Ada Tanda Teknikal Saham BBYB hingga AMAR Diakumulasi, Begini Sentimennya
Kami melihat secara teknikal, momentum akumulasi yang menarik terjadi di sejumlah saham bank digital. Apakah ini ada kaitannya dengan agenda naik kelas dari KBMI I menjadi KBMI II? Siapa saja mereka?
Mikirduit - Saham bank skala kecil di Kelompok Bank berdasarkan Modal Inti (KBMI) I tengah didorong untuk bisa naik kelas menuju KBMI II. Lalu, apakah ini bisa jadi momentum bagus untuk saham-saham bank kecil tesebut?
Key Takeaways
- Dorongan OJK agar bank KBMI I memperkuat modal hingga di atas Rp6 triliun membuka peluang aksi korporasi seperti suntikan modal, merger, atau akuisisi yang dapat menjadi katalis bagi saham bank kecil.
- BBYB, BGTG, dan AMAR masih membutuhkan tambahan modal sekitar Rp2–3 triliun untuk naik ke KBMI II, sementara kemampuan menutup kebutuhan tersebut hanya dari laba organik dinilai membutuhkan waktu sangat panjang.
- Meski narasi konsolidasi dan akumulasi teknikal cukup menarik, investor tetap perlu mewaspadai risiko kenaikan suku bunga yang berpotensi menekan NIM dan profitabilitas bank-bank kecil lebih besar dibanding bank besar.
- Mikirduit Masterclass 2026, Wealthverse: Dapatkan bocoran aset paling menarik untuk 2026-2027. Early Bird cuma Rp250.000 (kuota terbatas, amankan seat-mu sekarang juga) dengan klik link di sini
Bank KBMI I, kasta terendah di industri perbankan, tengah didorong untuk meningkatkan modal intinya menjadi di atas Rp6 triliun atau naik kasta menjadi KBMI II.
Dorongan OJK ini bukan sekadar soal menambah modal. Sejak akhir 2025, OJK telah meminta bank-bank KBMI I mengevaluasi kinerja bisnis, kualitas aset, tata kelola, model bisnis, hingga prospek jangka panjang, sekaligus mengidentifikasi opsi penguatan modal dan peluang konsolidasi.
Meski begitu, bank-bank tersebut belum serta-merta diwajibkan merger. OJK menegaskan penguatan dan konsolidasi KBMI I masih bersifat imbauan, dilakukan secara bertahap, dan akan dievaluasi secara berkala.
Artinya, masing-masing bank masih punya ruang untuk memilih strateginya sendiri, mulai dari menambah modal secara organik, mendapat suntikan dari pemegang saham, hingga melakukan merger atau akuisisi.
Nah, dari sini menarik melihat bagaimana sejumlah bank mini mulai menyiapkan langkah masing-masing untuk mengejar posisi KBMI II.
Di sisi lain, kami juga mengamatai dari sisi teknikal sejumlah saham yang ternyata juga mulai terjadi akumulasi menarik. Siapa saja mereka? mari kita coba ulas satu per satu.
Saham BBYB, Pengendali Mau IPO di Hong Kong?
Pertama, ada saham PT Bank Neocommerce Tbk. (BBYB) yang kami lihat secara teknikal mulai terakumulasi secara rapi mengikuti MA20 daily, didukung frequency analyzer yang cenderung meningkat.
Posisinya saat ini berada tepat di support MA20, namun masih ada risiko koreksi wajar ke support berikutnya di 240. Menurut kami rentang 240 - 260 masih menjadi demand area, sekaligus menjadi range sideways dalam beberapa bulan terakhir.
Jika ada pantulan dari posisi saat ini, peluang bangkit sampai resistance 322 akan terbuka. Namun, perlu antisipasi jika jatuh dari 240 karena tren akan berubah turun.

Posisi BBYB saat ini juga semakin menarik karena ada katalis dari pemegang saham mayoritasnya, Akulaku, yang dilaporkan tengah menyiapkan langkah besar di pasar modal.
Pada awal September 2026, IFR melaporkan Akulaku telah melakukan confidential filing untuk rencana IPO di Hong Kong dengan target dana sekitar US$300 juta-US$500 juta.
Jika IPO tersebut benar-benar terealisasi, tambahan dana dan penguatan posisi finansial Akulaku berpotensi memberikan ruang lebih besar bagi grup untuk mendukung ekspansi maupun permodalan BBYB.
Namun, ini masih merupakan potensi dan belum dapat dianggap sebagai rencana penambahan modal BBYB, karena belum ada konfirmasi bahwa dana hasil IPO tersebut akan dialokasikan untuk BBYB.
Hingga akhir Juni 2026, total modal inti BBYB sudah senilai Rp4,2 triliun. Sehingga, jika ingin naik kelas, BBYB butuh tambahan modal hingga Rp2 triliun.
Saham BGTG Butuh Rp3 triliun untuk Naik Kelas
Berikutnya, ada akumulasi yang menarik terjadi di saham PT Bank Ganesha Tbk. (BGTG), sejak breakout dari sideways panjang pada 1 September 2026, saham ini saat ini sedang mengalami koreksi wajar dan potensi menguji support terdekat di 115 untuk membentuk higher low baru sebagai basis untuk reversal yang lebih kuat menuju tren naik. Adapun target resistance terdekat bisa mencapai 129.

Kalau soal rencana naik kelas, manajemen BGTG masih enggan bersuara setelah dapat himbauan OJK, tetapi mereka memastikan pihaknya bisa memenuhi ketentuan regulator.
BGTG masih membutuhkan modal yang cukup besar untuk naik kelas. Hingga Juni 2026 dari laporan keuangan kuartalan perseroan, modal inti BGTG baru mencapai Rp3,69 triliun. Artinya, minimal BGTG membutuhkan modal sekitar Rp2,5 triliun - Rp3, triliun lagi.
Sampai paruh pertama tahun ini ini BGTG baru mendapatkan laba Rp114 miliar. Rata-rata laba yang dihasilkan per tahun sekitar Rp200 miliar. Dengan asumsi pertumbuhan konstan, kalau tanpa aksi korporasi seperti merger atau akuisisi, bermodalkan laba saja butuh waktu 15-16 tahun untuk bisa naik kelas.
Sementara, kebijakan OJK rasanya tidak akan menunggu selama itu. Oleh karena itu, potensi aksi korporasi emiten satu ini juga cukup dinantikan untuk mendongkrak modal inti bisa naik kelas.

Saham AMAR Menuju Resistance di 236
Selanjutnya ada saham PT Bank Amar Indonesia Tbk. (AMAR), yang terlihat pattern akumulasi berbentuk rounding, gerakannya juga rapi mengikuti trendline naik MA20 daily. Penguatan lanjutan potensial menuju resistance terdekat di 236.
Menariknya, pada frequency analyzer terlihat adanya spike yang menunjukkan transaksi semakin ramai dari smart money. RSI juga masih berada di zona oversold, yang menunjukkan terbukanya demand area lagi. Adapun support yang masih menjadi tren naik, perlu dipantau ada di 218.

Adapun soal potensi naik kelas. AMAR juga masih punya PR menambah tenaga Rp2,6 triliun untuk mencapai ketentuan minimal dari himbauan OJK di Rp6 triliun, mengingat sampai paruh pertama ini total ekuitasnya hanya Rp3,38 trilun.
AMAR ini juga satu tipe dengan BGTG. Perolehan laba nya setengah tahun ini juga baru kisaran Rp140 miliar. Kalau mau murni tanpa adanya aksi korporasi, untuk memenuhi modal minimum butuh belasan tahun.
Manajemen AMAR sendiri belum ada kepastian soal langkah apa yang mau diambil, tetapi kami melihat peluang aksi korporasi bisa dilakukan dalam waktu beberapa tahun ke depan untuk mendongkrak modal inti.

Saham ARTO Bakal Jadi Induk BFIN?
Terakhir, ada saham ARTO. Di sini kami tidak menyoroti dari sisi akumulasi, karena tren besarnya cenderung turun, tapi posisi harga saat ini terlalu sulit untuk dihiraukan karena sudah mepet ke bawah Rp1.000.
Pada tahun ini, saham ARTO sempat menyentuh 740 yang merupakan level terendah dalam lima tahun. Menurut kami, jika saham ini tembus ke bawah 1000 lagi, membuka peluang untuk masuk demand area lagi.

Bedanya dengan yang lain, ARTO sudah berstatus bank KBMI II karena modal inti per Juni 2026 sudah mencapai Rp6,36 triliun.
Di sisi lain, ARTO lagi dihadapkan dengan narasi soal menjadi Perusahaan Induk Konglomerasi Keuangan (PIKK). Hal ini terjadi setelah ada wacana merger antara ARTO dengan PT BFI Finance Tbk. (BFIN) yang sama-saham terkait dengan Jerry Ng.
Salah satu opsi yang disebut adalah kemungkinan penggabungan kedua perusahaan tersebut. Jika terealisasi, nilai entitas gabungan diperkirakan sekitar US$1,4 miliar atau Rp25 triliun.
Namun, rumor tersebut tidak sama dengan rencana merger yang sudah berjalan. ARTO dan BFIN sama-sama menyampaikan klarifikasi kepada BEI bahwa mereka tidak memiliki informasi yang dapat diungkap mengenai rencana penggabungan usaha tersebut. Pembahasan yang diberitakan juga masih berada pada tahap awal dan belum menghasilkan keputusan final.
Masih Ada Risiko Kenaikan Suku Bunga
Sebagai catatan, sederet saham perbankan di atas memang punya cerita menarik dari potensi naik kelas, bukan cuma soal nantinya akan ke KBMI II tapi setelahnya juga.
Namun, itu masih cerita jangka panjang. Gejolak jangka pendek juga perlu kita cermati, utamanya dari kemungkinan suku bunga the Fed naik pada bulan ini.
Melansir laman CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga the Fed terbuka semakin tinggi mencapai 60,4 persen. Hal ini diperkuat setelah data non farm payform bertambah lebih banyak dari perkiraan, belum lagi harga minyak kembali panas hampir US$ 100 per barel lagi.
Hal ini semakin mengonfirmasi pidato Kevin Warsh di simposium Jackson Hole akhir bulan lalu yang rasanya masih hawkish terhadap kebijakan moneter.

Jika suku bunga bulan ini naik, maka dari itu kita patut mengantisipasi masih ada risiko gejolak jangka pendek di sektor perbankan.
Risikonya bisa lebih terasa pada bank-bank kecil karena basis pendanaannya cenderung lebih mahal dan ruang untuk menyerap kenaikan biaya dana juga lebih terbatas.
IMF sebelumnya juga menilai kenaikan suku bunga dapat memberikan tekanan lebih besar terhadap NIM kelompok KBMI I dan KBMI II dibanding kelompok bank yang lebih besar.
Jadi, di tengah rencana bank-bank mini untuk naik kelas ke KBMI II, kemampuan menjaga profitabilitas dan kualitas kredit di tengah dinamika suku bunga menjadi salah satu hal penting yang perlu dipantau investor.
Mau Diskusi Saham Langsung dengan Founder Mikirduit?
Join Mikirsaham sekarang dan dapatkan benefit:
- Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
- Tools Trading Plan by Sistem (minimal join Mikirsaham Super dan masih tahap Beta)
- Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
- Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
- Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US
- Diskusi lebih nyaman di member area tanpa ada distraksi
- Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
- Hingga konsultasi private dengan founder kami
Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini
Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini

