Saham ADHI dan PTPP Dikejar Bom Waktu Bayar Utang Saat Bisnis Tak Kunjung Pulih
Saham ADHI sudah umumkan potensi penundaan bayar kupon obligasi pada 24 Agustus 2026, PTPP lagi sibuk urus mau RUPO dan RUPSO. Seberapa parah kondisinya?
Mikirduit – Saham ADHI berada di titik nadir setelah mengaku berpotensi melakukan penundaan pembayaran kupon obligasi senilai Rp60 miliar pada 24 Agustus 2026. Jadi, apakah nasibnya bakal seperti WIKA dan WSKT?
Key Takeaways
- ADHI mulai menunjukkan alarm likuiditas serius setelah mengaku berpotensi menunda pembayaran kupon obligasi Rp60,8 miliar, sementara arus kas operasional H1/2026 negatif Rp751 miliar dan laba usaha belum mampu menutup beban keuangan.
- Risiko ADHI bisa membesar pada 2027 karena obligasi Rp667 miliar jatuh tempo Mei 2027, ditambah tekanan utang ADCP sekitar Rp117 miliar, sehingga kegagalan restrukturisasi berpotensi menyeretnya ke skenario PKPU seperti WIKA dan WSKT.
- PTPP menghadapi tekanan serupa meski belum gagal bayar, dengan arus kas operasional negatif Rp1,45 triliun, beban keuangan Rp1,04 triliun versus laba usaha Rp262 miliar, serta sekitar Rp2 triliun obligasi dan sukuk jatuh tempo pada 2027.
- Mikirduit Masterclass 2026, Wealthverse: Dapatkan bocoran aset paling menarik untuk 2026-2027. Early Bird cuma Rp250.000 (Tersisa hanya untuk 23 pendaftar lagi) dengan klik link di sini
Dalam keterbukaan informasi pada 21 Agustus 2026, ADHI mengaku tengah menghadapi tekanan keuangan yang bersifat struktural hingga mengalami keterbatasan dana untuk memenuhi kewajiban pembayaran bunga obligasi jelang waktunya.
ADHI sudah memberikan sinyal ini dengan mengadakan RUPO pada 6 Agustus 2026 untuk mengusulkan penundaan pembayaran bunga ke-17, 18, dan 19 obligasi berkelanjutan III tahap III tahun 2022. Namun, ADHI belum mendapatkan persetujuan kerena RUPO-nya tidak kuorum.
Sebelumnya, ADHI juga mencatatkan penurunan peringkat utang untuk obligasi berkelanjutan III tahap III seri B dan seri C tahun 2022 dari idA- menjadi idBB, serta obligasi berkelanjutan IV tahap I tahun 2024 yang diturunkan dari idA- menjadi idBB oleh Pefindo pada 4 Agustus 2026.
Penurunan peringkat itu dilakukan karena ADHI mewacanakan RUPO untuk menunda pembayaran kupon. Adapun, status peringkat idBB berarti obligasi korporasi memiliki kemampuan perlindungan yang sedikit lemah dan tidak layak investasi.
Pertanyaanya, dengan laba bersih ADHI tumbuh 12 persen menjadi Rp8,49 miliar, kenapa ADHI bisa kesulitan bayar kupon?
Memahami Kondisi Laporan Keuangan ADHI
Sekilas, jika melihat realisasi laba-rugi ADHI di semester I/2026 memang positif. Namun, kita perlu tahu apa pembentuk laba bersihnya yang bisa tumbuh 12,6 persen tersebut.
Namun, pembentuk laba bersih ADHI bukanlah pendapatan. Toh, pendapatan ADHI turun 18,4 persen menjadi Rp3,11 triliun. Jika melihat post laba kotor, pendorongnya adalah beban pokok pendapatan yang turun 25 persen. Alhasil laba kotor naik 22,3 persen menjadi Rp700 miliar.
Positifnya, proyek yang dikerjakan ADHI memang menghasilkan gross profit margin lebih bagus meski nilainya menurun. Misalnya, dari teknik dan konstruksi mencatatkan penurunan pendapatan 14,9 persen, tapi dari gross margin-nya naik menjadi 21,6 persen dibandingkan dengan 12,8 persen.
Begitu juga dari manufaktur yang mencatatkan penurunan pendapatan 56,6 persen menjadi Rp166 miliar, tapi gross profit margin-nya naik menjadi 18,4 persen dibandingkan dengan 17,3 persen pada periode sama tahun sebelumnya.
Namun, segmen properti-nya memang masih tertekan. Pendapatan turun 12,3 persen menjadi Rp154 miliar, serta gross profit margin juga turun menjadi 23,5 persen dibandingkan dengan 31,1 persen.
Masalah ADHI sekarang adalah terkait kondisi cashflow yang ketat dengan kewajiban pembayaran utang yang tinggi.
Pasalnya, meski menghasilkan laba bersih Rp8,49 miliar, tapi arus kas operasionalnya negatif Rp751 miliar.
Jika dihitung free cashflow standar mengalami pemburukan menjadi Rp756 miliar. Hal itu terhitung dari cash masuk selain operasional ADHI hanya berasal dari pengembalian investasi pada ventura bersama senilai Rp283 miliar.
Sebenarnya, ADHI mendapatkan pinjaman Rp1,02 triliun, tapi total kas dari pendanaan menjadi negatif karena ada pembayaran utang ke bank dan lembaga keuangan lainnya senilai Rp1,08 triliun dan pembayaran beban pinjaman senilai Rp351 miliar.
Bahkan, jika mengukur dari interest coverage ratio, total laba usaha ADHI di semester I/2026 senilai Rp316 miliar memang tidak mencukupi membayar seluruh beban keuangan senilai Rp349 miliar. Namun, posisi ADHI masih laba dalam akuntasi laba-rugi karena ada pos bagian laba ventura senilai Rp118 miliar.

Lalu, berapa total utang yang tidak bisa dibayar oleh ADHI?
Pertama, ADHI baru memberikan sinyal tidak menyanggupi pembayaran bunga sekitar Rp60,8 miliar pada 24 Agustus 2026 untuk obligasi berkelanjutan III tahap III seri B dan C. Masalah ADHI berpotensi menjadi lebih besar karena obligasi berkelanjutan III tahap III seri B senilai Rp667 miliar itu bakal jatuh tempo pada Mei 2027.
Kedua, obligasi berkelanjutan IV tahap I memang belum diumumkan berpotensi mengalami penundaan pembayaran kupon. Tapi, obligasi itu jatuh tempo pada Juli 2027.
Di sisi lain, risiko terbesar ADHI lainnya ada di ADCP, anak usahanya. ADCP punya utang sekitar Rp117 miliar yang jatuh tempo pada Desember 2026 dan Mei 2027. Bahkan, untuk obligasi ADCP seri III seri A senilai Rp15,7 miliar (bagian dari Rp117 miliar) yang jatuh tempo pada Desember 2026 sudah menghadapi PKPU.
Dengan ADHI sudah mengumumkan tidak bisa bayar kupon obligasi, serta tidak mendapatkan kuorum persetujuan dari RUPO, kondisi ini berpotensi jadi risiko kena PKPU juga. Pasalnya, gejala serupa sudah dialami WSKT hingga WIKA hingga akhirnya kena PKPU dan kini sahamnya disuspensi.

Nasib PTPP Berpotensi Seperti ADHI?
Senasib dengan ADHI, PTPP juga mengalami kondisi yang serupa. Meski, secara laba bersih per semester I/2026 PTPP mencatatkan kenaikan sebesar 196 persen menjadi Rp193 miliar. Namun, laba bersih itu lebih didorong faktor keuntungan selisih kurs senilai Rp51 miliar dibandingkan dengan Rp3,9 miliar pada periode sama tahun sebelumnya.
Namun, secara bisnis, PTPP tengah mengalami penurunan signifikan. Pendapatan turun 11 persen menjadi Rp5,9 triliun, laba kotor turun 17 persen menjadi Rp760 miliar, dan laba sebelum pajak turun 50 persen menjadi Rp35 miliar.
Kas operasional PTPP juga memburuk hingga negatif Rp1,45 triliun dibandingkan dengan Rp716 miliar pada periode sama tahun sebelumnya. Tingkat free cashflow juga negatif sekitar Rp1,46 triliun.

Tantangannya, dari segi laba usaha, PTPP hanya mencatatkan sekitar Rp262 miliar, sedangkan beban keuangan tembus Rp1,04 triliun. Sehingga secara risiko likuiditas pembayaran utang sangat besar.
Apalagi, ada total obligasi dan sukuk yang jatuh tempo pada 2027 dengan nilai signifikan mencapai Rp2 triliun. Rata-rata tingkat jatuh tempo mulai dari April hingga Juni 2027.
Namun, PTPP memang belum mengumumkan rencana penundaan pembayaran kupon. Tapi, PTPP sudah sibuk mengadakan RUPO (obligasi) dan RUPSU (Sukuk) untuk melakukan restrukturisasi utang.
Jika RUPO dan RUPSU lancar, PTPP ada nafas untuk menunda pembayaran pokok. Tapi, jika RUPO dan RUPSU tidak kuorum akan menjadi risiko besar bagi perusahaan BUMN karya tersebut.
Kesimpulan
Saat ini, ADHI dan PTPP memang belum mengalami masalah kesulitan bayar utang, tapi ada gejala-gejala likuiditas yang bisa membuatnya kesulitan membayar utang jatuh tempo ke depannya.
Dalam kondisi begini, ADHI dan PTPP cukup berisiko sebagai saham investasi. Tapi, tetap ada peluangnya, jika nantinya ADHI dan PTPP ketemu strategi menyelesaikan utangnya, kedua saham ini bisa rebound. Hanya saja, risikonya cukup tinggi, karena bisa mengalami suspensi lama seperti WSKT dan WIKA.
Apalagi, pihak Danantara juga mengaku pusing mengurus aset BUMN karya ini. Sehingga, dengan risiko tinggi begitu, lebih baik jangan coba-coba nekat berspekulasi di sini.
Mau Tau Cara Join Mikirsaham?
Dapatkan semua benefit Mikirsaham.com, join sekarang dan dapatkan deretan benefit yang membantumu investasi di saham seperti:
- Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
- Tools Trading Plan by Sistem (minimal join Mikirsaham Super dan masih tahap Beta)
- Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
- Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
- Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US
- Diskusi lebih nyaman di member area tanpa ada distraksi
- Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
- Hingga konsultasi private dengan founder kami
Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini
Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini

