B50 Ditunda, Begini Peluang Menanti Saham CPO Diskon
Pergerakan saham CPO tampaknya masih akan terbatas, karena pemerintah menunda pelaksanaan B50 yang sebelumnya ditargetkan pada semester II/2026. Di sisi lain, kenaikan pungutan ekspor akan diterapkan mulai Maret 2026. Kira-kira gimana prospek emiten CPO? apakah masih menarik di lirik saham-nya?
Mikirduit - Sektor CPO menghadapi tantangan permintaan dari penerapan B50 dibatalkan tahun ini karena masih butuh persiapan lebih lama dan pungutan ekspor yang naik. Kira-kira gimana prospeknya? apakah saham-nya masih menarik dilirik?
Highlight
- Sektor CPO masih mendapat tantangan permintaan dari penerapan B50 yang ditunda sampai pungutan ekspor naik.
- Harga minyak mentah yang masih murah membuat urgensi pemerintah untuk menerapkan B50 dinilai belum terlalu kuat.
- Pergerakan saham CPO rawan bergerak terkoreksi, tetapi mulai menarik untuk diperhatikan valuasi yang bisa semakin murah.
- Untuk diskusi saham secara lengkap, pilihan saham bulanan, dan insight komprehensif untuk member, kamu bisa join di Mikirsaham dengan klik link di sini.
Pemerintah Batalkan Penerapan B50 di 2026
Pemerintah baru-baru ini mengumumkan mandatori pencampuran biodiesel B40 masih akan berlanjut pada 2026. Atinya penerapan B50 ditunda, padahal sebelumnya ditargetkan bisa berlaku mulai semester kedua tahuni ni.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung pada Rabu (14/1/2026) menyampaikan bahwa pemerintah saat ini masih memprioritaskan stabilitas pasokan energi nasional, sembari melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kesiapan teknis implementasi B50.
Sejalan dengan itu, pejabat Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi menjelaskan bahwa penundaan B50 dilakukan karena pemerintah masih membutuhkan waktu tambahan untuk menilai hasil uji coba pada sejumlah sektor strategis.
Kami menilai keputusan tersebut cukup masuk akal, mengingat gap antara harga minyak mentah dan CPO masih cukup lebar sekitar US$ 392 per ton, ini dihitung dari posisiharga minyak mentah (Brent) yang masih murah di sekitar US$ 64 per barel setara US$472 per ton, dibandingkan harga CPO di bursa Malaysia di MYR 4.060 per ton atau setara US$ 864 tron.

Gap tersebut semakin melebar dibandingkan dibandingkan kuartal IV-2025 yang masih berada di kisaran US$300 per ton.
Sejalan dengan itu, pada Oktober 2025 Kementerian ESDM juga memperkirakan bahwa implementasi mandatori B50 akan membutuhkan sekitar 20,1 juta kiloliter biodiesel berbasis minyak sawit per tahun, lebih tinggi dibandingkan kebutuhan B40 yang diproyeksikan sebesar 15,6 juta kiloliter.
Sementara itu, realisasi pemanfaatan biodiesel domestik sepanjang 2025, saat B40 diterapkan, tercatat mencapai 14,2 juta kiloliter. Artinya, dari sisi suplai masih kurang, di sini upaya untuk produksi juga masih menjadi tantangan karena berbagai isu lingkungan akhir-akhir ini.
Ringkasnya, keputusan B50 menjadi semakin masuk akal karena harga minyak mentah murah membuat pemerintah lebih ideal untuk mengumpulkan energi fosil lebih dulu sebagai penguat ketahanan energi jangka pendek, sambil menyiapkan arah yang lebih serius untuk pemenuhan kebutuhan implementasi B50 di tahun-tahun mendatang.

Tantangan Saham CPO
Dalam jangka pendek - menengah, dengan ditundanya B50 ini tentu akan membuat tantangan tersendiri bagi industri CPO, karena permintaan domestik yang sebelumnya diharapkan meningkat jadi batal.
Absennya tambahan serapan dari sektor biodiesel membuat pasar CPO kembali lebih bergantung pada permintaan ekspor di tengah kondisi global yang belum sepenuhnya pulih
Di sisi lain, tekanan terhadap permintaan juga datang dari aturan baru terkait kenaikan pungutan ekspor dari 10 persen menjadi 12,5 persen, beserta produk turunan kelapa sawit lainnya juga akan mengalami kenaikan pungutan sebesar 2,5 persen yang akan mulai berlaku pada Maret 2026. Kebijakan ini berpotensi menekan margin pelaku usaha, khususnya bagi emiten yang memiliki eksposur ekspor besar.
Kombinasi kedua faktor tersebut diperkirakan akan menjaga sentimen sektor CPO tetap berhati-hati, dengan ruang koreksi harga yang masih terbuka dalam jangka pendek. Seperti terlihat dari tabel di bawah ini mayoritas pergerakan harga saham CPO masih di zona merah:
Menanti Saham CPO dengan Valuasi Murah
Namun, tekanan daru ditundanya B50 dan kenaikan pungutan ekspor juga berpotensi mendorong penyesuaian valuasi ke level yang semakin menarik, terutama bagi emiten dengan struktur biaya efisien dan neraca keuangan yang solid.
Dari 10 emiten CPO yang kami pantau, ada empat yang valuasinya sudah murah dengan diskon di atas 10 persen. Sementara hanya satu yang diarea harga wajar yaitu saham PALM. Sisanya masih berada di area premium atau mahal.
Kesimpulannya, penundaan implementasi B50 dan kenaikan pungutan ekspor berpotensi menekan harga CPO serta kinerja saham-sahamnya dalam jangka pendek hingga menengah.
Namun, tekanan ini justru membuka peluang bagi investor untuk mencermati saham CPO yang mulai turun ke level valuasi wajar hingga murah, sebagai titik masuk yang lebih menarik sambil menunggu perbaikan katalis ke depan, dengan catatan investor tetap selektif dan disiplin mengecek fundamental serta teknikal sebelum masuk posisi agar dapat peluang keuntungan yang lebih optimal dan risiko yang lebih terkontrol.
Dapatkan Insight Saham hingga Diskusi serta Konsultasi Bersama hampir 1.000 Investor Lainnya di Mikirsaham
Yuk join dengan Mikirsaham sekarang untuk bisa dapatkan benefit ini semua:
- Stockpick investing (dividend, value, growth, contrarian) yang di-update setiap bulan (terbarunya akan diseleksi terbaik maksimal 5 masing-masing strategi dengan analisis yang komprehensif)
- Stock Ideas (memberikan gambaran besar saham-saham yang menarik, tapi tidak termasuk stockpick)
- Stockpicking swing trade mingguan (khusus member mikirsaham elite jika kuota masih tersedia)
- Insight saham terkini serta action-nya
- Update porto founder
- IPO dan Corporate Action Digest
- Event online bulanan
- Grup Diskusi Saham
Join ke Member Mikirsaham Pro sekarang juga dengan klik link di sini
Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini
