Kenaikan Harga Saham CPO Saat Hutan Kalimantan Dibakar, Peluang atau Jebakan Betmen?

Karhutla di Kalimantan memang cukup memprihatinkan. Namun, tak dipungkiri peristiwa ini justru membuat harga minyak sawit naik karena risiko gangguan supply. Kira-kira gimana efeknya ke pemain sawit Tanah Air? apakah menarik dilirik sahamnya? 

Share
karhutla saham CPO

Mikirduit - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan semakin meluas di tengah kemarau panjang alias El Nino. Kondisi ini menjadi perhatian serius, terutama bagi sektor minyak kelapa sawit (CPO) yang memiliki banyak area perkebunan di wilayah tersebut.

Key Takeaways

  • Karhutla dan El Nino membuat sektor CPO berada dalam kondisi bittersweet: harga CPO terdorong naik mendekati MYR5.100/ton karena risiko pasokan dan permintaan B50, tetapi produksi sawit berpotensi terganggu lebih cepat.
  • Pengalaman 2018–2019 dan 2023–2024 menunjukkan dampak El Nino dan karhutla ke laba emiten sangat bergantung pada level harga CPO dan biaya produksi; harga CPO yang tetap tinggi cenderung meredam tekanan terhadap profitabilitas.
  • Setelah saham-saham CPO sudah naik signifikan, peluang berikutnya lebih selektif karena emiten dengan produktivitas tinggi, biaya efisien, dan neraca sehat lebih berpotensi menikmati harga CPO tinggi dibanding perusahaan yang produksinya terganggu atau memiliki tekanan biaya besar.
  • Mikirduit Masterclass 2026, Wealthverse: Dapatkan bocoran aset paling menarik untuk 2026-2027. Early Bird cuma Rp250.000 (Tersisa hanya untuk 23 pendaftar lagi) dengan klik link di sini

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 19 Agustus 2026, Kalimantan Barat masih mencatat 2.772 titik panas atau hotspot, dengan potensi luas karhutla mencapai 38.310 hektare (ha). Angka tersebut menambah kekhawatiran di tengah kondisi karhutla yang masih terjadi. 

Sebelumnya, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) mencatat 17.236 titik panas dengan luas indikatif karhutla mencapai 28.680 ha per 27 Juli 2026. 

Bagi sektor CPO, kondisi ini bisa dibilang bittersweet. Di satu sisi, harga CPO sedang mendapat dukungan dari meningkatnya permintaan, terutama dari dalam negeri menjelang penerapan penuh mandatori biodiesel B50 pada Oktober. Artinya, kebutuhan CPO domestik berpotensi semakin besar.

Sumber: Google Maps (Pantauan terkini per 24 Agustus 2026)

Namun di sisi lain, karhutla yang semakin meluas di tengah El Nino justru bisa menjadi ancaman bagi produksi sawit. 

Sebelumnya pada 5 Agustus 2026, kami sempat mengulas efek El-Nino terhadap produksi sawit akan terasa 9-18 bulan ke depan. Namun, dengan kondisi karhutla saat ini yang makin parah, menurut kami dampaknya bisa terasa lebih cepat. 

Jadi, bittersweet-nya ada di sini, demand CPO sedang menguat tetapi risiko gangguan pasokan semakin menghantui. Efeknya langsung terlihat ke harga CPO di bursa Malaysia yang naik 6.54 persen minggu ini, mengerek penguatan hampir 24 persen dari awal tahun. 

Harga CPO saat ini semakin mendekati MYR 5.100 per ton, yang setara titik tertingginya dalam empat tahun. 

Sumber: Trading Economics, 24 Agustus 2026

Apa Kabar Saham dan Kinerja Emiten CPO?

Kenaikan harga CPO yang dipercepat karena imbas karhutla dan El-nino terpantau memicu sejumlah saham di sektor itu naik kencang.

Dalam seminggu terakhir sampai perdagangan Senin hari ini (24/8/2026), dari 17 saham CPO yang kami kumpulan, semuanya dalam zona positif. Terpantau saham grup Haji Isam naik paling kencang, JARR terbang 56 persen, diikuti PGUN melejit 33 persen. 

Saham BWPT menyusul dengan kenaikan 22 persenan, sementara yang lainnya penguatannya masih di bawah 10 persen. Berikut rinciannya: 

Sumber: IDX, Stockbit, data diolah

Dari tabel di atas, kami juga menunjukkan kinerja keuangan mayoritas emiten sawit di semester I/2026 ini cukup ciamik. 10 dari 17 emiten mencatat pertumbuhan laba positif, bahkan rata-rata tumbuh double digit persen

Menurut pantauan kami, sejumlah emiten sudah memberikan komentar soal kondisi lahan mereka yang ada di Kalimantan. Sebut saja ada AALI, TAPG, DSNG, TLDN, SSMS, dan NSSS

Mereka menyebut area perkebunan masih aman dari dampak karhutla. Namun, perusahaan tetap siaga melalui Zero Burning Policy, tim tanggap darurat, embung air, dan pemantauan satelit untuk mencegah titik api masuk ke area HGU. 

Dengan langkah tersebut, rata-rata manajemen menilai operasional dan target produksi CPO masih aman. 

Namun, kita juga perlu melihat kondisi ini secara rasional. Harga CPO memang sedang naik didorong permintaan, tetapi karhutla berpotensi mempercepat dampak El Niño terhadap produksi. Apalagi, penyebab karhutla masih terus ditelusuri dan sejauh ini berbagai laporan media menyebut sudah ada 72 tersangka yang ditangkap.

Sekali lagi kami tekankan, kondisi ini menjadi bittersweet bagi emiten sawit. Harga CPO naik, tetapi produksi berpotensi turun, sehingga tidak semua emiten bisa menikmati kenaikan harga secara optimal.

Menurut kami, emiten yang paling diuntungkan adalah yang mampu menjaga produktivitas tinggi, biaya produksi efisien, dan neraca sehat. 

Sebaliknya, perusahaan hilir justru berpotensi menghadapi tekanan karena pasokan CPO mengetat dan harga bahan baku naik. Jika kenaikan biaya tidak bisa diteruskan ke konsumen, margin pun bisa tertekan.

Jadi, katalis kenaikan harga CPO tetap positif, tetapi dampaknya ke laba akan sangat bergantung pada kemampuan masing-masing perusahaan menjaga produksi dan biaya.

Historis Harga CPO Ketika Terjadi Karhutla 

Kami menelisik lebih dalam, ternyata karhutla bukan cuma terjadi tahun ini. Ada hiperbola yang bilang kalau ini event tahunan. Namun, kami melihat berdasarkan data historis, karlutla parah pernah terjadi pada 2018, 2019, kemudian pada 2023 dan 2024 silam. 

Sama seperti tahun ini, karlutla makin diperparah akibat kemarau panjang. Rata-rata puncak eskalasi jumlah titik api  dan kabut asap pada bulan Agustus hingga September.

Pada 2018 silam, lonjakan titik api yang tak terkendali di Kalimantan Barat terjadi secara masif pada rentang tanggal 16 – 23 Agustus 2018. Aktivitas pemadaman oleh satgas masih terus berlangsung hingga akhir September 2018. 

Setahun berikutnya karhutla terjadi lagi, melanda hampir sepanjang tahun dari rentang Januari hingga Oktober 2019. 

Peningkatan titik api secara ekstrem mulai terjadi di awal bulan Agustus, dengan puncak hotspot tertinggi berada di tanggal 4, 5, dan 6 Agustus 2019. Kebakaran hebat terus meluas dan mencapai puncak keparahan kabut asap sekitar tanggal 12 – 13 Agustus 2019 di Kalimantan Tengah, dan berlanjut hingga awal September 2019 di wilayah Kalimantan Timur. 

Berlanjut pada 2023, karhutla kembali dipicu kemarau kering. Titik panas di khususnya Kalimantan Selatan mulai merayap naik sejak Mei 2023. Puncak kebakaran intens terjadi sepanjang bulan Agustus hingga September 2023.

Geliat Geng Northstar di Saham MGLV, Bakal Dejavu ARTO?
saham MGLV sudah terbang ke Rp10.000 sejak diakuisisi oleh Geng Northstar. Meski, posisi komisaris dari Patrick Walujo sudah digantikan oleh Glenn Sugita, tapi semuanya masih dalam satu circle. Jadi, bagaimana prospek saham MGLV ke depannya?

Eskalasi kebakaran lahan gambut besar dilaporkan secara beruntun pada tanggal 31 Agustus hingga 4 September 2023 di Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur. 

Setahun setelahnya 2024 karhutla terjadi lagi, dibagi menjadi dua fase akibat anomali cuaca.

Fase pertama terpantau curi start pada awal tahun, dengan puncak luasan indikatif terbakar terbesar di Kalimantan Timur terjadi sepanjang Januari hingga April 2024. 

Setelah sempat mereda karena hujan, fase kedua karhutla kembali memuncak saat kemarau di bulan September, dengan rentang kebakaran harian terparah melanda 6 kabupaten di Kalimantan Selatan pada tanggal 12 – 13 September 2024. 

Dari sederet kejadian itu, kami menganalisis dampak karhutla terhadap harga CPO secara optimal, dengan asumsi rentang tanggal terbaik untuk menarik data harian adalah 1 Juli–31 Oktober 2018 (puncak disrupsi Agustus), 1 Juli–30 November 2019 (krisis asap terparah Agustus–September), 1 Juli–31 Oktober 2023 (efek kemarau ekstrem El Niño), serta dua fragmen di tahun 2024 yaitu 1 Januari–31 Mei 2024 (kebakaran awal tahun di Kaltim) dan 1 Agustus–31 Oktober 2024 (puncak karhutla harian September di Kalsel).

Dari data itu, kami merangkum dua periode Karhutla yang cukup signifikan.

Pertama, pada Januari - November 2019, yang mana tren Karhutla meningkat dari 2018.

Kedua pada periode 1 Januari - 31 Oktober 2024. Lalu, bagaimana dampaknya terhadap tren harga saham CPO?

Untuk periode pertama, kami melihat ada tren pergerakan harga saham CPO di puncak Karhutla cenderung stagnan meski ada penurunan signifikan. Misalnya:

  • LSIP mencatatkan stagan di harga sekitar Rp1.460 per saham sepanjang 2019 dengan penurunan terdalam sebesar 30 persen di Rp1.020 per saham. Tren harga saham LSIP kembali rebound mulai Agustus 2019.
  • AALI juga mencatatkan tren harga saham yang cenderung stagnan sepanjang 2019 di level Rp14.000-an. Tren penurunan terdalam sekitar 32 persen menjadi Rp9.500 per saham. Saham AALI sudah mulai rebound per Agustus 2019
  • DSNG juga cenderung stagan di Rp425 sepanjang 2019 dengan penuruan terdalam 28 persen menjadi Rp306 per saham. DSNG mulai rebound pada Oktober 2019.
  • ANJT yang agak berbeda, saham ini mengalami penurunan signifikan sejak November 2018 hingga September 2019 sebesar 43 persen.

Lalu, untuk periode kedua malah mengalami penurunan yang lebih dalam dibandingkan dengan 2018-2019. Misalnya:

  • LSIP turun 52 persen menjadi Rp750 per saham dari Rp1.575 per saham sepanjang 8 Maret 2022 sampai 21 Juni 2024.
  • AALI turun 61 persen dari Rp13.450 per saham hingga ke Rp5.175 per saham sejak 13 Mei 2022 hingga 12 Juli 2024
  • DSNG turun 42 persen sejak 17 April 2023 hingga 7 Maret 2024.
  • ANJT mengalami penurunan sebesar 42 persen menjadi Rp615 per saham dalam periode 27 Juni 2023 - 19 Juni 2024
Sumber: Tradingview, data ditarik manual

Lalu, bagaimana dampaknya terhadap kinerja keuangan saham CPO saat ada Karhutla di 2018-2019 dan 2023-2024?

Kami akan mengambil sampel dari saham CPO yang sudah listing sebelum 2018 seperti, AALI, LSIP, DSNG, dan ANJT.

Hasilnya, ada pola laba bersih sepanjang 2018-2019 mengalami penurunan. Hal itu dialami AALI yang mencatatkan penurunan laba bersih 28 persen menjadi Rp1,43 triliun pada 2018, dan lanjut mencatatkan penurunan 85 persen menjadi Rp211 miliar.

Begitu juga dengan LSIP yang mencatatkan penurunan laba bersih 56 persen menjadi Rp331 miliar pada 2018. Lalu, tren penurunan berlanjut di 2019 sebesar 23 persen menjadi Rp254 miliar.

DSNG juga mengalami pola yang sama, laba bersih turun 28 persen menjadi Rp421 miliar pada 2018. Lalu, di 2019 mencatatkan penurunan sebesar 57 persen menjadi Rp180 miliar.

ANJT lebih signifikan, perseroan mencatatkan kerugian Rp4 miliar dari laba Rp635 miliar pada 2018. Lalu, kerugian meningkat drastis menjadi Rp59 miliar pada 2019.

Saham HEAL Terdiskon di Tengah Risiko Utilisasi yang Turun Saat Agresif Ekspansi
Saham HEAL terdiskon dalam kondisi laba bersih tertekan. Faktornya, ekspansi agresif yang dilakukan belum menghasilkan pendapatan yang optimal. Jadi, menarik atau tidak?

Ada dua faktor utama yang membuat kinerja laba bersih saham CPO jeblok signifikan di 2018-2019:

Pertama, harga CPO global mengalami penurunan dari level 3.000 ringgit per ton pada 2016 menjadi hanya 1,800 ringgit per ton. Faktornya cukup beragam, perkebunan CPO Indonesia dan Malaysia tidak menurunkan produksi di kala India menaikkan pajak impor CPO. Artinya, demand berisiko turun dengan produksi yang naik. Apalagi, kala itu juga terjadi perang dagang jilid I antara China-Amerika Serikat, serta persaingan harga dengan komoditas minyak nabati lainnya seperti kedelai, kanola, hingga biji bunga matahari.

Kedua, dalam data tren produksi CPO Indonesia memang cenderung mencatatkan kenaikan meski dalam kondisi El Nino dan Karhutla. Namun, jika dilihat dari pendapatan, ada kecenderungan perlambatan pertumbuhan (perlambatan adalah tren pertumbuhan yang lebih rendah dibandingkan dengan periode sebelumnya). Dengan posisi harga jual yang turun drastis (karena faktor pertama) membuat pendapatan emiten CPO juga terkontraksi.

AALI mencatatkan penurunan pendapatan 10,5 persen menjadi Rp17 triliun pada 2018. Lalu, pendapatan di 2019 juga stagnan di area Rp17 triliun. Hal itu juga dialami LSIP yang mencatatkan penurunan pendapatan sebesar 14 persen menjadi Rp4 triliun pada 2018. Tren pendapatan lanjut turun di 2019 sebesar 7 persen menjadi Rp3,69 triliun.

Begitu juga DSNG yang mencatatkan penurunan pendapatan sebesar 7 persen menjadi Rp4,7 triliun pada 2018. Namun, pendapatan DSNG di 2019 naik 21 persen. Meski, kenaikan pendapatan itu tidak menyelamatkan tren laba bersih perseroan yang lanjut mengalami penurunan signfikan.

Begitu juga ANJT yang mencatatkan tren pendapatan stagnan di 2018 senilai Rp2,16 triliun. Lalu, pendapatan ANJT turun sebesar 14 persen menjadi Rp1,84 triliun pada 2019.

Sementara itu, pola 2023-2024 yang punya skala El Nino lebih besar justru tidak terlalu menekan posisi laba bersih lebih dari 1 tahun.

AALI mencatatkan penurunan laba bersih sebesar 41 persen menjadi Rp1 triliun pada 2022. Namun, tren laba bersih lanjut naik 10 persen menjadi Rp1,1 triliun pada 2024. Hal serupa juga dialami oleh LSIP yang mencatatkan penurunan laba bersih sebesar 6,88 persen menjadi Rp4,19 triliun pada 2023. Lalu, pulih dengan tumbuh 7 persen menjadi Rp4,5 triliun pada 2024.

💡
Mau dapat stockpick dari AI untuk saham AS dan Indonesia, kamu bisa klaim diskon spesial untuk Investing Pro, Langsung langganan di sini sekarang!

DSNG juga mengalami hal yang sama. Laba bersih turun 30 persen menjadi Rp840 miliar pada 2023. Lalu, mencatatkan kenaikan 30 persen menjadi Rp1,1 triliun pada 2024.

Hanya ANJT yang mencatatkan tren kinerja berbeda. ANJT mencatatkan penurunan laba bersih sebesar 75 persen menjadi Rp79 miliar pada 2023. Lalu, laba bersihnya lanjut turun sebesar 25 persen menjadi Rp59 miliar.

Nah, perbedaan yang terjadi antara 2018-2019 dengan 2023-2024 adalah posisi harga CPO. Jika di 2018-2019 ada konsolidasi CPO yang signifikan hingga ke harga yang cukup rendah, sedangkan di 2023-2024 tren harga CPO stabil di 3.700 - 3.900 ringgit per ton.

Untuk periode 2023-2024 juga diselamatkan oleh perbaikan permintaan pasca Covid-19 dan produksi juga baru pulih dari kontraksi saat pandemi Covid-19. Sehingga saat produksi dan penjualan mulai naik dengan harga yang lebih stabil membuat laba bersih emiten CPO bisa pulih lebih cepat.

Kesimpulan

Dengan melihat pola pergerakan harga saham beberapa sampel saham CPO serta kinerja keuangan pada periode dua El Nino dan Karhutla pada 2018-2019 dan 2023-2024, apa yang bisa disimpulkan?

Pertama, dampak El Nino dan pembakaran hutan akan tergantung bagaimana kondisi harga CPO. Jika tren harga CPO masih cukup tinggi, seharusnya dampak terhadap kinerja keuangan cenderung terbatas (dalam artian tidak memakan waktu lebih dari 1 tahun).

Saat ini, harga CPO memang ada di 5.000 ringgit per ton, salah satu level yang cukup tinggi (di bawha 3.000 ringgi biasanya dianggap mulai berisiko). Namun, jika bicara harga CPO, volatiltiasnya bisa cukup tinggi. Jika hasil produksi Indonesia dan Malaysia tetap tinggi dengan pertumbuhan permintaan yang tidak signifikan atau malah kalah bersaing dengan komoditas pesaing karena harga terlalu tinggi bisa jadi tekanan sendiri. Bahkan, harga CPO pernah turun 23 persen dalam 6 bulan dari harga 5.100 ringgit per ton menjadi 3.800 ringgit per ton.

Kedua, faktor biaya operasional. Pada 2022, tren harga saham CPO jeblok karena harga pupuk meroket pasca normalisasi aktivitas ekonomi di 2022. Hasilnya, meski harga CPO terbang, beban pokok pendapatan juga tetap tinggi. Ditambah ada EL Nino dan Karhutla sehingga dampak terhadap harga saham cenderung negatif meski kinerja laba-ruginya tidak mengalami penurunan separah El Nino 2018-2019.

Jadi, apakah saham CPO saat ini masih bisa dikejar? atau malah siap turun? kalau kami akan cenderung melihat risiko dengan kondisi fluktuasi saham CPO yang sudah tinggi. Pasalnya, risiko perlambatan produksi sudah ada di depan mata juga.

Apa yang Kamu Dapatkan Jika Join Mikirsaham?

  • Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
  • Tools Trading Plan by Sistem (minimal join Mikirsaham Super dan masih tahap Beta)
  • Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
  • Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
  • Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US
  • Diskusi lebih nyaman di member area tanpa ada distraksi
  • Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
  • Hingga konsultasi private dengan founder kami

Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini

Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini

Investasi Crypto di PINTU sekarang