India Pangkas Bea Masuk Minyak Nabati, Begini Dampaknya ke Saham CPO
India memberi kabar baik dengan memangkas bea masuk, ruang ekspor CPO bisa meningkat, tetapi risiko kekeringan dan karhutla membayangi pasokan, belum lagi ditambah ketidakpastian dari UU Agraria yang baru disahkan. Kira-kira gimana prospeknya? menarik dilirik atau tunggu dulu?
Mikirduit - India baru saja mengambil langkah untuk menekan harga minyak goreng di dalam negeri. Lalu, bagaimana dampaknya terhadap saham CPO?
Key Takeaways
- India memangkas bea masuk minyak nabati mulai 24 September 2026, membuka peluang kenaikan impor menjelang Dussehra dan Diwali ketika konsumsi minyak goreng biasanya meningkat.
- CPO tetap kompetitif meski sunflower oil mendapat tarif paling rendah. Harga dasar CPO masih jauh di bawah soybean oil dan sunflower oil, sehingga landed cost-nya berpotensi tetap menarik bagi importir India.
- Sentimen positif CPO tetap dibayangi risiko pasokan. B50, potensi B60, dan ekspor India mendukung permintaan, tetapi El Niño, karhutla, produktivitas, serta regulasi agraria membuat dampaknya ke emiten sawit akan sangat selektif.
- Cek pilihan saham investasi dengan perhitungan yang jelas antara peluang dan risiko, join Mikirsaham dengan klik link di sini
Per 24 September 2026, pemerintah India memangkas Basic Customs Duty atau BCD untuk sejumlah minyak nabati, mulai dari minyak sawit, kedelai, sampai bunga matahari.
Sekilas, kebijakan ini terlihat sederhana yaitu bea masuk turun, impor jadi lebih murah.
Kebijakan ini cukup menarik untuk pemain ekspor minyak nabati. Pasalnya, India merupakan salah satu importir minyak nabati terbesar di dunia dan sangat bergantung pada pasokan dari luar negeri. Sekitar 60 persen kebutuhan minyak nabati India masih dipenuhi melalui impor.
Artinya, ketika India mengubah aturan impornya, efeknya bukan cuma terasa di pasar India. Permintaan dari India bisa ikut mengubah peta persaingan minyak nabati global.
Kenapa India sampai pangkas bea masuk?
Ada dua alasan besar.
Pertama, harga minyak nabati di India sedang naik.
Sebelumnya, harga minyak nabati di India sudah melonjak hampir 20 persen secara tahunan. Kenaikan ini ikut menambah tekanan terhadap inflasi pangan. Reuters juga mencatat India sangat bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan minyak nabatinya, sehingga kenaikan harga komoditas global cepat terasa di pasar domestik.
Kedua, India sedang memasuki festival season.
Perayaan seperti Dussehra dan Diwali biasanya mendorong aktivitas konsumsi, termasuk makanan yang menggunakan minyak goreng, baik dari rumah tangga maupun industri makanan.
Untuk 2026, Dussehra jatuh pada 20 Oktober, sementara Diwali jatuh pada Minggu, 8 November 2026. Diwali sendiri merupakan salah satu festival terbesar di India dan rangkaian perayaannya bisa berlangsung selama beberapa hari.
Jadi dari sisi timing, pemerintah India memangkas tarif ketika permintaan berpotensi meningkat.
Tarif Impor Dipangkas, Seberapa Besar?
Pemangkasan kali ini cukup signifikan. Secara rinci, kami mencatat perubahan tarif untuk minyak mentah atau crude, tarif BCD dan minyak yang sudah dirafinasi menjadi sebagai berikut:

Pemangkan tarif paling besar terlihat di minyak bunga matahari, sementara untuk minyak sawit dan kedelai pemangkasan tarifnya sama.
Kebijakan ini berlaku mulai 24 September 2026. Pemerintah India juga menyatakan pemangkasan tersebut ditujukan untuk menurunkan landed cost minyak impor dan meredakan tekanan harga domestik.
Namun, perlu dicatat, India tetap mempertahankan selisih tarif antara minyak mentah dan minyak rafinasi. Pemerintah menyebut duty differential sebesar 19,25 persen, ini dimaksudkan untuk tetap mendorong proses refining dilakukan di dalam negeri
Jadi, pemerintah India bukan sekadar ingin impor minyak sebanyak-banyaknya. Mereka ingin impor bahan bakunya lebih murah, tapi proses pengolahannya tetap dilakukan di dalam negeri.
Pertanyaannya, minyak nabati mana yang paling diuntungkan?
Sekilas, kalau cuma dari tarif, minyak bunga matahari yang menang karena tarif masuk ke India bisa dibilang gratis alias 0 persen. Tapi pasar komoditas tidak sesederhana itu.
Impor tidak hanya melihat berapa besar tarif, tetapi juga melihat harga dasar komoditas setelah semua biaya diperhitungkan.
Mengacu pada data harga yang ditarik Jumat, 25 September 2026, harga Palm Oil di Bursa Malaysia berada di 4.772 MYR per ton. Dengan kurs USD/MYR sekitar 4,0703, angka tersebut setara dengan sekitar US$1.172 per ton.
Sebagai pembanding, Soybean Oil berada di 67,05 US cents per pound, atau setara sekitar US$1.478 per ton. Sementara Sunflower Oil berada di 1.551,6 INR per 10 kg, yang jika dikonversi menjadi sekitar US$1.621 per ton.

Dari tabel di atas, terlihat jelas meskipun sunflower oil mendapatkan insentif tarif paling besar karena bea masuknya dipangkas menjadi 0 persen, harga dasarnya masih menjadi yang paling mahal di antara ketiganya.
Bahkan sebelum memperhitungkan bea masuk, soybean oil sudah sekitar US$306 per ton lebih mahal dari CPO. Sedangkan sunflower oil sekitar US$449 per ton lebih mahal dari CPO.
Jadi, dari sisi harga bahan baku, CPO masih punya keunggulan yang cukup besar. Ini membuat pemangkasan bea masuk India tetap menarik bagi produsen sawit, karena penurunan tarif bisa membuat landed cost CPO semakin kompetitif di pasar India.

Apa Kabar Saham CPO Indonesia?
Sentimen pemangkasan bea masuk minyak nabati India ini jadi katalis positif emiten sawit untuk masuk pasar ekspor lebih banyak, apalagi prospek permintaan juga semakin meningkat untuk persiapan diwali.
Prospek permintaan ini diharapkan bisa menjaga harga acuan CPO tetap tinggi, tahun ini saja sempat menembus MYR 5000/ton, sebelum akhirnya kini sudah mulai melandai ke kisaran MYR 4.700/ton. Namun, dari awal tahun kenaikannya sudah 17 persen lebih.
Pada 24 Agustus lalu, kami juga sempat mengulas kinerja sejumlah emiten sawit sampai paruh pertama yang mayoritas berhasil cetak pertumbuhan laba ciamik. Tak sedikit yang loncat double digit persen.

Selain katalis ruang ekspor ke India meningkat, prospek permintaan CPO Indonesia juga didukung dari dalam negeri yaitu B50 yang sudah dimulai 1 Juli lalu. Kabarnya, setelah ini B60 akan disiapkan untuk mulai 2027 mendatang.
Namun, kita juga perlu melihat dari sisi pasokan, karena menurut kami industri sawit saat ini berada dalam fase yang cukup bittersweet.
Di satu sisi, harga CPO sedang menguat dan prospek permintaan global semakin menarik, terutama dengan adanya potensi peningkatan impor dari India.
Tapi di sisi lain, ada kekhawatiran terhadap pasokan CPO ke depan, terutama akibat risiko karhutla yang dipicu oleh kondisi cuaca kering berkepanjangan dan dampak El Niño. Belum lagi diperparah oleh Karhutla yang sampai saat ini belum mereda efeknya.
Kondisi ini bisa mengganggu produktivitas tanaman sawit. Dampaknya pun tidak selalu langsung terlihat. Stres tanaman akibat kekeringan dapat menekan produksi TBS dan CPO beberapa bulan setelah periode kering terjadi.
Paling baru, ada juga UU Pengaturan Reforma Agraria yang disahkan DPR pada 22 September 2026. Aturan ini salah satunya diarahkan untuk memperkuat kepastian hukum dan penyelesaian konflik agraria.
Namun, buat sektor sawit, dampaknya bisa menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, aturan yang lebih jelas mengenai penguasaan dan tata kelola lahan berpotensi memberikan kepastian yang lebih baik bagi perusahaan yang memiliki legalitas dan HGU yang kuat.
Tapi di sisi lain, perusahaan dengan penguasaan lahan yang besar justru perlu mencermati aturan turunan terkait batas kepemilikan atau penguasaan lahan serta kewajiban-kewajiban yang berkaitan dengan reforma agraria. DPR sendiri dalam pembahasan RUU tersebut menyoroti perlunya pengaturan mengenai batas kepemilikan lahan sawit.
Menurut kami, emiten CPO yang diuntungkan akan cukup selektif, hanya mereka yang mampu menjaga produktivitas tinggi, biaya produksi efisien, dan neraca sehat bisa meraih laba optimal.
Ada catatan juga bagi perusahaan yang fokus di hilir, justru bisa mengalami tekanan, karena harga CPO yang meningkat, biaya bisa membengkak. Jika kenaikan biaya ini tidak bisa diteruskan ke konsumen, margin pun bisa tertekan.
Gimana, menurut kalian saat ini masih tepat untuk koleksi saham CPO?
Mau Ikut Ngopdar Online Edisi September 2026 dan Dapat Insight Saham yang Belum Naik?
Join Mikirsaham sekarang dan dapatkan benefit:
- Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
- Tools Trading Plan by Sistem (minimal join Mikirsaham Super dan masih tahap Beta)
- Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
- Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
- Event Online Rutin bulanan
- Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US
- Diskusi lebih nyaman di member area tanpa ada distraksi
- Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
- Hingga konsultasi private dengan founder kami
Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini
Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini
