Laba TINS Meroket 1.000 Persen saat Harga Komoditasnya ke Langit Ke Tujuh, Begini Prospek ke Depannya

Saham TINS berhasil mencetak laba Rp1,5 triliun, meroket lebih dari 100 persen pada kuartal I/2026. Kira-kira apa rahasia dibalikan lonjakan itu dan gimana prospeknya ke depan? 

Share
Laba TINS Meroket 1.000 Persen saat Harga Komoditasnya ke Langit Ke Tujuh, Begini Prospek ke Depannya

Mikirduit - Emiten pelat merah, PT Timah Tbk (TINS) mencatat lonjakan laba bersih yang luar biasa pada Kuartal I/2026. Kira-kira apa rahasia dibaliknya dan gimana prospeknya ke depan? apakah masih belum ketinggalan untuk melirik saham TINS?

Review Kinerja TINS Kuartal I/2026 

Pada kuartal I/2026, TINS membukukan laba bersih sebesar Rp1,5 triliun, melesat 1.183,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya sebesar Rp116,9 miliar. 

Kinerja impresif ini datang dari kombinasi kondisi pasar timah global yang sangat mendukung serta pemulihan fundamental operasional perusahaan.

Motor utama pertumbuhan datang dari kenaikan harga timah dunia. Rata-rata harga jual (average selling price/ASP) timah olahan TINS mencapai 49.221 dolar AS per ton di tiga bulan pertama tahun ini, melonjak sekitar 51 persen secara tahunan. 

Adapun per hari ini, Selasa (2/6/2026) harga timah acuan dunia sudah berada di US$ 55.418 per ton, dalam sehari naik 0,61 persen, mengakumulasi penguatan lebih dari 12 persen selama sebulan, sementara jika dibandingkan dengan tahun lalu di periode yang sama sudah melejit kisaran 82 persen. 

pergerakan harga timah
Sumber: Trading Economics, 2 Juni 2026

Kenaikan harga komoditas TINS didorong oleh defisit pasokan global akibat gangguan produksi di sejumlah negara produsen utama, seperti Myanmar dan Kongo, di tengah meningkatnya permintaan dari industri teknologi, mulai dari semikonduktor, kecerdasan buatan (AI), hingga pembangunan data center.

Di saat yang sama, dari sisi internal, TINS juga berhasil memulihkan kapasitas produksinya. Produksi bijih timah mencapai 6.312 ton Sn atau naik 96 persen dibandingkan tahun sebelumnya, sementara volume penjualan melonjak 109 persen menjadi 6.009 metrik ton. 

Pemulihan ini ditopang oleh kembali beroperasinya sejumlah aset strategis, termasuk Kapal Keruk Singkep 1, serta semakin ketatnya pengawasan pemerintah terhadap wilayah izin usaha pertambangan (WIUP).

Kombinasi harga jual yang tinggi dan biaya produksi yang tetap terkendali membuat profitabilitas TINS melesat. 

Dengan cash cost yang relatif kompetitif di kisaran US$21.500 per ton, margin laba kotor (GPM) perusahaan naik drastis menjadi 38,6 persen dari sebelumnya 18,2 persen. Sementara itu, margin laba bersih (NPM) tercatat mencapai 27,5 persen.

Pemulihan Kapasitas Produksi Terus Berlanjut 

Di balik lonjakan laba yang terjadi, TINS juga sedang menjalankan strategi untuk mengembalikan produksi ke level yang lebih optimal. Setelah sempat tertekan pada 2024–2025 akibat pembenahan internal dan berbagai kendala regulasi, perseroan menargetkan produksi bijih timah sekitar 45.000 ton pada 2026.

Untuk mencapai target tersebut, TINS mengoptimalkan kembali armada produksinya, mulai dari Kapal Keruk Singkep 1 hingga berbagai unit Kapal Isap Produksi (KIP) dan Ponton Isap Produksi (PIP). Di sisi lain, penggunaan teknologi bor pandu terus ditingkatkan guna membuat proses penambangan lebih presisi dan efisien.

Selain itu, penertiban tambang ilegal oleh pemerintah juga mulai mengubah peta industri timah nasional. 

Pasokan bijih timah legal berpotensi meningkat seiring semakin banyaknya penambang yang bermitra secara resmi di bawah WIUP TINS. 

Tak hanya itu, perseroan juga berpeluang mengelola aset smelter sitaan negara yang nilainya diperkirakan mencapai Rp7 triliun, sebuah katalis yang dapat memperkuat posisi TINS dalam rantai pasok timah nasional.

Singkatnya, TINS tidak hanya menikmati kenaikan harga timah global, tetapi juga berpotensi mendapatkan manfaat dari pemulihan produksi dan perubahan struktur industri yang semakin berpihak kepada pemain resmi.

Prospek Logam Tanah Jarang 

Beralih soal membahas bisnis, TINS sekarang tidak cuma soal timah. Mereka mulai menyiapkan mesin pertumbuhan baru melalui pengembangan Logam Tanah Jarang (LTJ) atau Rare Earth Elements (REE), komoditas strategis yang menjadi bahan baku penting bagi industri kendaraan listrik, energi terbarukan, hingga teknologi canggih.

Menariknya, LTJ bukanlah tambang baru yang harus dicari dari nol. Mineral ini sudah ikut terangkat bersamaan dengan aktivitas penambangan timah melalui mineral ikutan seperti monasit. 

Selama ini monasit lebih banyak dianggap sebagai produk sampingan, padahal di dalamnya terkandung unsur bernilai tinggi seperti Neodymium dan Praseodymium yang dibutuhkan untuk pembuatan magnet permanen pada motor kendaraan listrik dan turbin angin.

Melihat potensi tersebut, TINS telah mengoperasikan pilot plant pengolahan LTJ di Tanjung Ular, Bangka Barat. Tujuan akhirnya bukan sekadar menjual monasit mentah, melainkan menghasilkan produk hilir bernilai tambah tinggi seperti rare earth carbonate hingga oksida logam tanah jarang.

Meski demikian, proyek ini masih berada pada tahap pengembangan jangka panjang. Komersialisasi skala penuh diperkirakan baru dapat terealisasi pada periode 2028–2030, mengingat masih diperlukan investasi besar, penguasaan teknologi pemisahan yang kompleks, serta penyelesaian berbagai aspek regulasi.

Risiko Saham TINS 

Di balik prospek pertumbuhan dan lonjakan laba bersihnya TINS yang menarik, kita tetap perlu manage ekspektasi karena ada beberapa risiko operasional maupun regulasi yang membayangi. 

Di sisi operasional, upaya pemberantasan tambang ilegal masih membutuhkan waktu dan konsistensi, sementara proyek Logam Tanah Jarang (LTJ) juga masih berada pada tahap awal sehingga risiko keterlambatan eksekusi dan perizinan masih terbuka.

Selain itu, tekanan fiskal juga menjadi perhatian pasar. Pemerintah tengah mengkaji kenaikan tarif royalti timah yang berpotensi mengurangi ruang ekspansi margin perusahaan. 

Sebagai catatan dengan harga timah saat ini yang sudah di atas US$ 50.000 per ton, tarif royalti yang dikenakan mencapai 10 persen, jika usulan terbaru disetujui tarif ini bisa naik jadi 20 persen. 

Belum lagi adanya wacana windfall tax dan pengetatan bea keluar yang dapat menambah beban bagi pelaku industri timah.

Di sisi lain, persoalan ekspor satu pintu juga masih menjadi bulan-bulanan pelaku pasar. Secara timeline saat ini baru masuk tahap satu, di mana Danantara lebih berperan sebagai surveyor atau verifikator data dulu. 

Operasional ekspor tahun ini kemungkinan besar masih belum ada perubahan signifikan, tetapi risiko bisa datang memasuki awal tahun depan, jika implementasi ekspor satu pintu sudah mulai penuh. 

Di sisi lain, manajemen TINS dalam keterbukaan informasinya tetap menyampaikan dukungan terhadap rencana Peraturan Pemerintah (PP) tentang Tata Kelola Ekspor Sumber Daya SDA. 

Perseroan menilai kebijakan ini berpotensi meningkatkan nilai tambah, memperkuat devisa negara, dan menjaga stabilitas sektor ekspor nasional. Meski demikian, mereka masih melakukan kajian internal komprehensif terkait dampaknya secara langsung dan bersiap menyesuaikan operasional jika diperlukan.

Selain itu, risiko dari segi posisi volatilitas harga saham TINS yang cukup agresif bisa menjadi catatan tersendiri jika ingin berinvestasi jangka menengah di saham ini. Disarankan lebih untuk cuan-bungkus atau trading jangka pendek.

15 Saham Dividen Pilihan Mikirduit untuk Tahun Buku 2026, Begini Strateginya
Kami sudah merilis 15 saham dividen pilihan yang paling menarik untuk tahun buku 2026. Lalu, bagaimana strateginya?

Apa kabar pergerakan harga saham TINS?

Saham TINS dari awal tahun masih di zona hijau, meskipun tipis. Penguatan yang sebenarnya sudah dua digit ini terhapus karena penurunan signifikan dalam tiga bulan terakhir lebih dari 30 persen. 

Kami melihat sejauh ini pergerakannya mulai terkonsolidasi, dengan support yang menahan penurunan harga di 2.970. Jika ada pantulan dari posisi tersebut menarik menjadi area akumulasi, tetapi perlu dipantau ketat jika terjadi breakdown, karena risiko tren berubah menjadi turun lagi. 

Adapun resistance terdekat berada di 3500, bertepatan dengan garis Moving Average (MA) selama 20 hari. 

pergerakan harga saham TINS
Sumber: Tradingview, 2 Juni 2026

Jadi, gimana menurut kalian menarik untuk akumulasi saham TINS lagi atau masih wait and see dulu?

Kamu Bisa Dapatkan Pilihan Saham Dividen dan Konsultasi-kan Strateginya Langsung dalam Grup Diskusi Bersama Mikirsaham

Gabung dengan Mikirsaham Pro hingga Elite untuk menentukan strategi investasi dan trading saham-mu. Kami memberikan fitur dari pilihan saham value, growth, contrarian, dividend, hingga swing trade mingguan, serta strategi-nya. Kamu juga bisa berkonsultasi via Grup hingga Private serta mendapatkan insight analisis saham terkini. 

Join ke Mikirsaham dengan klik link di sini