Hashim Mundur dari WIFI, Harga Saham Sudah Terdiskon, Begini Prospeknya

Hashim mundur dari WIFI saat bisnis telekomunikasi tumbuh pesat. Simak hubungan Arsari, skenario pendapatan FWA, risiko biaya, dan valuasi sahamnya.

Share
saham wifi

Mikirduit – PT Solusi Sinergi Digital Tbk.(WIFI) berpotensi mengalami perubahan komposisi komisaris utama dan direktur setelah Hashim Djojohadikusumo dan Henny Santoso yang merupakan afiliasi dari Grup Arsari mengundurkan diri. Lalu, bagaimana nasib WIFI ke depannya?

Key Takeaways

  • Hashim mundur, hubungan Arsari–WIFI menjadi perhatian. Pengunduran diri Hashim Djojohadikusumo dan Henny Santoso belum membuktikan Grup Arsari melepas kepemilikannya. Susunan pengurus pengganti dan keterbukaan kepemilikan menjadi informasi yang perlu dicermati.
  • Pendapatan telekomunikasi melonjak, profitabilitas FWA belum terukur. Pendapatan telekomunikasi WIFI tumbuh sekitar 450% menjadi Rp1,28 triliun pada semester I/2026. Namun, kontribusi fiber optik dan Internet Rakyat belum dipisahkan, sehingga pendapatan maupun laba FWA masih memerlukan pengungkapan lebih rinci.
  • Valuasi mendekati nilai buku perlu ditimbang dengan risiko ekspansi. Prospek WIFI bergantung pada kemampuan mengubah jaringan dan persediaan perangkat menjadi pelanggan berbayar serta arus kas. Proyek kabel bawah laut menambah peluang, tetapi kontribusinya bergantung pada struktur kerja sama dan realisasi operasional.
  • Cek pilihan saham investasi dengan perhitungan yang jelas antara peluang dan risiko, join Mikirsaham dengan klik link di sini

Menariknya, Hashim dan Henny baru menjabat sebagai Komisaris Utama dan Direktur WIFI pada Juni 2026. Artinya, keduanya baru menjabat kurang lebih 3 bulan dan langsung mengundurkan diri. 

Nantinya, penunjukkan Komisaris Utama dan Direktur pengganti akan diumumkan dalam RUPSLB pada 21 Oktober 2026. Lalu, apakah menjadi pertanda Grup Arsari keluar dari konsorsium PT Investasi Sukses Bersama? Jawabannya akan tergantung dari komposisi penggantinya. Jika penggantinya datang di luar Grup Arsari, probabilitas tersebut tetap ada,

Apalagi, Grup Arsari masuk ke WIFI dengan mengakuisisi sebagian kepemilikan PT Investasi Sukses Bersama, tapi tidak ada perubahan pengendali yang tetap dipegang oleh Tinawati. Sehingga, ketika Grup Arsari keluar tidak diperlukan pengumuman khusus. 

Secara struktur kerja sama, Grup Arsari melalui PT Arsari Sentra  Data dan WIFI menandatangani MoU kerja sama terkait investasi di PT Jaringan Infra Andalan, anak usaha WIFI. Investasi itu terkait pengembangan infrastruktur konektivitas dengan sasaran 25 juta rumah tangga di Jawa.

Namun, tidak jelas skema investasi dalam bentuk apa. Hanya target mengembangkan akses infrastruktur tersebut.

Selain itu, komposisi manajemen WIFI per Juni 2026 juga mengalami perubahan signifikan. Posisi Yune Marketatmo digeser menjadi Direktur, lalu Hendrik Tee yang sering disebut berada di balik operasional WIFI sebelumnya muncul sebagai Presiden Direktur.

Jadi, bagaimana arah saham WIFI ke depannya?

Nasib Bisnis FWA WIFI

WIFI telah mencapai targetnya untuk mendapatkan frekuensi Fixed Wireless Access (FWA) 1,4 Ghz. Sehingga, WIFI punya dua produk utama, yakni FWA dengan brand Internet Rakyat (IRA) dan Starlite, produk fiber optik perseroan.

Namun, WIFI tidak membedah secara rinci pendapatan telekomunikasi perseroan berasal dari segmen FWA atau fiber optik. Secara keseluruhan, pendapatan telekomunikasi WIFI naik drastis 450 persen menjadi Rp1,28 triliun.

Kami menilai kinerja telekomunikasi lebih didorong produk fiber perseoran yang jumlah pelanggannya naik 377 persen menjadi 1,85 juta pelanggan per Juni 2026. 

Apalagi, secara segmen, Starlite (produk fiber optik) perseroan memiliki struktur paket berlangganan yang lebih komprehensif untuk paket yang murah hingga yang mahal sehingga bisa menjangkau segmen yang luas.

Di sisi lain, catatan untuk realisasi kinerja FWA WIFI hanya tercatat sudah ada 1.500 sites yang on-air per Agustus 2026. Targetnya, perseroan ingin meningkatkan hingga 5.000 sites. Namun, tidak ada penjelasan detail terkait konversi pelanggannya.

Dari public expose terakhir, perseroan menyatakan jika jumlah pelanggan FWA sektiar 500.000 pelanggan hingga Juni 2026 dengan target 3 juta pelanggan.

Jika menggunakan asumsi pelanggan sebanyak 500.000 per Juni 2026, berarti kontribusi FWA sekitar Rp300 miliar hingga Juni 2026 (dengan asumsi nilai langganan dimulai per Januari 2026, sehingga angka pendapatan real dari FWA berpotensi di bawah itu).

Nah, masalahnya adalah jika WIFI tidak mencapai target di tahun pertama sebesar 3 juta pelanggan. Bisnis FWA-nya mungkin akan menjadi penekan margin keuntungan.

Pasalnya, WIFI punya beban izin awal tahun pertama dan biaya frekuensi sekitar Rp1,2 triliun, sedangkan per tahun selanjutnya sekitar Rp403 miliar per tahun. Namun, biaya tersebut bisa dicicil, dari data laporan keuangan per kuartal II/2026, total biaya frekuensi sekitar Rp222 miliar.

Kami menilai di semester II/2026, biayanya lebih besar karena sekaligus mencicil biaya tahun pertama yang setara 3 kali biaya tahunan frekuensi senilai Rp403 miliar, menjadi Rp1,2 triliun. Kami membuat asumsi total biaya frekuensi mencapai Rp600 miliar. (cicilan biaya tahun pertama Rp200 miliar per tahun).

Dengan asumsi WIFI hanya mampu mendapatkan 500.000 pelanggan tambahan dan dihitung fix didapatkan per Juli-Desember 2026, berarti potensi pendapatan bisnis FWA WIFI sekitar Rp900 miliar. Dari posisi itu, masih ada laba kotor sebelum dikurangi persediaan perangkat dan biaya operasional lainnya senilai Rp300 miliar. Untuk laba operasional dan akhirnya bisa lebih rendah lagi sesuai dengan biaya marketing, SDM, beban umum dan administrasi, dan biaya lainnya.

Namun, realisasinya berpotensi lebih rendah Rp900 miliar jika pertumbuhan pelanggan menjadi 1 juta pelanggan berjalan tidak langsung di Juli 2026. Lalu, realisasi 500.000 pelanggan juga tidak dimulai semuanya sejak Januari 2026.

Terkait biaya perangkat, WIFI mencatat pembelian perangkat jenis N50 CPE SRT838CX 5G itu dihargai sekitar Rp1,07 juta per unit. Dengan biaya persediaan perangkat FWA senilai Rp2,38 triliun. Sehingga, ada potensi persediaan Rp2,38 triliun itu setara 2,22 juta perangkat.

DOOH Akuisisi INET: Rights Issue Jumbo dan Risiko Dilusi
DOOH menyiapkan akuisisi 29,88% saham INET dan rights issue jumbo untuk masuk ke infrastruktur AI. Simak peluang transformasi, risiko dilusi, dan kualitas labanya.

Seberapa Menarik Saham WIFI Saat Ini?

Saham WIFI telah mengalami penurunan harga sebesar 55 persen sepanjang 2026 (hingga 2 Oktober 2026).

Nah, secara price to book value, saham WIFI sudah berada di 1 kali setelah penurunan karena mundurnya Hashim dan Henny dari manajemen perseroan. 

Saham WIFI bisa dibilang sudah lebih murah dari saham-saham telekomunikasi skala besar atau yang setara peersnya seperti PT Remala Abadi Tbk. (DATA). Lalu, PT Telkom (Persero) Tbk. (TLKM) dan PT Indosat Hutchinson Ooredo Tbk. (ISAT) memiliki PBV di atas 1,8 kali.

Narasi selanjutnya WIFI adalah rencana pengembangan kabel bawah laut dengan membuat konsorsium bersama PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk. (INET), PT Fiberhome Technologies Indonesia, Nokia, PT Sarana Global Indonesia, dan NTT sepanjang 6.870 km.

Menariknya, dalam menjalankan proyek tersebut, Pengendali akhir WIFI, Tinawati, telah mengakuisisi PT Era Media Sejahtera Tbk. (DOOH). Lalu, DOOH juga mengakuisisi sebagian saham INET.

Namun, dalam komposisinya nanti, pendapatan dari proyek kabel laut tidak akan signifikan bagi WIFI karena akan tergantung berapa persen yang kepemilikan perseroan di proyek tersebut.

Mau Dapat Insight Saham hingga Action-nya Sesuai dengan Kebutuhan?

Join Mikirsaham sekarang dan dapatkan benefit:

  • Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
  • Tools Trading Plan by Sistem (minimal join Mikirsaham Super dan masih tahap Beta)
  • Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
  • Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
  • Event Online Rutin bulanan
  • Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US
  • Diskusi lebih nyaman di member area tanpa ada distraksi
  • Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
  • Hingga konsultasi private dengan founder kami

Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini

Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini

FAQ Prospek Saham WIFI Setelah Ditinggal Hashim dari Posisi Komisaris Utama

Apakah mundurnya Hashim Djojohadikusumo menandakan Grup Arsari keluar dari WIFI?

Belum tentu. Pengunduran diri dari jabatan komisaris berbeda dengan pelepasan saham. Hubungan kepemilikan Grup Arsari dengan PT Solusi Sinergi Digital Tbk. (WIFI) berlangsung melalui PT Investasi Sukses Bersama. Perubahan pengurus saja belum cukup untuk memastikan Arsari keluar.

Apa hubungan Grup Arsari dengan WIFI?

PT Arsari Sentra Data memiliki investasi di PT Investasi Sukses Bersama, induk WIFI. Arsari dan WIFI juga menandatangani MoU terkait minat investasi di PT Jaringan Infra Andalan untuk mendukung pengembangan infrastruktur konektivitas. Rincian komitmen dan batas waktu investasi belum dijelaskan dalam pengungkapan yang dibahas artikel ini.

Bagaimana kinerja telekomunikasi WIFI pada semester I/2026?

Pendapatan telekomunikasi WIFI naik sekitar 450% menjadi Rp1,28 triliun pada semester I/2026. Laporan keuangan belum memisahkan pendapatan backbone, fiber optik ke rumah pelanggan, dan FWA, sehingga kontribusi masing-masing layanan belum dapat ditentukan secara pasti.

Apa perbedaan Internet Rakyat dan Starlite?

Internet Rakyat merupakan layanan WIFI berbasis Fixed Wireless Access atau FWA yang menggunakan koneksi nirkabel untuk menjangkau pelanggan. Starlite merupakan layanan berbasis fiber optik. Keduanya memiliki kebutuhan jaringan, perangkat pelanggan, dan struktur biaya yang berbeda.

Apakah pendapatan FWA WIFI sudah mencapai Rp900 miliar?

Rp900 miliar merupakan skenario pendapatan dalam artikel, bukan realisasi yang diungkapkan perusahaan. Perhitungan tersebut mengasumsikan 500.000 pelanggan membayar Rp100.000 per bulan selama semester I, kemudian total 1 juta pelanggan membayar selama semester II. Pendapatan lebih rendah jika pelanggan bergabung secara bertahap atau belum semuanya membayar penuh.

Berapa beban frekuensi bisnis FWA WIFI?

Berdasarkan angka dalam laporan keuangan, biaya frekuensi tahunan sebesar Rp403,764 miliar. Biaya izin awal sebesar Rp403,764 miliar diamortisasi selama 10 tahun, setara sekitar Rp40,376 miliar per tahun. Gabungan beban terkait frekuensi untuk satu tahun penuh sekitar Rp444,14 miliar, dengan asumsi tarif tetap, sebelum biaya jaringan, perangkat, dan pendanaan.

Apakah persediaan perangkat FWA Rp2,38 triliun langsung menjadi beban?

Tidak. Perangkat yang belum digunakan atau dijual tetap dicatat sebagai persediaan selama memenuhi ketentuan pengakuan aset. Beban dapat timbul melalui harga pokok penjualan, penyusutan setelah perangkat menjadi aset tetap yang siap digunakan, atau penurunan nilai apabila perangkat mengalami penurunan nilai ekonomis.

Apakah persediaan FWA WIFI setara 2,22 juta perangkat?

Angka 2,22 juta perangkat merupakan estimasi ekuivalen nilai, bukan jumlah unit yang dikonfirmasi perusahaan. Estimasi itu membagi persediaan FWA Rp2,385 triliun dengan harga rata-rata CPE sekitar Rp1,0725 juta per unit dalam salah satu kontrak. Komposisi dan harga perolehan perangkat sebenarnya bisa berbeda.

Apakah saham WIFI murah ketika PBV mendekati 1 kali?

PBV mendekati 1 kali menunjukkan harga saham mendekati nilai buku per saham. Namun, penilaian murah atau mahal tetap perlu mempertimbangkan kualitas aset, laba pemegang saham, kebutuhan pendanaan, dan arus kas. Perbandingan dengan emiten lain juga perlu memperhatikan perbedaan skala serta model bisnis.

Bagaimana proyek kabel bawah laut dapat memengaruhi WIFI?

Proyek kabel bawah laut berpotensi menambah kapasitas dan jangkauan konektivitas WIFI. Besarnya kontribusi pendapatan dan laba bergantung pada struktur kepemilikan, peran operasional, kontrak komersial, perlakuan konsolidasi, serta waktu proyek mulai menghasilkan pendapatan.

Investasi Crypto di PINTU sekarang