Harga Minyak Mendekati 100 dolar AS per Barrel, Ini yang Bisa Dilakukan Investor
Harga minyak dunia mendekati US$100 per barel akibat ketegangan geopolitik dan ancaman defisit pasokan; simak dampaknya ke saham migas, batu bara, inflasi, serta strategi investor.
Mikirduit – Harga minyak dunia melonjak tembus 99 dolar AS per barrel. Lalu, apa yang bisa dilakukan investor saat kondisi seperti ini?
- Harga minyak yang mendekati US$100 per barel didorong ketegangan geopolitik dan risiko defisit pasokan, yang sekaligus membuka peluang kenaikan kinerja sektor migas dan batu bara.
- Lonjakan harga energi dapat menjadi pedang bermata dua karena berpotensi mendorong inflasi dan meningkatkan risiko The Fed mempertahankan atau kembali menaikkan suku bunga.
- Investor yang sudah memiliki saham energi masih bisa hold atau take profit bertahap, sedangkan yang belum masuk sebaiknya tidak mengejar harga dan menunggu koreksi serta perkembangan geopolitik dan data inflasi AS.
- Mikirduit Masterclass 2026, Wealthverse: Dapatkan bocoran aset paling menarik untuk 2026-2027. Early Bird cuma Rp250.000 (kuota terbatas, amankan seat-mu sekarang juga) dengan klik link di sini
Beberapa faktor yang membuat harga minyak melonjak tinggi antara lain:
Pertama, Iran mengancam akan menanggapi setiap serangan baru AS yang menargetkan asetnya. Hal itu disebut membuat kekhawatiran atas potensi gangguan terhadap pasokan minyak. Ancaman itu diutarakan setelah pasukan AS menyerang tiga kapal tanker minyak Iran pada awal September 2026.
Hal itu dilakukan pasukan AS sebagai serangan balasan setelah pasukan IRGC menembakkan rudal balistik ke kapal perang AS di Selat Hormuz.
Kedua, pasokan minyak diperkirakan mengalami penurunan signifikan. Dari data per 2 September 2026, pasokan minyak Amerika Serikat mengalami penurunan sebesar 4,45 juta barel. Penurunan itu di atas ekspektasi konsensus yang memperkirakan penurunan hanya sekitar 400.000 barel.
Di sisi lain, dalam riset beberapa konsultan, pasokan minyak dunia juga akan mengalami defisit cukup signifikan.
Energy Aspects memperkirakan ada potensi pasokan bahan bakar minyak berat mencapai 218.000 barel per hari di akhir kuartal III/2026. Ini menjadi kekurangan pasokan pertama sejak kuartal III/2025 yang mengalami defisit pasokan 6.000 barel per hari.
Perusahaan konsultan Rystad menilai Asia yang akan terdampak dari defisit pasokan karena bergantung dari pasokan Teluk yang terganggu perang Iran.
Di sisi lain, kondisi pasokan di Amerika Serikat juga tidak sepenuhnya aman. AS mencatatkan produksi minyak sekitar 13,79 juta barel per hari dengan permintaan yang naik menjadi 20,74 juta barel per hari.
Efek dari Kenaikan Harga Minyak Menuju 100 dolar AS
Jika harga minyak kembali stay di atas 100 dolar AS, ada beberapa efek yang bisa signifikan terjadi.
Pertama, harga komoditas energi lainnya seperti batu bara juga bisa ikut melonjak. Apalagi, pasokan batu bara juga terganggu dari keringnya beberapa sungai di Kalimantan, Indonesia, yang membuat distribusi batu bara mengalami gangguan.
Artinya, dari segi kinerja keuangan 2026, seharusnya saham-saham migas dan batu bara akan mencatatkan pertumbuhan kinerja keuangan yang lebih positif dibandingkan dengan 2025. Toh, ibaratnya harga jual rata-rata harga batu bara di 2025 sekitar 90 - 100 dolar AS per ton, kini bisa jual sekitar 130 - 150 dolar AS per ton, begitu juga dengan minyak yang sebelumnya rata-rata harga jual 60-70 dolar AS per barrel kini bisa menjadi 80-90 dolar AS per barrel.
Kedua, namun kondisi ini bisa jadi petaka yang mengerek inflasi. Apalagi, Amerika Serikat (AS) tengah dalam perdebatan antara suku bunga naik atau tidak. Ketua The Fed,Kevin Warsh dalam pidatonya di Jackson Hole pada 28 Agustus 2026 menyatakan jika kebijakan The Fed akan menyesuaikan dengan tingkat inflasi. Artinya, jika inflasi mengalami kenaikan di atas target 2 persen, The Fed bisa saja menaikkan suku bunga.
Meski, kondisi itu langsung dibalas dengan ancaman oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang bakal mengenakan tarif dagang kepada negara-negara yang mencatatkan surplus perdagangan dengan AS jika suku bunga The Fed tidak diturunkan. Cek prospek saham pendukung migas seperti ELSA di sini

Apa yang bisa dilakukan oleh investor saat ini?
Jika kamu sudah punya beberapa saham terkait komoditas energi seperti pemilik wilayah kerja migas hingga batu bara, kamu masih bisa hold. Bahkan, jika tingkat floating profit sudah dinilai menarik bisa melakukan take profit secara bertahap.
Alasannya, sentimen kenaikan harga minyak saat ini juga didorong oleh faktor ketegangan geopolitik serta kekhawatiran defisit pasokan. Namun, jika harga komoditas energi bergerak terlalu tinggi, dampaknya juga negatif terhadap kondisi ekonomi makro, termasuk daya beli masyarakat.
Adapun, jika belum memiliki saham komoditas energi, saat ini bukan menjadi waktu yang tepat untuk mengejar harga. Sebenarnya, beberapa saham migas di Amerika Serikat lagi mengalami retracement atau koreksi sementara.
ExxonMobil Holdings Corp. (NYSE: XOM) mencatatkan penurunan sebesar 3,14 persen sejak 1 hingga 4 September 2026. Chevron Corp (NYSE: CVX) juga mencatatkan penurunan harga sekitar 1,4 persen dalam periode yang sama. Lalu, Occidental Petroleum Corp. (NYSE: OXY) juga mengalami penurunan sekitar 1,86 persen.
Berhubung pada 7 September 2026, Amerika Serikat mencatatkan hari buruh sehingga pasar saham tidak beroperasi.
Kami menilai ada potensi kenaikan jangka pendek di saham migas. Namun, tren kenaikannya akan tergantung seberapa cepat ketegangan geopolitik ini mereda. Jika tekanan geopolitik mereda, deretan saham migas itu bisa mengalami konsolidasi lagi.
Di sisi lain, investor bisa melakukan wait and see sambil menunggu beberapa data ekonomi AS yang cukup penting seperti, Producer Price Index (PPI) dan Inflasi AS yang rilis pada Kamis-Jumat 9-10 September 2026.
Sementara itu, saham batu bara di Indonesia juga sudah berada di posisi yang tidak murah. Jika tekanan geopolitik mereda, deretan saham batu bara juga berpotensi mencatatkan konsolidasi terlebih dulu.
Mau Diskusi Saham Langsung dengan Founder Mikirduit?
Join Mikirsaham sekarang dan dapatkan benefit:
- Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
- Tools Trading Plan by Sistem (minimal join Mikirsaham Super dan masih tahap Beta)
- Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
- Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
- Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US
- Diskusi lebih nyaman di member area tanpa ada distraksi
- Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
- Hingga konsultasi private dengan founder kami
Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini
Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini
