Harga Tiket Pesawat Ke Luar Negeri Bisa Naik Rp3 jutaan Nih

Pas mulai enak bisa jalan-jalan ke luar negeri setelah pandemi Covid-19 kemarin, eh ada kabar kalau harga tiket pesawat berpotensi naik hingga Rp3 jutaan untuk rute luar negeri. Baca penjelasan lengkapnya di sini.

Harga Tiket Pesawat Ke Luar Negeri Bisa Naik Rp3 jutaan Nih

Mikirduit – Bisnis maskapai penerbangan yang baru saja lepas dari badai pandemi Covid-19 tampaknya harus siap menghadapi badai lanjutan, yakni bayang-bayang efek dari biaya pembersihan karbon akibat dunia yang semakin panas. Lalu, apa hubungannya dari semangat menuju net zero carbon emission ke harga tiket pesawat ke luar negeri yang diprediksi bisa naik Rp3 jutaan.

Kinerja keuangan maskapai penerbangan baru saja mulai pulih mendekati periode sebelum pandemi Covid-19. Misalnya, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. (GIAA) secara akumulatif per semester I/2023 mencatatkan pendapatan Rp21 triliun. Nilai itu sudah makin mendekati kinerja perseroan pada 2019, atau periode sebelum pandemi Covid-19, di mana per semester I/2019 pendapatan GIAA mencapai Rp31 triliun.

Bahkan, khusus kinerja kuartal II/2023, GIAA telah mencatatkan laba bersih Rp500-an miliar. Angak ini menjadi yang terbaik sepanjang 3 bulan kuartal II/2023 GIAA sejak IPO di 2010. Bahkan, kalau dihitung laba usaha yang menggambarkan operasional perseroan, juga mencatatkan hasil tertinggi sejak  IPO pada 2010, yakni Rp1,9 triliun.

Namun, tantangan berat bakal datang lagi ke industri maskapai, yakni biaya investasi untuk mengurangi karbon yang telah dikeluarkan pesawat dalam perjalanannya. Dalam artikel Bloomberg berjudul Airline Passengers Will Be Forcedto Pay for 5 Trillion USD Carbon Cleanup, McKinsey & Co merilis mengungkapkan dibutuhkan investasi modal sekitar Rp75.000 triliun untuk seluruh maskapai penerbangan agar bisa mencapai netralitas karbon atau zero carbon pada 2050. Nilai investasi itu mencakup produksi bahan bakar berkelanjutan dan mebangun pembangkit listrik terbarukan.

Dari total itu, setiap maskapai penerbangan (mewakili sekitar 300 maskapai di dunia) membutuhkan biaya investasi sekitar 180 miliar dolar AS atau sekitar Rp2.700 triliun per tahun. Angka itu sangat besar dan membebani maskapai penerbangan, bahkan meski hanya menganggarkan sekitar 60 persen dari total investasi menuju zero carbon tersebut.

BACA JUGA: Review 5 Saham yang Berpotensi Diuntungkan dari Bursa Karbon

Kenaikan Suhu Mendesak Harga Tiket Pesawat Harus Melejit

Masalahnya, gelombang panas dan Elnino yang menyandera sebagian dunia saat ini membuat bisnis pesawat harus cepat-cepat berbenah mengurangi emisi karbon. Sebuah masalah yang tidak pernah terpikirkan dalam 70 tahun terakhir. Di mana, sebelumnya industri maskapai hanya fokus memudahkan konektivitas yang terus meningkat, persaingan yang semakin tiket, dan adu tiket pesawat yang murah.

Jetplane
Photo by Patrick Tomasso / Unsplash

Perjalanan udara internasional menjadi salah satu masalah yang membuat bumi semakin panas. Di mana, jika emisi karbon CO2 dari maskapai penerbangan tidak dikendalikan, berpotensi meningkat secara dramatis dari 2 persen saat ini menjadi 22 persen pada 2050.

Namun, perusahaan maskapai penerbangan bisa dibilang 99 persen bakal kesulitan jika diminta mengeluarkan modal investasi dalam waktu singkat. Apalagi, bisnis maskapai penerbangan ini salah satu bisnis yang marginnya kecil. Soalnya, mereka hanya menjalankan jasa penerbangan dan butuh modal untuk beli maupun sewa pesawat, ngeluarin biaya bahan bakar, administrasi bandara, operasional pesawat, dan hal lainnya. Di mana, seperti ketika ada pembatasan mobilitas saat pandemi Covid-19 atau  ada badai yang menyerang sektor bisnis ini, bakal banyak perusahaan maskapai tumbang.

Belum lagi, banyak maskapai yang masih memesan pesawat tenaga fosil yang mungkin baru selesai dan terbang pada 2050 nanti.

Jadi, solusi dari biaya untuk pembersihan karbon di industri maskapai adalah dengan membebankannya kepada penumpang. Hal itu disebut berpotensi membuat harga tiket naik 8 persen [acuan pasar Amerika Serikat], yang membuatnya menjadi lebih tinggi dari periode sebelum pandemi Covid-19.

Lalu, menurut data dari Laporan Lingkungan Organisasi Penerbangan Sipil Internasional, langkah-langkah keberlanjutan terkait maskapai penerbangan bisa menambah biaya tiket pesawat jarak jauh (seperti Singapura ke Dubai atau New York ke Paris) mulai 73 dolar AS atau Rp1 juta.

Eropa menjadi regional yang mulai memberlakukan kenaikan harga tiket pesawat. Aturan RefuelEU akan mewajibkan maskapai penerbangan untuk mengisi pesawat dengan 2 persen capuran bahan bakar penerbangan yang lebih ramah lingkungan pada 2025. Persentasenya akan terus meningkat menjadi 6 persen pada 2030 dan 70 persen pada 2050.

Tahun ini, maskapai Prancis-Belanda Air  France-KLM menaikkan biaya tambahan wajib sejak 2022 untuk membayar bahan bakar lebih ramah lingkungan sekitar 2 euro atau Rp33.000 hingga 24 euro atau Rp400.000-an untuk jarak rute seperti Paris-Amsterdam. Bahkan, Uni Eropa berpotensi mengenakan biaya tambahan hingga 230 euro atau Rp3,8 juta untuk penerbangan pulang pergi dari Barcelona ke Tokyo.

Solusi untuk Maskapai Penerbangan Agar Menjadi Ramah Lingkungan

Lalu, apa solusi untuk masalah maskapai penerbangan agar bisa menjadi lebih ramah lingkungan?

Sebenarnya, ada tiga opsi. Pertama, pesawat bertenaga listrik. Namun, nampaknya masih butuh sekitar puluhan tahun agar bisa menciptakan pesawat bertenaga listrik untuk perjalanan jarak jauh. Soalnya, hal itu harus menunggu teknologi baterai yang mumpuni untuk pesawat.

Sebenarnya, sudah ada pesawat bertenaga listrik. Direktur Pelaksana Sydney Seaplanes Aaron Shaw sudah berencana menggunakan Cessna Carravans yang terbang dengan baterai untuk penerbangan wisata di atas pelabuhan dan pantai ikonik kota tersebut pada 2026. Namun, perjalanan yang bisa dilayani pesawat itu hanya 15 menit, sedangkan untuk perjalanan lebih lama seperti 1 jam baru bisa terealisasi pada 2030.

View from airport departure lounge - quirky little airport near Andorra.
Photo by Red Dot / Unsplash

"Kecuali ada beberapa perubahan besar dalam teknologi baterai yang lebih cepat," ujar Shaw yang juga founder dari Dovetail Electric Aviation, sebuah startup yang beroperasi untuk membuat pesawat bertenaga turbin menjadi listrik.

Kedua, pesawat bertenaga hidrogen yang lagi dikembangkan oleh banyak orang. Sejauh ini, cukup banyak yang lagi mengembangkannya seperti Aerospace Technology Institute (ATI) dengan Flyzero, Airbus, Zeroavia, hingga Dornier 228. Namun, semuanya belum digunakan secara komersial.

Soalnya, ada beberapa permasalahan yang masih menjadi persoalan, seperti tangki bahan bakar berpotensi lebih besar daripada badan pesat. Lalu, transportasi dalam pengisian bahan bakar harus diatur agar suhu terjaga di 259 derajat celcius. Butuh sistem pengontrol pembakaran aktif sehingga konsumsi energi tetap efektif dan efisien.Serta masalah rantai pasokan terkait hidrogen yang cukup sulit. Untuk itu, Boeing yang disebut sudah mencoba pengembangan sejak 2008, menjadi paling pesimistis dengan proyek pesawat hidrogen tersebut.

Ketiga, menggunakan bahan bakar berkelanjutan SAF yang terbuat dari minyak non-fosil. Penggunaan SAF diketahui bisa memangkas emisi karbon hingga 80 persen dibandingkan dengan menggunakan Avtur.

SAF ini terbuat dari minyak nabati atau non-fosil lainnya seperti minyak goreng, limbah padat seperti kayu, gas, gula, dan biomassa. Di Indonesia sendiri, PT Pertamina (Persero) via PT Pertamina Patra Niaga masih mempersiapkan kesiapan infrastruktur dalam pengembangan SAF. Bahan bakar berkelanjutna produksi Pertamina juga baru digunakan dalam rangkaian uji coba.

Malaysia pun melirik peluang bisnis SAF untuk mengoptimalkan daya jual produksi CPO-nya. Untuk itu, Malaysia bekerja sama dengan China untuk membuat SAF dengan basis CPO sejak pertengahan 2022.

SAF menjadi solusi paling memungkinkan untuk membuat industri penerbangan bisa mendekati zero carbon emission. Namun, produksi SAF harus ditingkatkan lebih tinggi dan cepat jika ingin membuat  percepatan peralihan ke bahan bakar ramah lingkungan tersebut.

Maskapai besar United Airlines dan British Airways, serta Airbus pun mulai berinvestasi untuk mengembangkan SAF. Bahkan, Amerika Serikat membuat undang-undang pengurangan inflasi 2022, yang salah satunya memberika subsidi hingga Rp7.000 per liter. Harapannya, produksi SAF di AS bisa tembus 11,34 miliar liter pada 2030.

Masalah Saat Transisi Menuju Penggunaan SAF

Salah satu masalah utama saat periode transisi menggunakan bahan bakar SAF adalah potensi kenaikan jumlah penumpang pesawat dalam 20 tahun ke depan menjadi 2 kali lipat hingga tembus 8 miliar.

Pemasok bahan bakar alternatif SkyNRG mencatat dalam laporannya, kalau Eropa butuh membangun 150 kilang SAF pada 2050, sedangkan AS membutuhkan sekitar 250 kilang SAF. Kebutuhan yang besar itu berpotensi menganggu pasokan bahan baku seperti minyak nabati.

CEO Qatar Airways Akbar Al Baker, menekankan tidak akan ada SAF yang cukup untuk seluruh maskapai penerbangan dunia.

"Jadi tarif maskapai pasti naik dan target net zero 2050 tidak mungkin tercapai," ujarnya dalam Paris Air Show pada Juni 2023.

Kesimpulan

Dari segi industri, maskapai penerbangan berpotensi tertekan jika pemerintahan seluruh dunia menggunakan aturan tegas soal penggunaan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan. Meski, biaya dikenakan kepada pelanggan, maskapai penerbangan berpotensi mencatatkan penurunan omzet karena peminatnya juga berkurang. Jadi, apapun solusinya, bisnis maskapai penerbangan sangat berisiko tinggi tertekan.

Selain itu, bisnis terkait penerbangan, yakni pariwisata juga sangat berisiko tertekan. Jika harga tiket pesawat dibebankan untuk biaya pembersihan karbon dari para maskapai penerbangan, berarti ada potensi penurunan permintaan di sektor pariwisata.

Di sisi lain, pengembangan bahan bakar SAF bisa berdampak positif terhadap bisnis CPO yang setahun terakhir cukup lesu. Hal ini bisa membuat CPO seperti komoditas batu bara yang bisa melejit tinggi karena ada permintaan luar biasa. Namun, minyak nabati tidak hanya CPO, tapi juga ada kedelai dan biji bunga matahari. Persaingan itu akan membuat laju CPO dan komoditas pesaingnya bisa naik, tapi secara perlahan.

Namun, kenaikan harga CPO yang terlalu signifikan akan berefek negatif terhadap inflasi. Apalagi, Indonesia jadi salah satu konsumsi minyak nabati CPO yang cukup besar. Untuk itu, transisi menuju net zero ini berpotensi membuat ekonomi bergerak anomali

Di luar itu, balik lagi seperti yang diucapkan CEO  Qatar Airways, apa mungkin kita mencapai net zero carbon?

Daripada pusing mikirin, mending mulai kita timbang-timbang sektor saham apa nih yang potensial menuju transisi untuk zero carbon?

btw, kalau para maskapai masih mau mengembangan pesawat berbahan bakar hidrogen, itu bisa meningkatkan permintaan ammonia juga lho untuk menjaga suhu agar tetap dingin. Namun, risikonya ya proyek itu batal total juga karena tidak sesuai dengan ukuran pesawat dan proses pengisian bahan bakar.

Kami melihat ada beberapa saham potensial di sini, yakni saham yang produksi CPO dan produsen ammonia. Namun, bukan berarti harga sahamnya langsung naik besok, ini butuh time frame 3-5 tahun, bahkan 10 tahun.

Referensi