Geliat Geng Northstar di Saham MGLV, Bakal Dejavu ARTO?
saham MGLV sudah terbang ke Rp10.000 sejak diakuisisi oleh Geng Northstar. Meski, posisi komisaris dari Patrick Walujo sudah digantikan oleh Glenn Sugita, tapi semuanya masih dalam satu circle. Jadi, bagaimana prospek saham MGLV ke depannya?
Mikirduit – Saham MGLV bakal menjadi perusahaan data center yang berada di bawah geng Northstar seperti Glenn Sugita. Lalu, apakah MGLV akan menjadi dejavu seperti ARTO?
Key Takeaways
- MGLV tengah bertransformasi menjadi pemain data center dengan kapasitas 96 MW melalui MettaDC di Cikarang dan Nextier Genai Center di Batang, serta sudah memiliki rencana kontrak dengan ISAT dan Megaspeed yang bisa membantu utilisasi asetnya.
- Ekspansi MGLV sangat agresif dengan capex sekitar Rp7,07 triliun pada 2026 dan Rp6,2 triliun pada 2027, sehingga leverage berpotensi melonjak hingga 6,2x dan free cash flow diproyeksikan masih negatif besar sampai 2027 sebelum berbalik positif pada 2028.
- Narasi Northstar, masuknya Boy Thohir, free float yang tipis, serta boom AI bisa menjadi katalis spekulatif MGLV, tetapi valuasi yang sudah tinggi, risiko oversupply data center 2026–2028, dan potensi perlambatan ekspansi AI membuat saham ini tetap berisiko tinggi.
- Mikirduit Masterclass 2026, Wealthverse: Dapatkan bocoran aset paling menarik untuk 2026-2027. Early Bird cuma Rp250.000 (Tersisa hanya untuk 23 pendaftar lagi) dengan klik link di sini
Kisah MGLV dimulai ketika perseroan diakuisisi oleh PT Nextier Datamate Center mengakuisisi 78,74 persen saham MGLV dari PT Trijaya Wisesa Makmur pada 10 Februari 2026. Lalu, MGLV melakukan RUPS Luar Biasa untuk mengangkat beberapa pihak, termasuk Patrick Sugito Walujo sebagai komisaris perseroan.
Dalam RUPSLB tersebut, deretan Direksi dan Manajemen pun ada kaitannya dengan beberapa perusahaan yang di bawah naungan Grup Northstar. Misalnya, Direktur Utama adalah Putra Harianto Bate'e yang pernah menjadi Finansial Reporting Senior Manager di GOTO sejak Mei 2024 hingga Januari 2026.
Dalam keterbukaan pada 30 Maret 2026, Manajemen MGLV memang menjelaskan perseroan akan mengubah bisnis menjadi penyedia data center. Pengembangan dilakukan melakukan akuisisi aset yang sudah beroperasi. Lalu, perseroan juga berencana melakukan pengembangan pusat data baru untuk meningkatkan kapasitas yang sudah dimiliki.
Adapun, aset data center yang diakuisisi MGLV adalah aset pengendali. Hal itu tercatat dalam transaksi pada 2 Juli 2026 ketika MGLV mengakuisisi dua anak usaha PT Nextier Datamate Center, yakni PT Nextier Aksara Center dan PT Nextier Genai Center dari pengendalinya, PT Nextier Datamate Center.
Menariknya, sebelum akuisisi 2 anak usaha pengendali MGLV itu, Patrick Walujo memutuskan mundur dari kursi komisaris perseroan pada 19 Juni 2026. Lalu, posisinya digantikan dengan Glenn Sugita, yang diketahui juga terafiliasi dengan Northstar.
Jadi, bagaimana prospek saham MGLV ini?
Potensi Kinerja Bisnis MGLV Setelah Jadi Perusahaan Data Center
MGLV akan memiliki dua anak usaha data center, yakni PT Nextier Askara Center atau MettaDC dengan kapasitas 36 MW di Cikarang. Data center itu dirancang untuk skala enterprise dan hyperscaler.
Lalu, ada PT Nextier Genai Center dengan kapasitas 60 MW di Batang, Jawa Tengah.
Menariknya, dua aset anak usaha MGLV ini sudah punya perjanjian dengan ISAT dan PT Megaspeed Internasional Indonesia untuk menyewa data center perseroan. Namun, detail kontrak dengan dua perusahaan tersebut belum tertulis dengan jelas. (setelah akuisisi rampung dan aset masuk ke MGLV harusnya bisa tercatat di laporan keuangan kuartal III/2026).
Rencana kontrak itu juga berhubungan erat dengan ISAT membangun AI Factory bernama Zankore bersama Nvidia hingga Nokia dengan target awal kapasitas 200 MW di daerah Batang juga.
Di sisi lain, dalam studi kelayakan disebutkan rencana belanja modalnya cukup jumbo. Pada 2026, belanja modal ditaksir sekitar Rp7,07 triliun, sedangkan pada 2027 sekitar RP6,2 triliun.
Dalam skemanya, nantinya pendanaan belanja modal menggunakan skema 70 persen dari pinjaman bank dan 30 persen dari modal sendiri. Adapun, untuk komponen modal atau ekuitas akan menggunakan kombinasi pinjaman pemegang saham, right issue, dan dana internal.
Nextier Datamate Center pun sudah menyediakan pinjaman pemegang saham hingga Rp4 triliun dengan bunga 7 persen. Dengan begitu, tingkat beban bunga bisa mencapai Rp280 miliar.
Dengan begitu, tingkat utang MGLV berpotensi melonjak dengan perkiraan bisa tembus level tertingginya sebesar 6,2 kali pada 2027. Setelahnya, pada 2028 mulai turun menjadi 5,4 kali.
Dari proyeksi, pinjaman pemegang saham akan mencapai puncaknya di 2028 hingga Rp4 triliun. Setelah itu, pembayaran mulai dilakukan dan dibayar lunas hingga Rp0 pada 2036.
Manajemen MGLV memperkirakan perseroan masih merugi Rp134 miliar di 2026 dan mulai turnaround di 2027 dengan laba bersih Rp88,9 miliar. Hingga di 2029 bisa mencatatkan laba bersih tembus Rp218 miliar.
Dari proyeksi laba manajemen MGLV memperkirakan perseroan masih merugi Rp134 miliar di 2026 dan mulai turnaround di 2027 dengan laba bersih Rp88,9 miliar. Hingga di 2029 bisa mencatatkan laba bersih tembus Rp218 miliar.
Lalu, dari segi free cashflow juga diperkirakan baru mulai mencatatkan hasil positif pada 2028 senilai Rp1,68 triliun. Namun, pada 2026-2027 masih mencatatkan free cash flow dengan posisi negatif Rp6,9 triliun dan Rp5,2 triliun.

Rencana Right Issue Saham MGLV dan Dejavu ARTO
MGLV juga lagi merencanakan aksi right issue dengan menerbitkan 285 juta lembar saham baru. Target dana sekitar Rp2,4 triliun, sehingga bisa diasumsikan harga pelaksanaan bisa sekitar Rp8.400 per saham.
Detail right issuenya belum ada, tapi dana tersebut akan digunakan untuk pembayaran kewajiban kepada pengendali, akuisisi dua anak usaha pengendali, modal kerja, belanja modal, hingga pengembangan data center.
Lalu, jika dilihat dilusinya juga tidak signifikan hanya sekitar 15 persen. Perubahan harga teoritisnya juga tidak terlalu signifikan. Rasio right issue pun cukup kecil hanya 20:3. (pemegang 20 saham lama berhak atas 3 saham baru)
Kini (per 21 Agustus 2026), harga saham MGLV sudah tembus Rp10.950 per saham. Lalu, apakah setelah right issue harga sahamnya bisa lanjut terbang?
Bicara MGLV yang terkait dengan Northstar, kita bisa melihat jejak ARTO saat diakuisisi pada medio 2019-2020. Meski, pemain Northstar saat ini agak berbeda dengan zaman ARTO. Ketika ARTO, Patrick Walujo dan Jerry Ng, sedangkan saat ini antara Glenn Sugita dengan Boy Thohir.
Jika dilihat skema right issue, juga agak berbeda antara MGLV dengan ARTO.
Dalam right issue yang pertama, ARTO langsung memasang rasio jumbo hingga 1:8 (1 saham lama dapat 8 saham baru). Lalu, right issue kedua baru dengan rasio yang lebih rendah, yakni 579:160 yang dilakukan pada Maret 2022.
Dalam periode itu, harga saham ARTO meroket hingga ribuan persen. Lalu, bagaimana dengan MGLV?
Secara skala Supply free float cukup terbatas hanya 461 juta lembar. Apalagi, dari jumlah tersebut, kurang dari 152 juta lembar yang benar-benar tergolong free float.
Tantangannya, posisi harga saham MGLV sudah tembus Rp10.000-an, artinya jika mau 1 bagger saja butuh dorongan hingga Rp20.000 per saham. Apakah itu sulit? mungkin saja dengan likuiditas yang terbatas. Tapi, daya gedornya sulit seheboh ARTO dulu.
Jika dilihat dari narasi, ARTO pada 2019 sudah dikaitkan dengan Gojek (sebelum jadi GOTO). Bahkan, disebut bakal jadi Bank Gojek.
Untuk MGLV ini masuk di era boom AI dan perseroan punya kontrak dengan ISAT yang menjalankan bisnis AI Factory via proyek Zankorenya.
Tantangannya, ada dua risiko yang harus diperhatikan:
Pertama, dalam studi kelayakan ada potensi oversupply dta center yang terjadi pada periode 2026-2028. Oversupply terjadi karena pengembangan data center yang tumbuh lebih tinggi dari permintaan pada periode tersebut. Tapi, ujungnya pada 2034, demand data center diperkirakan tembus 3.059 MW dan Supply 2.566 MW sehingga malah terjadi kekurangan Supply dalam jangka panjang.
Dalam studi kelayakan tersebut, demand berpotensi mulai menanjak pada 2029.
Untuk MGLV, dari segi utilitas harusnya bisa terselamatkan karena sudah punya kontrak dari ISAT dan Megaspeed, meski detailnya belum diketahui.
Kedua, jika boom AI melunak karena faktor suku bunga naik hingga perlambatan ekonomi. Lalu, ekspansi besar-besaran data center untuk AI jadi melambat, itu bisa mempengaruhi prospek MGLV juga. Jika ternyata demand tidak sekuat proyeksi sebelumnya, artinya ekspansi jumbo MGLV menjadi beban besar dengan pendapatan di bawah ekspektasi.

Boy Thohir Masuk ke MGLV
Salah satu yang jadi perhatian adalah pergerakan dari pengendali Nextier Datamate Center di saham MGLV. Setelah akuisisi MGLV, Nextier Datamate Center memegang 78,75 persen saham MGLV.
Namun, sejak 3 Juli 2026 hingga 19 Agustus 2026, Nextier Datacenter menjual saham MGLV dengan harga rata-rata di Rp7.000 per saham.
Dalam komposisi pemegang saham di atas 1 persen, ada berapa nama selain Nextier Data Center seperti:
- PT Trinugraha Thohir Harmoni, yang juga dimiliki oleh Boy Thohir dengan porsi 4,86 persen
- PT Mandala Timur Invesrindo dengan porsi 1,68 persen
- PT Andromeda Technology Investama sebesar 2,52 persen
- PT Celera Makmoer Indonesia dengan porsi 2,2 persen
- Bank of Singapore Ltd dengan porsi 1,76 persen
Di sisi lain, Boy Thohir juga sudah bergelut di bisnis data center melalui Bersama Digital Data Center (BDDC) yang merupakan kongsi antara Provident Capital, SRTG, dan Macquarie Asset Management.
Kesimpulan
Apakah saham MGLV menarik untuk investasi jangka menengah? dengan posisi harga saham saat ini sangat tidak menarik.
Untuk saham MGLV bisa dijadikan strategi spekulatif dengan alokasi modal yang kecil. Alasannya, skala likuiditasnya rendah sehingga volatilitasnya bisa cukup tinggi. Misalnya, dari data-data yang tersedia, kita bisa mengatur strategi masuk menjadi 3 peluru yang dibagi rata:
- Masuk titip sendal di harga sekarang atau tunggu dia turun ke Rp9.000-an per saham
- Tunggu saat data right issue keluar lebih lengkap terkait harga pelaksanaan (jika harga pelaksanaan lebih rendah dari ekspektasi di Rp8.000-an per saham bisa jadi risiko)
- Sisakan satu peluru jika ada hal tidak terduga
- Jangan lupa taking profit bertahap jika keuntungan sudah lumayan
- Tentukan batas risiko kamu keluar dari dua sampai tiga kali masuk
- Jangan menggunakan modal terlalu besar. Kami menilai batas paling maksimal dalam karakter saham seperti ini senilai Rp20 juta.
Harus diingat, posisi saham yang sudah sangat mahal ini memiliki risiko yang cukup tinggi. Jadi, jangan pernah ALL IN hingga menempatkan modal dengan skala yang besar.
Dapatkan Insight dan Belajar Saham dengan Praktek Langsung Bersama Founder Mikirduit
Dapatkan semua benefit Mikirsaham.com, join sekarang dan dapatkan deretan benefit yang membantumu investasi di saham seperti:
- Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
- Tools Trading Plan by Sistem (minimal join Mikirsaham Super dan masih tahap Beta)
- Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
- Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
- Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US
- Diskusi lebih nyaman di member area tanpa ada distraksi
- Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
- Hingga konsultasi private dengan founder kami
Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini
Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini

