terhadap fundamental saham tersebut.
Saham konglo ini sering dikaitkan dengan tipe saham growth investing. Hal itu merujuk ke pasar saham AS, yang mana ada saham-saham penny atau yang lagi booming, seperti terkait AI untuk akhir-akhir ini atau teknologi pada masa covid-19 2020.
Namun, tetap saja pergerakan harga saham konglo ini anomali. Pasalnya, momentum booming-nya tidak ada, jika ada aksi akuisisi dan sebagainya, volatilitas kenaikannya sudah cukup agresif. Biasanya disebabkan likuiditas sebelumnya tidak terlalu tinggi sehingga ketika ada kenaikan signifikan mulai banyak trader ritel yang ikutan sehingga sahamnya makin ramai. Efeknya, ketika ada sentimen negatif, sahamnya bisa ARB karena pendorong harga sahamnya hilang dan trader ritel panik sehingga tekanan jual meningkat
Intinya, bagaimana pun, kembali ke hukum klasik, high risk high return. Terlepas dari bagaimana konsepnya harga saham konglo bisa meroket, kita sebagai investor ritel harus mengatur strategi di saham high risk high return dengan cara:
- Alokasi modal tidak terlalu besar dari total porto, terutama jika tidak bisa pantau pergerakan harga sahamnya setiap hari
- Jika cuan sudah cukup signifikan, standar dari kami di atas 30 persen, tapi jika lagi momentumnya pas bisa 100 persen, bisa mulai jual bertahap dan lakukan evaluasi pergerakan harga secara teknikal serta sentimennya
- Cari titik masuk saat mulai breakout dengan volume tinggi secara teknikal atau spekulasi saat mulai sideways setelah penurunan dalam. Untuk hal ini, harus dicek juga historis konglonya seperti apa
- Jika ingin tetap arus kas di saham spekulatif terjaga, pasang stop loss maksimal penurunan sebesar 9 persen.
Saham Backdoor Listing
Era saham backdoor listing dimulai dari PANI, salah satu backdoor listing yang heboh after Covid-19. (sebelumnya, banyak juga backdoor listing yang heboh dari RIMO hingga SIAP, tapi kehebohannya lebih ke arah negatif). Setelah 2 tahunan PANI backdoor listing, muncul momentum banyak saham yang backdoor listing.
Awalnya mulai dari KARW dan FORU yang dinilai berpotensi backdoor listing, tapi ternyata tidak karena melanjutkan bisnis eksistingnya tanpa ada pemindahan aset. Lalu, ada LABA, FUTR, NINE hingga PACK di 2024. Kemudian, di 2025 saham-saham di bawah Rp50 per saham juga menjadi inceran backdoor listing.
Kenaikan harga saham backdoor listing juga sangat menggiurkan. Jika dilihat secara historis dan membeli saat sebelum informasi keluar, keuntungannya bisa multibagger bahkan hingga ribuan persen. Sampai akhirnya, banyak yang berasumsi jika mendapatkan info A1, bisa cuan besar di saham backdoor listing. Namun, langkah mendapatkan info A1 ini tidak selalu disertai dengan waktu transaksi yang detail sehingga bisa jadi butuh menunggu waktu yang lama. (Intinya di saham apapun, seorang investor harus sabar untuk mencapai keuntungan dari hasil analisisnya)
Namun, saham backdoor listing ini punya likuiditas yang lebih rendah daripada saham konglo. Hal itu yang membuat harga sahamnya bisa meroket tinggi ketika demand buy meningkat drastis karena rumor mencuat. Adapun, masuk ke saham backdoor listing tidak bisa dengan modal di atas Rp100 juta. Dari perhitungan kami, posisi aman Rp20 juta, yang agak agresif Rp50 jutaan. Pasalnya, harga saham yang akan di-backdoor ini di bawah Rp100 per saham, sedangkan supply free float terbatas (yang mendorong harga naik secara anomali)
Jadi, bagaimana strategi di saham backdoor listing? nah strateginya juga agak berbeda-beda sesuai waktunya. Jika 2024, saat cerita mulai muncul, kita masih bisa masuk, tapi di 2025 sebelum cerita muncul ke keterbukaan informasi harga sudah naik signifikan. Nah, untuk di 2026, kita bisa menggunakan strategi masuk di saham yang masih proses backdoor listing, tapi harga sahamnya lagi konsolidasi. Namun, balik lagi harus sabar dan jangan alokasi besar. Namun, strategi ini berlaku hanya untuk gambaran di semester I/2026 karena setelahnya bisa jadi berubah.
Terakhir, untuk target jual saham ini harus dilakukan saat boomingnya lagi besar. Pasalnya, saat lagi booming puncak (karena kenaikan lagi tinggi-tingginya) itu, likuiditas yang mau beli cukup banyak. Kita bisa jual bertahap di periode tersebut. Kalau jual mau di pucuk banget ada risiko momentumnya selesai dan harga saham malah ARB berjilid-jilid. Di sini, malah susah keluar dan keuntungan berpotensi menyusut hingga mengalami kerugian.
Saham Fundamental
Saham fundamental itu apa sih sebenarnya? Jadi secara klasik saham-saham fundamental ini adalah saham yang pergerakan harganya disesuaikan dengan kondisi underlying bisnisnya. Misalnya, kinerja keuangan lagi lesu, harga saham mulai turun beberapa bulan sebelum rilis laporan keuangan.
Sehingga, saham-saham fundamental ini bisa dianalisis dengan lebih mudah lewat proyeksi laporan keuangan ke depannya. Hal itu akan dipengaruhi faktor sektoral dan kinerja historis sebelumnya (misalnya pada 2024 kinerjanya turun dalam karena faktor eksternal dan non-teknis, tapi di 2025 bisa normal lagi. Berhubung basis kinerja di 2024 rendah, jadi pertumbuhan kinerja di 2025 terlihat agresif. Hal ini dialami saham nikel di 2024 yang kinerja merosot karena keterlambatan persetujuan RKAB, dan meroket di 2025 karena kondisinya normal)
Biasannya, saham fundamental memiliki valuasi yang masih make sense. Setinggi-tingginya valuasi sahamnya tidak sampai di atas 50 kali. Dengan volatilitas valuasi yang masih wajar, saham fundamental juga bisa memberikan dividen dengan yield yang cukup menarik.
Namun, sama seperti saham lainnya, saham fundamental tidak sepenuhnya memberikan kepastian keuntungan. Pasalnya, faktor risiko yang mempengaruhi prospek kinerja keuangan juga bisa datang secara tiba-tiba.
Untuk itu, fundamentalist biasanya akan masuk ketika sebuah saham diasumsikan terdiskon. Untuk kami di Mikirduit menyarankan masuk tidak all in atau bertahap (yang bisa dilakukan di saham kelompok lainnya juga). Pasalnya, saham ini memiliki tingkat fluktuasi yang tinggi.
Lalu, potensi kenaikan saham fundamental dalam kondisi ekonomi secara makro yang riil lagi buruk hingga pulih itu bisa membutuhkan waktu.Dalam perhitungan kami pemulihan ekonomi makro rata-rata bisa 2 tahun-an, tapi tergantung masalah yang dihadapi.
Jadi, balik lagi, mau saham konglo, backdoor listing, dan fundamental, ya kita sebagai investor harus sabar dan jual-beli dengan perhitungan yang disesuaikan.
Sementara itu, banyak yang bilang saham fundamental sudah mati dengan mengacu ke harga saham big bank yang terus mengalami penurunan. Fakta menariknya, kami di Mikirduit (selain cuan di saham konglo maupun backdoor), juga ada cuan di saham yang melakukan penilaian dengan fundamental mulai dari MIDI, PBSA, ADMR, ADRO, NCKL, bahkan BMRI, BBNI, TLKM, hingga ASII dengan mengatur strategi beli dan keluar yang tepat disesuaikan dengan prospek fundamental dan kondisi market masih bisa cuan. (take profit plus dividen)

Saham Tidak Likuid
Saham tidak likuid ini adalah saham yang secara likuiditas sangat amat rendah. Tapi, dalam kondisi tertentu, tiba-tiba harga sahamnya bisa melonjak tinggi. Sehingga jika melihat persentase historis kenaikan harga sahamnya sangat menarik.
Biasanya, ada pendorong narasi yang menarik seperti aksi right issue (padahal nggak ada backdoor listing), atau ada pihak afiliasi dari kelompok lain yang masuk ke saham tersebut (meski masih rumor mentah).
Sehingga saham yang tadinya tidur, bisa tiba-tiba bangkit dan naik tanpa henti. Mau masuk juga susah karena antrian bid-nya sangat panjang.
Untuk strategi saham tidak likuid ini mirip dengan saham backdoor listing (karena faktor risikonya sama terkait likuiditas). Sehingga yang diperhatikan antara lain:
- Modal jangan terlalu besar disarankan Rp10 juta - Rp20 juta (jika dirasa modal itu bukan angka yang besar bagimu, jika angka itu masih besar boleh banget di bawahnya).
- Cuan-bungkus, jadi saat lagi booming dan cuan sudah cukup besar di atas 20 persen bisa lepas dulu mumpung ada likuiditasnya. Kalau menunggu sampai momen puncaknya selesai, malah saham terkait bisa ARB berjilid-jilid
- Bukan tipe saham investasi jangka panjang kecuali memang ada beberapa saham tidak likuid yang memberikan dividen menarik. Rasa-rasanya akan menarik jika hold saham tersebut untuk investasi jangka panjang. Namun, jika kamu ingin investasi jangka panjang di saham tidak likuid, harus dipahami saat mencairkannya bisa butuh waktu bertahap. Lalu, karena likuiditas terbatas volatilitas harga juga biasanya cukup tinggi
Kesimpulan
Hal yang harus dipahami investasi dan trading bukan dua hal yang berlawanan. Keduanya bisa saling melengkapi seperti trading untuk jangka pendek dan investasi jangka panjang. Hasil cuan trading bisa diinvestasikan sehingga modal investasi meningkat.
Kami selalu menekankan, trading bisa membantu mengumpulkan modal dalam jangka pendek, tapi jangan terlalu maruk dan manage ekspektasi keuntungan. Kalau kita berharap terlalu tinggi bisa membuat penilaian terhadap saham tradingan tidak objektif atas risiko yang ada di depan mata.
Lalu, kami juga menyarankan jika ingin trading atur alokasi portofolio yang sesuai dengan profil risikomu. Jika kamu nggak sanggup liat penurunan nilai aset karena stop loss atau penurunan nilai aset floating signifikan karena nggak berani stop loss, pasang alokasi trading mulai dari jumlah kecil misalnya 5 - 10 persen dari total aset di saham. Tapi, kalau kamu tipe yang agresif, berani hadapi risiko kehilangan uang bisa 20-50 persen. Paling penting, kamu sudah punya sistem trading dan disiplin dengan plan yang sudah dibuat.
Jadi, apapun sahamnya bisa memberikanmu cuan, tapi balik lagi strateginya harus sesuai juga. Terpenting, maruk boleh, tapi tetap realistis, ketika keuntungan sudah lebih dari 30 persen (atau kalau mau 50 persen), bisa take profit bertahap terlebih dulu untuk porsi cash. Soalnya, kelebihan investor ritel ada di-fleksibilitas dalam pengaturan portofolio.
Hal yang terpenting, jangan berekspektasi kamu bisa jadi kaya instan di saham karena pasar saham itu seperti lari maraton. Butuh, konsistensi bukan ledakan cuan cepat dalam jangka pendek, tapi setelahnya tidak konsisten sehingga pertumbuhan malah mandek.
Dapatkan Insight Saham hingga Diskusi serta Konsultasi Bersama hampir 1.000 Investor Lainnya di Mikirsaham
Yuk join dengan Mikirsaham sekarang untuk bisa dapatkan benefit ini semua:
- Stockpick investing (dividend, value, growth, contrarian) yang di-update setiap bulan (terbarunya akan diseleksi terbaik maksimal 5 masing-masing strategi dengan analisis yang komprehensif)
- Stock Ideas (memberikan gambaran besar saham-saham yang menarik, tapi tidak termasuk stockpick)
- Stockpicking swing trade mingguan (khusus member mikirsaham elite jika kuota masih tersedia)
- Insight saham terkini serta action-nya
- Update porto founder
- IPO dan Corporate Action Digest
- Event online bulanan
- Grup Diskusi Saham
Join ke Member Mikirsaham Pro sekarang juga dengan klik link di sini
Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini
